
Izinkanku mengenalmu
Agar keyakinanku padamu
Tumbuh dalam hati ~ Ta'aruf - Anandito Dwis
"Wah, kalau gitu kita satu hobby ukhti, Ana juga suka baca novel," ujar Lisa kagum. Syfa mengangguk dan tersenyum, diikuti Mala yang juga ikut tersenyum. Berbeda dengan Gilang yang duduk di sebelah Lisa, dan sedari tadi matanya tak lepas menatap Syfa.
Setelah pertemuan yang tak terduga di toko buku tadi, mereka memutuskan makan malam bersama di salah satu foodcourt yang ada di mall. Hal itu awalnya ditolak oleh Gilang.
Flashback on
"Kalian aja deh, Aku tunggu di mobil." ujar Gilang menolak. "Iih..Kak Gilang ! Kakak kalau nunggu di mobil, ntar lama. Kayak gak tau cewek-cewek aja kalau lagi ngumpul." jawab Lisa berusaha memaksa. "Ya...gak papa...Kakak juga..." "Udah deh, ikut aja ! apa susahnya sih?" potong Lisa cepat, dan akhirnya Gilang hanya mengangguk pasrah.
Flashback off
"Kak Gilang !" Lisa memukul pundak Gilang sedikit keras, menyadarkan Gilang dari lamunannya.
"Eh iya?" jawab Gilang gelagapan. "Mata di jaga, ngeliatin ukhti Syfa sambil ngelamun. Mikir yang enggak-enggak ya?" tuduh Lisa, membuat Syfa dan Mala sontak menoleh menatap keduanya secara bergantian. "Ngaco !" ujar Gilang berusaha santai, kemudian mengaduk cappucino yang ada di depannya, dan meminumnya.
"Eh iya Il, kamu sekarang sibuk apa?" tanya Syfa memulai obrolan. Ia berusaha menghilangkan kecanggungan antara dirinya dan Gilang. Gilang meletakkan cangkirnya kembali ke meja, "Aku masih mau lanjut S2 if," jawab Gilang. "Wah, keren..." puji Syfa, membuat Gilang tersenyum simpul. "Jurusan apa?"
"Hukum, lanjut dari yang S1,"
"Kenapa gak cari kerja dulu?"
"Susah If, ya daripada Aku nunggu lama, mending aku lanjut studi dulu aja."
Syfa hanya manggut-manggut. "Kamu sendiri sibuk apa If?" tanya Gilang. "Aku...nulis artikel Il," jawab Syfa, sedikit gugup. Entah kenapa Ia masih canggung dalam keadaan ini .
__ADS_1
"Bentar-bentar, jadi semua berita yang di status WA ukhti itu, ukhti yang nulis?" tanya Lisa memastikan. Syfa tersenyum, "Na'am ukhti." ucapnya lembut, "Wah, keren. Ana pernah baca ukh, tulisannya bagus banget." puji Lisa tulus. Gilang yang tidak tau apa-apa tentang itu, hanya menatap Lisa dan Syfa bergantian. "Ana masih belajar ukhti, ini aja masih praktek kerja kok." jawab Syfa merasa tidak enak, karena di puji berlebihan.
"Di media apa If?" tanya Gilang akhirnya, entah kenapa Ia semakin penasaran dengan kehidupan Syfa. "Samudra.com, Il," jawab Syfa kikuk, Gilang hanya manggut-manggut.
"Oh iya, ini udah jam berapa?" tanya Mbak Mala tiba-tiba, membuat Syfa langsung melihat jam tangannya, ternyata sudah jam 8 malam. "Astagfirullah...!" pekiknya, "Hehehe, afwan semuanya, kayaknya Aku sama Mbak Mala harus pulang," ucapnya sungkan. Gilang yang setengah tidak mengerti dengan bahasa Syfa, sontak menoleh kearah Lisa. "Maaf kak, maksudnya," jawab Lisa yang seakan mengerti arti tatapan Gilang.
"Ya udah, Aku bayar dulu ya?" ujar Gilang kemudian. "Oh iya, Aku juga," ucap Syfa. "Lho? mau bayar apa? kan Aku traktir," tanya Gilang heran, membuat semuanya sontak menatapnya kaget, "Ee...Gak perlu Il, Kita..."
"Santai If, Aku gak masalah kok, ya udah bentar ya? Aku bayar dulu." ujarnya kemudian, dan meninggalkan mereka menuju meja kasir.
Syfa tersenyum tipis menatap punggung Gilang yang menjauh.
***
"Dek, Ifa itu... udah punya cowok?" tanya Gilang saat dirinya dan Lisa sudah di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. "Setau Aku, enggak deh kak. Ukhti Syfa itu gak mau pacar-pacaran gitu. Kalau ada yg serius pun, Dia maunya ta'aruf dulu." jawab Lisa, matanya lurus menatap jalanan yang dihiasi lampu-lampu. "Tapi, kayaknya Ukhti Syfa ada pengalaman pahit tentang itu." ujar Lisa kemudian, membuat Gilang sontak menoleh sebentar ke arahnya. "Serius? pengalaman pahit gimana?"tanya Gilang semakin penasaran.
