
Hari Raya Idul Fitri sudah semakin dekat. Tak terasa Minggu ini adalah Minggu terakhir puasa ramadhan. Waktunya mudik ke kampung halaman. Dimana momen kumpul keluarga adalah hal yang paling tak aku sukai.
Namaku Dira, nama lengkapku Dirawan Arya menurutku tampangku lebih dari biasa-biasa saja alias lumayan tamvan (tetep dibaca pake v), memiliki perawakan tinggi tapi enggak tinggi-tinggi banget si, kulit putih merona, hidung mancung mirip orang timur tengah, memiliki alis tebal seperti ulat bulu, pokonya menurut diriku sendiri ketika berkaca didepan cermin aku itu bisa dikategorikan cowok ganteng. Tapi, di umurku yang sekarang sudah menginjak kepala tiga lebih lima tahun masih saja menjomblo, belum bisa menemukan bidadari pendamping hidup. Aku pun merasa aneh dengan diriku sendiri, tampang segini tamvan tapi kok belum ada yang mau.
Entahlah apa ada yang salah di pada diriku ini kenapa cewek-cewek diluar sana tidak ada yang tertarik padaku. Sedangkan teman-teman ku dengan tampang yang pas-pasan saja masih bisa memiliki pacar atau istri yang cantik. Kalian pasti mengira Aku kurang bergaul tidak berniat serius mencari kekasih. Kalian salah, aku sangat serius tapi apa daya entah apa ada yang salah pada diriku. Ketika serius mendekati cewek, awal-awal mereka tampak bahagia tetapi setelah berkenalan selama seminggu , tiba-tiba meraka menjauh dan menjaga jarak denganku.
Argh... Aku sudah lelah , biarlah jodoh datang dengan sendirinya tepat pada waktunya. Sebenarnya aku sangat santai dengan status ku tetapi ketidak santaian itu malah datang dari ibuku sendiri, kalian pasti tahu kekhawatiran seorang ibu ketika mendapati anak laki-laki nya diumur yang lumayan tua ini belum juga menikah. Mereka kira Aku takut perempuan, mereka kira Aku tidak normal, ihh...membayangkan nya saja aku jijik. Aku sangat normal, aku pencinta perempuan sejati, pernah berpacaran selama empat tahun lebih, mana mungkin aku dikatakan tidak normal. Aku tertarik dengan cewek-cewek cantik berhijab, ya tipe cewek yang Aku sukai yaitu cewek berhijab. Tetapi mungkin Tuhan belum memberikan jodohku untuk sekarang karena sekarang bukan waktu yang tepat.
Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta di IbuKota, setiap menjelang Idul Fitri Aku pasti pulang ke kampung halaman. Aku lahir disebuah kota kecil di Jawa Barat tepatnya di Garut. Sebenarnya Aku sangat senang ketika hari lebaran tiba bisa berkumpul bersilahturahmi dengan sanak keluarga. Tetapi kini kegiatan berkumpul dihari raya adalah kegiatan yang paling Aku tidak sukai, Aku bosan dan lelah, bagaimana tidak bosan setiap hari itu tiba ketika berkumpul bukannya jadi ajang senda gurau meluapkan rasa rindu sesama keluarga malah jadi ajang tanya jawab dan menjadi sasarannya, siapa lagi kalau bukan aku orangnya.
"Dira, mana pacar kamu teh ko ga dibawa mudik?" Celoteh Bi Nyai, adik dari Ibuku.
"A Dira mah belum punya pacar Bi, cariin lah Bi! takut jadi bujang lapuk," Jawaban Dara adik bungsuku sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kata siapa A Dira enggak punya pacar?Dia itu punya pacar cuma belum ketemu aja," Ucap keponakan ku Dilan, dengan senangny Dia menertawakanku.
"Mamah kan udah tua A Dira, cepetan atuh bawa calon istri Aa kerumah ini! Mumpung Mamah masih ada, pengen lihat Aa nikah dulu," Akhirnya kata-kata pamungkas Ibuku dikeluarkan juga.
