
Memaafkan adalah Kemenangan Terbaik ~ Ali Bin Abi Thalib
Sore ini Syfa duduk di balkon kamarnya, pandangannya menatap langit biru yang cerah. Namun suasana sore ini bertolak belakang dengan keadaan hatinya.
Sesekali ia menghela nafas berat. Sulit menerima semuanya, ketika hatinya menginginkan apa, tapi keadaan memaksanya bagaimana. Syfa kembali mengingat kejadian tadi malam, saat dirinya baru pulang dari kajian rutin mingguannya.
Flashback on
"Nah, ini Syfa pulang, ayo nak, duduk dulu," ujar Mama, saat dirinya masuk ke ruang tamu. Syfa melihat Mama duduk bersama Rendi disana, membuat wajahnya seketika berubah menyiratkan kekesalan. "Fa, Rendi kesini mau ngobrol serius sama kamu, kamu temuin dulu ya?" ujar Mamanya lagi yang berdiri disamping Syfa, kemudian masuk kedalam meninggalkan mereka berdua. Syfa menghela nafas kasar, dan duduk di kursi yg jauh dari Rendi.
"Kamu gak bisa ya? buat gak ganggu aku?" ucapnya sengit, Rendi menghela nafas sejenak mengatur emosinya agar tidak terpancing, Ia mencoba mengingatkan dirinya tentang niatnya ingin mengajak Syfa balikan.
"Fa, aku....."
"Apa lagi?!" potong Syfa, mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar oleh Mama.
"Kamu kan, yang dulu ninggalin aku? sekarang apa lagi?"
"Dengerin aku dulu, aku mau jelasin fa..." ucap Rendi memohon,
"Kamu mau ngajak aku balikan kan? kurang jelas aku kemarin ngomong apa?!"
Rendi terdiam, matanya menatap Syfa lekat, jujur Ia tak tau lagi harus bagaimana,
"Denger ya ren?! hubungan kita sudah selesai, aku juga gak mau pacaran, jadi jangan ganggu hidup aku lagi! pergi sejauh mungkin, dan jangan pernah kembali!" ucapnya setengah membentak, Ia masih berusaha mengontrol suaranya agar tak terdengar oleh Mama.
"Terus kamu maunya apa? Nikah? Ayo, aku siap," tantang Rendi, membuat Syfa tersenyum sinis,
"Itu nafsu? atau ambisi? gak sekalian aja kamu nikahin *******!!!" balas Syfa sengit. Dalam hati ia benar-benar beristighfar karena tak bisa mengontrol emosinya saat ini.
__ADS_1
"Fa, aku mohon kasih aku kesempatan ngomong, aku pengen jelasin semuanya dulu sama kamu," ucap Rendi memohon, Ia bergeser mendekati Syfa. Membuat Syfa menatapnya tajam,
"Iya-iya, maaf," ujar Rendi sambil bergeser kembali menjauhi Syfa. Ia memahami betul Syfa saat ini, yang begitu membatasi diri dengan laki-laki.
"Sekuat apapun kamu minta aku kembali, aku udah gak bisa. Ada hal yg buat aku gak bisa." ujar Syfa pelan, Ia berusaha menahan air matanya agar tidak menetes dihadapan Rendi.
"Fa, saat kita masih pacaran, kita sering kok putus nyambung. Karena hal itu, kamu pernah bilang kita berjodoh. Kamu selalu yakin, sejauh apapun kita berpisah, pasti akan kembali. Dan sekarang aku kembali fa, aku jodoh kamu, aku yang ditakdirkan Allah buat kamu." ujar Rendi setengah memohon. Syfa tersenyum sinis mendengar penjelasan Rendi yang menurutnya terlalu percaya diri itu.
"Takdir itu yang menentukan Allah, bukan kamu. Jika aku mati besok bagaimana?"
"Kamu ngomong apa sih Fa?" Rendi tak habis pikir dengan ucapan Syfa, yang menurutnya ngelantur itu.
"Jodoh, Rezeki, Maut, itu ada di Tangan Allah. Kita tidak tau mana yg lebih dulu menghampiri kita. Kamu bukan Allah, dan kamu pun tidak bisa menentukan 1 diantara ketiganya." Jawab Syfa, kemudian beranjak masuk ke dalam meninggalkan Rendi, yang masih terdiam menatapnya.
Flashback off
"Astagfirullah Syfa...!" pekik Mbak Mala yang berdiri disamping Syfa, sambil menyenggol lengan Syfa. Syfa tersentak kaget, dan menoleh ke Mbak Mala yang berdiri di sampingnya.
