Sakinah Menuju Jannah (New Version)

Sakinah Menuju Jannah (New Version)
Takdir, Atau Kebetulan?


__ADS_3

Hidup ini adalah serangkaian Kebetulan


Kebetulan adalah Takdir yang menyamar ~ Fiersa Besari


"Na'am, Mbak, tinggal dikit lagi kok tanggung, ana kirim ke editor, trus kita langsung berangkat," jawab Syfa, sambil mendengarkan suara Mbak Mala di seberang sana, menggunakan headset yang menggantung di telinganya. Matanya tak lepas membaca tulisan yg Ia ketik, jari2nya lincah menghapus dan membenarkan kata-kata yg salah.


"Na'am, Mbak, Waalaikumsalam,"


Tut !


Syfa melepas headsetnya kemudian kembali fokus menulis artikel. Tinggal satu artikel terakhir yang Ia tulis sore ini. Kemudian Ia harus bersiap menjemput Mbak Mala menuju toko buku.


Baru tadi pagi, Dia melihat postingan instagram Diana Febi. Novel favorit yang Dia tunggu, baru saja terbit. Hal itu yang membuatnya semangat dan bergegas menyelesaikan artikelnya hari ini.


Tok, tok, tok !


"Iya, masuk...!" teriaknya dari dalam.


Pintu kamar terbuka, Mama masuk sambil tersenyum menghampiri Syfa yang sedang bersandar di kepala ranjang, sambil tetap fokus pada laptop yang ada di pangkuannya. Syfa hanya melirik sekilas, Mama kemudian duduk di samping ranjang dihadapan Syfa.


"Fa, kamu sibuk gak malem ini?" tanya Mama tiba-tiba, membuat kening Syfa mengerut, pandangannya beralih ke Mama,


"Syfa mau ke toko buku sama Mbak Mala udah janjian, kenapa ma?"


"Em....jadi gini...Orang Tua Rendi, ngajak kita sekeluarga dinner nanti malem, kalau misal kamu tunda dulu ke toko bukunya gimana? Mala juga pasti ngerti kok sayang," bujuk Mama.


Huh, Dia lagi ! Syfa benar-benar muak dengan hal ini, laki-laki itu tetap saja mengganggunya.


"Maaf ya, Ma? Syfa gak bisa, Syfa harus pergi sama Mbak Mala, Syfa udah janji," ujarnya, mencoba menolak.


"Semalem ini aja kok, Sayang, gak tiap hari."


Ya kali, tiap hari? hari ini aja ogah ! batin Syfa.


"Syfa minta maaf ya, Ma? Mama tau Syfa kan? Syfa gak gampang batalin rencana Syfa kalau gak ada hal yg bener-bener urgent. Apalagi ini Syfa udah janji sama Mbak Mala jauh-jauh hari."

__ADS_1


"Tapi kan ini juga urgent, Sayang....,"


"Gak urgent, Ma, kemarin Syfa kan udah ketemu sama Rendi. Syfa juga udah ngobrol banyak kok. Insya Allah next time ya?" ujarnya, sambil mengusap lengan Mama. "Ya udah, Syfa siap-siap dulu. Terus berangkat, keburu malem," Syfa beranjak dari duduknya, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Mama yang tersenyum sendu menatapnya.


***


"Bener-bener deh Fa, ana udah gak ngerti lagi," jawab Mbak Mala geleng-geleng kepala, mendengarkan cerita Syfa, tentang rencana orang tua Rendi yang mengajak keluarganya dinner.


Saat ini mereka sedang duduk di salah satu food court di dalam sebuah Mall. Syfa hanya mengaduk-ngaduk jus jambunya, tanpa berniat untuk meminumnya. Pandangannya hanya fokus pada sedotan yang ia putar-putar di gelasnya.


"Mbak, Syfa salah gak sih, gak nurut sama Mama?" keluhnya kemudian. Ia benar-benar tidak tau, tindakannya ini benar atau salah.


Mbak Mala tersenyum, tangannya menggenggam tangan kiri Syfa diatas meja, seakan memberi gadis itu kekuatan. "Fa, banyakin doa ya? Mungkin ada hal yg belum anti penuhi selama proses hijrah, dan Allah lagi ngingetin itu." ujar Mbak Mala mengingatkan, Syfa tersenyum sendu.


Memang benar, akhir-akhir ini Ia sulit sekali istiqomah dalam beribadah. Ya, siapa tau ini memang teguran dari Allah, Allah sedang mengingatkan Syfa sebelum jauh. "Iya sih, Mbak. Akhir-akhir ini Syfa agak berantakan ibadahnya." akunya kemudian.


Mbak Mala kembali tersenyum, sambil mengusap punggung tangan Syfa lembut. "Gak papa, usahain terus aja. Asal jangan sampe ninggalin, hingga jauhin Allah ya?"


"Iya Mbak," jawab Syfa tersenyum, membuat Mbak Mala ikut tersenyum.


***


"Duh, mudah-mudahan kebagian deh." gumam Lisa penuh harap. Ia sedang dalam perjalanan menuju ke toko buku yang berada di mall, tak jauh dari rumahnya. Gilang yang berada di sampingnya sambil mengemudikan mobil, terlihat santai menatap jalanan yang tak begitu ramai.


Pagi-pagi tadi, Lisa sudah menelfonnya, dan minta diantar ke toko buku. Rencananya ingin main game seharian dikamar berantakan sudah, karena adik sepupunya itu, yang merengek minta diantar. Jadilah Ia saat ini, berada dalam perjalanan bersama Lisa, dan menuruti keinginan gadis itu.


