Salah Pilih Salah Jalan

Salah Pilih Salah Jalan
Chapter 12


__ADS_3

Mengapa Mama ingin bertemu dengan pria dingin itu? Apa mereka saling mengenal? Kenapa saat Tuan Marko mengantarku ia seperti baru pertama kalinya ke rumah ini? Saat Tuan Marko bertemu Sinta juga sepertinya mereka tidak saling mengenal. Apa Mama memang mengenal Tuan Marko, tapi Mama merahasiakan dari anak-anaknya? Tentang permintaan Mama, apa aku akan mampu mengatakannya dengan Tuan Marko?


Tia masih bingung dengan permintaan ibu mertuanya. Linda tak biasanya meminta bantuan kepada Tia, tetapi kali ini sepertinya ia memang benar-benar ingin bertemu dengan Marko.


Tia yang hanya bekerja sebagai office girl itu tidak mampu untuk mengajak Marko bertemu Linda. Bagaimana mungkin Tia akan melakukannya, sedangkan Febri yang mencurigai dirinya berhubungan dengan Marko pasti akan marah besar, jika ia mengetahui bahwa Tia berusaha mempertemukan Marko dengan Linda.


Ah sudahlah. Aku benar-benar tidak pantas meminta Tuan Marko bertemu Mama. Aku tak mampu melakukannya. Bahkan saat aku menatap wajah pria dingin itu saja membuat tubuhku bergetar bergetar, aku merasa takuy. Pria dingin yang seperti gunung es yang membeku itu pasti sangat sulit diajak bernegosiasi. Maafkan aku Ma, tapi suatu saat aku akan berusaha mempertemukan Mama dengan Tuan Marko.


Tia seperti biasa melakukan pekerjaannya di kantor, ia membersihkan sampai setiap sudut ruangan Marko. Marko hari ini tiba di kantor pagi sekali. Marko langsung meminta Tia untuk membuatkannya secangkir kopi.


"Apa aku yang kesiangan?" gumam Tia setelah ia melihat Marko sudah duduk di kursinya.


"Hei ... Kamu! Mana kopi saya?" pinta Marko.


"Maaf Tuan saya buatkan dulu."


Tia membuatkan secangkir kopi untuk Marko. Marko pun langsung menikmati kopi itu.


"Saya akan dinas luar selama dua bulan."


"Baik Tuan."


"Kalau kamu ada apa-apa hubungi saja Venny, dia akan membantumu."


"Baik Tuan."


"Sampaikan pada Venny, saya langsung berangkat sekarang."


"Baik Tuan."


Sekretaris perusahaan itu belum datang karena memang masih pagi sekali, jadi Marko berpesan langsung kepada Tia.


Marko pun seketika meninggalkan kantor. Ia pergi dinas luar.Markotidak memberitahukan jika ia akan pergi ke kota ataupun negara mana yang akan ia tuju.


Kenapa Tuan Marko bertingkah seolah dia adalah kakakku? Seolah-olah dia mengatakan bahwa aku harus menjaga diri baik-baik dan jika terjadi apa-apa dia akan mengutus Bu Venny untuk membantuku. Pria dingin itu bukan kakakku, bahkan sebelumnya aku tak pernah mengenalinya sama sekali. Dingin tapi karismatik.


Selama dua bulan Tia akan libur membuatkan secangkir kopi permintaan Marko. Kopi adalah permintaan pertama Marko kepada Tia saat pagi hari, sore pun ia tak akan pulang jika belum minum kopi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mba Tia, Tuan Marko berpesan jika ada apa-apa di luar kantor, Mba bisa menghubungi saya. Saya langsung akan menemui Mba Tia," ucap Bu Venny kepada Tia.


"Terima kasih Bu. Kalau boleh tahu, Tuan Marko pergi ke mana ya Bu?"


"Masalah itu saya dilarang untuk memberitahu Mba Tia."


Percakapan Tia dengan sekretaris dari Direktur Dirgantara Group.


***


Akhir pekan adalah waktu kuliah bagi Tia, Tia yang mengambil Program Ekstensi itu sekarang sudah duduk di semester empat. Perut Tia yang membesar itu membuatnya mudah lelah. Sore ataupun malam, biasanya mobil Marko lewat di depan halte tempat Tia menunggu, namun sekarang Marko sudah tidak pernah lagi memberi tumpangan untuk Tia pulang. Tia harus menunggu bus terakhir hari itu. Bus terakhir itu penuh dan sesak, terpaksa untuk bisa tiba di rumah ia harus berdiri sembari tangannya bergantung di pegangan penumpang yang tergantung itu.


