Salah Mencinta Dokter Ninda.

Salah Mencinta Dokter Ninda.
Pelayanan Perdana.


__ADS_3

Ada yang aneh ketika Ninda terbangun pagi ini. Namun, ia masih berusaha tenang, tarik napas, mengucak mata dan mengikat rapi rambutnya.


Lalu ia mulai melihat ke samping kiri, ada seorang wanita sederhana masih tertidur pulas.


"Kok Citra di sini? Bukannya semalam aku tidur sama mama dan Ayu? Kenapa malah Citra yang di sini?" Gumam Ninda bingung. "Aneh." Ia menarik selimut yang masih menutupi tubuh asisten rumah tangganya.


"Cit.... Citra bangun..." Ninda menggoyang tubuh Citra agar terbangun. "Citraaaaa..." Geram Ninda karena gadis berusia sekitar 21 tahun itu belum juga tersadar hingga Ninda harus menggerakkan tubuhnya sedikit kuat.


"Hah... iya... iya... ada apa non?" Dengan mata yang masih berat Citra terbangun kaget mendengar suara teriakan Ninda, nona mudanya.


"Kok kamu yang di sini? Mama sama Ayu kemana?" Ketus Ninda kesal. Bukan karena status Citra seorang pembantu yang membuat ia kesal. Bagi Ninda, tidak ada batasan yang terlalu tinggi antara majikan dan pelayan selama pelayan itu tahu diri dan tidak melunjak. Ia kesal karena semalam ia ingat betul kalau Mama Icha dan Ayu yang menemaninya tidur.


"Oooh... itu, non..." Setelah benar-benar tersadar, Citra mulai mengingat kejadian semalam. "Bapak sama Den Leon menggendong istri masing-masing dan di bawah ke kamar mereka. Maka, aku yang disuruh temani non di sini. Karena kamar yang aku tempati mau dipakai Den Leon dan Non Ayu." Ujar Citra memberi tahu kronologi kenapa sampai ia yang akhirnya tidur bareng Ninda.


"Ckckck... dasar para laki-laki manja. Sehari aja nggak peluk istri mereka seakan dunia runtuh." Ngomel Ninda sebal. "Ya udah... ayo, bangun. Udah jam 8 pagi nih."


"Haaaaah??? Jam 8 pagi, non??? Ya ampun, non... kenapa nggak bangunin Citra. Aduuuh, bisa kena omel ibu ini." Saking paniknya Citra melompat dari atas tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat ia mencuci muka dan menggosok gigi.


"Hahahahahaha... rasain kamu." Ninda malah tertawa lucu melihat tingkah Citra yang ketakutan karena telat bangun. Namun, ia tidak marah. Karena ia tahu Citra juga pasti kecapaian setelah perjalanan panjang kemarin. Ninda juga yakin kalau Papa Marco pasti masih asyik memeluk Mama Icha, apalagi kakaknya, Leon.


Ninda tersenyum menggeleng kepala mengingat tingkah konyol papa dan saudara laki-lakinya.


Setelah Citra buru-buru keluar kamar, giliran Ninda yang masuk ke kamar mandi dan memulai ritual mandi ala princess. Ia merendam diri dalam bathtube mewah yang disediakan lengkap dengan sabun cair aroma terapi yang sengaja disiapkan Rayhan dengan pelbagai wewangian bermacam bunga. Matanya masih asyik menelusuri setiap sudut tembok kamar mandi.


"Kok bisa kakak membangun klinik mewah seperti ini? Aku pikir hanya klinik kecil di tengah desa terpencil. Setidaknya bisalah melayani masyarakat kelas bawah." Gumam Ninda masih tak percaya. Khusus interior dalam kamar pribadinya dibangun sangat mewah dan lengkap. Ninda tersenyum senang. Ia tahu betapa besar rasa sayang Leon pada dirinya, sehingga ia benar-benar memanjakan adiknya itu dengan begitu rupa.


Ninda segera menyudahi khyalannya dan buru-buru mandi membersihkan diri karena ia mulai merasa perut keroncongan.


Tepat pukul 9 pagi, Ninda keluar kamar dan menuju ruang makan. Sudah ada Papa Marco dan Mama Icha di sana. Sepertinya mereka pun baru mau sarapan.


"Mama kok ninggalin Ninda semalam? Ayu juga sama." Langsung saja Ninda memprotes kelakuan sang mama dan iparnya.


Papa Marco tertawa lucu.


"Mana bisa papa tidur sendirian tanpa mama kamu? Kamu kan tau itu." Sahut Marco santai. Ninda hanya melirik kesal tanpa membantah. Ia malas berdebat kalau soal Mama Icha. Karena pasti Papa Marco tidak akan mau mengalah.


