
Klinik Guatalla berjalan baik dari hari ke hari. Jumlah petugas medis juga sudah ditambah oleh Leon dengan iming-iming gaji yang lumayan tinggi. Sehingga Ninda merasa sangat terbantu dengan kehadiran dokter, perawat dan bidan yang baru.
Beberapa hari setelah pertemuan Ninda dan Dilla, dokter muda itu terlihat lebih banyak melamun. Ia masih kepikiran dengan keadaan Dilla, sedangkan dalam hitungan hari wanita itu sudah harus melahirkan. Ia harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan ibu dan si jabang bayi.
"Non..." Suara Mbok Yeyen membuat Ninda menoleh dan tersenyum. "Kenapa melamun?" Tanya wanita setengah baya itu sambil meletakkan secangkir teh di atas meja. "Ada masalah di klinik?" Mbok Yeyen mengambil tempat duduk tepat di depan Ninda.
Setelah beberapa bulan tinggal bersama, Ninda sudah merasa dekat dan nyaman bercerita bahkan meminta saran dari Mbok Yeyen, apalagi wanita itu berasal dari desa ini, yang artinya ia sangat memahami karakter warga di sini.
Mendengar pertanyaan asisten rumah tangganya, Ninda menarik napas berat. Ia mengambil teh, meniup sesaat lalu meneguk dengan pelan. Hangat teh terasa menjalar ke dalam tubuh, memberi sedikit kenyaman pada si peneguk.
"Ini tentang Mbak Dilla, Mbok." Lirih Ninda. "Dia mengalami hipertensi di akhir bulan kehamilan. Dan juga ada infeksi pada dinding rahimnya. Itu sangat berbahaya, Mbok." Terlihat segurat kekuatiran pada wajah cantik itu. "Itu bisa menyebabkan pendarahan saat proses melahirkan nanti." Ninda menunduk. "Aku ingin bicara dengan suaminya agar ketika terjadi sesuatu, ia sudah bisa menerima dan paham tentang kondisi istrinya. Tapi..." Ninda menatap Mbok Yeyen yang selalu setia mendengar keluhannya. "Dilla nggak mau, Mbok. Dia takut suaminya kepikiran dengan kondisi yang ia alami."
Mbok Yeyen berpindah tempat di samping Ninda lalu mengusap punggung gadis itu untuk memberi sedikit energi dan ketenangan.
"Saran Mbok... Non harus tetap memberitahu Pak Arnand agar dia nggak salah paham nantinya. Biar bagaimana pun dia harus tau kondisi istrinya." Ninda mengangguk setuju.
"Iya, Mbok... aku juga akan merasa bersalah sekali kalau harus menutupi hal besar ini pada Pak Arnand." Bayangan wajah tampan itu menari-nari di otaknya. Namun, ia segera menepis. "Aku akan cari waktu untuk bicara dengan beliau, Mbok."
Akhirnya, ia harus melanggar janji yang pernah ia ucapkan pada Dilla, walaupun saat itu ia mau berjanji karena sangat tertekan dengan keadaan. Namun, hati kecilnya selalu berontak dan merasa sangat berdosa jika sampai ia menutupi tentang keadaan Dilla pada Arnand.
Pukul dua belas tengah malam, Ninda belum juga bisa menutup mata. Bayangan wajah Arnand dan segala rasa di hati bercampur aduk dengan kondisi Dilla saat ini. Rasa kagumnya pada laki-laki itu semakin membuat Ninda susah terlelap. Namun, di satu sisi ada rasa bersalah pada Dilla karena diam-diam Ninda mengagumi suaminya padahal ia tahu bagaimana kondisi Dilla saat ini.
Ninda mengambil bantal dan menutup wajah, mencoba untuk tidur. Namun, justru yang ia dengar suara ribut beberapa orang di depan klinik. Ninda berpikir mungkin ada beberapa warga yang sedang berbincang dengan sekuriti klinik. Ia kembali memejamkan mata.
"Dok.... dokter... bangun, dok." Ninda melonjak kaget saat mendengar suara ketukan pintu yang cukup kasar. Tanpa berpikir lama, ia bangun dari tempat dan segera membuka pintu.
"Ada apa, Ditha?" Tanya Ninda kebingungan melihat Bidan Ditha dan seorang sekuriti berdiri di depan pintu. Untung ia memakai baju tidur yang sopan.
"Ada pasien yang mengalami pendarahan, dok. Sekarang di ruang ICU."
Bukan main kagetnya Ninda mendengar ucapan Ditha.
"Pindahkan ke ruang operasi sekarang." Perintah Ninda pada Ditha dan sekuriti. Ia pun tak menunggu lama segera berlari menuju klinik tanpa mempedulikan baju tidur bergambar Micky Mouse dan berwarna ungu muda yang masih melekat di tubuh. Di bayangannya hanya ada wajah Dilla karena hanya dia satu-satunya pasien dengan kemungkinan terburuk saat ini.
"Dokter... tolong anak saya." Seorang wanita berusia sekitar 55 tahun segera mendekati Ninda dengan wajah penuh air mata dan nampak sedikit ketakutan.
