Salah Mencinta Dokter Ninda.

Salah Mencinta Dokter Ninda.
Pasien Pertama.


__ADS_3

Dua hari menemani putri tercinta di desa X sambil melihat-lihat perkembangan kegiatan klinik, akhirnya hari ini Papa Marco, Mama Icha, Leon dan Ayu harus kembali ke Jakarta. Tangis haru Mama Icha sudah tidak bisa dibendung. Untuk pertama kali ia harus hidup jauh dari satu-satunya putri yang ia miliki.


Pelukan hangat ibu dan anak itu pun membuat air mata Papa Marco menetes. Namun, dengan cepat ia menghapus sebelum dilihat Ninda. Ia tidak mau anak gadisnya menjadi kepikiran melihat air mata orangtuanya. Ia harus kuat sebagai bukti bahwa ia mendukung apa pun yang dilakukan gadis cantik itu selama bermanfaat untuk banyak orang.


Begitupun dengan si sulung, Leon. Dengan berat hati, ia harus meninggalkan adik kesayangannya tinggal mengabdi di desa terpencil dengan jarak yang sangat jauh. namun, sama seperti Papa Marco. Sebagai anak tertua dan kakak yang baik, ia pun harus terlihat tegar dan selalu mendukung sang adik dengan segala daya yang ia miliki.


"Hati-hati di sini, nak... Jaga diri kamu baik-baik. Jangan pernah meninggalkan sholat." Sudah berulang kali nasehat yang sama disampaikan Mama Icha pada Ninda. "Mama dan papa akan sering-sering ke sini menjenguk kamu." Janji sang mama.


Satu persatu mereka memeluk Ninda dengan haru.


"Selamat berjuang, Nin.... aku tau kamu mampu dan kuat." Ayu pun tak kalah memberi semangat pada sahabat yang sudah menjadi kakak iparnya.


Setelah drama pelukan dan tangis-tangisan, semua memasuki mobil dan siap berangkat. Hanya tinggal Leon yang masih belum memberi pelukan perpisahan.


"Jaga dirimu! Cepat memberi kabar jika kamu membutuhkan sesuatu." Bisik Leon sambil memeluk dan mengelus kepala Ninda. Tangisan gadis itu terdengar lebih syahdu. Dalam setiap doanya, ia selalu menyebut nama Leon dan meminta Tuhan untuk menjaga laki-laki baik ini yang sudah sangat berperan sebagai pahlawan baginya.


"Lusa akan ada 8 perawat dan 4 bidan yang akan membantu kamu melayani di sini." Ninda mengangguk pelan. Setelah memberi kecupan sayang di kening adiknya, Leon pun masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan halaman klinik dengan lambaian perpisahan.


"Non.... ayo, masuk. Jangan nangis lagi." Suara Mbok Yeyen terdengar pelan menegur Ninda. Wanita berusia sekitar empat puluhanan tahun yang merupakan penduduk asli desa ini dipilih Rayhan untuk menjadi asisten rumah tangga adik bos besarnya.


Ia memiliki seorang suami yang bekerja sebagai buruh tani dan dua orang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.


Ninda menghapus air mata dan tersenyum pada Mbok Yeyen. Keinginan besar untuk memiliki klinik pribadi dan melayani masyarakat kurang mampu membuat ia sangat bersemangat walaupun harus hidup sendiri dan jauh dari keluarga tercinta. Bahkan ia melepas status sebagai putri seorang konglomerat dan meninggalkan semua kenikmatan hidup yang sudah didapatkan sedari lahir.


Pukul 8 pagi, klinik sudah dibuka. Para petugas loket, sekuriti, beberapa cleaning service yang merupakan anak-anak muda asal desa ini mulai terlihat sibuk melakukan aktivitas.


Mereka memang dipilih dan diuji oleh Rayhan sendiri sesuai dengan tingkat pendidikan masing-masing.


"Pagi, dok..." Perawat muda yang biasa disapa Ririn menyapa Ninda saat berpapasan.


"Pagi, Rin... Selamat melayani, ya." Balas Ninda ramah. Lalu masuk ke dalam loket.


"Selamat pagi..." Suara lembut perempuan cantik itu sedikit mengagetkan dua pria muda petugas loket.


