
Mood Ninda benar-benar kacau setelah pulang dari jalan-jalan pagi tadi. Ia Masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dan duduk di kursi kecil tepat di depan kaca besar meja rias. Ia menatap diri sendiri pada cermin besar itu.
Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Kacau, marah, malu, menyalahkan diri sendiri karena sudah memiliki perasaan yang salah terhadap orang yang salah.
Maksudnya???????
Yah, Baru hari ini ia bertemu Arnand. Tetapi, Aura laki-laki itu sungguh langsung mengikat perasaan Ninda dengan amat sangat kuat. Aneh memang!
"Jangan gila, Nin.... Istighfar...." Racaunya kesal. Ia meramas rambut dengan kedua tangan.
"Itu suami orang, Ninda.... Ingat, itu suami orang!" Terlihat mata yang marah pada bayangan diri di cermin. "Jangan mau jadi pelakor! Jangan merusak rumah tangga orang, Nindaaaa!"
Gadis manis itu berusaha memperingati diri sendiri.
"Ya Allah... tolong aku. Jangan biarkan perasaan ini terus ada. Aku mohon!" Ia menutup muka dengan tangan. Dalam hati ia berjanji tidak akan membiarkan perasaan sialan ini berkembang dan merajalela.
"Ah... mungkin ini hanya sekadar rasa kagum aku aja. Nggak lebih!" Ia masih meyakinkan diri tentang perasaannya.
Ninda menarik napas panjang dan bergegas masuk ke kamar mandi. Sudah pukul sembilan pagi artinya sudah terlambat satu jam dari jadwal klinik dibuka. Tetapi, peraturan itu tidak mengikat dirinya sebagai pemilik klinik.
"Sarapan dulu, non! Pagi ini telat sarapannya." Tegur Mbok Yeyen sambil sibuk menaruh piring di atas meja makan.
Ninda tidak menjawab. Ia mengambil tempat duduk dan mulai menikmati roti bakar kesukaannya.
"Dokter..." Suara Bidan Ditha membuat Ninda dan Mbok Yeyen serempak menoleh. "Ada pasien atas nama Ibu Dilla Bagja. Katanya ingin diperiksa sama dokter." Ujarnya memberi tahu.
"Oh... iya. Nanti aku ke sana. Sudah dilakukan pemeriksaan awal?" Tanya Ninda.
"Sudah, dok... semua data ada di meja dokter." Jawab Ditha cepat. "Tapi sepertinya hipertensi pasien sudah tidak bisa diturunkan lagi, dok. Sudah terlambat. Harusnya bisa di atasi dari awal kehamilan." Ninda mengangguk setuju. Ia menarik napas panjang. Dari awal pemeriksaan ia sudah bisa melihat gejala hipertensi pasien yang sudah parah. Apalagi ia jarang melakukan pemeriksaan. Ia pun sudah memberi obat penurun tekanan darah dengan harapan semua akan normal nantinya.
Ninda segera menyelesaikan sarapan dan bergegas menuju klinik.
Sebelum membuka pintu, ia menarik napas panjang, memaksakan diri untuk menghilangkan perasaan yang sempat ada pada Arnand, suami Dilla, yang saat ini menjadi pasiennya walaupun itu hanya sekadar rasa kagum. Ninda tidak ingin menjadi perempuan perusak rumah tangga orang lain.
"Pagi, bu..." Ninda langsung menyapa Dilla yang sudah duduk manis dalam ruangan Ninda.
"Pagi, dokter..." Dilla tersenyum ramah. "Maaf, sudah mengganggu waktu dokter."
Cantik banget. Pantas kalau mereka menjadi pasangan idola di desa ini. Puji Ninda pada kecantikan Dilla.
"Kok mengganggu?" Ninda membalas dengan senyum yang tak kalah ramah. "Ini tugas saya loh."
Dokter muda itu membuka map merah dan membaca semua hasil pemeriksaan awal pasien. Ia mengerutkan kening sesaat lalu kembali tersenyum ramah.
"hmmm... semua bagus. Lingkar perut, lingkar lengan, berat badan, semua baik. Sesuai dengan kondisi kehamilan. Tapi..."
Ninda menjeda ucapannya. "Tekanan darah ibumasih tinggi. Kaki dan tangan juga sudah membengkak." Guman Ninda pelan. "Kita periksa janin dulu, ya."
