
Tidak terasa Mama sudah meninggalkan kami setahun yang lalu, Bayi Naila juga sudah pergi sejak empat tahun yang lalu. Pernikahanku sudah selama ini, sejak saat itu pula aku tidak bertemu Ayah, tujuh tahun sangatlah lama. Apa Ayah tidak merindukanku?
Sabtu sore, sepulang kuliah Tia beristirahat sembari bercengkrama dengan diary kesayangannya. Menulis kisah hidup dan kesehariannya. Suka, duka, tawa, derita dan juga cinta sudah ia tuangkan ke dalam buku tebal bak kitab lama itu.
Buku tebal itu pun sudah dalam lembar terakhir penulisannya. Ia sedang asyik menulis tentang kerinduannya pada sang ayah tercinta.
Ayah tahu? Semenjak aku bertemu dengan pria dingin itu, kehidupan kami mulai berubah. Aku tak harus menjadi seorang Asisten Rumah Tangga lagi, adik-adik iparku yang cantik itu sudah tidak akan terancam lagi drop out dari sekolah, bahkan mereka akan menapaki kehidupan yang cerah kelak. Pria dingin itu juga menguliahkanku Ayah, ia juga ingin melihatku jadi pengacara hebat. Empat tahun lalu, cucumu Ayah, Bayi Naila pergi karena diriku yang kurang memperhatikan kesehatanku, membuatnya lahir dengan berat badan rendah sehingga rentan terserang penyakit. Meskipun dulu aku kerja keras aku masih sering tidak makan karena perekonomian keluarga ini masih juga takkan ada cukupnya. Pria dingin itu diam-diam membantuku Ayah, aku selalu ingin berterimakasih kepada manusia berhati malaikat itu. Meskipun pria itu dingin, suka mengatur dan suka memaksa tapi ia benar-benar manusia berhati malaikat Ayah. Apakah Ayah ingin bertemu dengan pria itu?
Tulisan dalam lembaran terakhir buku hariannya itu. Tia terkejut ketika ada suara dering handphonenya yang berulang-ulang.
"Halo," ucap Tia.
"Apakah ini dengan Mba Tia?" tanya si penelepon.
"Iya benar, dengan saya sendiri."
"Mba Tia, suami Anda sudah tiada, sekarang jasadnya ada di RS Bhayangkara."
"Apa?" Tia terkejut bukan main, jantungnya berdetak tak beraturan.
"Apakah Bapak tidak salah orang ya Pak, suami saya sedang bekerja?" tanya Tia memastikan.
"Iya Mba, suami Anda mengalami kecelakaan kerja, bangunan yang dikerjakan oleh suami Anda runtuh dan beliau tertimpa dalam reruntuhan tersebut. Saya dan polisi-polisi yang lain sedang mengkaji di TKP."
"Baik, terima kasih Pak," ucap Tia sambil menutup panggilannya.
Tangis Tia pun pecah, ia tak percaya dengan ucapan polisi itu. Ia mencubit tangannya, namun terasa sakit.
"Aku lagi nggak mimpi kan? Nggak mungkin itu Febri. Pasti polisi itu salah orang."
__ADS_1
Tia dengan paniknya langsung keluar rumah untuk pergi ke rumah sakit yang disebutkan oleh polisi tadi. Setelah menunggu lama tak ada satu pun taksi yang lewat, posisi rumah sakit itu cukup jauh dari rumahnya. Tiba-tiba mobil Marko lewat dan Tia langsung menyetopnya.
"Tuan, tolong antar saya," ucapnya sambil menangis.
"Ayo naik!" ucap Marko.
"Kenapa Tia? Kenapa kamu menangis?" tanya Marko bingung.
"Febri ... Febri ... Tuan."
"Kenapa Febri Tia?"
"Kata polisi Febri meninggal dunia Tuan ...." Tia tidak bisa menahan air matanya.
"Kita mau kemana ini?" tanya Marko.
"RS Bhayangkara Tuan."
"Sus, apakah ada pasien yang meninggal karena kecelakaan kerja atas nama Febri?" tanya Tia.
"Benar Mba, mari ikuti saya, pasien ada di sana," ajak perawat itu.
Tia dan Marko mengikuti suster yang akan menunjukkan ruangan Febri. Tia pun membuka selimut yang sudah menutupi tubuh pasien dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tubuh itu sudah dingin dan terbujur kaku.
