
Hari yang ditunggu Ninda akhirnya datang juga. Dengan airmata haru ia memeluk sang kakak yang tanpa memberitahu terlebih dahulu tiba-tiba muncul saat Ninda, mama Icha dan papa Marco sedang menikmati sarapan dan menyodorkan amplop besar pada sang adik.
"Makasih, kak.... makasih." Bibir mungil itu terus berucap dalam pelukan Leon setelah mengetahui isi amplop itu. Ayu yang juga datang bersama suaminya, berdiri terharu menyaksikan pemandangan manis dua bersaudara itu.
Ternyata, CEO tampan GT Corp itu membawa surat ijin operasional klinik yang sengaja dibangun Leon untuk adik satu-satunya.
Leon tersenyum senang dan membalas pelukan Ninda. Dengan penuh sayang, ia membelai kepala Ninda dan mengecup kepala gadis manis itu lalu ia menuntunnya ke tempat duduk. Leon dan Ayu pun ikut mengambil tempat duduk.
"Sarapan, nak?" Tanya Icha lembut. Leon tersenyum dan mengangguk cepat. Ayu pun segera mengambil piring dan menyendok makanan untuk sang suami. Mereka memang sengaja tidak sarapan di rumah, karena pagi ini tiba-tiba Leon ingin sekali merasakan masakan Mama Icha. Karena itu tentu saja ia tidak menolak ketika ditawarkan untuk makan.
"Dua hari lagi kita semua akan mengantar gadis manja ini ke sana." Leon membuka percakapan dengan sengaja menggoda Ninda yang masih serius membaca SOP.
Mama Icha dan papa Marco tertawa kecil melihat tingkah dua anak mereka yang tidak pernah berubah walaupun sudah sama-sama dewasa.
Mendengar ejekan Leon, Ninda menjulurkan lidah membalas sang kakak. Tetapi, ia tak marah. Mungkin karena masih merasa senang dengan SOP di tangannya.
"Kakak sudah bicara pada dirut rumah sakit kita agar siapkan dua perawat dan dua bidan untuk temani pekerjaan kamu di sana." Ujar Leon memberitahu Ninda sekalian semua yang ada di meja makan. "Satu lagi..." Sambungnya lalu mengambil gelas dan meneguk sedikit air sebelum melanjutkan ucapan. "Rayhan juga sudah siapkan satu orang asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah di sana. Orangnya dari kampung itu juga." Ninda tersenyum senang sambil mengangguk kepala.
"Makasih, kak..." Ujarnya semringah. "Sayang ya... Ayu nggak bisa ikut ke sana. Pada hal ini kan cita-cita kita berdua." Sambung Ninda dengan wajah memelas. Matanya sedikit melirik ke arah Leon, sengaja ingin melihat reaksi sang kakak.
"Iya ya, Nin... Kayaknya seru deh kalau kita berdua ke sana." Ayu yang menyadari nada bicara Ninda pun sengaja ikut menggoda sang suami.
Dan benar saja. Dengan lirikan tajam Leon menatap Ayu yang langsung tersenyum cengir menggoda suaminya.
"hahahahaha..." Semua dalam ruang makan itu terbahak melihat tingkah Leon.
"Bilang aja kakak nggak sanggup jauh dari Ayu." Ledek Ninda.
"He em... manja banget." Sambung mama Icha meledek.
Leon hanya tersenyum tipis mendengar godaan mama dan adiknya. Namun dalam hati pun ia mengakui benar ucapan Ninda. Tidak akan pernah ia ijinkan sang istri menjauh darinya. Bahkan ia sudah merencanakan membuat satu klinik khusus untuk Ayu namun wanita cantik itu menolak. Ia ingin bekerja di rumah sakit besar milik keluarga Guatalla yang sudah ada sejak puluhan tahun itu.
"Kamu kapan masuk kerja, nak? Masa di rumah aja. Nggak kesepian?" Tanya Mama Icha pada sang menantu. Mendengar pertanyaan mertua, Ayu melirik Leon lalu mendekatkan wajah pada Mama Icha.
"Belum diijinin sama anak mama." Ayu sengaja mendekatkan bibir ke telinga Mama Icha dan sedikit berbisik walaupun semua yang sementara makan di sana bisa mendengarkan.
Spontan saja Mama Icha tertawa diikuti Papa Marco dan Ninda.
"Kenapa nggak ijinin istrimu kerja, Leon? Sayang kan dengan gelar dokternya." Tanya Papa Marco penasaran.
Yang ditanya hanya tersenyum simpul seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Apa sih, kak? Senyam senyum bikin penasaran aja." Omel Ninda yang ikutan penasaran. Sebenarnya, ia sangat ingin Ayu bisa bekerja sesuai dengan cita-cita mereka dulu.
Leon belum menjawab. Ia meneguk air putih hingga habis.
"Dua tahun lagi baru Ayu boleh bekerja, ma." Sahut Leon santai.
Semua mengerutkan kening sambil menetap bingung pada putra mahkota Guatalla itu.
Leon tersenyum lebar merasa lucu dengan tatapan papa, mama dan adik kesayangannya.
"Ayu lagi hamil, ma. Mana mungkin aku membiarkan dia bekerja." Cetus Leon sambil melipat kedua tangan di dada dan menatap sang mama dengan bahagia.
Semua terdiam. Mama Icha tentu saja langsung mengeluarkan airmata bahagia.
"Kamu serius? Kamu hamil, nak?" Dengan tangan bergetar Mama Icha memegang pundak Ayu ingin memastikan ucapan Leon.
Ayu tersenyum dan mengangguk kuat, meyakinkan ibu mertua yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung.
"Aaaaaa... aku mau jadi aunty dong??!!" Seru Ninda tak kalah senang.