__ADS_1
Tidak perlu lagi didikte, Dilla langsung naik ke atas tempat tidur dan membuka setengah baju ke atas hingga terlihatlah perut buncit membulat sempurna.
"Dokter cantik sekali." Puji Dilla yang sudah siap diperiksa.
Ninda tertawa mendengar pujian Dilla.
"Ibu lebih cantik." Balas Ninda memuji. Ia mengoles USG gel pada perut bagian bawah.
"Jangan panggil ibu dong. Kayak tua banget." Lirih Dilla sengaja membuat ekspresi sedih agar Ninda tertawa.
"Trus panggil apa dong? Mbak? Kakak? Atau?" Ninda membuat pilihan.
"Ck.... kayaknya kita seumuran deh. Panggil nama aja." Pinta Dilla berusaha membuat mereka lebih dekat.
"Oya? Aku 25." Ninda mulai terpancing untuk berbicara lebih banyak.
"Nah kan... kita sama." Seru Dilla senang.
"Berarti kamu menikah muda?" Tanya Ninda mulai penasaran.
"Iya, setelah lulus kuliah aku langsung dilamar." Jawab Dilla bersemangat. "Aku dan suami sudah saling dekat sejak kecil. Kita sama-sama asli desa ini." Ungkap Dilla mengisahkan masa lalunya.
Oh... Pasti kamu kembang desa, kan?" Tebak Ninda dengan yakin.
Dilla tertawa merendah.
"Wah... bayinya sehat banget. Lihat itu." Ninda menunjuk ke arah komputer.
Sebagai dokter pun Ninda sangat memahami apa yang sedang dialami oleh pasiennya.
"Hipertensi yang kamu alami sebenarnya sudah harus tidak boleh terjadi di waktu kehamilan akhir. Kamu harus benar-benar menjaga menu makan. Stop mengkonsumsi garam dan daging merah." Ninda mulai serius bicara. "Obat penurun tekanan darah pun sudah tidak bisa menolong." Wajah tegang mulai terlihat. Sebagai dokter, Ninda harus bisa menjaga mood pasien agar tidak berpengaruh buruk pada kehamilan mereka. Ada hal yang bisa ia tutupi sambil mengobati mereka namun ada hal-hal tertentu yang harus ia sampaikan agar pasien bisa menjaga kondisi tubuhnya sendiri.
"Dan satu lagi..." Ninda menahan napas sejenak. "Ada infeksi pada dinding rahim kamu. Dan itu sangat berbahaya." Ujar Ninda dengan nada suara pelan.
Dan anehnya... Dilla tersenyum. Seakan ia sudah mengetahui tentang penyakit ini.
"Dok..." Suara lembut Dilla terdengar. Ia menggengam tangan Ninda dan tersenyum manis. "Berjanjilah... dokter akan selamatkan bayiku." Ujarnya penuh harap. "Aku tau hidupku tidak akan lama lagi. Tapi, aku senang sewaktu mendengar akan ada dokter kandungan di sini. Setidaknya bayiku bisa selamat." Ninda terpaku mendengar penuturan Dilla. "Aku memang terlahir dari keluarga dengan riwayat darah tinggi yang parah. Ditambah lagi dengan minim fasilitas dan tenaga kesehatan di desa ini membuat aku nggak bisa mengecek kondisi kehamilanku sehingga aku nggak tau kalau nyeri yang sering aku rasakan adalah infeksi dinding rahim. Tapi... " Lagi-lagi Dilla memberikan senyuman manis. "Aku sudah pasrah, dok... asalkan bayiku selamat." Tutur Dilla berharap pengertian dari dokter sekaligus teman barunya.
Sebenarnya Dilla sudah mulai curiga setiap kali nyeri di perut terasa. Ia yakin itu bukan nyeri biasa. Namun, karena ia tidak mau bayi yang dikandung menjadi korban, akhirnya ia memutuskan untuk diam dan menyimpan rasa sakitnya sendiri.
"Tapi aku nggak bisa...." Tolak Ninda cepat. Bibirnya terasa kelu.
Dilla semakin menggenggam erat tangan Ninda. Mata sayu itu menatap dokter muda dengan penuh harap.
"Aku percaya padamu, dok. Dan satu lagi..." Belum selesai Dilla berkata, terdengar suara ketukan pintu.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Dan tanpa diperintah, pintu sudah dibuka oleh seseorang.
"Dok... suami pasien sedang berada di luar." Ternyata Bidan Lona memberitahu tentang kehadiran suami dari Dilla yaitu Arnand.