"Pagi pa, ma..." Suara bass Leon terdengar. Dengan menggenggam tangan Ayu, mereka melangkah menuju meja makan.


Seperti biasa, Leon mengecup kepala Mama Icha, mengecup kepala Ninda lalu mengusap kepalanya sedikit kasar hingga membuat rambut gadis itu berantakan.

__ADS_1


"Kakaaaaaak....." Teriak Ninda geram. "Kebiasaan deh..."


Semua tertawa lucu. Mereka mulai sibuk mengambil sarapan masing-masing.


"Hari ini kita keliling melihat setiap sudut kamar dalam klinik. Nanti Rayhan yang akan membantu kamu mengecek setiap kamar." Ucap Leon mulai dalam mode serius. Ninda tersenyum senang. Semua kesal yang ia rasakan mulai menguap perlahan. Itulah kebiasaan kakak beradik itu. Mereka tidak pernah saling marah dalam jangka waktu yang lama. Rasa sayang di antar mereka terlalu besar untuk dikalahkan oleh amarah.


"Sepertinya kamu harus mulai bekerja hari ini juga." Tukas Papa Marco. "Tadi papa sempat ke depan dan melihat banyak pasien di sana." Lanjut Marco sambil terus menikmati makanannya.


"Iya, pa... nanti setelah mengecek semua kamar, aku coba langsung ketemu mereka. Sepertinya mereka senang dengan adanya klinik ini. Semoga saja bisa membantu semua warga yang membutuhkan." Harap Ninda tulus.


"Amiiiiin..." Semua yang sedang menikmati sarapan sama-sama mendoakan yang terbaik untuk Ninda.


Selesai sarapan, Rayhan sudah mengajak Ninda berkeliling melihat kondisi klinik yang dibangun dalam jangka waktu hanya dua bulan lebih. Ayu yang juga ikut berkeliling sangat terpana melihat semua peralatan medis yang lengkap bahkan sangat canggih.


"Kalian benar-benar menyiapkan semua dengan sempurna, Ray." Guman Ayu dalam keterpanaan.


"Bukan saya, non... tapi suami Non Ayu. Dia yang memerintahkan saya untuk menyiapkan semua dengan sempurna. Non tau kan bagaimana detailnya Tuan Leon." Rayhan balik memuji Leon.


"Oh ya, Ray... di bawah sudah banyak pasien. Sejak jam berapa mereka mengantri?" Tanya Ninda penasaran.


Rayhan tertawa kecil.


"Bahkan dari semalam kalau bukan saya, Pak Trisno dan Jono yang menjelaskan tentang jadwal klinik, mungkin mereka akan antri sampai pagi." Jelas Rayhan dengan senyum tulus. "Mungkin karena ini hal baru untuk mereka." Lanjut Rayhan.


"Ini juga yang menjadi pemikiran Den Leon... Makanya semua kamar dilengkapi peralatan medis untuk semua jenis penyakit. Beliau juga yang memerintahkan saya untuk menyiapkan perawat umum di sini sambil mencari dokter umum yang mau ditugaskan ke sini." Pungkas Rayhan menjelaskan. Ayu dan Ninda hanya tersenyum dan mengangguk senang.


"Oke... kita ke bawah, yuk! Aku ingin melihat pasien-pasien di bawah." Ninda menarik lembut tangan Ayu dan mengajaknya turun melalui lift. Rayhan pun mengekor tanpa suara.


Klinik mewah yang terdiri dari 3 tingkat ini sudah sangat layak dioperasi. Semua peralatan medis sudah lengkap, mungkin hanya menunggu tenaga kesehatan yang mau dibayar mahal untuk bertugas di daerah tertinggal seperti ini.


Sampai di lantai 1, pemandangan miris terlihat di depan mata. Bagaimana tidak? Banyak orangtua dengan kondisi lemah dan beberapa perempuan muda yang sedang menggendong anak-anak mereka, ada juga yang sedang hamil besar, duduk mengantri dengan tenang. Dari penampilan mereka saja, Ninda dan Ayu langsung memahami bahwa mereka benar-benar dari keluarga menengah ke bawah.


Ninda dan Ayu spontan mengambil masker di saku baju masing-masing dan memakainya sebelum mereka mendekati para pasien.


"Hai, dek..." Sapa Ninda pada seorang anak kecil berusia kira -kira 4 tahun, yang sedang sakit dan bersandar lemah pada pundak mamanya. "Adek sakit?" Ninda meraba kening mungil itu dengan lembut. Tubuh kurus anak kecil ini sedikit menghindar dengan menyembunyikan wajah di belakang lengan sang ibu.