Kelelahan yang dialami Tia belakang ini berakibat fatal pada dirinya sendiri dan janin yang sedang ia kandung. Tia tidak berkaca dari kejadian lalu.


Usia kehamilan 20 minggu. Tia terpaksa kehilangan calon bayinya yang sangat dinantikannya. Karena aktivitas yang berlebihan membuat ia mengalami abortus. Tia sudah kehilangan bayi yang kedua kalinya. Hal memilukan ini terjadi seperti sebelumnya yaitu dua tahun lalu.


Bayi Naila sudah pergi dan tak kan kembali, begitu juga dengan jabang bayi yang sedang dikandungnya kini. Ia langsung dilarikan ke klinik bidan di dekat rumahnya. Ia mengalami abortus kompletus, sehingga apa yang dikandungnya sudah keluar semua. Tia tidak perlu dirujuk lebih lanjut di rumah sakit, ia tidak harus menjalani curettage, namun Tia dirawat di klinik itu selama beberapa hari karena tubuh nya masih lemah dan ia mengalami syok.


Tia dan keluarganya terpukul untuk kedua kalinya. Penyejuk hati yang mereka dambakan semuanya pergi tanpa permisi.


***


"Venny, Anda harus ke rumah anak itu untuk berbela sungkawa."


"Baik Tuan."


"Biarkan anak itu cuti dulu sampai ia membaik."


"Baik Tuan."


Setelah pembicaraan antara sekretaris dan direktur itu selesai, Bu Venny beserta orang-orangnya Marko pergi ke rumah duka. Venny bertemu dengan Atmaja dan anak-anaknya, serta orang-orang yang melayat di rumah itu, ia tidak bertemu Tia dan suaminya karena masih di klinik di mana tempat Tia dirawat.


"Kami atas nama Dirgantara Group turut berduka cita atas apa yang dialami Mba Tia, kami mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Mba Tia. Untuk Mba Tia, kami beri waktu cuti sampai kondisinya pulih," ucap Bu Venny kepada Atmaja.


Tia yang beberapa hari lalu mengalami keguguran merasa sangat kehilangan. Ia hanya diam dan memikirkan kenapa ia mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya.


Ini benar-benar salahku, aku nggak bisa belajar dari kesalahan dulu. Aku masih saja sibuk dengan duniaku, tanpa memikirkan dampaknya untuk bayiku. Maafkan Mama Sayang tidak bisa menjagamu dengan baik.

__ADS_1


Marko yang sedang di luar negeri itu menghubungi sahabatnya, Zaky.


"Marko, kau pergi ke luar negeri nggak bilang-bilang," ucap Zaky.


"Iya, Aku ingin menenangkan diri dulu."


"Memangnya apa yang terjadi Ko?"


"Aku menemukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya."


"Sesuatu apa Ko?"


"Zak, apa kau ingat aku pernah bercerita tentang ibuku?"


"Iya aku ingat. Bukankah ibumu sekarang menikah dengan pamanmu sendiri?"


"Iya ...."


"Kau sudah bertemu ibumu?"


"Belum," ucap Marko.


"Siapa nama suami dari adik kesayanganmu itu Zak?" tanya Marko kepada sahabatnya.


"Febri. Apa dia ada hubungannya dengan ibumu?"


"Iya. Anak itu adalah anak dari Linda dan Atmaja," ucap Marko pelan.


"Berarti kalian kakak-beradik. Aku tidak percaya, kau adalah kakak ipar dari adikku."


"Aku pun baru mengetahuinya Zak. Aku pernah mengantar adikmu ke rumahnya karena ia pingsan. Aku pun masuk ke rumah itu. Ada dua anak perempuan yang membukakan pintu. Di sana juga aku melihat foto keluarga mereka yang terpajang di dinding ruang tamu. Di dalam foto itu ada Linda dan Atmaja beserta keenam anak mereka."


Marko menceritakan tentang apa yang dilihatkan kala itu


"Apa mereka tahu kau siapa?"


"Kurasa Tidak, mereka tidak mengenalku. Mungkin saja Linda dan Atmaja merahasiakan kejadian masa lalu mereka kepada anak-anaknya."

__ADS_1


"Apa kau merindukan ibumu, Ko?"


"Aku tidak tahu, aku masih ingin menenangkan diri di negara ini Zak."


__ADS_2