Kalau sudah begini aku tidak bisa hanya diam seribu bahasa saja, tentu harus menjawab dengan tenang dan menenangkan hati Ibuku.
"Ya Mah, sabar atuh! Aa udah punya calon ko Mah, cuma tahun ini belum bisa ngenalin ke Mamah. Mungkin nanti kalau ada waktu Aa ajak pulang kampung kesini, Aa kenalin ke Mamah," jawabku meyakinkan agar tidak mendapatkan wejangan-wejangan lain nya yang lebih rumit.
"Alhamdulillah .." serempak keluarga ku mengucapkanya.
Yang penting sekarang Aku sudah enggak jadi bahan olok-olokan keluargaku dulu. Masalah pacar, biar nanti Aku pikirkan bagaimana cara nya dalam waktu singkat, bisa membawa calon istri ke rumah ini. Supaya tahun depan enggak ada drama seperti ini lagi. Pokoknya bagaimana caranya dalam waktu satu tahun udah bisa bawa calon istri kesini,duh..kalau sampai belum juga ketemu jodoh bisa-bisa lebaran tahun depan, Aku libur mudik lebaran dulu. Sampai Aku menemukan jodoh baru, Aku berani pulang kampung. Enggak sanggup kalau terus-terusan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang teramat horor itu.
Bukannya aku tidak pernah meminta jodoh pada Sang Maha Pencipta, hampir setiap hari dalam waktu sholatku selalu kusisipkan doa-doa semoga dimudahkan bertemu dengan jodohku kelak. Sampai pada titik lelahku tak kunjung dipertemukan dengan belahan jiwa, Aku berdoa "Ya Allah, Aku memohon kepadaMu peretemukan lah Aku dengan jodohku dalam waktu dekat ini. Aku kan menerima semua kekurangan apapun yang ada dalam diri calon pendamping ku nanti, tak perlu cantik dan putih, yang penting baik hati dan rajin beribadah. Amin.."
Ku ingat-ingat kembali doa ku, ko seperti ada yang mengganjal. Argh .. cowok tamvan seperti Aku mana mungkin dapat cewek yang biasa-biasa saja, pasti cantik lah. Meyakinkan dengan sangat optimis.
Seminggu sudah aku libur lebaran dikampung halaman, saatnya kembali ke ibukota dengan membawa harapan seluruh keluarga besarku.
Hari itu hari Senin. Selepas pulang kantor, saat aku menunggu ojek online didepan kantor dari jarak 500 meter sebelah kanan, sepertinya ada sosok yang diam - diam sedang memperhatikanku, mencuri - curi pandang. Apa mungkin hanya perasaanku saja, bukan sosok astral tapi ini sesosok cewek cantik berkerudung merah, berkulit putih, memiliki senyum yang begitu manis dan teduh. Duh..tiba-tiba di dalam dadaku seperti ada genderang mau perang, setiap ada Kamu mengapa hatiku .. woalah kok Aku malah nyanyi. Aku enggak mau terlalu percaya diri, ku tengok depan belakang, kanan kiri, siapa tahu ada orang lain yang sebenarnya dia perhatikan bukan aku orang nya. Kan malu kalau salah sangka, padahal aku udah geer sekali diperhatikan cewek cantik berkerudung itu.
Diam-diam aku melirik memperhatikan, ketika kedua mata kita tak sengaja bertatap Dia memalingkan muka ke arah lain, ketika ku mengarah ke arah lain dia menoleh kembali, ketika aku melirik ke arah nya kembali, langsung dia buru-buru memalingkan mukanya kembali. Terus saja begitu sampai lebaran tahun depan enggak selesai-selesai.
Tapi bisa Ku lihat segurat senyum di bibirnya, ketika pandangan kita beradu secara singkat. Semakin membuatku penasaran. Siapa Dia?.
Padahal bila ingin berkenalan denganku langsung saja, pasti dengan senang hati Aku akan menyambut nya dengan penuh semangat.
"Mas Dira ya?" Ojek online ku sudah ada di hadapanku.
__ADS_1
"Oh..iya mas," Langsung aku duduk dibelakang Mas ojek online.
