
Pukul 5 pagi, Ninda terbangun. Ia memulai hari dengan menjalankan perintah agama sebelum mandi dan membantu Mbok Yeyen di dapur.
"Mbok... anak-anak mbok gimana?" Tanya Ninda ketika melihat Mbok Yeyen yang sudah sibuk di dapur padahal belum juga jam enam pagi. Entah jam berapa Mbok Yeyen dari rumah tadi.
Ya, asisten rumah tangga Ninda itu tetap pulang ke rumahnya setiap malam. Ia kembali ke rumah klinik pagi-pagi sekali untuk mengurus dan membereskan rumah.
"Mereka sudah terbiasa mandiri, non." Sahutnya bangga. Tangannya tetap sibuk meracik bumbu untuk menu sarapan.
"Mbok... masak yang banyak, ya. setelah itu kita ke rumah antar sarapan buat mereka sekaligus jalan-jalan. Aku ingin melihat-lihat sekitar." Seru Ninda yang tiba-tiba ingin berkeliling desa.
Tanpa diperintah dua kali, Mbok Yeyen segera memasak beberapa menu. Ditha dan Lona pun sudah bangun dan ikut membantu.
"Kalian langsung ke klinik, ya. Aku mau keluar sebentar sama Mbok Yeyen."
Tak menunggu jawaban dari dua bidan yang masih sibuk di dapur, Ninda sudah menggunakan jaket tebal dan berjalan ke luar diiringi Mbok Yeyen. Tidak lupa ia menenteng tas kain berwarna hitam berisi tiga mangkuk makanan.
Udara sejuk mulai menerpa wajah cantik itu. Sapaan warga yang sedang beraktifitas di depan rumah mereka dibalas dengan lambaian dan senyum semringah Ninda.
"Pagi, bu dokter..." Seorang ibu menyapanya dengan senang.
"Selamat pagi, bu dokteeeeer..." Segerombalan anak laki-laki bertelanjang dada dengan lilitan handuk di leher menegurnya dengan teriakan riang. Tentu saja Ninda membalas dengan riang pula namun kerutan di kening tak bisa ia tutupi.
"Mereka baru kembali dari sungai, non. Setiap pagi dan sore anak-anak mandi di sana." Mbok Yeyen segera menjelaskan saat ia mengerti arti kerutan dahi Ninda.
Ia memang baru empat hari di desa ini. Namun, semua sudah mengenal dan mengetahui profesinya sebagai seorang dokter kandungan. Bahkan mereka menyambut kedatangannya dengan senang hati. Bagaimana tidak? Desa itu seperti kedapatan bonus durian runtuh. Sebuah klinik mewah dengan peralatan medis yang modern dan lengkap, ditambah beberapa tenaga kesehatan yang senantiasa melayani tanpa memandang keadaan ekonomi mereka, karena semua pemeriksaan dilakukan tanpa bayaran sepersen pun alias gratis.
Lima menit berjalan, akhirnya Ninda dan Mbok Yeyen melewati persawahan yang cukup luas.
"Waaaah.... benar-benar menyejukkan mata, mbok. Hijau banget di sini." Sedari tadi bibir mungil dokter kandungan itu tidak berhenti memuji pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Ini kayak di lukisan-lukisan tua yang sering aku lihat, mbok." Gumannya kagum.
Mbok Yeyen tertawa mendengar pujian Ninda. Mereka terus melangkah menikmati suasana sejuk dan menenangkan.
"Suami mbok buruh tani di sawah ini, non..." Wanita muda itu menunjuk ke arah sawah yang sudah mulai terlihat aktivitas beberapa orang petani. "Tapi dia belum ada jam segini. Masih ngurus anak-anak ke sekolah."
Mata Ninda berkeliling melihat seluruh aktivitas warga sekitar hingga tatapannya menabrak satu sosok tinggi, tegap dengan potongan rambut yang rapi sedang membersihkan motor di depan sebuah rumah yang cukup besar. Sedikit berbeda dengan rumah warga yang lain.
Paras tampan, tegas dengan rahang kokoh membentuk aura yang berbeda bagi setiap yang menatap.
"Oh.... itu yang namanya Pak Arnand. Suami dari Teh Della. Ayahnya juragan sawah di sini, non." Mbok Yeyen yang lagi-lagi bisa melihat perubahan wajah Ninda langsung menjelaskan tentang sosok asing itu.
__ADS_1
"Tetapi, Pak Arnand lebih suka menjadi guru sekolah dasar karena kecintaannya pada anak kecil." Lanjut Mbok Yeyen sedikit berbisik.
Ninda mengangguk paham. Namun, ada sesuatu yang aneh seperti mengalir ke dalam darah dan jantung. Mereka terus melangkah namun Ninda merasa seperti ada sebuah dorongan dalam hati untuk melihat sekali lagi wajah itu.
"Orangnya pendiam, nggak suka banyak ngomong. Kalau yang belum kenal pasti mengiranya sombong. Padahal dia baik kok." Suara Mbok Yeyen sedikit mengejutkan gadis manis yang sedang mencuri pandang ke orang yang sedang mereka bicarakan, hingga mereka tiba di depan rumah dinding yang sudah sedikit reot. Hanya berjarak beberapa meter dari rumah Arnand.
"Ayo masuk, non... ini rumah mbok." Ia membuka pintu pagar kayu usang dan mengajak Ninda masuk. "Maaf ya, non... keadaan rumahnya begini."
Ninda yang masih menutup mulut setelah melihat sosok gagah tadi tersenyum dan mengikuti Mbok Yeyen masuk ke dalam.
"Pa'.... Hanif.... Resa..." Suara teriakan Mbok Yeyen terdengar memanggil isi rumah.
