
Pelukan Adik Zaky hangat sekali. Aku merasa nyaman memeluknya. Di depannya aku tak sanggup menanggung kepedihan hatiku sendiri. Ini pertama kalinya aku menangis di depan perempuan. Aku pun mengatakan kesedihanku kepadanya. Apa aku membutuhkannya? Pelukannya seperti pelukan Mama saat aku kecil dulu. Aku merindukan pelukan itu.
"Apa boleh aku melepas kesedihanku di pelukanmu Adik Zaky? Apa boleh aku memelukmu lebih lama lagi?" gumam Marko
Marko menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur empuknya, berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Marko tetap saja memikirkan adik sahabatnya itu, ia bahkan tahu betul Tia merupakan adik iparnya sendiri. Hanya saja Tia masih belum mengetahui hubungan Marko dan Linda yang merupakan anak dan ibu.
***
Tia tidur sendiri di kamarnya, suaminya harus menginap di tempat kerjanya, karena lokasinya yang jauh sekali dari rumah. Tia terpikirkan tentang kejadian tadi sore antara dirinya dan Marko.
Mengapa aku membiarkan pria dingin itu memelukku? Dia juga menceritakan kesedihannya, dia bilang tak sanggup melihat kepergian, kepergian siapa? Apa dia benar-benar patah hati karena putus cinta? Menyedihkan sekali pria gagah dan dingin, tapi menangis ketika diputusin pacar.
Tia menulis buku hariannya, apapun yang ia pikirkan, yang ia rasakan dan juga yang dirinya kerjakan. Ia selalu menuangkannya dalam diary tercintanya.
Keesokan harinya, Marko tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Marko memanggil Bu Venny.
"Venny ...."
"Iya ada apa Tuan?"
"Mana anak itu, kenapa kopinya belum ada?"
"Iya Tuan, segera saya panggilkan."
Bu Venny langsung memanggil Tia dan mengatakan bahwa Marko marah karena kopinya belum datang. Tia datang dan membawa secangkir kopi untuk atasannya itu.
"Maaf Tuan ini kopinya."
"Tarok saja di meja. Oh ya, buatkan secangkir kopi lagi ya."
"Baik Tuan."
Tia pergi ke pantry dan membuatkan secangkir kopi kembali untuk Marko.
"Venny, Saya ada urusan sebentar, Anda keluar dari ruangan saya dulu. Nanti saya panggil jika urusan saya sudah selesai."
"Baik Tuan."
Bu Venny keluar dari ruangan dan berpapasan dengan Tia yang sedang membawa secangkir kopi untuk direktur. Tia masuk ke dalam ruangan itu.
"Maaf Tuan ini kopinya."
"Bawa sini!" ucap Marko.
__ADS_1
Marko sedang duduk di sofa dalam ruangannya sembari meminum kopi buatan Tia yang pertama dibuatnya tadi. Tia berdiri di depan pria itu.
"Maksud saya, kamu duduk di sini," ucap Marko sambil menepuk-nepuk sofa untuk Tia duduki.
"Baik Tuan, ini kopi yang tuan minta," ucap Tia yang sudah duduk di sofa tepat di sebelah Marko.
"Kopi yang kamu pegang itu, kamu minum saja."
"Maaf Tuan ...."
"Saya sengaja suruh kamu buat kopi lagi, supaya kamu bisa temani saya ngopi."
"Baik Tuan ..." ucap Tia ragu.
"Kamu mau kan temani saya ngopi?" ucap Marko sambil menatap lekat perempuan itu.
"Baik Tuan."
Tia akhirnya menganggukkan kepalanya, ia duduk di sebelah Marko sambil menikmati secangkir kopi bersamanya. Marko yang sedang menikmati kopi tak berbicara sepatah kata pun, ia hanya menatap wajah Tia.
Beberapa menit kemudia Tia sudah menghabiskan kopinya. Tia menoleh dan melihat wajah Marko, Marko hanya tersenyum kepadanya tanpa bicara. Tia menyadari bahwa Marko terus-terusan menatapnya membuat Tia merasa tidak nyaman.
"Maaf Tuan saya akan melanjutkan pekerjaan saya, tadi belum selesai."
"Tapi Tuan?"
"Tunggu sampai kopi saya habis, sebentar lagi ya. Setelah itu kamu boleh pergi."
Tia setuju, ia masih duduk di sebelah pria dingin tersebut sambil menunggu sampai kopi dalam cangkir Marko tak bersisa.