"Oh iya, Kak Gilang, ntar kalau aku ketemu sama ukhti Syfa, Kakak ikut ya?" ujar Lisa tiba-tiba, membuat Gilang yang sedang fokus menyetir sontak menoleh, "Ngapain?" tanyanya heran, sambil kembali fokus mengemudi. "Ya siapa tau jadian, hehehehe," goda Lisa asal. "Ngaco' kamu, anak kecil !" balas Gilang, Lisa hanya cengengesan.


Jadian? gumam Gilang dalam hati, hingga tanpa sadar Ia geleng-geleng kepala memikirkan hal itu. Tidak mungkin, Syfa gadis yang baik. Mana mungkin Syfa mau dengan laki-laki seperti dirinya. Ilmu agamanya saja tidak sejauh gadis itu.


"Gak mungkin," gumam Gilang tanpa sadar, membuat Lisa sontak menoleh, "Mungkin aja kak, kalau Allah udah berkehendak?" goda Lisa lagi, diiringi tawa, seakan mengerti apa yang Gilang pikirkan. Hal itu membuat Gilang mendengus kesal.


***


"Yuk,Mbak, keburu malem nih," ajak Syfa. "Eh iya, yuk !" balas Mbak Mala. Syfa berjalan menuju meja kasir untuk membayar, kemudian menghampiri Mbak Mala yang menunggunya di pintu masuk food court, dan berjalan menuju toko buku.

__ADS_1


"Ketemu gak dek?" tanya Gilang kesekian kalinya. Ia benar-benar bosan, sedari tadi hanya mengikuti Lisa dari belakang, menulusuri rak-rak novel dan sibuk mencari novel favoritnya. "Ih, Kak Gilang, bentar napa sih? bawel banget deh," sungut Lisa kesal, Ia masih tetap fokus membaca beberapa novel.


"Ya udah, ntar telfon aja ya? Kakak mau lihat-lihat dulu." ujar Gilang kemudian, "Eh, bentar kak," cegah Lisa, menahan Gilang yang hendak beranjak meninggalkannya. "Kakak mau kemana?" tanya Lisa, "Ya mau lihat-lihat juga. Kakak bosen ngikutin kamu terus kayak anak ayam."


"Hehehehe, ya udah deh, jangan jauh-jauh ya?"


"Gampang, ntar telfon aja."


"Oke,"


"Judulnya apa sih, Fa?" tanya Mbak Mala, saat mereka berjalan menulusuri rak-rak novel. "Merhaba....merhaba...apa ya? Pokoknya ada merhabanya, Mbak." jawab Syfa. Mbak Mala hanya manggut-manggut. "Eh, astagfirullah..." ucap Syfa tiba-tiba menepuk keningnya, karena mengingat sesuatu. "Ana lupa, mau beli buku fiqih wanita juga. Mbak Mala cari duluan aja ya? ntar Ana nyusul." ujar Syfa kemudian, "Eh, gak papa nih, anti sendirian?" tanya Mbak Mala memastikan, "Gak papa, Mbak. Bentar ya?" Syfa berjalan meninggalkan Mbak Mala.


Syfa menulusuri buku-buku islami, membaca satu persatu judul, dan mencoba menemukan buku yang Ia cari, sambil mengambil salah satu buku islami dan membaca bagian belakang buku itu.


Duk !


"Aduh !" Syfa terdorong dan jatuh tersungkur, buku yang Ia pegang terlempar jauh kedepan. "Eh, sorry-sorry," ucap seorang laki-laki yang berdiri dibelakang dan mengulurkan tangannya. Syfa mendongak, dan menatap laki-laki itu, seketika keduanya terkejut.


"Ilang?"


"Ifa?"


Ujar mereka hampir bersamaan. Mereka masih saling tatap, mencoba mengerti hal yang tidak mereka duga sebelumnya. Namun seketika Gilang sadar dari lamunannya.


"Eh, sorry If, aku gak sengaja." ujar Gilang, sambil mengulurkan tangannya, membantu Syfa berdiri. Syfa hanya tersenyum, kemudian berusaha berdiri sendiri.


"Gak papa Il, aku juga tadi sibuk sendiri, gak perhatiin sekitar," ujar Syfa sambil tersenyum, membuat Gilang salah tingkah, dan menarik tangannya.


"Oh iya, kamu apa kabar Il?" tanya Syfa, mencoba mencairkan suasana yang canggung. "Aku...baik, kamu sendiri?" tanya Gilang balik. "Alhamdulillah baik." jawab Syfa, kemudian mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Syfa yang mulai merasa canggung, akhirnya mengalihkan fokusnya untuk mengambil buku yang jatuh dan meletakkannya kembali ke rak buku. "Em...If, gimana kabar Mama sama Papa kamu?" Gilang berusaha memulai obrolan kembali. "Alhamdulillah, baik." jawab Syfa, kemudian mereka kembali terdiam.


"Ini, yang dicariin dari tadi, gak taunya disini," ujar Lisa tiba-tiba, sambil memukul pundak Gilang dengan novel yang ada di tangannya. Pandangannya beralih pada Syfa yang berdiri di depan Gilang. "Masya Allah, ukhti Syfa?" Lisa menghambur ke pelukan Syfa. Syfa pun balas memeluknya. "Masya Allah, Tabarakallah ukhti Lisa," jawab Syfa.


"Ukhti cari buku juga?" tanya Lisa, sambil melepas pelukan mereka, Syfa mengangguk. "Iya, ana sama Mbak Mala kesini, beliau masih cari-cari buku." tunjuk Syfa ke tempat Ia meninggalkan Mbak Mala.

__ADS_1


"Jadi kalian udah ketemu? ini namanya kebetulan, apa takdir ya?" goda Lisa pada keduanya. Gilang hanya menatapnya tajam, sedangkan Syfa terlihat bingung, dengan maksud ucapan Lisa.


__ADS_2