
Tepat dua hari setelah tangis-tangisan bahagia karena kehamilan menantu keluarga Marco Guatalla, hari ini mereka sudah bersiap untuk mengantar Ninda ke desa X. Dua perawat dan dua bidan serta satu asisten rumah tangga sudah terlebih dahulu menempati rumah yang disiapkan Leon tepat di samping klinik. Bahkan mereka sudah melayani pasien selama seminggu sebelum SOP keluar setelah Rayhan, asisten Leon, berbicara dan meminta ijin kepada Kepala Desa setempat.
"Barang-barang kamu sudah beres, nak?" Tanya Mama Icha yang sedang memperhatikan Pak Trisno, sopir pribadi Leon, sibuk mengangkat barang-barang Ninda ke atas mobil.
"Kayaknya sudah, ma. Ninda udah siapin dari malam sih. Tapi nanti kalau masih ada yang ketinggalan, Ninda telepon mama biar mama sama papa bisa sering-sering ke sana jenguk Ninda." Cerocos gadis manis itu menggoda sang ibu.
"Maumu..." Ledek Mama Icha mencubit pipi anak gadisnya. Mereka tertawa senang. "Mama nggak nyangka kamu sudah bisa mandiri." Puji Mama Icha bahagia.
"Iya dong... masa mau manja terus." Balas Ninda memeluk Mama Icha.
"Ayo... semua sudah beres." Suara Leon mengajak semua naik ke atas mobil Van mewah milik Leon. Mobil seharga milyaran rupiah itu bisa menampung 6 orang di kursi penumpang dan dua orang di kursi sopir. Jadi, total menampung delapan orang.
Papa Marco tentu saja hanya mau ditemani istrinya di kursi paling depan. Ninda ditemani Citra, gadis muda seorang asisten rumah tangga yang baru, yang sengaja diajak Mama Icha ikut agar bisa membantu jika diperlukan. Sedangkan Leon tentu saja di kursi belakang bersama Ayu, istrinya. Pak Trisno di kursi driver ditemani Jono, salah satu sopir Papa Marco. Ia juga disuruh ikut agar bisa bergantian menyetir bersama Pak Trisno.
"Kamu mual, sayang?" Tanya Leon khawatir melihat Ayu yang terus menutup mata.
"Nggak... aku ngantuk. Badan cepat sekali lemas. Padahal nggak ngapa-ngapain." Desahnya pelan.
"Mungkin itu bawaan anak kita." Leon mengelus perut Ayu untuk memberi sedikit kekuatan pada istrinya. "Aku sudah bilang jangan ikut karena ini pejalanan jauh." Leon menarik lembut tubuh Ayu untuk didekap setelah menyetel kursi penumpang menjadi panjang untuk berbaring.
"Aku nggak papa..." Ayu menjatuhkan kepala pada dada bidang Leon sedangkan tangan memeluk pinggang suaminya. Rasa nyaman mulai ia rasakan hingga ia tertidur pulas.
Perjalanan panjang mereka terasa menyenangkan dengan berkaraoke bersama, bercerita seru tentang masa kecil Leon dan Ninda hingga tidak ada yang menyadari jika mereka sudah memasuki kota Bandung.
Citra, Pak Trisno dan Jono pun merasa sangat dihargai oleh majikan mereka. Tidak ada tindakan atau tingkah laku yang membedakan status sosial mereka dari keluarga Guatalla.
Ayu yang awalnya lemas mulai bersemangat saat mereka berhenti di taman kota Bandung untuk mengisi perut. Mama Icha tentu saja sudah menyiapkan bekal dengan lengkap, hingga tidak perlu mencari rumah makan. Bahkan makanan sehat untuk ibu hamil pun tak lupa disiapkan.
"Nak... kamu nggak apa-apa?" Tanya Mama Icha sedikit khawatir dengan kondisi Ayu yang sedang berbadan dua.