Perempuan yang di depanku ini sangat berbeda. Hobinya adalah menolakku, menolak tawaranku. Baru pertama kalinya aku menemui perempuan keras kepala yang berani menolak diriku. Meskipun Adik Zaky keras kepala, tapi pelukannya hangat. Pelukannya juga nyaman. Pelukannya bisa membuang kesedihanku.
Marko melamun membuat kopinya pun tak habis-habis. Tia yang kesal dengan atasannya itu pun berdiri.
"Maaf Tuan saya harus kerja," ucap Tia sambil beranjak dari sofa.
Marko terkejut mendengar suara Tia yang sedikit lantang.
"Oke. Baiklah. Panggilkan Venny masuk."
"Baik Tuan."
Tia melangkah keluar ruangan dan memanggilkan Bu Venny. Dalam ruangan Marko masih duduk seorang diri dan berbicara sendiri.
__ADS_1
Marko sadarlah! Anak itu istri dari adikmu! Bagaimana mungkin kau akan mempermainkannya?
"Ekspresiku tadi di depannya sungguh memalukan. Dasar Adik Zaky," ucap Marko sambil pindah ke kursi kerjanya.
Ia masih terpikir tentang kejadian minum kopi tadi, Marko yang diam, menatap dan tersenyum kepada Tia seperti bukan dirinya sendiri. Tia yang sedang melanjutkan pekerjaannya itu sembari berpikir tentang atasannya.
Apa Tuan Marko sedang sakit, kenapa dia aneh sekali hari ini? Apa dia depresi karena putus cinta kemarin, sampai membuat begitu stress atau dia lagi kesambet? Setan apa yang merasuki Tuan Marko? Tadi memang bukan dirinya, mana pernah Tuan Marko mengajak bawahannya minum kopi bareng, apalagi dengan orang rendahan sepertiku. Nggak salah lagi, pasti dia lagi kesambet. Pake senyum-senyum gak jelas lagi.
Tia memang terheran-heran dengan atasannya itu. Kemarin pria dingin itu menangis tersedu-sedu dan hari ini mengajak Tia minum kopi berdua dan tersenyum ketika menatap Tia. Tia tertawa sendiri mengingat tingkah Marko yang aneh itu.
Pria dingin yang bossy, dingin, dan suka memaksa, ternyata menangis seperti bayi karena putus cinta, benar-benar tidak dewasa sekali.
***
Bu Venny masuk ruangan setelah dengan sabarnya duduk di ruang tunggu kantor selama hampir satu jam. Setelah urusan Marko selesai, yakni minum kopi berdua dengan Tia, Bu Venny pun melanjutkan pekerjaannya.
"Venny anak itu tadi kemana?"
"Maksud Tuan Mba Tia?"
"Iya. Siapa lagi?"
"Mba Tia ada di pantry Tuan. Maaf Tuan apakah saya boleh bertanya?"
"Silahkan," ucap Marko mempersilakan.
"Apakah Tuan sekarang sudah tidak alergi lagi dengan wanita Tuan?" tanya Bu Venny langsung.
"Mengapa Anda bertanya demikian?" tanya Marko balik.
"Saya lihat kemarin Tuan memeluk Mba Tia."
"I ... itu Karena anak itu adik sahabat saya, Venny!" jawab Marko terbata.
"Anda tahu sendiri, Zaky meminta bantuan saya. Jangan pernah bahas ini lagi, saya tidak suka!" tegas Marko.
"Baik Tuan. Saya minta maaf Tuan."
Marko tidak menjawab dia membuka laptopnya. Bu Venny memperhatikan jika atasannya itu sekarang mulai berubah, tadinya prilakunya selalu dingin terhadap wanita muda, tetapi ia memperlakukan Tia secara berbeda.
Bu Venny yang sudah menjadi sekretaris direktur sekian lamanya sekaligus jadi tangan kanan Marko--yang Marko anggap seperti kakaknya sendiri. Ia sangat menginginkan Marko cepat menikah mengingat usia Marko sudah tidak muda lagi. Marko sekarang yang berusia 35 tahun itu, masih saja tidak tertarik dengan wanita.
Namun, nampaknya sekarang harapan Bu Venny akan segera terwujud. Marko yang berhati es itu sekarang sudah lebih baik memperlakukan wanita. Mungkin saja mindset Marko tentang perempuan sudah berubah, tadinya Marko menganggap perempuan hanya bisa menyakiti dan mengecewakannya karena trauma masa lalu antara dirinya dan ibunya.
__ADS_1