"Eh... pagi, dokter." Mereka menjawab hampir bersamaan dengan sedikit malu-malu.


"Maaf, ya... baru bisa menyapa kalian. Boleh tau siapa nama kalian?" Tanya Ninda ingin tahu.


"Saya Rasyid, dok." Jawab salah satu pemuda yang berusia sekitar 18 tahun.


"Saya Yogi." Seorang lagi bersuara.


"Oke... Rasyid dan Yogi. Selamat melayani, ya. Harus dengan senyum dan sabar." Ninda menepuk pelan pundak kedua pemuda pertanda persahabatan mereka baru dimulai.


Ia terus berkeliling dan berkenalan dengan semua pekerja klinik sebelum ada pasien yang datang, agar mereka bisa bekerja sama tanpa kikuk satu sama lain.


"Pagi, dokter..." Suara lembut seorang perempuan membuat Ninda menghentikan pembicaraannya dengan seorang sekuriti yang sedang berjaga di lobi klinik.

__ADS_1


Ninda berbalik badan.


"Selamat pagi... Mau periksa kandungan?" Seperti biasa, ia akan membalas sapaan lawan bicara dengan senyum manis. Apalagi ia sedang berhadapan dengan seorang wanita muda yang sedang hamil besar.


Wanita itu hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ninda.


"Mari, mbak'... Daftar dulu, ya." Setelah menunjuk tempat pendaftaran, Ninda pun masuk ke dalam ruangan dan siap menerima pasien pertama.


"Masuk." Pintu dibuka saat mendapat perintah Ninda. Bidan Lona masuk dengan map merah di tangan dan menyerahkan padanya.


"Mari, mbak... silahkan duduk." Wanita yang menegurnya di lobi tadi terlihat sedikit ragu. Namun, melihat tatapan Ninda yang tulus, ia pun duduk dan mulai tersenyum.


Ninda membuka map merah.


"Ibu Dilla Hikmayanti?" Tanya Ninda sambil membaca biodata serta hasil pemeriksaan awal pasien sebelum diperiksa dokter. "Istri dari Bapak Arnand....?"


"Arnand Pratama Bagja." Potong wanita yang bernama Dilla ketika menyadari jika Ninda sedikit kesulitan menbaca lanjutan nama suaminya.


Ninda terdiam beberapa saat sambil serius membaca biodata Dilla. Wajahnya serius. Keningnya sedikit berkerut. Tetapi, tak lama kemudian ia menampilkan senyum ramah dan bersahabat.


"Suami anda seorang guru?" Tanya Ninda melihat ke arah Della. Wanita itu mengangguk sebelum menjawab.


"Iya, dok... guru SD di sini."


Ninda menutup map merah.


"Berapa umur anak pertama?"


"Tiga tahun, dok."


"Persalinan normal?"


Lagi-lagi Dilla mengangguk.


"Mari... naik ke atas tempat tidur, ya. Kita periksa janinnya." Ninda berdiri dan menuntun Dilla naik ke atas tempat tidur. "Tarik napas yang dalam dan buang lewat mulut. Rileks, ya. Jangan takut." Ninda mulai menunjukkan sikap profesional sebagai seorang dokter kandungan.


Ia menyingkap sedikit daster Dilla hingga dada dan menutupi bagian bawah dengan kain panjang.


"Mbak tau berapa umur janin sekarang?" Tanya Ninda sambil membuka botol gel yang akan diusapkan ke perut Della.


Bukan ia tidak mengetahui umur janin saat ini, namun ia sengaja ingin mencari tahu apakah ibu hamil ini paham dan tahu tentang kondisi bayi dalam kandungan.


"Sudah masuk 9 bulan, dok. Tinggal menunggu waktu." Jawab Dilla cepat. Ninda tersenyum.


"Nah... itu bayinya." Spontan Dilla melihat ke arah layar komputer yang sedang memperlihatkan kondisi janin dalam perut.


"Sehat dan bagus." Ujar Ninda kemudian. Ia mulai menjelaskan keadaan dan letak bayi.

__ADS_1


Selesai pemeriksaan, Dilla sudah kembali duduk berhadapan dengan Ninda.