Sesampainya di rumah, pikiranku tak lepas dari sosok cewek tadi. Cewek berkerudung tadi siapa ya, Aku bertanya-tanya sendiri merasa penasaran. Apa mungkin karyawan perusahaan sebelah ya. Argh..Aku sampai tak bisa tidur memikirkannya. Besok saja ku cari tahu. Mungkin ini pertanda semakin dekat Tuhan mengabulkan doa-doaku. Semoga seperti itu.
Besoknya selepas pulang kantor, Aku memang sengaja tidak langsung memesan ojek online. Pikirku, berharap cewek berkerudung merah kemarin menunggu di tempat yang sama. Tak berselang lama, Dia keluar dari perusahaan sebelah dan berdiri ditempat yang sama seperti kemarin. Berharap Dia akan mencuri pandang lagi kepadaku, jika itu terjadi Aku akan memberanikan diri berkenalan.
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku.
"Woy.. jereng itu mata lama-lama, lihatin si Nania enggak pake kedip," Ujar Andri teman kantorku.
"Siapa tadi loe bilang? Nania? Loe kenal Ndri?"
"Kenal lah, siapa yang enggak kenal Ukhti cantik macam Dia," kelakar Andri.
Andri teman kantorku yang usia nya jauh lebih muda dibawahku, siapa yang tak kenal Andri si playboy cap kadal kejepit. Wah.. bisa lah, kupikir mencari tau tentang Nania sama Andri.
"Dulu sempat gue mau deketin, tapi susah Bro. Dia terlalu alim buat dideketin, padahal gue penasaran banget sama Nania," Celoteh si Andri.
Aku yang dengar Andri berkata seperti itu sangat merasa enggak nyaman, kok kaya ada panas-panasnya gitu. Dia bilang susah mendekati Nania, untung saja Nania tidak semudah itu di dekati si playboy cap kadal kejepit kaya Andri. Bisa diajak kerah yang enggak benar ini. Aku lega.
Tapi ku pikir bisa lah aku cari informasi tentang Nania ke si Andri. Ada guna nya juga punya teman kenal banyak cewek.
"Untung ya Dia ga mau sama loe."
"Ehm.. gimana ya, dari kemarin itu Nania curi-curi pandang gitu Bro sama Gue," Dengan percaya diri Aku utarakan ke Andri.
"Ngaco Loe! Haha.. Salah kira kali Loe bro, bisa aja Nania lagi kelilipan terus enggak sengaja matanya kearah Loe," si Andri enggak terima.
"Ya udah kalau Loe enggak percaya! Gue yakin Nania curi-curi cupke-cupke sama Gue."
"Gue aja ngedeketin Dia enggak berhasil, dengan berbagai macam cara g
Gue lakukan dari beliin bunga, coklat, sampe kemana-mana bawa buku Yasin biar dikira Gue cowok alim, enggak bisa bikin Nania tertarik sama Gue. Bukan cuma enggak tertarik, dilirik aja gue enggak. Nasib-nasib! Padahal diluar sana banyak cewek yang ngantri pengen dideketin sama gue. Tapi Nania cewe yang beda," Curhat si Andri.
"Haha.. enggak sekalian aja loe pake sarung setiap hari, biar dikira loe habis sunatan. Buat nandain kalau loe bener-bener udah baligh."
"Kurang asem loe, dikira gue bocah bau kencur," ujar si kadal eh si Andri.
"Eh tuh si Nania baru keluar dari kantornya! Nih gue buktiin ya kalau omongan gue itu bukan kehaluan semata, Nania bener-bener curi-curi cupke sama gue."
Nania berjalan ke arah halte tempat para karyawan biasa menunggu ojek online. Sosok teduh itu begitu anggun dari cara dia berjalan, cara dia berbusana, Masyaallah ukhti engkaulah bidadari.
__ADS_1
Hari ini Nania tampak begitu manis dengan mengenakan jilbab panjang menjuntai menutupi bagian depan tubuhnya, berwarna cream dan dipadu padankan dengan kemeja dengan wrna senada dan rok lebar berwarna putih. Tak lupa sepatu flat berwarna cream menyempurnakan penampilannya.
