SALAH JODOH

SALAH JODOH
Rayu


__ADS_3

Makanan yang kami pesan pun telah terhidang di atas meja. Kami makan dengan sangat khusuk terutama Aku. Aku makan dengan sangat meresapi, ternyata enak juga makan dengan ayam bakar begini, hemm lezat! Sudah lama sekali aku tak makan enak seperti ini. Karena hampir tiap bulan aku harus mengencangkan ikat pinggang. Bukan berarti aku pelit tapi ini semua demi masa depanku.


"Enak ya Bang? Ayam bakarnya?" Tanya Nania tiba-tiba.


"Eh.. ya Dek, ayam bakar di kantin ini memang terkenal enak nya. Kamu suka?" Aku gelagapan karena terlalu asik menikmatinya.


"Pantesan, Abang lahap banget makannya.Hehe.. ya Bang, ini salah satu makanan favoritku," terang Nania.


"Sama dong. Ini juga makanan favorit Abang, Dek, jangan-jangan kita jodoh Dek, habis banyak sama nya si. Hehe.." Candaku.


Aku tidak bohong, ayam bakar memang makanan favoritku. Hanya saja aku sangat jarang memakannya. Gengsi dong, kalau aku berkata yang sebenarnya pada Nania.


"Bang. Boleh aku tanya sama Abang, tapi Abang jangan tersinggung ya?" Tanyanya dengan mimik serius.


"Kenapa Abang di umur yang sudah cukup matang begini, belum berumah tangga?maaf kalau pertanyaanku lancang Bang," Jelasnya.


"Enggak apa-apa Dek, pertanyaan apapun kalau Adek yang nanya pasti Abang jawab kok. Pernikahan bukan saja tentang dua orang yang saling mencintai yang ingin bersatu. Tapi, lebih dari itu semua. Harus dipersiapkan dengan matang bukan hanya mental, tentu dari segi materi pun harus siap. Prinsip Abang, membahagiakan Istri dan anak-anak Abang. Bukan berjuang bersama-sama untuk bahagia. Karena sudah tugas seorang laki-laki membahagiakan keluarganya. Abang sudah siap dengan semua itu, tinggal mencari perempuan yang mau sama Abang saja. Pinginya si tahun ini , kalau Allah izinkan, sama kalau Adek izinkan. Hehe.." Jelasku panjang lebar, tak lupa sedikit ku beri kode pada Nania.


"Izin kan apa?" Tanya nya.


"Eh..enggak apa-apa Dek, Hehe..mulut Abang keceplosan,"


"Aku kira, Abang kaya cowok-cowok lain nya. Mengaku bujang tapi nyatanya sudah beristri," Dia berkata sambil tertawa kecil.


"Emangnya tampang Abang tua banget ya? Kalau enggak percaya nih KTP Abang. Belum kawin," Ku keluarkan KTP dari dompet dan menunjukkannya pada Nania.


"Ehm..tua mah enggak cuma kelihatan sudah matang Bang, Hehe.. Aku percaya ko Bang,"


"Sama aja dong, Haha.. enggak apa-apa ko, sudah biasa Abang di bilang tua. Emang kenyataannya seperti itu,"


"Aku trauma Bang, dekat dengan cowok tapi nyatanya sudah beristri. Makanya Aku enggak mau pacaran. Kalau serius datang ke orangtuaku dan menunjukan bukti-bukti kalau dia harus bujangan ting ting," seloroh Nania.


Aku mulai mencoba mencerna kata-kata yang dilontarkan Nania. Apa itu artinya Dia menginginkan Aku untuk melamarnya?Oh Tuhan, apa yang harus aku katakan antara bingung, senang, dan rasa tak percaya. Mamah..Aa jadi nikah mah!!!


"Kalau begitu, Hayuk Dek!" Ajakku.


"Kemana Bang?" Tanya nya heran.


"Bawa Abang bertemu orangtua Kamu Dek, Abang serius," jawabku yakin.


"Maksud Abang, Abang mau melamar Aku?"

__ADS_1


"Iya. Kalau Adek bersedia jadi calon ibu dari anak-anak Abang,"


"Abang yakin sama Aku? Kenapa Abang bisa secepat ini mengambil keputusan besar seperti ini?" Nania mulai menatap mataku dalam.