"Iya, buuuuu...." Seorang anak perempuan yang sudah berpakaian sekolah lengkap berlari mendekat. Namun, kakinya terhenti saat melihat wajah asing di depannya.
"Ayo... salim, nak. Ini Dokter Ninda yang sering kamu nanya ke ibu." Tukas Mbok Yeyen menggoda putrinya. Gadis kecil itu dengan malu-malu melangkah dan menyodorkan tangan menyalami Ninda. Begitu juga anak laki-laki berseragam sekolah menengah pertama yang juga sudah ada di belakang adiknya.
"Kalian mau ke sekolah?" Tanya Ninda ramah. Hanif dan Resa mengangguk kaku.
"Mana bapak?" Tanya Mbok Yeyen. Matanya mencari ke sana ke mari.
"Masih di kamar mandi, bu." Jawab Hanif.
"Oh iya, ini sarapan kalian." Ninda menaruh tas hitam di atas meja dan membukanya. Dua tumpuk roti panggang lengkap dengan selai coklat dan dua botol susu diserahkan pada Hanif.
"Ini juga bekal kalian di sekolah." Ninda menyerahkan tas berisi makanan pada Resa.
Setelah itu mereka pun pamit pergi ke sekolah.
"Selamat pagi, bu dokter... maaf, saya baru selesai mandi." Suara Pak Hamdan terdengar dari arah pintu belakang. Laki-laki itu nampak terburu-buru membilas tangan hendak menyalami Ninda. Ia senang melihat sang istri yang sedang duduk dengan dokter cantik.
"Maaf, dok... keadaan rumah kami seperti ini. Mungkin dokter merasa tidak nyaman." Laki-laki paruh baya itu merasa tidak enak hati dengan kondisi rumah yang reot.
"Nggak apa-apa, pak. Saya hanya ingin berjalan-jalan melihat suasana desa." Ujar Ninda ramah. "Ya sudah... kami lanjut berkeliling ya, pak."
Mbok Yeyen segera menaruh bekal yang disiapkan dari rumah klinik untuk dibawa Pak Hamdan ke sawah lalu pamit pada suaminya.
"Udaranya benar-benar sejuk, mbok." Ninda merentangkan tangan membiarkan udara sejuk menggelitik seluruh tubuh. Ia mencoba menutup mata menikmati nikmat Tuhan yang luar biasa. Tetapi dengan cepat ia membuka matanya kembali. Wajahnya sedikit menegang.
"Non.... Kenapa?" Mbok Yeyen yang selalu memperhatikan majikannya itu melihat ekspresi aneh Ninda.
"Nggak apa-apa, mbok..." Ninda bingung sendiri dengan apa yang dia alami barusan.
__ADS_1
Kenapa wajah laki-laki itu yang selalu ada di otakku?
Batin Ninda bergejolak. Tetapi, ia bisa menyembunyikan gejolak itu dalam senyum.
Mereka terus berjalan dan membalas semua sapaan warga yang bertemu dengan senyum ramah. Sesekali mereka berhenti dan mengajak beberapa orang bicara, walaupun hanya sekadar bertanya kabar.
"Jalan-jalan, dok?" Salah seorang wanita hamil menegur Ninda. Ia langsung teringat wajah wanita yang menjadi salah satu pasiennya kemarin.
"Iya, bu..." Sahut Ninda ramah. "Gimana dede bayinya? Sehat?" Tanpa sungkan ia mengelus perut besar wanita itu. Beberapa wanita lain yang baru pulang mengantar anak-anak mereka sekolah pun ikutan nimrung.
"Alhamdulillah... sehat, dok. Kan sudah dikasih vitamin sama dokter."
Ninda senang mendengar beberapa pertanyaan wanita hamil itu mengenai kandungannya. Ia memberi nasehat-nasehat medis yang sederhana agar ia merasa nyaman selama masa kehamilan.
Di saat asyik bercengkerama, matanya menangkap sosok yang sedari tadi mengganggu otak dan pikirannya.
Arnand menghentikan motor dan berjalan mendekati kerumunan ibu-ibu desa dan Ninda.
Ninda melongo.
"Selamat pagi, Pak Arnand..." Mbok Yeyen yang sedang ikut bercerita spontan menyapa guru muda itu.
Laki-laki yang disapa Arnand itu mengajak Mbok Yeyen sedikit menjauh karena sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Ninda benar-benar terpana. Bentuk bibir tipis dengan rahang tegas menjadi daya tarik sendiri bagi gadis itu. Ditambah tubuh tegap dibalut baju Korpri terkesan sangat wibawa.
"Dok...." Seorang ibu memanggil Ninda yang terlihat bengong.
"Dokter..." Ninda tergagap.
Ia menutup mata sejenak menahan malu.
"Iya... iya, maaf..."
Wajah merah bak kepiting rebus terlihat pada pipi cantik Ninda. Sungguh, ia mengutuki dirinya sendiri akibat kebodohan yang sudah ia lakukan.
Selesai bicara, Arnand kembali melangkah ke arah motor, menghidupkan dan pergi begitu saja.
Ninda hanya berani melirik lewat ekor mata. Otak dan pikirannya sudah mulai kacau. Ia tidak bisa fokus lagi mendengar cerita dan keluhan ibu-ibu desa yang masih saja bersemangat bicara.
"Ya sudah... dokter harus kembali ke klinik. Sudah, ya." Lagi-lagi Mbok Yeyen memahami kondisi majikannya sehingga ia menghentikan obrolan.
__ADS_1
Padahal mereka baru saja saling kenal, namun Mbok Yeyen sudah sangat memahami karakter Ninda. Walaupun hanya dilihat dari reaksi dan perubahan wajah Ninda, ia pasti tahu.