Sakinah Menuju Jannah (New Version)

Sakinah Menuju Jannah (New Version)
Cinta yang Belum Selesai


__ADS_3

Sejarah adalah masa lalu. Ambillah keputusan berdasarkan masa depan ~ Greg S. Reid


Syfa mengaduk gelas cappucinonya pelan. Ia memilih tempat duduk di pojok cafe yang jendelanya mengarah ke parkiran, sesekali matanya melihat ke arah orang yang berlalu lalang di sana.


Setelah insiden telfon dari Rendi, Ia memutuskan ingin menceritakan semuanya kepada Mbak Mala. Syfa yakin Mbak Mala bisa memberikannya solusi. Selama ini Mbak Mala selalu mempunyai motivasi dan kata-kata bijak untuknya, ketika Ia sedang galau dalam menghadapi persoalan kehidupan.


Mbak Mala selalu mengingatkan Syfa, apapun yang terjadi jangan keluar dari jalur yang sudah Allah tentukan. Hal itu juga membuat Syfa terus bersemangat dalam proses hijrahnya.


"Assalamualaikum..." sapa Mbak Mala sambil menarik kursi dan duduk di depan Syfa "Waalaikumsalam..." jawab Syfa tersenyum. "Afwan...Ana...kejebak macet. Anti...nunggu lama ya?" tanya Mbak Mala yang masih mengatur nafasnya, baru saja Ia berlari dari arah parkiran menuju cafe, karena tak ingin membuat Syfa menunggu lama. Wajar, karena Jakarta memang doyan banget macet. "Enggak kok Mbak, Ana juga baru datang. Oh iya, mau pesen apa?" tanya Syfa, "Jus jambu aja" jawab Mbak Mala, nafasnya sudah mulai teratur.


Syfa memanggil seorang pelayan wanita dan memesankan jus jambu untuk Mbak Mala. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu berlalu meninggalkan mereka. "Jadi gimana ceritanya, sampai Rendi bisa tau nomor hp Anti? gak Anti blokir nomornya?" tanya Mbak Mala tak sabar.


Syfa menghela nafas, "Ana juga gak tau, Mbak. Itu tiba-tiba banget, Ana aja gak nyangka. Jadi waktu itu..."


Flashback on


"Rendi?"


"Hai, Fa. Apa kabar?"


Syfa terdiam, Ia masih syok mendengar suara di sebrang sana.


"Fa, kamu masih disitu kan?"


"....."


"Fa,"


"Eh, em, iya, ada apa?"


"Gak papa, Aku kangen aja sama Kamu. Gak boleh ya?"


Syfa benar-benar bingung. Kakinya luruh seketika, Ia terduduk di kursi meja belajarnya.

__ADS_1


"Entah kenapa, aku masih sering kepikiran Kamu, Fa. Maafin Aku, waktu itu Aku egois. Aku ninggalin Kamu gitu aja. Tapi jujur, Aku masih sayang sama Kamu. Aku masih cin...."


"Ren, maaf." potong Syfa cepat. Dadanya sesak mendengar pengakuan Rendi itu.


"Aku gak bisa." lanjutnya kemudian, suaranya bergetar menahan air mata yang siap tumpah di pelupuk matanya.


"Kenapa? Apa karena ada Orang lain? Apa Aku sudah terlambat?" tanya Rendi pelan dan sedikit menuntut.


Enggak, Syfa gak bisa menerima Rendi. Sudah cukup sakit dan kecewa yang Ia rasakan selama ini. Tekadnya sudah bulat untuk berhijrah, menjauhi apa yang dilarang Allah, terutama pacaran.


"Fa, aku bakalan nunggu kamu. Aku sayang kamu, dan aku cinta kamu. Sampai kapanpun aku akan menunggu kamu. Aku...."


Tut !


Panggilan itu dimatikan sepihak oleh Syfa. Ia menunduk di atas meja belajarnya, kemudian terisak.


Flashback off


Seorang pelayan datang dan meletakkan jus jambu di depan Mbak Mala kemudian kembali berlalu meninggalkan mereka.


"Fa, ingat tujuan Anti berhijrah, ingat juga bagaimana perjuangan Anti selama ini. Jangan sampai semuanya sia-sia. Jangan menjauh lagi dari Allah, Fa." ujar Mbak Mala mengingatkan.


"Ana harus gimana, Mbak? Ana juga gak tau." jawabnya putus asa, Ia kembali terisak. Sungguh, dadanya begitu sesak memikirkan semua ini. Ia bingung, dihadapkan pada dua harapan atau mungkin juga dua doa yang berbeda. Antara Syfa dan Mama.


"Ini ujian buat Anti. Ingat Fa, saat Seseorang memutuskan untuk berhijrah, Allah akan memberikannya ujian demi menghapus segala dosa-dosa yang pernah Ia perbuat. Sekaligus menguji keyakinannya atas jalan yang sudah dipilih." ujar Mbak Mala.


"Jangan kembali ke masa lalu, Fa, jauhi pacaran. Anti lupa? sama cita-cita Anti yang ingin berta'aruf dengan Seorang Ikhwan yg sholeh dan baik agamanya?"


