Sakinah Menuju Jannah (New Version)

Sakinah Menuju Jannah (New Version)
(Bukan) Jodoh dari Masa Lalu


__ADS_3

“Pelajarilah adab (akhlak) sebelum mempelajari ilmu lainnya” (Imam Malik)


“Assalamualaikum...” ucap Syfa membuka pintu memasuki rumahnya. Ia baru saja sampai rumah jam 4 sore. Rencana ingin tilawah bersama Mbak Mala akhirnya berjalan dengan lancar. Bahkan Lisa, teman barunya juga ikut tilawah bersama mereka.


Flasback on


"Afwan ya, Ukh? Kalau Ana ngajinya masih belepotan." jawabnya jujur, saat Mbak Mala dan Syfa mengajaknya. "Laa ba'sa, Ukh. Ana juga masih belum lancar." jawab Syfa tersenyum.


Lisa tampak gugup, kemudian menarik nafas perlahan dan mulai membaca Al-Qur'an. Mbak Mala dan Syfa mendengarkan lantunan ayat suci yang dibacakan Lisa. Mereka tak menyangka, bacaan Lisa begitu fasih bahkan Ia membacanya dengan tartil.


Tanpa sadar Syfa kagum pada Lisa. Bacaannya masih tak sebagus Lisa, saat tilawah pun Mbak Mala masih sering menegurnya ketika salah membaca tajwid di Al-Qur'an.


"Shadaqallahul adzim..." Lisa mengakhiri tilawahnya. Mbak Mala menutup Al-Qur'an saat ia juga selesai mengikuti setiap bacaan Lisa, kemudian menoleh melihat Syfa, rupanya Ia sama sekali tak melihat Al-Qur'an yang ada diatas pangkuannya. Pandangannya kosong sambil menatap Lisa.


"Fa," Mbak Mala menyentuh tangannya.


"Eh, Astaghfirullah..." ucapnya sadar sambil mengusap wajahnya. Ia terhanyut pada bacaan yang baru saja dibacakan Lisa hingga tanpa sadar Al-Qur'annya terbuka begitu saja. "Ukhti sakit?" tanya Lisa khawatir menatap Syfa. Syfa menggeleng, "Enggak, bacaan Anti bagus, hehehe." jawabnya sambil mengacungkan jempol.


Lisa tersenyum, "Ana baru hijrah dan baru belajar, Ukh. Masih banyak bacaan yang perlu ana perbaiki dan pahami lagi. Tapi alhamdulillah, Ana niatkan semua karena Allah." jelasnya.


Seketika Syfa terdiam.


Flashback off


Ya, semenjak itu ia membernarkan ucapan Mbak Mala. Bahwa semuanya hanya soal waktu, dari Lisa Ia belajar bahwa jika semuanya diniatkan karena Allah, Allah pasti akan memberikannya jalan. Syfa semakin bersemangat dalam proses hijrahnya ini. Ia terus berharap semoga Allah meridhoi setiap langkahnya.


“Waalaikumsalam...” jawab Mama dari arah ruang keluarga, sambil duduk menonton televisi. Syfa berjalan menghampiri Mama, kemudian duduk di sebelahnya sambil mencium punggung tangan Mama. “Udah dateng, Fa? Gimana kajiannya?” tanya Mama, “Alhamdulillah lancar ma. Tadi temanya tentang ta’aruf.” jelas Syfa sambil melihat acara berita yang sedang ditonton Mamanya di televisi.


Mama menoleh dan tersenyum, “Alhamdulillah, berarti kamu udah siap ya, Fa?” Syfa menatap mamanya, dahinya mengernyit heran, “Maksud Mama?” tanyanya bingung , “ Ya, siap buat ta’aruf, siap nikah, ya kali kan? Masih jodoh dengan Rendi.” ujar Mama santai, sambil kembali menonton televisi. Syfa hanya geleng-geleng mendengarnya, matanya tak lepas dari layar televisi, tapi pikirannya menerawang. Ternyata definisi move on sebenarnya adalah bukan hanya kita yang dapat melupakan masa lalu, tapi Kita juga harus pastikan orang tua juga melupakan masa lalu Kita.