Mama Icha memeluk Ayu dan menangis bahagia. Sedangkan Papa Marco yang kehabisan kata-kata hanya melongo dalam pelukan Leon.
"Iya, pa... Sebentar lagi papa akan menjadi kakek." Leon membalas pelukan erat sang ayah. Ia tidak menyangka jika kabar kehamilan Ayu membuat Papa Marco yang begitu tegas, dingin dan disegani menjadi luluh dengan airmata.
"Terimakasih, nak." Bisik Marco terharu. "Jaga baik-baik cucu papa." Pesannya kemudian lalu melepaskan pelukan Leon dan berjalan mendekati Ayu. Mama Icha dan Ninda yang sudah terlebih dahulu memberi selamat pun membuka jarak untuk papa Marco. Dipeluknya menantu kesayangannya.
"Selamat, nak...." Marco mengelus kepala Ayu lembut. "Terima kasih sudah memberi kebahagiaan dalam keluarga kita. Jaga baik-baik cucu papa." Tuturnya lagi.
Pagi itu Ninda bukan saja senang mendapatkan klinik baru namun juga ia dikagetkan dengan kehamilan sahabat yang sudah menjadi kakak iparnya itu. Airmata bahagia pun memenuhi ruang makan pagi ini.
"Ya sudah, pa... ma... aku ke kantor, ya. Titip Ayu di sini." Sebelum pergi, Leon mengecup kening Ayu dan tidak lupa ia juga mengelus perut istrinya dan mengecup sayang perut rata Ayu.
"Ayo... sekarang kamu harus cerita tentang kehamilanmu." Ninda menarik lembut tangan Ayu, mengajaknya duduk di ruang keluarga. Mama Icha dan Papa Marco pun ikut nimbrung ingin mendengar cerita.
"Papa nggak ke kantor?" Tanya Mama Icha yang baru menyadari jika suami tampannya itu masih ada di sana.
"Oh iya... Papa lupa." Marco menepuk jidat sendiri. Saking senang mendengar kehamilan Ayu membuat ia menjadi linglung. Segera ia berlalu menaiki anak tangga menuju kamar. Mama Icha, Ninda dan Ayu pun tertawa lucu melihat laki-laki tua kebanggaan mereka.
"Mama udah siapin semua keperluan papa, ya." Seru Mama Icha yang sengaja tidak menemani suami bersiap.
"Sekarang cerita ke kita tentang kehamilan kamu." Desak Ninda penasaran.
__ADS_1
"Cerita apa?" Ayu bingung harus memulai dari mana.
"Kapan kamu tau kalau kamu hamil, nak?" Tanya Mama Icha.
"Baru kemarin, ma." Jawab Ayu cepat. "Aku hanya iseng aja karena udah telat seminggu. Tanpa memberi tahu Leon, aku membeli testpack." Lanjutnya ikut bersemangat.
"Wah... pasti kakak senang banget ya." Tebak Ninda penasaran dengan sikap Leon.
"Dia nangis, Nin..." Sahut Ayu tersenyum mengingat wajah Leon yang hampir sama ekspresinya dengan Papa Marco tadi.
"Udah ke dokter?" Tanya Ninda. Ayu menggeleng.
"Kan ada kamu." Ujar Ayu enteng.
"Yeee... ke dokter dulu untuk periksa keadaan janin supaya tau udah masuk berapa minggu kehamilannya." Protes Ninda sedikit sewot. Ayu hanya menyengir.
"Kayaknya udah 3 minggu deh.." Tebak Ayu sambil tangannya menghitung hari haid terakhir ditambah dengan tanggal hari ini. Ya, walaupun ia seorang dokter umum tetapi setidaknya pasti sedikit tahulah tentang kehamilan.
"Mmmmm... aku jadi pengin nangis lagi." Lirih Ninda sambil merangkul Ayu. Ia masih tak percaya akan segera memiliki keponakan.
"Hari ini mama benar-benar bahagia." Tutur Mama Icha lembut. "Kalian memberi mama dua kabar baik. Pertama, klinik Ninda yang sudah bisa beroperasi. Kedua, kehamilan kamu, nak." Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menggenggam tangan Ayu dengan lembut. "Sekali lagi terimakasih." Lirih Mama Icha terdengar sangat tulus.
Ayu memeluk Mama Icha. Ia terharu mendengar berulangkali ucapan terimakasih dari Mama Icha. Padahal itu tidak perlu menurutnya.
"Sudah selayaknya mama mendapatkan kebahagiaan." Bisik Ayu lembut. "Tugas kami memang untuk memberikan mama dan papa kebahagiaan di hari tua." Mama Icha tersenyum mengelus punggung Icha lembut.
"Mmmm... jangan nangis lagi. Nanti aku ikutan nangis." Ninda ikut merangkul dua wanita beda usia itu.
Hari ini benar-benar menguras emosi mereka karena dua berita sukacita.
Kenapa pada berpelukan?" Suara Papa Marco membuat mereka bertiga bersama menoleh. Mama Icha menghapus airmata dan segera berdiri menghampiri sang suami yang sudah terlihat gagah dengan setelan jas mahal.
"Ayo, mama antar keluar." Dengan mesra Mama Icha menggandeng tangan suaminya. Aura kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajah cantik itu. Marco pun bisa melihat dan merasakan binar wajah bahagia sang istri.
Sebelum menaiki mobil, seperti biasa Marco memeluk Icha dan memberi kecupan perpisahan.
"Apakah aku sudah harus memanggilmu nenek?" Goda Marco membuat Icha tertawa lucu.
"hmmmmm..." Icha memutar bola mata sengaja memikirkan jawaban yang tepat. "Boleh. Kakek boleh memanggilku nenek..."
Tawa bahagia terdengar dari sepasang sejoli tua itu.
__ADS_1