
Ku datangi kembali kantor Nania, ku hampiri mbak-mbak receptionis kantor dan menyerahkan map coklat kepadanya,
"Siang mba, saya mau nitip dokumen buat ibu Nania lagi ya. Tolong sampaikan ini dokumen rahasia. Penting!" Kataku sambil berbisik.
"Baik pak, ini Bapak yang kemarin nitip dokumen juga ya pak untuk Ibu Nania?" Tanya Mbak receptionis.
"Ya mbak, masih inget aja. Muka saya memang susah buat dilupakan mba, Hehe.." ucapku bercanda biar enggak terlalu kaku kaya krupuk belum digoreng, padahal kalau udah digoreng juga tetep aja "Garing".
"Inget dong pak. Kata Ibu Nania kalau Bapak kesini lagi tolong bilangin sama Bapak Dira kalau ngirim dokumen jangan pakai map bekas corat-coret hitungan uang," Ucap mbak nya sambil malu-malu meong.
Aku mendadak kaku kaya kerupuk belum digoreng, mencoba mencerna kata-kata mbak receptionis tadi. Hitungan? Uang? Corat-coret? Mencoba mengingat apa yang sedang terjadi, apa aku kena insomnia? Eh maksudnya amnesia.
"Apa mbak? Coretan?" Tanyaku memastikan.
"Ya pak, kemarin map coklat yang isinya dokumen buat Ibu Nania itu belakangnya penuh dengan coretan hitung-hitungan uang pak "
Bagai tersambar gledek kaget luar biasa, ini enggak mungkin. Aku mencoba menyangkal didalam hati. Itu kan coretan sisa uangku bulan ini. Yang jumlahnya cuma diangka ratusan ribu. Terdapat juga keterangan untuk ongkos, makan, beli promagh dan Oky jelly.
Tulangku lemas, bagaimana mungkin aku bisa mengambil map bekas itu. Aku mulai kehilangan muka dihadapan Mbak receptionis terlebih kepada Nania. Apa Lampu yang diberikan Nania masih berwarna hijau? Atau sudah berubah menjadi warna Merah? Alias tumit. Alias berhenti.Oh tidak!! Aku enggak mau jadi bujang tua!
__ADS_1
"Emm..maaf bilang sama Ibu Nania, saya minta maaf soalnya map coklat lagi langka dipasaran banyak yang nimbun," jawabku menahan malu.
"Baik pak, nanti saya sampaikan dokumen nya. Kalau yang ini si map baru ya pak?" Tanya Mbak nya seperti meledek.
"Baru dong, saya udah stok banyak map coklatnya. Saya permisi ya mbak,"
Buru-buru aku keluar dari kantor Nania sebelum muka ku makin menjadi merah karena menahan malu.
Sebenernya aku itu enggak bokek-bokek banget si, cuma aku slalu menyisihkan uang gajihku untuk mengirim kepada ibu dikampung dan sebagian besar sisanya aku tabung untuk masa depanku bersama calon ibu dari anak-anakku nanti. Aku lebih memilih irit untuk diriku sendiri supaya istri dan anak-anaku kelak terjamin masa depannya.
Aku baru sadar mungkin ini penyebab cewek-cewek banyak yang menjauh dariku. Mereka pikir aku orang yang pelit, kikir, dan medit. Usahaku hanya sebatas menjadi tempat curhat yang nyaman saja tanpa mengeluarkan uang.
Yang pasti siapapun itu akan beruntung bisa menjadi pendampingku, Dia akan ku bahagiakan semaksimal mungkin.
Aku menyusul Sinta untuk makan siang dikantin belakang kantor. Sesampainya di kantin, Sinta melambaikan tangannya kepadaku,
"Bang Dira disini, buruan kesini," ucapnya sedikit berteriak.
"Makanya udahan Sin? Cepet banget, laper apa rakus kamu?Haha.."
__ADS_1
"Lapar juga rakus kayanya Bang, Haha.."
Aku dan Sinta memang cukup akrab bahkan kata-kata bercandaannya yang enggak ada akhlak itu tak pernah membuatku tersinggung sedikitpun. Begitu pula dengan Sinta, diledekin seperti apa pun Dia hanya membalasnya dengan tertawa. Sinta memang agak sedikit tomboy. Bukan agak lagi tapi macam preman Dia. Rambut pendek agak cepak dan tak pernah sekalipun aku melihatnya memakai make up. Aneh. Bahkan absurd bisa ku bilang tapi dia teman yang baik.
"Mau mesen apa Loe Bang? Jangan bilang Loe mau mesen nasi sama telor ceplok plus kecap doang, terus minumnya air putih tok," tanya Sinta sambil nyerocos.
"Haha..tau aja kamu kesukaan aku Sin. Sampai hapal gitu, kamu memang fansku nomer satu!! Habis gimana, enak sih! Sehat, lezat, dan bergizi." Jelasku.
"Males ngefans sama Loe Bang, enggak pernah ditraktir sih. Haha.."
"Gimana enggak hapal, hampir setiap hari menu nya itu aja. Enggak berubah barang seharipun. Untung enggak bisulan Loe Bang. Haha.." Sinta mulai dengan Bullyan nya kepadaku.
Setelah makan siang, Aku dan Sinta kembali ke kantor. Ku dapati map coklat diatas meja kerjaku lagi. Pasti dari Nania. Sebenernya aku sudah mulai pesimis gara-gara kejadian map coklat bekas tadi. Malu yang ku rasakan.
Ku buka map coklat ini, ku ambil selembar kertas didalamnya. Isi nya hanya beberapa kalimat saja,
"Assalamualaikum Bang, Alhamdulillah kalau Abang belum punya istri. Aku doakan Semoga Bang Dira secepatnya bisa menemukan jodohnya. Amin. Wallaikumsalam."
Aku tercengang membaca isi surat dari Nania. Apa maksud dari semua kalimat ini?.
__ADS_1