__ADS_1


Rendi, sudah tidak ada di daftar ingatan Syfa. Semenjak putus satu tahun yang lalu, Ia bersyukur Pria itu sudah tidak mengganggunya lagi hingga saat ini, dan semoga selamanya. Itu yang selalu Ia doakan setiap waktu. Tapi entah mengapa hal itu, bertolak belakang dengan harapan Mama. Mama selalu berharap kelak Rendi masih bisa berjodoh dengan Syfa. Terkadang Syfa takut akan hal itu, Bukankah ridho Allah juga ridho Orang Tua? Apalagi ini Mama, Orang Tua yang melahirkannya.


“Kamu ngelamun?” tanya Mama sambil menyenggol lengannya, “Enggak Ma. ya udah, Ma, Syfa mau mandi dulu ya? Capek juga, mau istirahat.” pamitnya beralasan, sebenarnya Ia malas membahas hal ini. “Ya udah.” jawab Mama tersenyum mengusap kepalanya yang tertutup hijab, kemudian Syfa beranjak dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


Syfa meletakkan tas selempangnya di meja belajar, kemudian merebahkan tubuh diatas kasur. Ia masih belum mengganti hijab dan gamisnya, karena Syfa benar-benar pusing memikirkan hal ini. Matanya menatap langit-langit kamar yang di dominasi warna biru, pikirannya menerawang. Padahal baru saja hati dan pikirannya tenang saat mengikuti kajian dan tilawah tadi.


Sekarang, rasanya Ia kembali dihadapkan pada sebuah kenyataan, Mama yang mengharapkan dirinya menikah, dengan Rendi pula. Syfa menghela nafas, jujur Ia juga ingin sekali menikah dan salah satu keinginannya memiliki keluarga yang sakinah.


Sebelum hijrah dan masih berpacaran dengan Rendi, ada saja pemicu yang membuatnya selalu bertengkar dengan Pria itu, entah dari hal kecil hingga yang sulit diselesaikan. Seperti yang menjadi penyebab putusnya hubungan satu tahun yang lalu, Rendi mengkhianatinya.


Pria itu ketahuan Syfa sedang chat dengan seorang Cewek, adik tingkat satu jurusan di Kampusnya. Saat itu Syfa tidak bisa mengontrol emosi, Ia benar-benar marah pada Rendi, walaupun pada akhirnya Syfa luluh dan tetap memaafkan Rendi. Memberikan kesempatan pada Rendi untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi.


Tapi saat itu juga, Rendi justru memutuskan hubungan mereka dan Ia sempat menyalahkan Syfa. Benar-benar aneh, entah Siapa yang berbuat salah dan Siapa juga yang disalahkan. Syfa tidak ingin hal seperti itu kembali terulang di dalam rumah tangganya kelak, dan Ia tak ingin Rendi menjadi jodohnya. Walaupun Ia juga tak bisa menentang ketentuan Allah jika memang itu terjadi.


Ilmu agama Rendi memang jauh diatas Syfa, Bahkan, Rendi hafal hampir 10 juz di dalam Al-Qur’an. Anehnya, tak satu pun ayat mencerminkan setiap akhlaknya. Jika sedang kesal, Rendi sering membentak Syfa bahkan pernah memaki hingga melontarkan kata-kata kotor. Ya Allah... apa Pria seperti itu pantas menjadi Imamku kelak? gumam Syfa dalam hati.


Dahinya mengernyit saat melihat display hpnya, ada nomor  tak dikenal menghubunginya. Siapa? Syfa ragu


ingin mengangkatnya, tapi kalau dipikir-pikir, siapa tau itu dari orang kantor, atau mungkin Mbak Mala lagi ganti nomor hp. Syfa mencoba mengenyahkan keraguan di pikiran dan hatinya, Ia pun menggeser panel hijau dan mengucapkan salam.


“Halo, Assalamualaikum...dengan siapa?”


“...”


“Rendi?”


