Salah Pilih Salah Jalan

Salah Pilih Salah Jalan
Chapter 11


__ADS_3

"Kak Febri ..." panggil Sinta kepada kakaknya yang baru pulang kerja.


"Kenapa Sin?"


"Kak, ada yang Sinta mau omongin."


"Kakakmu mana?" tanya Febri.


"Kak Tia lagi tidur di kamar, abis pingsan. Tapi sekarang udah mendingan kok Kak, udah berobat juga."


Sinta langsung menarik tangan kakak laki-lakinya itu dan mereka menuju dapur.


"Ada apa sih Sin, pake acara ke dapur segala?" tanya Febri.


"Ini rahasia Kak."


"Rahasia apa Sinta?"


"Kak Tia tadi kan pingsan Kak, terus dibawa ke rumah sakit, dan dianter pulang lagi--"


Febri memotong ucapan adiknya, ia merasa lega.


"Syukurlah ada orang baik yang bantu kakakmu."


"Bukan itu maksud Sinta Kak."


"Terus apa?" tanya Febri bingung.


"Yang anter Kak Tia tadi, cowok tahu Kak. Aku udah beberapa kali sih lihat cowok itu bareng Kak Tia. Pertama aku lihat Kak Tia sama cowok itu berduaan di cafe kampus. Terus cowok itu juga sering anter Kak Tia pas pulang kuliah. Bahkan aku pernah lihat Kak Tia sama cowok itu lagi dinner Kak, pas aku lagi main sama teman-temanku malam itu ...."


"Cowok itu namanya Marko, Kak. Mungkin saja, Kak Tia itu selingkuh tahu Kak," ucap Sinta kepada kakaknya.


Sinta menceritakan apa yang ia lihat tentang Tia belakangan ini. Setelah mendengar itu Febri langsung pergi ke kamarnya.


"Tia, kamu kenapa?" tanya Febri kepada Tia dengan ekspresi dingin.


"Aku ada kejutan buat kamu Sayang ...."


"Aku hamil ...."


Tia pun langsung memeluk Febri dengan senangnya.


"Lepasin!" ucap Febri dan membuat Tia terkejut.


"Kamu nggak senang Sayang?" tanya Tia heran.


"Aku hamil lho."


"Ini anak siapa?" ucap Febri seraya menunjuk perut Tia.


"Anak siapa lagi Sayang, ya anak kamulah."


"Mending kamu jujur saja Tia," desak Febri kepada Tia.

__ADS_1


"Iya anak kamu Sayang.Mana pernah aku berhubungan dengan orang lain."


"Sudahlah. Aku sudah tau semuanya." ucap Febri kemudian ia melanjutkan perkataannya.


"Kamu akhir-akhir ini sering pulang malam. Aku tahu, ini anak pria itu kan?" tebak Febri.


"Siapa Sayang? Aku nggam pernah macam-macam Sayang."


"Terus Marko itu siapa?" tanya Febri dengan marah.


"Dia atasan aku Sayang. Mana mungkin aku selingkuh sama Tuan Marko."


"Akui saja Tia," ucap Febri.


"Aku bersumpah Sayang, aku nggak pernah selingkuh," ucap Tia sambil meneteskan air matanya.


"Kamu dinner romantis? Pria itu sering antar kamu pulang kan?"


"Dia hanya memberiku tumpangan Sayang."


Febri marah besar dengan Tia. Ia bahkan menuduh Tia selingkuh dan bilang jika anak yang sedang Tia kandung adalah anak Marko. Meskipun Tia sudah menjelaskan kepadanya, Febri masih saja tidak percaya dengan ucapan istrinya. Febri benar-benar murka setelah mendengar cerita dari Sinta, dan sekarang istrinya sedang hamil pula. Sementara Linda yang sedang tiduran di kamarnya karena merasa tidak enak badan itu mendengar ribut-ribut dari luar. Ia memanggil Sinta, untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.


"Sinta ... Sinta ...."


"Iya Ma."


Sinta langsung menghampiri ibunya.


"Itu yang di luar, siapa yang ribut-ribut malem-malem begini?"


"Itu Kak Febri sama sama Kak Tia lagi berantem di kamar Ma."


"Berantem?"


"Iya, Sinta denger mereka sebut-sebut Marko Ma, cowok yang anter kak Tia tadi siang."


"Apa hubungannya sama Marko?" tanya Linda.


"Kak Febri bilang kalo anak yang sedang dikandung Kak Tia adalah anak Marko Ma."