"Ada satu yang harus dikontrol." Ninda mulai bersuara lagi. "Tekanan darah mbak sedikit tinggi. Tetapi, saya berharap masih bisa diatasi dengan obat penurun darah." Ninda menatap wanita cantik di depannya dengan intens.


"Banyak minum air putih, istrahat yang cukup, jangan begadang. Buah-buahan dan sayuran harus lebih banyak dikonsumsi."


Dilla mendengar dengan saksama dan sesekali merespon dengan anggukan kepala.


"Saya berharap untuk pemeriksaan selanjutnya suami mbak juga bisa ikut temani mbak ke sini. Banyak hal yang harus diketahui oleh suami untuk mendukung kehamilan mbak. Dukungan suami sangat berarti buat ibu dan janin." Panjang lebar Ninda memberi petunjuk sekaligus nasehat tentang kehamilan.


"Ini obat penurun darah dan vitamin." Ninda menyodorkan sebungkus plastik obat.


Karena belum ada petugas apoteker yang mengurus obat-obatan, maka Ninda menyiapkan sendiri semua obat yang dibutuhkan. Kebetulan ia sudah menyiapkan obat-obat tertentu yang lazim diperlukan ibu hamil.


Ninda menyadarkan punggung pada sandaran kursi. Ia menatap Dilla yang baru saja keluar dari ruangan.


"Semoga tekanan darahnya bisa normal sebelum hari persalinan." Gumannya berharap. Walaupun sudah terlambat sebenarnya.


Aktivitas klinik berjalan dengan normal. Beberapa pasien yang datang langsung dilayani oleh petugas dan diperiksa oleh Ririn, Via, Dita dan Lona. Ia berharap bantuan tenaga medis segera datang untuk membantu pelayanan dalam klinik.


Hingga pukul dua belas siang, sudah ada enam pasien yang diperiksa oleh Ninda. Setelah itu, ia pulang sebentar untuk makan siang.


Tempat tinggal yang disediakan Leon tepat berada di samping kanan klinik, hingga hanya membutuhkan waktu lima menit untuk pulang. Bidan Lona dan Bidan Ditha diminta untuk tinggal bersama Ninda, sedangkan para perawat disediakan paviliun besar di samping kiri klinik, sambil menunggu beberapa perawat lagi yang akan datang.


Mbok Yeyen terlihat sigap melayani majikannya.


"Mbok.... di sini banyak yang hamil di luar nikah, ya." Ujar Ninda prihatin. Ia mulai mengetahui sedikit tentang kehidupan masyarakat desa.


"Iya, non... Banyak anak gadis yang hamil sewaktu masih sekolah." Nada suara Mbok Yeyen terdengar sedih.


Ninda mengangguk.


"Apa karena minim pengetahuan tentang **** usia dini, ya?" Tanya Ninda serius. Ia terus menikmati makan siang sambil bertanya jawab dengan asisten rumah tangganya.


"Mbok nggak paham, non..." Jawab Mbok Yeyen jujur. Ninda memgangguk paham.


"Kalau Ibu Dilla Hikmayanti?" Tanya Ninda teringat pasien pertama pagi tadi.


"Oh... Dilla Bagja. Istrinya Pak Arnand." Mbok Yeyen tetap sibuk membersihkan sayur mayur untuk disimpan ke dalam kulkas. "Mereka itu pasangan idola di kampung ini. Yang wanitanya cantik, yang prianya tampan. Mereka juga orang pintar yang ikut andil membangun desa kita." Terang wanita empat puluhan itu.


Ninda tersenyum dan mengangguk setuju. Ia mengakui dalam hati jika pasien pertamanya pagi tadi memang cantik dan sedikit berbeda dengan perempuan-perempuan desa yang lain.


"Pak Arnand itu PNS. Mengajar di sekolah dasar negeri. Masih muda tetapi sangat bersahaja." Lanjut Mbok Yeyen memuji laki-laki yang bernama Arnad.


Tak ada jawaban dari bibir Ninda. Hanya telinganya saja yang mendengar dengan baik. Tetapi, pujian bertubi dari pembantunya membuat ia sedikit penasaran dengan suami dari Dilla, wanita hamil itu.


Arnand Pratama Bagja.

__ADS_1


Gumam Ninda tanpa suara.


__ADS_2