"Nggak apa-apa, ma... Malah aku senang bisa jalan-jalan." Seru Ayu bersemangat. Mama Icha tersenyum senang lalu ia mulai membantu Citra menyiapkan makan siang mereka. Ia melarang Ayu untuk membantu. Akhirnya wanita hamil itu hanya sibuk menikmati keadaan sekitar.
Leon yang heran melihat perubahan mood Ayu yang begitu cepat tersenyum aneh.
"Tadi lemas banget... sekarang kok udah semangat aja?" Goda Leon. Ia memeluk Ayu dari belakang, tak peduli pada pandanagan orang sekitar.
"Kan udah ngisi vitamin tadi." Jawab Ayu ambigu. Leon mengerutkan kening. Vitamin? Sejak kapan Ayu minum vitamin? Perasaan tadi ia hanya tertidur sambil memeluk Leon.
"Kamu minum vitamin apa? Jangan asal minum obat ya, sayang... kamu lagi hamil." Pungkas Leon cepat.
"Vitamin aku itu kamu..." Ayu berbisik dan tersenyum menggoda Leon.
Sepersekian detik baru Leon bisa memahami maksud sang istri. Ia tertawa dan langsung mendaratkan kecupan singkat di bibir manis itu.
Jangan ditanya kemana Ninda. Ia sedang asyik menikmati angin segar taman kota kembang itu. Begitu juga Papa Marco.
"Ayo, pa... kita makan dulu." Tegur Mama Icha setelah semua sudah tersedia.
Banyak mata yang heran memandang ke arah mereka. Tidak terlihat mewah dari penampilan tetapi tumpangan mentereng dengan beberapa vasilitas mewah terpampang nyata di sana. Tidak ada yang mengetahui jika mereka adalah keluarga kaya raya yang hendak menghantar anak gadis untuk mengabdi di tempat terpencil. Tetapi mobil Van mewah itu terasa aneh berhenti di tengah taman dengan beberapa penumpang yang sedang menikmati makan siang layaknya orang biasa.
__ADS_1
Papa Marco terlihat tak acuh dengan pandangan aneh orang-orang di sekitar taman. Ia memahami apa yang ada di otak mereka. Begitu juga Mama Icha dan lainnya. Mereka menikmati makan siang sambil sesekali bercanda tawa.
"Yu... kamu aman?" Tanya Ninda khawatir. Ia yang seorang dokter kandungan pasti sangat memahami kondisi ibu hamil.
"Aman, Nin..." Jawab Ayu cepat.
"Nggak ada morning sickness? Atau mual makanan?" Tanya Ninda lagi.
"Belum sih... semoga aja nggak, ya." Sahut Ayu berharap.
"Alhamdulillah... semoga aja. Karena seharusnya kamu sudah mulai mual dari awal kehamilan. kalau nggak ya berarti aman." Jelas Ninda.
"Kenapa Ayu nggak merasa mual seperti ibu hamil pada umumnya?' Tanya Leon penasaran.
"Masing-masing ibu hamil berbeda kondisi tubuh, kak. Ada yang mual sampai muntah, nggak bisa makan minum, nggak suka bau ini, bau itu. Tapi ada juga yang santai aja, nggak mengalami morning sickness. Dan itu biasa. Tapi kalau Ayu ngga mengalami itu semua ya alhamdulillah. Nggak enak loh mualnya orang hamil." Jelas Ninda panjang lebar.
Leon manggut-manggut paham. Dalam hati ia bersyukur untuk keadaan Ayu yang sehat.
Satu setengah jama cukup bagi mereka untuk mengisi perut dan istirahat sejenak. Saatnya kembali melakukan perjalanan.
Sudah terlihat Jono yang berada di balik setir. Pak Trisno bisa istrahat mereggangkan otot setelah hampir tiga setengah jam berkonsentrasi menyetir.