Andri sengaja belum memesan ojek online, Dia ingin membuktikan perkataanku tadi kalau Nania memang benar-benar mencuri pandang terhadapku.
"Udah deh jangan coba-coba deketin Nania!"
"Memangnya kenapa?"
"Berat, kamu enggak akan kuat biar aku saja." Sanggah Andri
"Ah..dasar Dilan, Dilan-tarkan Nania."
"Ditelantarkan itu mah."
"Haha.." aku tertawa sangat kencang sehingga orang-orang sekitar melihat kearahku tak terkecuali si gadis pujaan akang, eh aku.
Nania menoleh ke arah aku dan Andri, sedikit senyum simpul menghiasi bibirnya. Dia tersenyum ke arahku, benar! Senyum itu ditujukan kepadaku. Serasa ada yang mau keluar dari dalam dadaku. Dag Dig duh set enggak karuan.
Andri yang melihat sekilas kejadian tadi, hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Andri menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Kayanya kacamata gue harus diganti nih, apa minus gue udah berubah jadi silinder. Wah.. bener-bener Burem."
"Ya Burem dan suram hidup loe, haha.. bukan kacamatanya yang harus diganti tapi pikiran loe bro," Aku tertawa puas.
"Beruntung bro, bisa disenyumin sama ukhti macam Nania. Gue mah apa atuh remahan lirikan mata juga enggak dapet."
"Sekarang percaya kan loe bro?"
"Padahal gantengan sama mudaan gue dari pada loe bro. Mungkin Nania suka nya sama yang tua-tua macam loe bro," Andri masih dalam keadaan tak terima.
"Tua-tua gini juga gue mirip syahruk, kan? Berkarisma."
"Ya loe kaya serok, kan?"
Aku dan Andre pun tertawa. Sementara kita berdua sibuk dengan argumen masing-masing, ternyata Nania sudah enggak ada di tempat tadi dia menunggu ojek online. Argh.. keasikan ngobrol sama si Andri jadi hilang dari padangan, si Nania. Pokonya besok aku harus tungguin dia, kalau ada kesempatan harus ku beranikan diri berkenalan dengannya.
Ini kesempatan buatku, pucuk di cinta ulam pun tiba, bak gayung bersambut, kalau tak segera ku bertindak bisa-bisa hilanglah kesempatan ku. Jangan sampe lolos lagi, aku enggak mau terlalu tua menikah.
Jangan sampe calon istriku sekarang masih memakai seragam putih merah. Bertemu denganku pas aku udah jadi aki-aki lalu viral disosmed dengan Hadline "Seorang aki-aki masih bujangan nekat menikahi gadis muda dengan mahar fantastis." Membayangkannya saja aku sudah bergidik.
Besok aku harus menyusun rencana, bagaimana bisa kenal lebih dekat lagi dengan Nania. Aku bingung harus memulai berkenalan seperti apa, secara sudah berabad-abad lalu aku tak pernah dekat lagi dengan cewek. Aku enggak mau terlihat bodoh di depan Nania.
Apa langsung saja minta kenalan dan minta nomor handphone nya, nanti dikira enggak sopan. Apa harus menjatuhkan benda dihadapan Nania lalu tangan kita beradu berebut mengambilnya dari bawah, udah macam sinetron saja. Iya kalau sama-sama ngambil kalau di injek bagaimana.
__ADS_1
Biar besok saja aku pikirkan bagaimana cara berkenalan dengan Nania, kalau sudah mentok tinggal ku tanyakan saja pada si Mbah, bukan si mbah yang bau kemenyan tapi si Mbah yang pintar nya kebangetan, nanya apa saja ada jawabnya. Sampai tutorial bernafas saja ada, Siapa lagi kalau bukan Mbah Google. Emang jurus paling jitu ketika sedang dalam keadaan kepepet.
"Ya Tuhan, semoga besok apa yang saya inginkan berjalan lancar tanpa kendala, dan semoga Nania bisa bekerjasama dengan baik dalam menerima perkenalanku. Jangan sampai ada adegan tolak menolak. Amin." Doaku sebelum berajak ke tempat pembaringan.