
Ku awali pagi hari ini dengan suasana hati yang tak menentu, ada semangat menggebu, ada ragu yang tak terungkap, ada rasa tak percaya diri, pokonya semua campur aduk perasaanku pagi ini. Tepat nya bingung, bingung apa yang harus ku lakukan nanti. Kalian tahu rasanya seperti apa? biar ku beri tahu! Kalau diumpamakan itu seperti lagi nahan buang air besar saat kamu lagi di duduk di dalam angkot yang penuh penumpang dan kamu cuma kebagian duduk diujung kursi, tubuhku panas dingin, buluk kaki dan tanganku berdiri, hatiku dag Dig dug tak karuan. Mungkin ini alasan utamaku di umur yang sudah mencapai setengah abad ini belum berhasil mendekati cewek.
Oke, sudah ku atur strategi untuk hari ini semoga berhasil dan tidak mengecewakan. Setelah semalaman aku bertapa dan berguru pada si Mbah didepan layar Smartphone ku akhirnya bisa ku simpulkan, pertama, penampilanku harus cetar membahana untuk menarik perhatian seorang cewek. Kedua, aku harus siapkan senyum termanis yang ku miliki di hadapnya nanti. Percaya diri yang tinggi dan tentu saja dompet yang tebal. Bukan aku menganggap cewek itu materialistis, bukan! tetapi cowok itu harus punya modal bukan hanya modal kata-kata dan janji manis saja.
Sesampai nya di kantor , teman-temanku silih berganti memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki, mereka menatapku dengan penuh keanehan.
"Enggak kaya biasanya loe bro, aneh," komentar Riki.
Aneh? Apa yang aneh ? Perasaan aku sudah memaksimalkan penampilanku menjadi semakin gahol deh.
"Apa yang aneh bro?" Tanyaku pada Riki
"Pokonya penampilan loe aneh, enggak kaya biasanya."
Jangan-jangan aku salah kostum atau salah dandanan, kaya nya enggak deh. Secara aku sudah mengikuti sesuai petunjuk si Mbah G. Penampilanku kali ini itu lagi ngtrand dan banyak digandrungi cewek-cewek zaman now.
Sinta teman kantorku pun ikut memberi komentar yang tak kalah sadis.
"Mau ke acara apa si loe bang, heboh banget dandanan loe, kaya artis Korea tapi muka india. Muka sama dandanan loe beda jurusan Bang, haha.."
"Yang bener Sin? Enggak pantes ya gue gaya begini?"
"Gimana ya bang, pokonya loe ngaca sendiri deh Bang," ucap Sinta
Aku semakin merasa tak karuan dan semakin tak percaya diri, niat hati mau tampil trandi malah bikin keki. Dikomentari sadis pula.
Aku berlalu pergi ke toilet untuk cek dan ricek apa yang salah sama penampilanku kali ini. Pokonya aku enggak mau Nania malah jadi ilfeel melihatku kali ini. Niat hati untuk merebut perhatian Nania bukan malah bikin Nania jadi menjauh dan berpikir ulang untuk dekat denganku. Tuhan ini kesempatanku untuk dapatkan Dia.
Aku mulai mematut diri didepan kaca toilet. Rambut klimis belah dua kaya penyanyi kpop, divideo klip mereka terlihat charming. Bibir ku poles sedikit dengan Liptin pink biar kaya Ling Minho, pakai kemeja pink dengan kancing atas ku biarkan tak terkait. Oke memang sedikit beda jurusan dengan muka ku yang rada ke arah Arab pinggiran belok sedikit sampai India.
Tak sabar aku menanti jam pulang kantor untuk melancarkan aksiku. Melancarkan aksi? Haha..kesannya mau melakukan kejahatan saja, padahal mau melakukan pencurian, pencurian hati Nania si pujaan akang.
"Udah ngaca Bang?" Tanya Sinta
"Udah, memang beda jurusan si tapi bukanya cewek-cewek suka sama cowok dengan gaya seperti ini?" Tanyaku heran
"Ya enggak ada yang salah juga bang, style Korea emang lagi banyak digandrungi cewek-cewek. Tapi muka loe itu bang yang enggak cocok sama style korea,. Loe tuh cocoknya dandan kaya sharukan tuh Bang, cocok!" Jelas Sinta panjang lebar.
