
Hanya karena satu hal, hingga membuatku ingin kembali menyapamu. Mungkinkah ini takdir? ~ Gilang
"Duh, Ma.... Syfa lagi ngerevisi artikel Syfa. Lagian Mama juga dadakan banget minta jemput." keluh Syfa saat di telfon Mama, matanya tetap fokus membaca artikel di laptop, sesekali tangannya mengetik untuk memperbaiki tulisan artikelnya.
Mama Syfa sedang berada di rumah temannya, Tante Mira, karena ada syukuran disana, dan meminta Syfa untuk menjemputnya karena acara sudah selesai. Sedangkan Syfa baru saja mendapat telfon dari editornya karena ada 1 artikel yang harus segera Ia perbaiki.
"30 menit lagi ya, Ma? Syfa di tunggu editor ini." bujuk Syfa, matanya tak lepas membaca artikel di layar laptop, bibirnya juga komat kamit membaca tulisan yang sudah diketik.
"Iya, Ma....udah ya? kalau mama nelfon mulu, Syfa gak selesai-selesai nih, dah ya? Assalamualaikum..." Syfa mengakhiri panggilan telfonnya saat Mama sudah menjawab salam.
Tiba-tiba ada notifikasi dari whatsaapnya. Syfa melirik hpnya sekilas, Ia tau, itu dari Mama, karena Mamanya tadi mengatakan ingin mengirimkan alamat rumah temannya. Ia pun kembali fokus pada artikelnya.
"Ok, let's do it!" gumamnya.
***
Honda jazz putih itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis ber cat putih. Syfa keluar dari mobilnya. Ia berjalan mendekati pagar dan hendak menekan bel.
"Non Syfa?" sapa seorang wanita paruh baya dari dalam pagar, sepertinya pembantu di rumah itu.
"I..iya, maaf, saya mau jemput Mama saya." jawab Syfa.
__ADS_1
"Mari non, non sudah di tunggu di dalam." ujar wanita itu.
Syfa mengangguk, sambil berjalan mengikuti wanita tersebut masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..." ucap Syfa, "Ukhti Syfa?" Lisa yg awalnya duduk di samping Tante Mira, bersebelahan dengan Mama Syfa, berjalan menghampiri Syfa dan memeluknya. "Masya Allah, ini Rumah ukhti?" tanya Syfa tak percaya sambil membalas pelukan Lisa.
"Iya, Ukh. Ini rumah Ana. Yuk, masuk Ukh," ujar Lisa menggandeng tangan Syfa dan duduk bersebelahan di kursi ruang tamu. Mama Syfa yg awalnya bingung, akhirnya bertanya pada Syfa, "Kamu kenal Lisa?" Syfa dan Lisa berpandangan sambil tersenyum, "Iya, Ma. Aku kenal Dia pas waktu kajian 2 hari yang lalu." jawab Syfa. "Waktu itu, Aku gak sengaja nabrak pundak Ukhti Syfa, Tante. Trus kita kenalan," jelas Lisa, "Ya udah, akhirnya kita kenalan, dan temenan," tambah Syfa kemudian.
Mama Syfa tersenyum sambil menoleh ke arah Tante Mira, Tante Mira pun ikut tersenyum. "Oh iya, Ukh. Minggu depan ada kajian lagi kan ya? Ukhti ikut kan?" tanya Lisa memulai obrolan, "Insya Allah, Ukh." jawab Syfa sambil tersenyum. "Mbak Mala ikut kan, Ukh?" tanya Lisa lagi, "Insya Allah nanti Mbak Mala ikut dan bareng sama Ana." ujar Syfa, membuat Lisa tersenyum senang.
Tak terasa sudah mendekati waktu dhuhur, Syfa dan Mamanya pun pamit pulang. "Kapan-kapan main kesini lagi ya, Ukh? Ngobrolnya belum puas nih," ucap Lisa dengan wajah cemberut. "Insya Allah, Ukh, nanti Ana sering main kesini kok," ujar Syfa tersenyum. "Ya udah, kita pamit dulu ya? Assalamualaikum..." pamit Mama Syfa. "Waalaikumsalam...." jawab Tante Mira dan Lisa.
***
Ciiitttt.....
BRAKKKK!!!!
"Astagfirullah...!" pekik Syfa sambil menginjak rem mendadak, Ia melihat seseorang Laki-laki tersrempet dan tersungkur di depan mobilnya. Syfa dan Mama yang awalnya kaget, segera keluar dari mobil, ingin melihat keadaan Laki-laki itu.
"Maaf mas, saya gak senga...Rendi?!" Syfa kaget, melihat siapa yang disrempetnya, ternyata Rendi. Rendi meringis menahan sakit di bagian siku dan telapak tangannya yang sedikit berdarah karena tergores aspal. Melihat itu membuat Mama kasihan dan hendak membantu Rendi berdiri, "Eng..gak perlu, Tante, saya bisa sendiri," tolaknya halus, Ia pun berusaha berdiri, Syfa menatap tidak suka.