"Ana gak bilang kalau Rendi gak baik. Kalau Allah sudah memberikan Rendi hidayah, Insya Allah Rendi akan berubah. Tapi masalahnya mengungkapkan perasaan cinta sebelum akad, itu bukan cinta tapi nafsu. Kalau Rendi memang serius dengan Anti, Rendi pasti berencana mengajak Anti ta'aruf, khitbah, lalu menikah. Karena itu cara agama Kita untuk menjaga cinta, agar tetap suci hingga di ridhoi oleh Allah,"


"Ana hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Anti, sisanya biar menjadi urusan Allah. Berdoa, dan terus berdoa, Fa, minta petunjuk. Allah maha tau apa yang terlihat dan tersembunyi di dunia ini." jelas Mbak Mala.


Syfa mengusap air mata dengan punggung tangannya, kata-kata Mbak Mala membuatnya sedikit tenang. Seakan ia kembali diingatkan pada sebuah harapan. Ya, harapannya kepada Allah. Mungkin selama ini banyak ibadah dan amalan yang masih belum Syfa lakukan, dan ini cara Allah mengingatkan Syfa agar kembali mendekat kepada-NYA.

__ADS_1


Syfa tersenyum menatap Mbak Mala. "Insya Allah, Ana akan coba saran Anti. Makasih ya, Mbak?" ujar Syfa pada akhirnya Mbak Mala tersenyum lega. Dalam hati Ia berdoa, semoga Syfa tetap istiqomah dalam hijrahnya.


***


"Iya, Ma. Aku baru sampai." ucap Gilang seraya memarkirkan mobilnya di depan Serena Cake's.


Saat baru keluar dari kantor menuju parkiran mobil. Gilang mendapat telfon dari Mamanya, ingin dibelikan brownis coklat di toko langganannya, Serena Cake's. Meskipun Gilang sedikit heran, karena sudah lama sekali Mamanya tak pernah membeli kue lagi di toko itu. Pada akhirnya Ia memutuskan untuk menuruti permintaan Mama.


"Ok, brownis coklat,"


"...."


"Iya Ma, ntar lagi Aku langsung pulang,"


"...."


"Waalaikumsalam...." jawabnya seraya menutup telfon.


Gilang turun dari mobil. Saat hendak berjalan ingin memasuki toko kue, langkahnya tiba-tiba berhenti. Dari kejauhan, matanya menangkap Seorang Wanita yang dikenalnya.


Ya, itu Citra. Sedang berjalan keluar dari toko perhiasan yang hanya beda 4 toko dari Serena Cake's, tak jauh dari tempatnya berdiri. Citra sedang bersama dengan Seorang Pria yang merangkul pundaknya dengan mesra.


Rahangnya mengeras, ketika melihat pemandangan itu, tangannya mengepal kuat menahan amarah dalam dirinya. Dengan langkah lebar, Gilang berjalan menghampiri keduanya.


"Citra..!" Panggilnya seraya menarik tangan Citra saat ingin masuk ke dalam mobil Pria itu, hingga mereka berhadapan. "Gilang?!" pekik Citra kaget karena kedatangan Gilang yang tiba-tiba, pergelangannya di cekal kuat oleh Gilang, membuat Citra sedikit meringis kesakitan. Pria di samping Citra menatap mereka berdua heran.


"Dia siapa, Sayang?" tanya Pria itu pada Citra. Gilang menatap Pria itu tajam, lalu beralih menatap Citra seakan meminta penjelasan. "Dia...Dia...Em..." Citra tak bisa menjawab pertanyaan Pria disampingnya, tiba-tiba Ia merasa tenggorokannya tercekat. "Aku pacarnya!" jawab Gilang tegas. Pria itu kaget, lalu menatap Citra tajam, seakan juga turut meminta penjelasan."Tapi itu dulu, sekarang Aku adalah bagian dari masa lalunya!" ujarnya kemudian, melepas cekalannya di pergelangan Citra, seraya berbalik meninggalkan keduanya.


"Gilaannnnggg....! Aku bisa jelasin...! Dengerin Aku duluuuuu...! Ini gak seperti yang Kamu bayangin...!Gilannngggggg.....!" teriak Citra memanggil Gilang yang berjalan cepat semakin menjauh dari pandangannya.


Gilang seakan tuli dengan teriakan Citra yang terus memanggilnya, Ia benar-benar tidak peduli. Cukup sudah, Gilang benar-benar muak dengan apa yang dilihatnya. Semuanya terjawab, apa yang menjadi pertanyaannya selama beberapa hari ini, Hubungannya dengan Citra telah usai.


***

__ADS_1


Gilang sampai dirumahnya. Dengan langkah lebar Ia berjalan menuju kamarnya di lantai dua. "Lho, Nak, udah pulang?" tanya Mamanya saat Gilang melewati ruang keluarga. Mama sedang duduk sambil menonton televisi menunggu kedatangannya.


Gilang menghentikan langkahnya, beralih menatap Mamanya, "Maaf, Ma, Aku gak bawain pesenan Mama, Aku minta tolong Pak Andre buat bawain pesenan Mama. Sebentar lagi, Beliau datang." jawabnya datar, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Mama heran, Ia bisa merasakan bahwa putranya itu sedang menahan amarah. Sebenarnya apa yg terjadi dengan Gilang? Padahal, saat di telfon tadi, Gilang tidak semarah itu?


__ADS_2