"Loe mau deketin cewek mana si?" Tanya Sinta penasaran.
"Mau tau aja loe anak kecil." Ejek ku pada Sinta.
"Siapa tau gue kenal sama ceweknya, dan loe bisa dapet informasi yang akurat," Tawar Sinta.
Benar juga apa yang dikatakan si Sinta, kenapa aku enggak coba cari tahu sama dia, Sinta kan cewek juga, biasanya cewek itu banyak kenalannya.
"Loe punya kenalan enggak cewek kantor sebelah?"
"Enggak semuanya kenal si Bang, tapi ada lah beberapa temen gue yang kerja disitu,oh..loe ada main ya sama karyawan kantor sebelah?"
"Ada main?"
"Ya , maksud gue loe mau deketin salah satu karyawati kantor sebelah? Siapa namanya?"
"Loe kenal Nania enggak?"
"Ukhti Nania yang pakai jilbab itu? Yang jadi incaran banyak cowok itu."
"Kenal?"
"Gue kenal tapi enggak terlalu Deket Bang, mau informasi apa? Wani Piro?haha.." tawar Sinta.
"Bercanda Bang,haha.. loe yakin mau deketin Nania? Dia itu seumuran sama gue, umurnya baru 23 tahun, beda jauh Bang sama loe, nanti dikira Bapak sama anak lagi.haha.." enggak ada akhlak si Sinta ini kalau bercanda.
"Haha..namanya juga usaha Sin, kan cinta itu buta, cinta enggak pandang usia, kalau sudah cinta apa mau di kata," jawabku optimis sedikit fesimis.
"Bener apa kata loe, kalau sudah cinta apa mau di kata. *** kucing aja dibilang wangi kalau sudah cinta,haha..gue dukung loe Bang."
__ADS_1
"Dia orang nya kaya gimana?"
"Dia cewek baik-baik, cewek alim, yang gue tahu sampai sekarang belum ada cowok yang berhasil buat deketin ukhti Nania."
"Tau nomoer WhatsApp nya?"
"Enggak tahu, perkara nomor WhatsApp mah gampang Bang Dira. Tapi kalau yang dideketin cewek macam Nania, loe harus gentle usaha sendiri Bang," nasihat Sinta ada benernya juga.
"Pinter juga loe Sin,"
"Ya iya lah, semangat ya Bang. Semoga berhasil dan gue bisa lihat loe jadi bapak-bapak beneran, bukan tampangnya doang yang kaya bapak-bapak. Haha..!" Ucap Sinta tanpa ayakan.
Sebentar lagi jam pulang kantor, hatiku makin tak karuan, Tampang udah oke mirip Ling MinHo, tinggal usaha sampai maksimal.
Aku keluar dari kantorku, seperti biasa aku tak memesan ojek online. Hanya menunggu Nania keluar dari kantornya.
Setelah menunggu tak berapa lama, seseorang yang aku tunggu-tunggu akhirnya keluar dari kantornya. Berjalan menuju halte tempat menunggu ojek online.
Langsung aku berjalan menuju arah halte, belum sampai dekat dengan Nania, tiba-tiba ada seorang cowok mendekati Nania. Dia si playboy cap kadal kejepit, mau apa dia deketin Nania lagi. Bukannya kemarin suah jelas-jelas aku katakan kalau aku tertarik dengan Nania sedangkan dia sendiri sudah menyerah mendekati Nania.
Ku hentikan langkahku, menunggu apa yang sedang dilakukan Andri bersama Nania. Aku tak bisa mendengar percakapan mereka, yang jelas mereka sedang dalam obrolan yang serius. Bisa ku lihat dari raut wajah keduanya. Hatiku makin tak menentu dibuatnya rasa penasaran itu.
Apa yang sedang Andri rencanakan terhadap Nania? Atau bisa jadi terhadapku? Mungkin Andri merasa tak rela Nania didekati olehku.
Andri tak akan semudah itu menyerah untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Aku sedikit tahu sifat Andri, tipe orang seperti apa Dia. Dia terlalu ambisius bahkan ketika bekerjapun seperti itu.