Baru setengah jam perjalanan terlihat Mama Icha, Ninda dan Citra mulai tertidur. Ayu bersandar di pundak Leon sambil menemani sang suami bekerja di depan Laptop. Begitu pula Papa Marco yang sudah asyik mengutak-atik pekerjaan juga melalui laptop. Keadaan menjadi sepi walaupun terdapat 6 orang di sana. Apalagi televisi sudah dimatikan.
Pintu penghalang antar sopir dan penumpang sudah tertutup namun terdengar kecil suara musik dari depan. Duo sopir sedang asyik menikmati lagu dangdut sambil bercengkrama.
Ninda membuka pintu penghalang depan antara sopir dan penumpang, lalu ia membuka kaca jendela hendak menikmati pemandangan. Semua ikut terpesona melihat indahnya suasana di luar.
"Pemandangannya bagus banget. Sejuk lagi." Ninda terkagum-kagum melihat hijaunya di sepanjang jalan. Suasana pedesaan mulai terlihat. Terdapat Kebun teh di sepanjang kiri kanan jalan.
"Ini kebun teh ya, Jon?" Tanya Ninda pada Jono yang kebetulan berasal dari daerah sekitar sini.
"Iya, non... di belakang rumah warga itu kebun teh. Itu salah satu mata pencaharian mereka." Jawab Jono sopan.
Papa Marco dan Mama Icha benar-benar kagum melihat hijaunya pemandangan.
"Segar banget ya, pa... nyaman lagi suasananya." Marco mengangguk setuju. "Bisa-bisa Ninda betah tinggal di sini." Lanjutnya sedikit takut jika Ninda merasa betah maka bisa saja ia tidak mau kembali ke Jakarta.
"Belum tentu di tempat Ninda bekerja akan seindah ini, ma." Jawab Marco memahami rasa takut istrinya. Ia mengecup kening wanita cantik itu untuk mengurangi kecemasannya.
"Desa X masih jauh, Jon?" Tanya Leon yang sedari tadi juga asyik menikmati pemandangan di luar.
"Sekitar 4 jam lagi, tuan." Jawab Jono cepat.
"Jauh juga. Bisa tengah malam sampainya." Ujar Leon tak menyangka akan memakan banyak waktu. Selama ia mengurus klinik di sana, Leon selalu menggunakan jet pripadi bersama Rayhan, jadi ia tidak merasa akan memakan waktu lama untuk sampai di sana.
Mama Icha melirik jam di pergelangan tangan.
"Udah jam 5 sore loh." Kaget juga ia mengentahui kalau sudah sangat sore. "Citra... bikinin kopi hitam buat bapak, ya. Kopi Latte buat Leon dan sisanya teh. Biar ibu yang buatkan susu untuk Ayu." Perintah Mama Icha dengan lembut.
__ADS_1
"Jono dan Pak Trisno mau minum apa?" Tanya Mama Icha.
"Kopi hitam, bu... pakai sedikit gula." Dengan sedikit segan dan malu, Jono menjawab. Namun ia sudah mengetahui sifat dan karakter keluarga kaya raya ini hingga ia tidak terlalu merasa aneh dengan sikap mereka.
Segera Citra memanaskan air menggunakan teko listrik dan mengambil beberapa gelas dan sendok pada kabinet di samping atas mobil. Ia pun sibuk meracik minuman sesuai perintah Mama Icha yang disapa Ibu oleh semua asisten rumah tangga.
Semenjak Rossa, mantan asisten rumah tangga yang juga ibu kandung Ayu, menantunya, tidak bekerja lagi, Icha menerima asisten rumah tangga yang baru dan ia melarang mereka memanggilnya nyonya atau tuan pada Marco. Ia lebih nyaman dipanggil ibu sehingga terasa tidak ada jarak antara majikan dan pembantu.
Mereka mulai menikmati kopi dan beberapa macam kue yang dibuat sendiri oleh Mama Icha. Pak Trisno pun bisa menikmati kopi hangat meski ia sedang menyetir. Karena terdapat tempat khusus gelas di pintu samping dilengkapi dengan tutupan gelas yang bisa menahan agar minuman tidak tertumpah.
