Salah Mencinta Dokter Ninda.

Salah Mencinta Dokter Ninda.
Calon Dokter Kandungan.


__ADS_3

Sebelum membaca kisah cinta ini, sebaiknya kalian membaca kisah pertamanya "Cukup di hati saja" supaya bisa nyambung dengan kisah ini. Thank you, guysss.


Ninda Astari Guatalla, gadis cantik berusia 25 tahun, keturunan Brasil dari sang ayah dicampur suku Sunda dari sang ibu maka kecantikan gadis itu sudah tidak diragukan lagi. Banyak hati yang harus patah berkeping-keping karena ditolak oleh adik kandung dari CEO GT Corp, Leonardo Lebrino Guatalla.


Setelah mendapat gelar dokter kandungan, Ninda meminta ijin pada Marco, sang papa, untuk mengabdi di satu desa kecil di bagian Jawa Barat dekat kampung sang ibu. Walaupun berat, Marco terpaksa menuruti keinginan sang putri karena tidak ingin membuat anak gadisnya kecewa. Apalagi Ninda memang sudah menyiapkan segala sesuatu sedari lama terlebih persiapan mental. Ia sudah sangat siap untuk terjun ke masyarakat dan mengabdi kepada banyak orang yang membutuhkan tenaganya.


"Kapan kamu mulai membuka praktek, nak?" Tanya Marissa pada anak gadisnya di saat mereka sedang asyik menyiapkan makan malam keluarga.


Wanita paruh baya yang masih terlihat aura kecantikannya itu sangat mendukung keputusan Ninda untuk mengabdi di pedesaan.


"Seminggu lagi, ma. Kak Leon masih mempersiapkan klinik modern di sana." Sahut Ninda dengan semangat. Ia sudah tidak sabar untuk tinggal dan melayani para ibu hamil di sana. Apalagi ia mendapat dukungan baik sarana maupun prasarana oleh kakak laki-lakinya.


Ya, Leon yang tentu saja dibantu oleh Rayhan, asisten pribadinya, sedang membangun sebuah klinik ibu dan anak di desa xx, salah satu desa terpencil di pulau Jawa yang masih sangat jauh dari sentuhan teknologi modern. Karena itu, Leon sangat mendukung sang adik untuk mengabdi di desa xx sebagai dokter kandungan. Ia bahkan tidak hanya menyiapkan sebuah gedung klinik mewah namun semua peralatan medis modern yang diperlukan pun disiapkan selengkap mungkin.


"Kakak kelihatannya sangat mendukungmu." Ujar Marissa senang melihat kekompakkan kedua anaknya.


"Iya, ma... tapi sayang, kak Leon tidak mengijinkan Ayu untuk ikut menjadi dokter umum di sana." Bibir Ninda sedikit manyun saat teringat bahwa ia harus tinggal sendirian di desa xx nantinya, padahal untuk mempunyai klinik dan melayani di desa adalah impian Ninda dan sahabatnya Ayu yang kini sudah menjadi istri dari kakak kandung Ninda.


Mendengar keluhan Ninda, Marissa tertawa pelan.


"Ya memang harus begitu dong. Ayu itu sudah mempunyai suami dan ia juga harus menuruti apa kata suami." Jelas Marissa dengan senyum lucu di bibirnya.


"Makanya menikah supaya tau bagaimana tugas seorang istri." Cibir Icha sengaja menyindir putrinya.


"Ck... mama!" Rengek Ninda kesal. "Aku masih mau meniti karier dulu. Mama kan tau impian aku ingin memiliki rumah sakit sendiri dan melayani pasien yang tidak mampu." Ujarnya sambil menatap jauh ke depan membayangkan semua impian dan angan-angannya yang sebentar lagi akan terwujud.

__ADS_1


"Amiiin.... semua impian yang mulia pasti akan dijabah oleh Tuhan." Icha ikut mendoakan niat mulia sang putri.


Ya, sang kakak yang merupakan CEO terkenal dari perusahaan besar dan memiliki cabang di beberapa negara sangat mendukung niat baik dari adik perempuan satu-satunya yang memilih untuk menjadi dokter kandungan. Bahkan ia sangat mendukung Ninda yang lebih memilih menjadi dokter di perkampungan yang notabene perekonomian masyarakatnya sangat rendah. Karena bukan uang yang dipikirkan Ninda maupun Leon, namun niat baik untuk menolong sesama yang membutuhkan uluran tangan mereka tanpa pamrih.


"Kenapa sih kamu ingin sekali ke sana?" Tanya Icha masih penasaran dengan keinginan Ninda memilih daerah terpencil.


"Menurut info yang Ninda dapat, angka kematian ibu dan anak di sana yang paling tinggi dari semua daerah, ma." Jawab Ninda menjelaskan sesuai data yang diperoleh. "Itu karena pemahaman mereka yang masih sangat minim dan mitos-mitos kepercayaan juga masih sangat kuat di sana." Ninda tetap menjelaskan sambil menyiapkan piring di meja makan.