Apakah ku harus berbalik arah dan mengurungkan niatku, atau tetap lanjut pada rencana semula? Sepertinya aku harus menelan kekecewaan untuk saat ini. Mungkin Nania bukan jodohku, aku merasa terlalu pesimis, aku merasa semangatku yang tadi membara kian meredup.
Andri pria muda dengan tampang yang lumayan apalah daya jika dibandingkan denganku, masih tamvan aku sih, hanya saja umurku terlalu tua. Mungkin benar kata pepatah yang tua harus mengalah kepada yang muda. Nasib-nasib orang tua.
Ku ambil gawai dari saku celanaku, jariku mencari aplikasi berwarna hijau dan akan memesan ojek online. Sesaat sebelum ku sentuh pilihan pesan tak ada angin dan tak pula ada tanda mendung, rintikan hujan turun dari atas langit. Untung saja aku selalu siap sedia payung di dalam tasku.
Ku buka payungku, tak sengaja aku melihat Nania sedang memegang tas di atas kepalanya menghalau rintikan hujan yang jatuh dari langit. Ku rasa itu tak akan efektif, tak butuh waktu lama ku mendekati Nania lalu aku pegangkan payungku diatas kepalanya.
Tak peduli diri ini basah kuyup diterpa hujan, aku reflek melakukan itu. Merasa tak tega Nania sedang kepayahan oleh hujan yang semakin deras.
"Aku gak apa-apa kok basah, aku enggak mau repotin kamu. Kamu jadi basah kuyup gara-gara aku," Nania berkata samar di tengah-tengah hujan.
"Apa? Sayang?" Tanya Nania.
"Ehm..maksudnya sayang dokumennya kalau basah, sayang juga kalau nanti kamu jadi sakit," aduh makin tak beraturan ucapanku.
Dalam hatiku berkata "padahal cita-citaku panggil Dia dengan sebutan sayang," semoga suatu saat ucapanku benar-benar terjadi.
"Kamu pulang naik apa?" Tanyaku basa basi.
"Aku mau pesan taksi online, tapi dari tadi belum dapat pengemudinya. Kalau kamu?"
"Sama aku juga mau pesan ojek online, karena basah aku pakai ojek motor saja,"jawabku.
Tak ingat dengan gawai yang ada didalam saku ku. Waduh pasti sudah terendam air hujan dan mati nih gawai. Ku raba sakuku, aku keluarkan gawaiku ternyata benar dugaanku, gawaiku sudah tidak berfungsi lagi. Melihat kejadian itu raut wajah Nania berubah merasa menyesal.
"Maaf ya, udah buat handphone kamu rusak kena hujan. Gara-gara payungnya diberikan ke aku."
"Enggak apa-apa, handphone ku memang tadinya sudah rusak kok udah waktunya di lem biru," aku berkata sambil tertawa untuk menenangkan Nania.
"Aku pesankan ojek motor ya buat kamu!" Seru Nania.
"Boleh, kalau kamu enggak merasa direpotkan."
"Pasti lah!"
"Pasti merepotkan? Kalau kamu repot enggak usah ko, nanti aku cari ojek pengkolan saja di ujung jalan sana. Enggak jauh kok."
"Bukan pasti merepotkan, pasti enggak merepotkan dong, kan gara-gara aku handphone kamu basah. Jadi kamu enggak bisa pesan ojek." Nania berkata sembari tersenyum, senyum yang begitu manis.
Rela deh basah kuyup berjam-jam juga kalau ada yang nemenin cewek macam Nania begini. Terima kasih Tuhan Engkau telah mengirimkan hujan disaat waktu yang tepat.
__ADS_1
"Aku udah pesan kan ojek motor buat kamu."
"Makasih ya,"
"Sama-sama, oh ya.. aku bisa minta nomer WhatsApp kamu?biar besok bisa aku kembalikan payung punya kamu."
Oh..Tuhan, dia duluan yang minta nomer ku, rasa tak percaya mendengarnya. Enggak rugi-rugi sekali gawaiku rusak. Kalau balasannya seperti ini. Aku ikhlas.
"Tapi, handphone ku kan rusak, aku minta nomer WhatsApp kamu saja ya, nanti biar aku yang hubungin kamu duluan." Pintaku.
"Ya ampun, sori..aku lupa," Nania menyodorkannya kartu nama miliknya.