__ADS_1
"Maaf, Fa, Aku gak hati-hati nyebrang tadi," ujarnya kemudian, sambil tersenyum menatap Syfa. "Gak papa." jawab Syfa datar dan cuek, sambil mengalihkan pandangan. "Nak Rendi ikut kita aja ya? Tante anterin ke Rumah Sakit," ujar Mama Syfa tiba-tiba, sontak membuat Syfa melongo menatapnya. "Gak perlu tante, terimakasih," Rendi kembali menolak halus tawaran Mama Syfa sambil tersenyum sungkan, membuat Syfa sedikit lega.
"Lagian kan kita mau shalat ma, Rendi juga gak papa tuh! Yuk, Ma, keburu telat shalat dhuhurnya." ajak Syfa. "Kamu ini gimana? nabrak kok gak tanggung jawab!" ucap Mama kesal.
"Lagian Dia juga nyebrang gak liat-liat!" Syfa merajuk, berjalan kembali masuk ke mobilnya. Mama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putri satu-satunya itu, kemudian beralih menatap Rendi, "Ya udah kalau gitu, ini Tante ada sedikit uang untuk bantu biaya pengobatan kamu," ujarnya lembut, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompet, dan menyerahkannya pada Rendi, "Gak perlu,Tante, gak papa. Saya yang salah, mohon maaf tante, saya permisi dulu." jawab Rendi tersenyum, kemudian berjalan tertatih meninggalkan Mama Syfa yang menatapnya iba.
***
"Dek, ini dompet siapa?" tanya Gilang, saat duduk di kursi ruang tamu Rumah Lisa, tangannya meraih dompet biru yg terselip di bawah bantal sofa. Lisa terkejut melihat apa yg dipegang Gilang, Ia meraih dompet itu melihat identitas yg ada di dompet itu, "Ya ampun, ini dompet temen aku kak, duh, gimana ya? mana Dia udah pulang dari tadi," keluh Lisa bingung sambil duduk di samping Gilang, "Ya udah kamu telfon aja, suruh Dia balik." ujar Gilang memberi saran, Lisa tampak berpikir, dan meletakkan dompet itu di kursi, kemudian kembali ke kamar mengambil hpnya untuk menelfon Syfa.
Gilang menatap Lisa yang masuk ke dalam kamar, kemudian beralih pada dompet teman Lisa yang dalam keadaan terbuka, memperlihatkan foto seorang wanita yang berukuran 3x4 itu disana. Matanya memicing tajam melihat foto yang ada di dalam dompet itu, orang di dalam foto itu, seperti Syfa? temannya saat masih sekolah dasar dulu, tak tahan karena penasaran, tangannya hendak meraih dompet itu, untuk melihat fotonya agar lebih jelas,
"Iya ukh, masih ada di ana dompetnya..." ujar Lisa yang berjalan keluar dari kamar, kembali menghampiri Gilang. Membuat Gilang pura-pura menggaruk tengkuknya yang tak gatal, karena mengurungkan niatnya untuk melihat foto yang ada di dompet itu,
"Atau ana aja yg anter ke rumah ukhti, bagaimana?" Lisa duduk di sampil Gilang, sambil tetap menghubungi Syfa.
"Ya sudah kalau begitu ukh, berarti pas kajian saja ya, dompetnya ana bawa?"
"......"
"Na'am ukhti kalau begitu, Assalamualaikum.." ujarnya mengakhiri panggilan itu, kemudian menatap Gilang. "Isinya gak terlalu penting katanya, dan dia minta aku kembaliin pas waktu kajian minggu depan." jelas Lisa, Gilang sudah melamun tak menghiraukan ucapan Lisa pikirannya memikirkan foto yang ada di dompet biru itu, pandangannya menatap kosong ke depan, Lisa mengernyit heran, "Kak...!" Lisa menepuk pundak Gilang sedikit keras, membuat sang empunya kaget dan menoleh ke arahnya. "Iya, kenapa?" ucapnya masih kaget, "Ih, Kak Gilang malah bengong. Jadi isi dompet itu gak terlalu penting, temen aku minta dikembaliin pas waktu kajian minggu depan." Lisa mengulangi ucapannya, Gilang manggut-manggut, Ia masih sibuk dengan pikirannya, hal itu membuat Lisa kembali bertanya.
__ADS_1
"Kak Gilang kenapa sih?" tanya Lisa lagi yang bingung dengan sikap Gilang, "Eh enggak, oh iya, em, nama temen kamu itu siapa? kamu kayaknya belum selesai cerita waktu itu." tanya Gilang, hanya ingin memastikan bahwa dompet itu benar milik Syfa. "Oh, nama temen aku itu..."
"Lisa...!" panggil Mama Lisa dari arah dapur, membuat Gilang menghela nafas, mungkin masih bukan waktunya. Tapi kenapa setelah melihat foto itu, Ia tiba-tiba jadi penasaran? Ia ingin sekali tau bagaimana keadaan gadis itu, "Iya ma...!" teriak Lisa, "Bentar ya kak?" ujar Lisa, "Kakak balik dulu aja, next time ceritain lagi ya? Assalamualaikum," pamitnya tiba-tiba dan beranjak keluar dari Rumah Lisa, hal itu semakin membuat Lisa heran, "Lho kak? buru-buru amat sih?" Lisa berjalan mengikuti Gilang yang setengah berlari memasuki mobilnya.