"Mitos kepercayaan? Kayak dukun beranak gitu, ya?" Tanya Icha semakin penasaran.


Ninda mengangguk cepat.


"Bukan hanya dukun beranak, ma. Banyak juga mitos yang menyesatkan. Contohnya ibu hamil nggak boleh makan buah terlalu banyak, nanti bayinya gede di dalam perut, akibatnya susah melahirkan. Pokoknya segala macam yang aneh-aneh deh, ma." Ninda bercerita dengan semangat. "Makanya banyak janin yang nggak sehat."


"Makanya harus ada klinik ibu dan anak di sana. Supaya aku bisa mengarahkan mereka lebih baik lagi."


Ibu dan anak itu terus berbagi cerita hingga semua menu dan kebutuhan makan malam sudah tersedia.


"Bentar, ya. Mama panggilkan papa dulu." Icha segera melangkah menuju ruangan kerja sang suami dan tanpa mengetuk, ia langsung saja membuka pintu dan menghilang di balik pintu.


Sedangkan Ninda sudah asyik menunggu di ruang makan dengan sibuk memainkan gawai.


Tidak sampai lima menit, kedua orangtua kesayangannya datang dan langsung menempati tempat duduk mereka masing-masing.


"Nin... sudah ada kabar dari kak Leon tentang klinikmu di desa xx?" Suara Marco terdengar lembut menanyakan perkembangan pembangunan klinik pribadi miliknya.

__ADS_1


"Belum, pa." Jawab Ninda cepat lalu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut sebelum melanjutkan ucapan. "Tapi kata kakak kalau semua sudah rampung dan siap ditempati pasti akan dikasih tau. Jadi, Ninda tunggu aja." Gadis cantik itu terus menikmati makan malam sambil mendengar dan menjawab pertanyaan Marco.


"Makannya nikmat sekali.... sampai buru-buru gitu." Tegur Icha. "Pelan-pelan makannya, nak." Lanjut Icha menasihati sang putri.


"Abis, masakan mama enak sekali." Jawab Ninda sedikit menyengir. "Nanti kalau Ninda sudah di sana, pasti Ninda merindukan masakan mama." Lanjutnya dengan wajah dibuat sedih.


"Nanti akan ada juru masak di sana yang menemani kamu, supaya terjamin makan dan minummu." Suara tegas Marco kembali terdengar. "Dan tidak ada penolakan." Lanjutnya setelah melihat ekspresi Ninda. "Papa akan siapkan beberapa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah di sana supaya kamu hanya fokus pada pasien."


"Mama setuju." Icha mendukung ucapan Marco. "Harus ada beberapa orang yang tinggal dan membantu kamu di sana." Icha menatap sayang putri semata wayangnya. "Mama tidak akan tenang di sini kalau kamu tinggal sendirian di sana." Suara lembut Icha dan juga rasa kuatir sebagai seorang ibu membuat Ninda mengalah dan mengangguk setuju dengan keputusan orangtua.


"Baik, pa, ma... Ninda ikut semua perintah papa." Akhirnya Ninda bersuara juga. Ia setuju untuk disiapkan beberapa ART oleh sang papa.


Marco tersenyum melihat wajah Ninda yang nampak pasrah pada keputusannya. Namun, itu semua ia lakukan untuk kebaikan sang putri.


Mereka menikmati makan malam sambil terus membicarakan rencana-rencana ke depan terkait rencana Ninda untuk mengabdi di sebuah desa terpencil.


"Nanti papa coba tanyakan pada kakakmu tentang pembangunan klinik itu. Kalau sudah rampung, papa dan mama akan mengantarkan kamu ke sana." Ujar Marco setelah menyelesaikan suapan terakhir.


Ninda mengangguk sambil tersenyum senang. Rasanya sudah tidak sabar menjalani peran sebagai seorang dokter di sana. Rasa sosial dan kemanusiaan yang begitu tinggi membuat ia rela melayani masyarakat tanpa dibayar. Toh, dia bukan berasal dari keluarga tak mampu. Ia salah satu pewaris dari seorang pengusaha kaya raya yang tidak akan kehabisan harta bahkan untuk tujuh turunan sekalipun. Karena itu bukan uang yang menjadi prioritas utama gadis cantik itu.


Ninda yang sedang menikmati angin malam di atas balkon kamar memandang bintang-bintang di langit dengan senyum manis di bibir. Tak lupa ia selalu mengucap syukur atas semua kenikmatan hidup yang Tuhan anugerahkan untuknya. Orangtua yang hebat, seorang kakak yang luar biasa, keluarga yang mumpuni, teman-teman dan sahabat yang selalu memberi dukungan, bahkan hidup yang tidak pernah kekurangan dari lahir sampai sekarang.


"Ini saatnya aku membalas kebaikanMu, ya Allah... Walaupun tidak akan sempurna seperti yang sudah Engkau berikan. Kiranya Engkau meridhoi semua rencana hamba... Amin".


Ia pun tertidur lelap setelah berdoa memohon ridho dariNYA.

__ADS_1


__ADS_2