"Mbak Mala, bentar ya? Syfa shalat dulu." pamitnya ke Mbak Mala, yang duduk di balkon kamarnya, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan mendirikan shalat ashar. Mbak Mala hanya geleng-geleng kepala melihat itu.
***
"Gimana ya fa?" Mbak Mala tampak berpikir. Syfa telah menceritakan kejadian semalam kepada Mbak Mala. Jujur saat ini, Ia bingung harus bagaimana. "Tapi, anti beneran gak ada perasaan sama Rendi? sedikit aja gitu?" tanya Mbak Mala memastikan. Syfa menghela nafas, "Kalaupun ada, banyak hal yang buat ana gak bisa kembali sama dia Mbak."
"Apa?"
"Maksudnya?"
"Ya, apa yang bikin anti gak bisa kembali dengan Rendi?"
__ADS_1
Syfa terdiam sejenak.
"Syfa benci dia, Mbak," keluhnya kemudian, membuat Mbak Mala tersenyum. Mbak Mala tau, walaupun dalam proses hijrah, Syfa masih sering labil dalam menghadapi masalah, terutama masalah dengan mantannya satu itu.
"Fa, apa salahnya sih, berdamai dengan masa lalu?" saran Mbak Mala, membuat Syfa mengernyit heran menatap Mbak Mala. "Maksud Mbak Mala, Syfa maafin Rendi gitu?" tanya Syfa memastikan. Mbak Mala mengangguk, "Maafin aja dia, lagian gak baik marah sama orang lama-lama," "Trus mau gitu, diajak balikan?" Mbak Mala menggeleng kuat, "Maafin, bukan berarti harus balikan, kalian kan bisa berteman," saran Mbak Mala. Syfa terdiam mencoba mencerna ucapan Mbak Mala.
"Fa, inget hadist ini gak?
Barang siapa memaafkan saat ia mampu membalas, maka Allah akan memberinya maaf saat hari kesulitan. (HR. Ath - Thabrani)
Coba anti berdamai dengan masa lalu. Ana gak bilang gampang, setidaknya setiap hari, coba lepaskan kebencian yang ada di hati anti. Inget ya Fa? hanya memaafkan, bukan berarti harus balikan." tegas Mbak Mala, membuat Syfa tersenyum tipis.
Apa aku mampu?
***
"Kak Gilang..!" panggil Lisa dari pintu belakang rumah Gilang, sambil berjalan cepat menghampirinya. Gilang yang sedang bersantai duduk di gazebo belakang rumahnya itu pun menoleh. "Kak, kakak kok gak cerita sama Lisa sih?" sungut Lisa kesal, Gilang mengernyit heran, "Gak cerita apa sih dek?" tanyanya bingung. "Kakak putus sama Kak Citra kan?"
Deg !
"Kamu tau dari siapa?"
"Kak Citra kemarin ketemu aku, dia lagi jalan ama cowok, aku nanya ama dia itu siapanya, dia bilang itu cowoknya." jelas Lisa, membuat wajah Gilang seketika berubah, menahan emosi. Pasti laki-laki itu, siapa lagi kalau bukan laki-laki yang Ia temui beberapa hari yang lalu. Rupanya Citra memang benar memiliki hubungan yang spesial dengan laki-laki itu.
"Yang sabar ya kak?" ujar Lisa tiba-tiba. Gilang menatapnya, Ia tersenyum. "Ya udahlah, lagipula cewek bukan dia aja kan?" jawab Gilang mencoba menghibur diri dan Lisa. Padahal, ucapannya tersebut bertolak belakang dengan hatinya.
Jujur sampai saat ini Ia masih sulit memaafkan Citra. Bagaimana tidak? Gilang sudah ingin berencana melamar Citra dalam waktu dekat ini. Namun selama satu minggu belakangan, sikapnya berubah. Membuat Gilang curiga, dan sedikit mengundurkan rencanannya. Pada akhirnya Ia pun bersyukur, Allah memberi tahunya lebih dulu, bagaimana cewek itu sebenarnya.
"Kak, ngomong-ngomong nih ya, Kakak ngapain sih, nelfon Lisa malem-malem cuman nanyain ukhti Syfa? Kakak kenal, sama ukhti Syfa?" tanya Lisa tiba-tiba.
__ADS_1
Gilang kembali merutuki kebodohannya. Ia lupa, walaupun dalam keadaan setengah sadar saat bangun tidur, adik sepupunya itu mempunyai ingatan yang kuat.