"Oke, akan ku simpan baik-baik,"
Untung saja tasku ini waterproof, jadi aman terkendali.
"Taksi onlineku kok lama sekali datangnya, apa karena hujan jadi terjebak macet ya," Nania bergumam sendiri.
"Kalau hujan begini biasanya memang macet di bundaran depan sana, ditunggu saja. Tenang ada aku yang nemenin kamu disni kok, jangan takut,"
Upss..apa yang barusan aku katakan? Aku keceplosan menggombal pada Nania, padahal baru pertama ngobrol. Sungguh sangat Memalukan. Perkataan itu seolah menunjukkan terjun nya ke alimanku sebagai sosok cowok baik-baik. Aku takut Nania berpikiran buruk tentang perilaku ku. Argh..tidak!!!
"Terimakasih ya..emm, aku bisa panggil kamu apa?"
"Hehe.. dari tadi ngobrol tapi belum tahu nama ya?, Panggil saja aku Dira."
"Sekali lagi terimakasih ya Bang Dira."
What..? Abang? Setua itu kah tampang ku sehingga Nania memanggilku Abang, apa memang tampang ku seperti abang-abang? Aku tak peduli, yang terpenting misi ku kali ini berhasil, bisa berkenalan dengan Nania.
"Sama-sama, sesama makhluk Tuhan kan emang harus saling tolong-menolong." Kataku bijak.
"Sebenarnya aku sudah tau nama kamu, Nania," jelasku kepadanya.
"Kok bisa Abang Dira tahu namaku? tanya Nania penasaran
"Siapa yang enggak kenal sama kamu, hampir semua karyawan di kantor ku tahu nama kamu. Terlebih si Andri, teman-temanku tahu kamu dari Andri."
"Oh.. seperti itu, kenapa bisa tahu dari Andri?"
"Dia kalau lagi mendekati cewek, pasti seluruh kantor tahu, Dia pasti ceritakan siapa cewek nya, orang mana, kerja dimana, lengkap deh." Biarlah aku bongkar kelakuan Si playboy kejepit itu, biar kapok.
"Sebenarnya aku juga enggak nyaman sama Dia bang, terlalu percaya diri, terlalu ambisius, sudah ku tolak dengan halus. Masih saja dia enggak menyerah. Jadi ya..aku cuekin aja. Akhirnya tadi dia bilang sama aku kalau udah enggak mau berusaha deketin aku lagi, Dia enggak mau ganggu aku lagi," jelas Nania panjang kali lebar.
"Alhamdulillah.." ucapku pelan
"Apa bang? Alhamdulillah?"
"Eh.. ya Alhamdulillah akhirnya dia sadar diri, kalau kamu merasa terganggu."
"Itu taksi online ku sudah sampai Bang. Aku duluan ya, besok aku kembalikan payungmu. Sebentar lagi ojek online Bang Dira juga udah hampir sampai, motornya Honda beat pengemudi nya bapak Irwan. Bang Dira enggak usah bayar lagi, udah aku bayar sekalian pakai aplikasi."
Nania melangkah masuk kedalam mobil taksi nya, setelah menutup pintu mobil, Nania membuka sedikit kaca mobilnya lalu berkata,
"Bang Dira jangan lupa hubungin aku ya, nomer nya tadi ada di kartu nama yang aku kasih."
"Oke Nania, Pasti aku hubungin kamu. Terimakasih ya udah bayarin ojeknya."
Taksi online yang membawa Nania pun berlalu, sesaat kemudian ojek motor ku datang. Dan aku pulang dengan perasaan riang gembira.
Senangnya hatiku turun panas demamku, eh pokonya senang tak terkira Tuhan telah memudahkan jalan bagiku melalui hujan. Argh..aku cinta hujan, aku cinta Allah.
Sesampainya didepan kost an ku aku memberikan tips lumayan buat pengemudi ojek lembaran berwarna biru. Meskipun uangnya rada basah enggak apa lah yang penting masih uang.
"Udah dibayar Bang."
"Itu tips buat Bapak, ambil aja. Saya habis dapat rezeki nomplok."
__ADS_1
"Wah..makasih ya Bang, semoga Allah selalu memudahkan urusan Abang. Amin!"
"Amin.." Ucapku dengan senyuman yang dari tadi masih standby tak lepas dari bibirku.