"Abang yakin, dari pertama Abang lihat Kamu. Eh iya ngomong-ngomong waktu pertama kali Abang lihat Kamu. Ko kamu kayanya lihatin Abang terus, kaya yang curi-curi pandang gitu?"


"Hah?" Sepertinya Nania sedang mencoba mengingat-ingat.


"Oh.. itu. Aku lihatin Abang terus karena Abang aneh si,"


"Aneh?" tanyaku penasaran.


"Ya aneh, Abang kaya yang joget ngetuk-ngetukin kaki sambil nyanyi sambil pake headset tapi kabel headset nya enggak terpasang di hape Abang. Kabel nya melambai ke bawah. Haha.." Akhirnya keluar juga tawa Nania yang cukup keras.


Aku hanya bisa mematung, ingin rssanya ku berlari jauh dari hadapan Nania. Mungkin sekarang muka ku sudah berubah menjadi Mejikuhibinu rupa-rupa warnanya. Sudah tiga kali aku mempermalukan diri sendiri. Harusnya Aku sudah mendapatkan hadiah gelas ini.


"Masa sih?"


"Iya Bang Dira. Tapi enggak apa-apa Abang lucu,"


"Hehe.. Terimakasih," senyumku menahan malu.


"Semenjak kenal Abang, hari-hari ku penuh dengan tawa Bang. Makasih ya!,"


"Apa ini enggak terlalu cepat Bang? Beri aku waktu beberapa hari sebelum Aku membawa Abang bertemu orantua ku ya,"


"Aku siap kapanpun Dek, terserah padamu saja. Aku ngikut oke!"


"Baiklah Bang,"


Waktu istirahat pun sudah hampir habis, kita pun sudah selsai makan. Aku memanggil pramusaji untuk segera membayar.


Pramusaji pun mendekati meja kami,


"Jadi berapa mas semuanya?" Tanyaku.


"Semua jadi seratus ribu Mas," menulis total di nota.


"Ini mas," Nania menyodorkan uang satu lembar ke si pramusaji.


"Eh Dek, biar Abang saja yang bayar. Masa kamu," Aku mengeluarkan dompet dari saku celanaku.

__ADS_1


"Udah enggak apa-apa Bang, anggap saja ini traktiran ku. Karena Bang Dira udah nolongin aku pas aku kehujanan kemarin," terangnya.


"Lain kali harus Abang ya yang bayar, enggak boleh kamu! Aku jadi Enak, Hehe..."


"Bang Dira bisa aja, udah yuk Bang! Udah hampir habis waktu makan siangnya. Takut telat," Ajak Nania padaku.


Kami pun berjalan menuju arah kantor, Terlebih dahulu Aku mengantarkan Nania sampai kedepan kantor nya. Sebagai cowok gentle tentu harus aku lakukan, meskipun kantorku lebih dekat dengan kantin.


"Aku anterin kamu ya Dek, sampai depan kantormu!" Pintaku.


"Enggak usah Bang, kan kantor Abang usah sampai nih,"


"Masa Abang yang ajak kamu makan, kamu pulang sendiri si. Udah mah kamu yang bayarin tadi. Terus Abang tugasnya apa dong Dek," tawarku pada Nania.


"Oke deh, Bang!"


Aku pun mengantarkan sampai didepan kantor Nania.


"Makasih ya Dek , waktu nya."


"Sama-sama Bang, Oh ya.. handphone Abang belum ada ya?"


"Belum Dek, Abang belum sempat beli. Sementara kita komunikasi lewat email dulu saja ya?"


"Biar apa Bang lewat email?"


"Biar beda Dek, Hehe..."


"Haha..Bang Dira ini ya, bisa banget bikin orang ketawa,"


"Abang tunggu kesiapan Adek, bawa Abang ke rumah orangtua Adek ya!"


"Baik Bang, yang sabar ya,"


"Selalu sabar, kalau buat Adek mah. Ya udah masuk sana Dek, Abang pulang ya. Assalamualaikum,"


"Wallaikumsalam Bang,"


Aku berjalan menuju kantor dengan riang gembira. Masih tak percaya memikirkan secepat ini Allah mengabulkan doa-doaku. Alhamdulillah.


"Gigi udah kering tuh Bang, hampir di lalerin. Haha.." Ejek Sinta.

__ADS_1


"Haha.. biarin, biar Larer ikutan senang kaya Aku,"


Aku dan Sinta pun tertawa.


__ADS_2