Sakinah Menuju Jannah (New Version)

Sakinah Menuju Jannah (New Version)
Gilang, dan Sapaan Masa Lalu


__ADS_3

Bukankah semuanya telah digariskan? Maka dari itu Aku percaya, bahwa ini bukan kebetulan. ~ Syfa


Flashback on


"Kamu takut?" tanya seorang bocah laki-laki berumur 7 tahun, kepada gadis yang juga sebaya umurnya. Gadis itu sedang berdiri dan merenung di depan gerbang sekolah, sambil sesekali celingukan ke jalan, menunggu jemputan dari orang tuanya. Sekolah sd sudah tampak sepi, dan Ia hanya berdua dengan bocah laki-laki itu.


Gadis itu cemberut, saat bocah tersebut, memainkan rambutnya yang di kepang dua. "Jangan ganggu aku! Pergi sana!" bentaknya, membuat bocah itu tertawa, "Kalau aku pergi, ntar kamu nangis." goda bocah tersebut, sambil terus memainkan kuciran rambutnya.


Sebuah mobil berhenti di seberang jalan, kemudian seorang pria paruh baya dengan setelan jas warna hitam khas seorang pekerja kantor keluar dari mobil tersebut, dan melambaikan tangan pada bocah itu. "Aku udah di jemput, kamu mau bareng aku?" tawarnya, gadis itu ragu, Ia bingung, bagaimana kalau mereka ternyata orang jahat, papanya selalu berpesan agar jangan mudah percaya dengan orang yg baru dikenalnya. "Gimana?" bocah itu kembali menawarkan.


Pria paruh baya itu menyeberang jalan dan menghampiri mereka, "Kamu Syfa kan? anaknya Pak Cipto?" tanya Pria itu, gadis yang bernama Syfa itu menatapnya ragu, "I...iya, Om, em, Om kenal sama papa?" tanyanya polos, "Papa kamu temen satu kantor Om, papa kamu titip pesen, kalau kamu harus pulang bareng Om," jawab Pria itu lembut, membuat Syfa semakin bingung. "Ikut aja, aku sama papa bukan orang jahat kok." jawab bocah itu, seakan bisa membaca apa yang sedang Syfa pikirkan. Syfa mengangguk, akhirnya mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mobil.


"Nama kamu Ifa?" tanya bocah itu, sambil mengulurkan tangan, saat mereka sudah dalam perjalanan, Ia duduk di kursi tengah dengan Syfa. Syfa yang awalnya melihat jalanan dari jendela mobil itu pun menoleh, "Bukan Ifa, namaku Syfa," jawabnya membenarkan, sambil membalas uluran tangan bocah itu, "I...fa," ulangnya, "Syfa!" tegas Syfa, "I...fa..." bocah laki-laki itu, mengulangi ucapannya, namun Ia berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Sungguh, Ia begitu senang menggoda gadis kecil itu. Syfa mendengus kesal, "Terserah kamu deh," ucapnya pasrah sambil kembali melihat jalanan dari jendela mobil, bocah itu terkekeh pelan karena berhasil menggoda gadis itu.


"Oh iya, aku Gilang," ucapnya, Ia masih tak menyerah ingin mengobrol dengan Syfa. Syfa tampak berpikir, kemudian menoleh menatap Gilang, "I...lang?" balasnya tak mau kalah, "Gi...lang. bukan Ilang," ujar Gilang membenarkan ucapan gadis itu. Syfa menggeleng, "Kamu manggil aku Ifa, yaudah biar adil, aku panggil kamu Ilang," ucapnya polos. Gilang tersenyum, Dia kalah.


"Semoga kita bisa berteman baik." ujar Gilang akhirnya.


Flashback off


Gilang tersenyum kala mengingat perdebatan pertamanya dengan Ifa. Ia hanya merebahkan dirinya di ranjang kamarnya, yang hanya disinari lampu tidur diatas nakas. Hingga saat ini Ia masih belum bisa memejamkan mata, padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Ifa, pikirannya kembali tertuju pada gadis itu, Bagaimana keadaan gadis itu? Gadis kecil polos yang Ia temui di depan gerbang sekolah waktu dirinya masih sd dulu, Gadis manis yang Ia ganggu waktu itu, Gadis pertama yang mengajaknya berdebat untuk pertama kalinya saat mereka baru berkenalan. Ya Tuhan, dimana Ifa sekarang? Bagaimana kabarnya? pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikiran Gilang.

__ADS_1


"Tapi apa foto itu beneran Ifa ya?" gumam Gilang, mengingat foto yang ada di dompet teman Lisa tadi siang. "Apa aku telfon Lisa aja? siapa tau aku dapet infonya malem ini," gumamnya lagi pada diri sendiri, sambil meraih hp di atas nakas yang ada di samping ranjangnya, kemudian mencoba menghubungi sepupunya itu.


"Halo....Assalamualaikum..." sapa Lisa di seberang telfon, suaranya terdengar serak, khas orang bangun tidur. "Waalaikumsalam, dek, ini kakak," ujar Gilang, membuat Lisa mendengus kesal di seberang sana, "Kakak udah kayak penipu undian tau gak sih kak? nelfon malem2!" ucap Lisa kesal, membuat Gilang terkekeh, "Dek, Em..." tiba-tiba Gilang ragu, apakah ini waktu yang tepat? menanyakan Ifa langsung pada Lisa, apalagi ini sudah larut malam. "Halo? Kak, Ih....kok diem sih! udah ah, Aku mau tidur!" sungut Lisa kesal, "Eh, eh, bentar-bentar, Em...tadi kan kakak belum selesai nanya sama kamu, nama temen kamu itu siapa? itu lho, yang dompetnya ketinggalan di rumah kamu." jelas Gilang, dalam hati Ia berdoa, semoga Lisa tidak curiga.