Mendengar cerita dari Sinta bahwa Febri dan Tia bertengkar gara-gara Marko membuat Linda semakin terpuruk, dan sakitnya pun semakin parah


***


Prahara yang terjadi empat tahun lalu terulang kembali dalam rumah tangga kami. Setelah setahun lebih kami membina rumah tangga, pertengkaran berulang-ulang kali karena Mama yang tak sabar menimang cucu sedangkan aku yang belum juga diberi keturunan. Lima tahun berlalu setelah kami menikah, sekarang aku diberi kesempatan kedua kalinya oleh Sang Pencipta untuk mengandung buah hati kami. Kehamilan ini sudah berumur 17 minggu, aku baru menyadarinya. Namun, suami ku tercinta malah memfitnahku bahwa anak yang kukandung adalah hasil hubungan gelap. Bagaimana mungkin aku menerimanya. Ini benar-benar hasil buah cinta antara aku dan suamiku.


Tulisan itu tercatat rapi dalam buku harian Tia. Ia memang sudah jauh dari Lintang, kakak sekaligus teman curhatnya. Namun, Tia selalu mencurahkan isi hatinya ke dalam buku hariannya.


Febri yang masih curiga dengan kehamilan Tia itu, ia memperlakukan istrinya yang sedang hamil dengan dingin sekali bak gunung es di kutub utara. Namun Tia tetap melayani suaminya dengan baik, ia juga masih lanjut bekerja di kantor Marko, walaupun Marko sudah menganjurkannya untuk istirahat dulu.


"Venny, apakah anak itu masuk kerja?" tanya Marko kepada sekretarisnya.


"Iya Tuan, Mba Tia kerja hari ini."

__ADS_1


"Mana dia? tolong panggilkan ke sini!" perintah Marko.


Tia pun menghadap menemui Marko. Tak biasanya Marko memanggilnya di tengah-tengah jam sibuk.


"Maaf Tuan, apa Tuan memanggil saya?"


"Kenapa kamu masih kerja hari ini? Bukankah saya sudah bilang, istirahat dulu untuk dua atau tiga hari ke depan. Jangan khawatirkan masalah gaji, gajimu tidak akan terpotong jika kamu benar-benar sakit."


"Saya sudah sehat kok Tuan."


"Jangan salahkan saya jika terjadi apa-apa ya..Saya sudah memberimu waktu istirahat, tapi kamu menolak."


"Baik Tuan. Saya baik-baik saja Tuan."


Tia memang keras kepala, bahkan direkturnya sendiri yang sudah memberi izin bahwa ia boleh tidak masuk kerja dan harus beristirahat. Tia tetap saja menolaknya. Pria yang dingin itu ternyata perhatian juga.


Sepulang kerja Tia pun masih mengerjakan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Linda yang sedang sakit itu sekarang tidak bisa lagi membantunya. Adik-adik iparnya tidak ada yang bisa diandalkan. Bahkan Sinta yang sudah kuliah pun jarang membantu kakaknya di dapur, hanya ketika mood-nya membaik saja ia baru mau membantu Tia.


Karena sakit yang dialaminya, saat makan pun Linda harus disuap. Setelah masakan matang dan masih hangat, Tia membawakan untuk ibu mertuanya itu, Linda.


"Tia ..." ucap Linda lirih.


"Iya Ma?"


"Apa kamu kenal dengan Marko?"


"Iya, kenal Ma. Tuan Marko adalah atasan Tia Ma."


"Apakah dia adalah anggota keluarga Dirgantara Group?"


"Sepertinya iya Ma, karena nama panjangnya adalah Marko Dirgantara."


"Tidak salah lagi," lirih Linda.


"Tidak salah apa ya Ma?" tanya Tia.


"Tidak apa-apa Tia. Apa dia dekat denganmu?"


"Dekat sih nggak Ma, Tia hanya membersihkan di bagian kantor Tuan Marko Ma."


"Apa boleh Mama minta tolong?" tanya Linda.


"Boleh, Ma."


"Bisakah kamu mengajaknya bertemu Mama sekali saja Tia."


"Memangnya Mama kenal dengan Tuan Marko ya Ma?"


"Dia sepertinya tak asing bagi Mama, Tia. Kalau pun kamu tidak bisa membantu Mama untuk bertemu dia, tidak apa-apa kok."


"Sebenarnya Tia tidak berani Ma, Tuan Marko itu orang nya dingin dan tegas Ma, tapi akan Tia usahakan."


"Jangan terlalu dipusingkan Tia. Tidak juga, tidak apa-apa kok."

__ADS_1


__ADS_2