"Kamu kenapa bisa nyimpulkan gitu, kalau Ifa gak pernah cerita?"
"Ya karena Aku liat ekpresinya langsung waktu itu Kak. Mellow banget gitu, kayak ada rasa sakit yang Dia pendam."
Gilang terdiam.
"Padahal Ukhti Syfa baik." ujar Lisa kemudian, sambil mengingat kebaikan Syfa selama ini terhadapnya.
Syfa selalu ada disaat dirinya sedang susah, atau meski saat dirinya hanya merasa bosan. Syfa juga selalu mengajaknya pada hal-hal yang positif, selalu memberinya motivasi saat dirinya ada masalah. Syfa selalu bisa membuatnya nyaman, dan membuat Lisa semakin mantap menjalani hari-harinya. Cewek itu seakan punya sihir, membuat setiap orang disekitarnya merasa lebih positif dalam menjalani hidunya masing-masing.
"Kak, Kak Gilang kan udah kenal lama sama Ukhti Syfa. Menurut Kak Gilang, Ukhti Syfa itu gimana?" tanya Lisa penasaran. Gilang tersenyum tipis, "Kakak dulu pernah bikin kesalahan besar sama Ifa." jawab Gilang, sambil menghela nafas sejenak, kembali mengingat kesalahan besar yang pernah Ia lakukan, karena hampir merenggut nyawa gadis itu. Mendengar apa yang diucapkan Gilang, membuat Lisa sontak menoleh ke arahnya.
"Kesalahan besar apa?" tanya Lisa penasaran.
__ADS_1
Flashback on
"Ilang ! jangan ambil bola Aku ! Kembaliin....!!" teriak Syfa berusaha mengejar Gilang yang merebut bolanya, saat dirinya sedang bermain di halaman depan sekolah SD. "Nih, nih, nih, ambil kalau bisa....weekkkk...." Gilang terus menggodanya dengan mengangkat bola itu tinggi-tinggi, hingga kemudian Ia melempar bola itu jauh, dan menggelinding di jalan raya. Syfa kesal dengan kelakuan Gilang, Ia menghentakkan kaki dan menatap Gilang sinis, Gilang hanya tertawa melihatnya. Kemudian Syfa setengah berlari mengambil bola itu.
Sebuah truk melaju kencang, saat Syfa berhasil mengambil bolanya. Gilang yang melihat hal itu, sontak kaget dan berlari menghampiri Syfa. "Ifa, awas....!!!!" teriak Gilang sekeras mungkin, Syfa yang belum sempat menoleh, merasa badannya sedikit melayang karena didorong seseorang, dan mereka jatuh bersama di trotoar. "Ya Allah nak, kamu gak papa?" tanya pria paruh baya itu, yang ternyata Om Alan, Papa Gilang. "Gak papa Om, makasih ya Om?" ucapnya masih ketakutan, Ia masih syok dengan apa yang hampir menimpanya barusan.
Gilang yang melihat kejadian itu akhirnya bisa bernafas lega.
Flashback off
"Waktu itu, Kakak dihukum sama Papa. Uang jajan Kakak dipotong selama satu bulan, dan setiap Kakak ketemu Ifa, Kakak selalu menghindar." jelas Gilang, "Kenapa Kakak menghindar?" tanya Lisa semakin penasaran. "Ya karena gara-gara Kakak, Ifa hampir kehilangan nyawanya, Dek." jawab Gilang menyesal saat mengingat hal itu. "Kan Kakak gak sengaja." Lisa mencoba berpendapat.
"Ifa juga ngomong gitu ke Kakak, waktu dia nyadar sama sikap Kakak yang selalu menghindar." ujar Gilang, kembali mengingat hal itu. "Dia ngasih surat ke Kakak waktu Kakak sama Papa nganterin dia pulang."
"Kenapa lewat surat?"
"Ya karena Kakak ngehindarin Dia terus. Di mobil pun Kakak duduk samping Papa, Kakak berusaha jaga jarak sama Dia."
Lisa terdiam. Ia tau, Gilang melakukan hal itu semata-mata hanya bentuk tanggung jawabnya terhadap Syfa.
"Isi suratnya apa?" tanya Lisa kemudian.
"Ya Dia bilang, Dia gak marah sama Kakak. Dia tau Kakak gak sengaja."
Lisa tersenyum. Apa yg dikatakan Gilang memang benar, Syfa mudah memaafkan seseorang.
"Hhhhh....tapi sampe sekarang Kakak masih merasa bersalah." ujar Gilang, menghembuskan nafasnya kasar. "Enggak lah Kak, semua itu takdir. Tapi itu juga peringatan buat Kakak sih, jadi orang jangan jail-jail." cibir Lisa akhirnya, membuat Gilang tersenyum tipis.
"Enggak lah, Dek. Kakak gak bakalan gitu lagi ke Syfa. Kakak bakalan jaga dia semampu Kakak." ucap Gilang tanpa sadar, membuat Lisa menatapnya heran, kemudian tersenyum, karena mengerti akan hal itu.
__ADS_1