"Jawab dokter, nak..." Suara lirih perempuan muda terdengar menegur anak kecil tadi.


"Ini anak ibu?" Tanya Ninda lembut.

__ADS_1


"Iya, dok..." Jawab perempuan itu pelan.


"Sakit apa?" Tanya Ninda lagi. Dia sengaja ingin mencari tahu kira-kira penyakit apa yang sering dialami anak-anak desa di sini. Agar ia bisa mencari solusi terbaik untuk mengurangi gejala penyakit yang mungkin disebabkan oleh udara, air atau makanan setempat.


"Sudah dua hari ini dia muntah-muntah, dok... nggak mau makan juga. Saya bingung." Terdengar sangat jelas kecemasannya pada sang anak.


Ninda mengangguk mengerti.


Ia mengangkat kepala melihat sekeliling. Banyak juga pasien yang belum mendapat pelayanan. Memang agak terlambat karena hanya tersedia 2 perawat umum dan 2 bidan. Mereka pasti kewalahan juga melayani banyak pasien.


Ayu juga sedang serius berbicara pada seorang kakek tua dengan napas ngos-ngosan.


"Yu...." Ninda mendekati Ayu dan berbisik. "Kita harus membantu perawat dan bidan secepatnya. Masih banyak yang harus segera ditolong." Tanpa menunggu jawaban Ayu, Ninda segera menarik tangan wanita hamil itu masuk ke loket.


"Panggil pasien berikutnya. Pisahkan pasien ibu hamil dan pasien umum." Perintah Ninda pada petugas loket yang ia sendiri belum kenal siapa dan dari mana. Tetapi yang pasti petugas-petugas di luar tenaga medis itu adalah orang-orang yang dipilih dan dibayar Leon untuk bekerja membantu pelayanan klinik.


"No 9 dan no 10..." Suara toa kecil terdengar memanggil nomor antrean.


Seorang nenek paruh baya dan anak kecil yang digandeng ibunya pun masuk dengan dibantu oleh seorang petugas.


Ninda melayani pasien anak-anak, sedangkan Ayu melayani pasien dewasa umum.


Dua dokter cantik itu sudah sibuk dengan tugas mereka melayani dan mendengar dengan baik semua keluhan para pasien. Tidak lupa mereka mengenakan semua alat pengaman tubuh sesuai peraturan kesehatan.


Hingga menjelang sore, tepatnya pukul setengah tiga, sudah tertinggal beberapa pasien yang sudah bisa ditangani sendiri oleh dua perawat dan dua bidan yang sudah ada.


"Sus... tolong lanjut periksa yang lain, ya. Setelah selesai kalian boleh istrahat dan makan siang." Dengan sentuhan lembut di pundak salah seorang perawat, Ninda memberi perintah dengan suara pelan.


"Baik, dok..." Jawab perawat muda itu dengan tersenyum.


Ninda dan Ayu membuka semua atribut kesehatan yang mereka pakai, lalu mencuci tangan dengan air mengalir dan membasuhnya hingga kering.


"Lumayan untuk hari ini." Kata Ninda sambil berjalan menuju rumah di samping belakang klinik. "Mau sebanyak apapun pasien kalau kita melayani dengan hati maka akan terasa nikmat dan menyenangkan, ya." Sambungnya dengan nada terharu. Ya, hari ini merupakan hari pertama Ninda melayani pasien dengan status dokter.


"Iya, kamu benar. Melihat senyum mereka di tengah kesakitan seakan membuat adrenalin aku semakin terpacu untuk menolong mereka." Ayu pun tak kalah bersemangat menceritakan pengalaman pertamanya.


"Ninda... Ayu..." Mama Icha yang sedari tadi gelisah menunggu dua gadisnya untuk makan siang hendak mendekat.


"Jangan mendekat, ma. Ninda sama Ayu mandi dulu, ya. Setelah itu baru kita makan bersama." Ninda menyadari jika mereka baru saja melakukan kontak dengan banyak pasien. Walaupun mereka menggunakan pelindung namun ada baiknya sekalian mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Ya sudah... papa sama mama tunggu di meja makan. Kebetulan papa sama Kak Leon masih berbicara dengan perangkat desa di sini." Mama Icha segera ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Ya, walaupun tidak bisa dikatakan makan siang juga karena sudah lewat waktu makan siang. Namun, perempuan 53 tahun yang masih terlihat cantik itu belum mau makan sebelum Ninda dan Ayu selesai bekerja.


Hingga mereka harus makan di pukul 4 sore.


__ADS_2