"Ini benar-benar Febri ...." ucap Tia dengan lirih.
"Sayang ... Sayang ... jangan Pergi ...."
Bulir air mata terus terjatuh, bumi terasa gelap, ketika kita sedih, kita benar-benar sadar betapa rapuhnya kita manusia. Satu-satunya keajaiban yang tak mampu manusia pecahkan sejagat raya adalah kematian.
__ADS_1
***
Hari pemakaman Febri Atmata bin Atmaja Wiratmoko.
Kita tak bisa menunda kematian, kita pun takkan pernah tahu kapan ia datang. Sebelum sejak dilahirkan kita semua telah menanggung beban takdir yang tak dapat ditolak yang bernama kematian.
"Sayang kenapa kau pergi begitu cepat. Mengapa kau meninggalkanku sendiri. Aku harus bagaimana Sayang, aku harus pergi kemana jika kau sudah tidak lagi di sisiku?" Tia menangisi batu nisan Febri dalam prosesi pemakaman. Marko juga memberi penghormatan terakhir untuk adiknya. Atmaja dan kelima anak gadisnya menangisi kepergian Febri.
Melihatmu menangis membuat hatiku pedih. Adik Zaky tolong seka air matamu, aku tak sanggup melihat pedih deritamu. Tolong jangan menangis Adik Zaky!
Lirih Marko dalam hatinya yang berdiri tepat di samping Atmaja untuk mengantarkan adiknya ke peristirahatan terakhir. Kematian Febri menorehkan kepedihan di hati keluarga tercinta.
Kematian adalah jalan takdir tertunda bagi yang hidup. Kematian selalu menyisakan kesedihan tiada tara bagi yang ditinggal. Kematian adalah perpisahan totalitas antara dia yang benar-benar pergi dan mereka yang ditinggalkan. Sebuah perpisahan romantis yang paling sakit antara jiwa dan tubuh yang selalu bersama searah sejalan. Namun, jiwa akan kembali ke alam abadi dan tubuh akan kembali ke asal mulanya.
Hidup adalah buku harian. Sampul depan adalah tanggal lahir dan sampul belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembar adalah cerita hidup yang kita jalani. Buku harian itu akan berakhir ketika lembar pertama telah tertulis dengan rapi hingga lembar terakhir.
Dear diary, dimulai ketika Tuhan mempertemukan dua jiwa berbeda yang penuh cinta. Dia titipkan benih terhebat untuk wadah sebuah jiwa baru yang tidak atau merupakan jiwa yang pernah ada sebelumnya.
Dear diary, siap untuk ditulis, dirangkai per kata dan digambar dengan keindahan, dari terciptanya sampul depan, semua orang tertarik dan melirik, mereka bahagia dan tertawa serta menunggu sebuah kehadiran.
Dear diary, halaman pertama penuh tawa dan bahagia, kau diberi judul terindah yang penuh makna. Judul penuh harapan dan doa. Cinta dan bahagia dalam diary menyejukkan sukma sekelilingnya.
Dalam diary, sudah didesain sempurna oleh Sang Pemilik, akan tetapi kata-kata yang dirangkai oleh penulis harus tertata indah.
Tugas penulis adalah membuat rangkaian kata penuh makna dan gambaran indah yang memanjakan mata. Dalam merangkai kata dibutuhkan fisik yang kuat, tubuh yang sehat dan pemikiran yang jernih untuk menghasilkan isi diary yang nyaman di mata pembaca dan penulis lainnya.
Pemikiran pun acapkali dijabarkan oleh gelombang getaran jiwa. Gambaran indah selalu ada campur tangan oleh penulis atau pelukis lainnya. Hasil melukis atau menggambar bergantung pada ayunan kuas si pelukis.
Begitulah isi diary yang berupa tulisan, kata-kata indah dan gambar nyata itu sampai ketika memenuhi halaman terakhir. Berapa halaman pun tidak ada yang bisa menerka yang tertera hanyalah halaman terakhir (the end) yang kemudian tertutup nyata dan paksa oleh sampul belakang.
__ADS_1
Febri sudah bebas, kebebasan dari duka dan lara di dunia ini. Air mata Tia mengalir tak ke hilir, sakit yang pernah terasa akan kalah dengan kepergian Febri. Febri sudah kembali menghadap Sang Pemilik Cinta.