***


Lisa membuka lembar demi lembar, Ia sedang kosentrasi membaca setiap alur cerita yang ada pada novelnya. Malam ini Ia sedang duduk di gazebo rumahnya di halaman belakang, bersantai disana sambil membaca novel. Sepulang dari kajian, Lisa mampir ke toko buku terlebih dahulu untuk membeli novel terbaru dari penulis favoritnya Diana Febi, Dear Allah 2.

__ADS_1


Puk!


Seseorang melemparinya dengan gulungan kertas dari arah belakang. Seketika kosentrasinya terganggu, Ia pun menoleh kebelakang dan menemukan sepupunya Gilang sedang terkekeh melihatnya.


"Serius amat bacanya, Buk. Aku segede ini berdiri di belakang kamu aja sampe gak sadar." goda Gilang, Lisa mendengus kesal. "Apaan sih Kamu, Kak. Ganggu aja." kesalnya, membuat Gilang tertawa.


Gilang berjalan dan duduk di depannya, "Jadi gimana? Ada yang mau ta'aruf sama kamu?" godanya lagi, Lisa memutar bola matanya malas, menatap sepupunya itu kesal. "Kak, Lisa kan udah bilang. Tema kajiannya itu ta'aruf, bukan Lisa yang mau ta'aruf. Beda kak, bedaa..." sungutnya, Gilang terkekeh.


Gilang memang suka menggoda adik sepupunya ini. Apalagi saat melihatnya kesal, menjadi hiburan tersendiri bagi Gilang. Meskipun begitu, Gilang adalah orang yang selalu Lisa percaya, ketika Lisa sedang ada masalah. Bahkan Gilang juga selalu siap berdiri di depan, jika ada Orang yang ingin menyakiti adik sepupunya itu.


Gilang merupakan anak tunggal. Setelah melahirkan Gilang, Mamanya terkena tumor rahim hingga mengharuskan menjalani operasi pengangkatan rahim agar tumornya tidak menjalar ke organ tubuh lain. Hal itu yang membuatnya tidak mempunyai saudara kandung lagi sampai sekarang. Meskipun begitu, Ia sudah menganggap Lisa sebagai adiknya sendiri.


"Kakak gak ngedate sama Mbak Citra?" tanya Lisa memulai obrolan, "Enggak, lagi males." jawabnya datar, dahi Lisa mengerut. Tumben?


"Lagi berantem?" tanya Lisa lagi, "Gak tau, Aku ngerasa Dia beda aja belakangan ini." jawabnya masih datar, Lisa tampak berpikir. "Udah gak usah dipikirin." Gilang mencolek hidung Lisa. Membuat Lisa menatapnya tajam.


"Lagian Kak Gilang kelamaan sih ngelamar Mbak Citra. Cewek itu butuh kepastian kali, Kak." ujarnya kesal. "Iya, ntar Aku lamar dia kok. Tenang aja." jawab Gilang santai.


Kemudian Lisa teringat tentang pertemuan dengan teman barunya saat kajian tadi.


"Kak, Aku tadi dapet temen baru lho, pas kajian. Masya Allah, mereka baik tau kak. Padahal baru kenal, Aku diajak ngobrol bareng, tilawah bareng, pokoknya seru deh kak." cerocosnya girang, membuat Gilang tersenyum melihatnya. "Bagus dong, Cowok apa Cewek?" tanya Gilang membuat Lisa menatapnya tajam, Gilang kembali terkekeh.


Lisa melanjutkan ceritanya, tanpa menghiraukan pertanyaan Gilang. "Oh iya, Aku kenalannya sama dua Cewek, Kak. Yang satu namanya Mbak Mala, Yang satu namanya...siapa ya..." Lisa mencoba mengingat nama Teman satunya lagi. "Oh iya, yg satu namanya Sy..."


"Lisa...!" Panggil Mamanya dari dalam Rumah.


Lisa dan Gilang menoleh ke arah sumber suara. "Dipanggil Mama tuh, temuin gih." suruh Gilang. "Ya udah, bentar ya?" Lisa beranjak meninggalkan Gilang.


Gilang menengadah menatap langit malam yang dihiasi bintang. Gilang kembali memikirkan masalahnya dengan Citra. Entah apa yang disembunyikan Citra darinya, cepat atau lambat Ia akan mencari tau.

__ADS_1


__ADS_2