Sungguh pengalaman perjalanan yang melelahkan namun menyenangkan. Hingga tepat pukul 8 malam mereka tiba di satu desa yang sudah sangat sepi seperti tidak berpenghuni.
"Ini desa X, pak... " Suara Jono membuat Leon mengangkat kepala melihat ke luar. Tentu saja ia langsung mengenal daerah ini setelah dua bulan ia bolak balik mengontrol pekerjaan klinik milik Ninda.
"Terus ke depan, Jon... nanti ada perempatan, belok kiri." Pungkas Leon menunjukkan arah.
"Ini tempatnya, kak? Sepi banget." Tanya Ninda mulai sedikit cemas melihat keadaan desa ini.
"Ya namanya juga kampung. Aktivitas warga hanya sampai sore menjelang malam. Selanjutnya mereka beristirahat untuk bangun pagi dan bekerja lagi." Sahut Leon menggambarkan sedikit keadaan di sini.
Hingga mata mereka menangkap satu gedung besar yang terlihat mewah sendiri di tengah-tengah rumah penduduk dengan pencahayaan yang menyilaukan mata.
"Kak.... i.. itu kliniknya?" Tanya Ninda tak percaya. Sangat mewah dan luas karena memang Leon menyiapkan semua dengan sangat lengkap. Setiap kamar dengan fungsinya masing-masing.
Marco dan Icha ikut senang melihat rupa klinik yang jauh dari oemikiran mereka. Marco berpikir Leon akan membangun klinik seadanya sesuai dengan keadaan desa ini. Namun ia salah tafsir.
"Kok banyak orang, kak?" Setelah mendekat, Ninda kaget dengan adanya banyak orang di depan klinik. Namun, ia menyadari jika itu adalah penduduk desa ini. Bahkan sudah ada Rayhan di sana berdiri di depan warga.
"Mereka mau menyambutmu." Ujar Leon memberi tahu.
Setelah Jono memarkirkan mobil. Mereka mulai turun satu persatu.
"Malam tuan..." Sapa Rayhan penuh hormat pada Marco lalu menyapa Leon, Mama Icha dan Ayu.
"Selamat datang, dokter..." Suara warga mulai terdengar.
"Dokter cantik..." Beberapa suara anak kecil terdengar memuji kecantikan Ninda. Ia tersenyum senang sekaligus haru.
"Malam tuan, nyonya... " Seorang laki-laki paruh baya menyalami Marco, Icha, Leon dan Ayu serta Ninda. " Saya Muhamad Emil Muktamil. Kepala desa di sini." Ia memperkenalkan diri.
Rayhan membuka pintu klinik dan mengajak semua masuk setelah Ninda menyalami satu per satu warga dan mereka pun kembali ke rumah masing-masing.
"Bagus. Papa suka." Marco berkeliling klinik ditemani Leon dan Rayhan. Sedangkan Mama Icha, Ninda dan Ayu langsung disuruh istrahat oleh Leon tanpa boleh membantah. Apalagi Ayu, istrinya, yang sedang hamil. Padahal Ninda masih penasaran untuk melihat-lihat semua kamar dalam klinik.
"Besok masih ada waktu, Ninda... sekarang saatnya istirahat." Suara tegas Leon seperti biasa, tak bisa dibantah.
Maka salah satu perawat ditunjuk Rayhan untuk mengantarkan mereka ke kamar masing-masing. Ninda menempati kamar pribadinya bersama Mama Icha dan Ayu, Leon dalam satu kamar khusus tamu bersama Marco, begitu pun dengan Citra yang juga mendapat satu kamar tamu.
Setengah jam mengelilingi klinik, mereka pun menyusul masuk ke kamar yang sudah disiapkan Rayhan untuk beristirahat.
__ADS_1