Deg!
Jantung Ninda seketika seperti dihantam palu berukuran ribuan kilo. Untungnya, ia bisa menyembunyikan ekspresi kaget dengan cepat.
"Dok... berjanjilah! Jangan memberitahu suamiku tentang kondisi ini. Aku nggak mau dia stres memikirkan hal ini." Suara lemah Dilla membuat Ninda terdiam.
"Disuruh masuk aja." Perintah Ninda dengan wajah tersenyum tegang pada bidan Lona tanpa membalas ucapan Dilla.
Ninda memberi isyarat agar Dilla boleh duduk kembali.
Langkah kaki terdengar semakin mendekat seiring jantung Ninda yang berdetak sangat cepat. Bau harum khas tubuh seseorang terhirup hidung mancung dokter cantik itu.
Ninda terus menunduk. Ia sengaja membaca hasil pemeriksaan darah Dilla agar tidak terjadi kontak mata dengan suami pasiennya itu.
"Pagi, dok." Suara bass Arnand terdengar dan terpaksa Ninda harus mengangkat kepala dan menatap mata tajam itu.
"Pagi, pak. Silahkan duduk." Dengan berusaha menguatkan hati, Ninda sekilas menatap mata Arnand dan segera menunduk, sengaja fokus pada catatan di hadapannya.
Rasa kagum pada suami Dilla dicampur rasa sedih karena kondisi Dilla ditambah rasa bersalah karena harus menutupi keadaan ini membuat kepala Ninda terasa melayang karena pusing. Padahal, ia sendiri yang berpesan pada Dilla untuk mengajak suaminya jika kembali datang memeriksa kandungan karena ia ingin memberitahu kondisi Dilla yang sebenarnya.
"Hai, sayang..." Dengan mesra Arnand menyapa sang istri dan memberi kecupan di kepala perempuan cantik itu.
Ninda menahan napas. Namun, dengan cepat ia menyesuaikan diri.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, dok?" Arnand langsung bertanya dengan nada sedikit dingin.
"hmmm... kondisi Ibu Dilla sebenarnya..." Suara Ninda yang terbata-bata membuat Arnand mengerenyitkan kening.
Ninda melirik ke arah Dilla yang sedang duduk di samping Arnand. Wanita hamil itu terus menggelengkan kepala meminta Ninda untuk menutup mulut.
Namun, tatapan tajam Arnand membuat Ninda menarik napas berat. Ia benar-benar dihadapkan pada dua hal yang bertolak belakang, di mana ia tidak boleh menutupi kondisi pasien pada suami atau keluarganya namun di lain pihak si pasien meminta untuk tidak memberitahu kondisinya pada keluarga. Tetapi kalau sampai terjadi apa-apa pada Dilla, bisa saja ia yang disalahkan.
"Dokter...." Suara dingin Arnand membuyarkan lamunan Ninda. "Apa yang terjadi dengan Dilla?" Arnand mulai mencurigai sesuatu.
"Nggak ada apa-apa, sayang. Aku baik-baik saja. Bayinya juga sehat. Tadi sudah diperiksa sama dokter. Iya kan, dok?" Dilla berusaha mencairkan suasana yang terasa sedikit tegang.
"Ibu Dilla baik-baik saja. Semua normal. Hanya saja..." Hati nurani Ninda bergejolak antara berbohong atau berkata jujur. "Tekanan darah pasien masih terlalu tinggi, padahal sudah diberi obat penurun tekanan darah. Aku berharap Pak Arnand bisa mem..."
"Nggak apa-apa, sayang... Nanti dikasih obat sama dokter juga pasti tekanan darahnya normal." Lagi-lagi Dilla memotong ucapan Ninda. Ia tak ingin Ninda membuka rahasia mengenai kondisinya saat ini.
Arnand kembali menatap Ninda meminta kepastiannya sebagai seorang dokter.
Ninda menarik napas pelan.
__ADS_1
"Semoga dengan obat penurun darah bisa membantu. Karena jujur....." Ninda terdiam sejenak. Ia menatap mata elang milik Arnand dan berharap laki-laki tampan itu mengerti maksud ucapannya. "Sudah sangat terlambat untuk mengatasi hipertensi Ibu Dilla karena seharusnya dilakukan perawatan sedari dini usia kehamilan." Ujar Ninda serius.
Dilla terdiam. Ia berharap Arnand tidak salah paham dengan ucapan Ninda.