"Ibu tenang, ya... saya akan berusaha semampu saya." Ninda belum tahu siapa pasien yang mengalami pendarahan namun hati kecilnya selalu menyebut nama Dilla. Jujur, rasa takut mulai menjalar di hati namun ia tetap harus menunjukkan sikap profesional di depan keluarga pasien.
Dan benar saja. Tepat di depan ruangan operasi, Arnand sedang duduk sambil menutup wajah.
Melihat kedatangan Ninda, ia segera mendekati dan mencengkeram pundak gadis itu. Arnand menatap mata Ninda penuh harap.
"Selamatkan istri saya." Ujarnya pelan namun penuh penekanan.
Ninda mengangguk tanpa suara. Airmata di pipi Arnand membuat hati Ninda ikut terluka. Seakan ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.
Ninda segera melepaskan cengkeraman tangan Arnand dan masuk ke dalam ruang operasi.
Entah apa yang terjadi di dalam, namun Arnand dan Ibu Rina, mertuanya, Pak Tio dan Ibu Yana, orangtua Arnand setia menanti di luar ruang operasi dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
"Semoga menantu kita bisa selamat, pah... Mama nggak kuat ngebayangin darahnya tadi, pah..." Raung Ibu Yana dalam pelukan suaminya. Ia yang menjadi saksi mata bagaimana kondisi Dilla ketika ditemukan di dapur sudah penuh darah di bagian kaki.
"Berdoa, ma... agar Dilla dan calon cucu kita selamat." Lirih Pak Tio tak kalah terpukul.
Arnand hanya bersandar pada punggung bangku panjang tanpa suara. Ekspresi tegang pada wajah tampan itu sangat terlihat jelas. Sekali-kali ia melihat ke arah pintu ruang operasi. Lampu ruangan masih menyala pertanda proses operasi belum selesai.
"Nak... minum dulu." Tak tega melihat keadaan Arnand, Ibu Rina memberinya sebotol air untuk diminum. Namun, Arnand menolak. "Kita serahkan ke Tuhan saja, nak... DIA penentu hidup kita." Wanita paruh baya itu berusaha menguatkan menantunya walaupun ia sendiri terpuruk melihat kondisi sang putri.
"Abang Raffa sama siapa, bu?" Setelah tiga jam berada di klinik, Arnand baru menyadari jika ia pergi meninggalkan Raffa, putra sulungnya yang berusia 3 tahun sendiri di rumah.
"Raffa sama Teteh Santi... ada banyak keluarga juga yang nunggu di rumah." Jawab lemah Bu Rina.
Teteh Santi merupakan kakak sepupu Arnand yang segera datang ke rumah Arnand saat diberitahu Ibu Rina tentang kondisi Dilla.
Arnand menarik napas berat setelah ia melihat lampu operasi belum juga dipadamkan. Lalu dipandangnya baju kaos putih yang ia kenakan penuh dengan lumuran darah.
Ya, setelah mendengar teriakan Ibu Yana, Arnand segera menyusul dan melihat sang istri sedang terduduk di lantai sambil menahan sakit. Sedangkan bagian paha, betis hingga kaki sudah penuh dengan lumuran darah. Segera ia menggendong Dilla dan membawanya masuk ke dalam mobil untuk dilarikan ke klinik.
Tepat pukul 4 dini hari, lampu ruang operasi dipadamkan. Arnand segera berdiri dan berlari ke arah pintu. Ia sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter tentang keadaan istri dan anaknya.
Ninda keluar dengan wajah tegang dan sedikit pucat.
"Bagaimana keadaan mereka, dok?" Langsung saja Arnand mendesak Ninda dengan pertanyaan. Ibu Rina, Pak tio dan Ibu Yana pun sudah berdiri di belakang dan samping Arnand menanti jawaban dokter muda itu.
Mata Ninda melihat ke arah lain. Ia tak kuasa menatap mata elang milik Arnand. Airmatanya pun mengalir deras di pipi.
Arnand mengerutkan kening.
"Tenang, Arnand... jangan begini! Kasihan Dilla dan anak kalian." Tegur Pak Tio, ayah kandung Arnand. Ia mengusap punggung putranya dan sedikit menjauhkan Arnand dari Ninda.
"Dok... apa yang terjadi?" Suara parau Ibu Rina, mama dari Dilla terdengar.
Ninda menarik napas berat. Ia harus bersikap profesional. Lalu ia menghapus airmatanya.
"Selamat bu, pak... cucu kalian terlahir sangat cantik dan normal. Ia tidak kekurangan suatu apapun." Ninda menahan rasa tegang dan berusaha bersikap senormal mungkin.
"Alhamdulillah..." Mereka cepat mengucap syukur, kecuali Arnand yang tetap menatap tajam wajah Ninda.
"Tapi, kami minta maaf...." Suara Ninda mulai bergetar. "Kami tidak bisa menyelamatkan Ibu Dilla."