Lisa menghela nafas sejenak, "Jadi mau nanya itu?" tanya Lisa memastikan, "Namanya Syfa kak, aku manggilnya Ukhti Syfa. Dia temen satu kajian aku."


Deg!


Syfa? ya, dompet itu milik Ifa, gadis kecil itu. Ya Tuhan! "Ifa?" ucap Gilang pelan tanpa sadar, namun dapat terdengar oleh Lisa di seberang sana,"Namanya Syfa, kak Gilang, bukan Ifa, " sungut Lisa kesal di seberang sana, "Eh, iya maksud kakak, Syfa, hehehe." Gilang mengutuk mulutnya yang tanpa sadar menyebut nama panggilannya pada Syfa waktu kecil. "Em...ya udah, kamu istirahat ya? sebelumnya makasih ya dek? malem..." ujar Gilang kemudian, dan segera mengakhiri telfonnya, kemudian meletakkan kembali hpnya diatas nakas.


Gilang kembali tersenyum, semoga takdir memang membawanya bertemu gadis itu.


Semoga aku bisa ketemu kamu lagi Ifa, gumamnya dalam hati.


"Bentar ya fa?" ujar Mbak Mala, Syfa mengangguk, kemudian Mbak Mala keluar dari mobil Syfa dan masuk ke dalam toko kue Serena Cake's. Saat baru pulang dari cafe dengan Mbak Mala, Bunda Mbak Mala menelfon ingin dibelikan pie susu di Serena Cake's. Akhirnya Syfa berniat ingin mengantar Mbak Mala beli kue itu, sebelum mengantar pulang ke rumahnya.


Syfa menunggu di dalam mobil, pandangannya menyusuri jalanan yang ada di luar sana. Tiba-tiba hpnya berbunyi, Ia pun merogoh hp yang ada di dalam tasnya, kemudian melihat displaynya,


"Mama?" gumamnya, Ia pun segera mengangkat telfon dari Mamanya.


"Iya ma?"

__ADS_1


"....."


"Syfa di Serena cake's, nungguin Mbak Mala beli kue,"


"...."


"Oh itu, iya, ntar Sy..." ucapannya terhenti, karena tiba-tiba matanya menangkap seorang laki-laki sedang mengobrol dengan Mbak Mala yang baru saja keluar dari toko kue itu, Itu seperti....Gilang?


Gilang tampak mengobrol dengan Mbak Mala, sambil sesekali tersenyum dan mengangguk sungkan, begitu pun Mbak Mala yang sesekali menanggapi, sambil tersenyum sungkan,


Mbak Mala kenal Gilang?


"I...iya, Iya ma. Ma, ntar Syfa kabarin ya? Assalamualaikum?" Syfa menutup telfonnya sepihak sebelum Mama menjawab salamnya. Matanya masih fokus menatap keduanya.


Mbak Mala mengakhiri obrolannya dengan Gilang dan berjalan menghampiri mobil Syfa, Syfa menghela nafas sejenak, Ia ingin menanyakan hal itu ke Mbak Mala. Mbak Mala masuk ke dalam mobil Syfa, dan duduk di samping kemudi, sebelah Syfa. "Yuk fa," ujar Mbak Mala, sambil memasang sabuk pengaman, "Em...Mbak, Syfa boleh nanya?" tanyanya hati-hati. Ia ragu, jangan-jangan Mbak Mala kenal dengan Gilang. Mbak Mala menoleh, "Sejak kapan ana ngelarang anti nanya?" Mbak Mala balas bertanya sambil tersenyum, Syfa menghela nafa lega, "Mbak Mala...em...kenal sama...Gi...orang tadi?" tanya Syfa gugup, Ia belum berani menyebut nama Gilang, Ia takut prasangkanya salah. "Oh, Ikhwan tadi?" Syfa mengangguk pelan, wajahnya masih gugup. "Ikhwan tadi itu, hampir nabrak ana, waktu ana baru keluar dari toko. Padahal belum nabrak juga. Tapi dia minta maaf duluan sama ana," jelas Mbak Mala kemudian.


Nah, kan?


Syfa tampak berpikir, dugannya ternyata salah. "Kenapa fa?" tanya Mbak Mala, Syfa masih bergeming. "Astagfirullah, Syfa!" panggil Mbak Mala sambil menepuk pundaknya pelan, membuat Syfa tersentak dan sadar dari lamunannya, "Eh, iya mbak?" ucapnya kaget, "Anti kenapa ngelamun? kagum sama ikhwan yang tadi?" tanya Mbak Mala, setengah menggodanya. Syfa menggeleng cepat, "Enak aja, liatnya juga dari jauh, gak keliatan kali Mbak. Lagian Syfa juga gak tau dia cakep apa enggak," jawabnya bohong, padahal begitu banyak pertanyaan tentang Gilang dalam pikirannya. "Cakep atau enggak, kalau jodoh, baru tau rasa!" cibir Mbak Mala santai,


Deg!

__ADS_1


Syfa terdiam, matanya menatap lurus ke depan. Jodoh? Syfa bahkan belum berpikir sampe sana. "Eh, malah bengong lagi, ayo jalan, mau sampe subuh disini?" Mbak Mala menepuk pundak Syfa pelan, membuat Syfa menoleh, "Eh, iya, afwan mbak, hehehe," jawabnya nyengir, kemudian menyalakan mesin mobilnya, dan meninggalkan pelataran toko itu.


Gilang, apa kamu masih ingat aku? gumam Syfa dalam hati.


__ADS_2