Arnand membeku. Begitu juga mertua dan ibunya. Semua menatap Ninda tak percaya.
"Katakan sekali lagi, dok!" Pinta Arnand dengan suara kecil sambil menahan amarah.
Ninda terdiam.
"Katakan sekali lagi, dokter! Katakan!" Teriak Arnand tepat di depan wajah Ninda. Tangannya sudah dikepal akibat menahan emosi.
"Arnand..." Pak Tio memeluk Arnand yang hendak memberontak dan menyerang Ninda. Beberapa perawat pria pun ikut menahan tubuh Arnand.
__ADS_1
Ninda menelan ludah yang terasa mengering. Ia tahu bagaimana perasaan Arnand tetapi ia tidak bisa menolak kehendak Sang Pencipta.
"Dokter... anak saya..." Ibu Rina tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Maaf, bu... kami sudah melakukan semampu kami, tetapi Tuhan berkehendak lain. Pendarahan yang dialami Ibu Dilla sudah tidak bisa ditolong." Bidan Lona yang diam sedari tadi akhirnya membantu Ninda menjelaskan kondisi Dilla.
Ibu Rina meraung menangisi kepergian sang putri tercinta. Semua yang ada di depan ruangan operasi pun ikut menangis. Pak Tio dan Ibu Yana pun menangis sedih mengingat menantu mereka.
"Untuk apa kamu membangun klinik mewah ini kalau kamu tidak bisa menolong istri saya, hah?" Bentak Arnand sambil menunjuk ke arah Ninda.
"Arnand...!" Pak Tio terus menenangkan putranya.
"Dia yang sudah membunuh Dilla, pah... dia yang membunuh Dilla. Harusnya dari awal dia memberitahuku tentang kondisi Dilla." Tuduh Arnand dengan sarkas.
Ninda tak bersuara. Bidan Lona dan Bidan Ditha terus berdiri di samping Ninda untuk menguatkan dokter mereka.
"Kamu yang sudah membunuh Dilla!" Suara teriakan Arnand menggema di seluruh ruangan.
"Sudah, nak... sudah. Sekarang ada putrimu di dalam. Jangan teriak begitu. Kasian putrimu, nak." Ibu Rina memeluk Arnand dan berusaha menenangkan menantunya.
Mendengar nama putrinya disebut, Arnand terdiam. Ia memberontak hendak masuk ke dalam ruang operasi. Namun, dua orang perawat laki-laki menahan tubuhnya.
"Lepaskan, bajingan!" Maki Arnand kesal. "Kalian sudah membunuh istriku, apa sekarang kalian mau membunuh putriku?" Lanjutnya dengan tuduhan kejam.
"Maaf, pak... putri anda sedang dibersihkan. Setelah itu pasti anda boleh masuk, melihat dan mengadzani putri anda." Bidan Lona kembali bersuara.
"Pergilah... Bacakan adzan di telinga cucu ibu. Setelah itu kamu boleh melihat istrimu, nak." Ujar Ibu Rina.
Tak lama kemudian, Bidan Rumi keluar dan memberitahu Arnand jika ia sudah boleh mengadzani putrinya. Sedangkan Pak Tio, Ibu Yana dan Ibu Rina mengurus jenasah Dilla bersama pihak klinik.
Arnand masuk ke dalam dengan tatapan kosong. Langkah gontainya hampir saja menabrak Ninda. Ia menatap Ninda dengan tatapan benci dan penuh dendam.
Terdengar suara adzan yang dikumandangkan Arnand di telinga sang bayi mungil itu. Lantunan doa membuat airmata Arnand terus mengalir hingga ia terisak di samping sang putri.
"Maafkan papa, nak... papa nggak bisa selamatkan mama. Maaf..."
Ninda melihat dan mendengar ungkapan sedih Arnand. Ia pun melihat bagaimana Arnand menangis terisak akibat kelalainnya.
Ya, kelalaiannya karena tidak memberitahu Arnand tentang kondisi Dilla. Seharusnya dari awal dia memberitahu Arnand jika hipertensi dan infeksi dinding rahim Dilla baru terdeteksi di mana kandungannya sudah memasuki usia 9 bulan. Seandainya dari awal kehamilan, klinik Guatalla sudah ada di desa ini pasti Ninda bisa membantu.
Dan sekarang dia harus menerima ketika Arnand menunduhnya sebagai pembunuh Dilla.
"Aku sudah menepati janjiku untuk menyelamatkan putrimu, Dilla. Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan nyawamu." Lirih Ninda dalam hati.
Ia berlari masuk ke dalam ruangan pribadi dan menangis sejadi-jadinya setelah sekian jam ia menahan sesak di dada.
Ia membayangkan bagaimana tatapan marah Arnand. Namun, satu yang Ninda simpan di hati.
"Dok.... selamatkan bayiku. Jaga anak-anak dan suamiku. Percayalah mereka orang baik. Aku percaya Arnand akan bahagia bersama dokter."
__ADS_1
Ucapan terakhir Dilla sebelum meninggal terngiang di telinga Ninda.
"Dia membenciku, Dilla..."