Salah Pilih Salah Jalan

Salah Pilih Salah Jalan
Chapter 14


__ADS_3

Flashback On


"Ada rahasia yang ingin mama katakan pada kalian berenam. Seharusnya Mama mengatakan ini semua dari dulu, tapi Mama belum sanggup untuk menceritakannya. Mama dan Papa juga seharusnya tidak boleh merahasiakan ini dari kalian--"


"Sebelum Mama menikah dengan Papa, Mama dulu pernah menikah dengan seseorang. Pria itu adalah seorang pengusaha kaya dan kami memiliki seorang anak laki-laki--"


"Pria itu adalah kakak tertua dari Papa kalian, dia bernama Dirgantara Wiratmoko. Tapi Mama melakukan serong, Mama selingkuh dengan Papa. Papa kalian berhasil menggoda Mama sehingga kami saling menggila--"


"Kami berdua bahkan sudah berhubungan selama tiga tahun. Mama dan Papa melakukan hubungan terlarang dan kemudian dipergoki oleh kakak kalian. Saat itu kakak kalian masih anak-anak berumur 11 tahun--"


"Karena Mama sudah mengandung Febri yang sudah berumur 4 bulan dalam kandungan, saat itu juga Mama diceraikan oleh suami Mama. Mama dan Papa pun menikah. Setelah menikah Papa dihapus dari keluarga Wiratmoko. Mama ikut Papa kemana pun Papa pergi karena Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi--"


"Kalian mempunyai seorang kakak laki-laki dari pernikahan Mama terdahulu, yang juga merupakan keponakan kandung dari Papa kalian. Kakak kalian bernama Marko Dirgantara. Dia adalah atasan Tia di kantornya .... Sejak kejadian itu Marko sangat membenci Mama dan tidak ingin melihat Mama lagi. Mama ingin sekali meminta maaf pada Marko--"


"Tolong rahasiakan aib Mama dari Tia. Mama bahkan malu sekali pada diri Mama sendiri atas masa lalu Mama. Karena itu Mama juga tidak sanggup menceritakannya pada kalian. Mama sangat berdosa, Mama bukan ibu yang baik, Mama juga seorang istri yang berkhianat, Mama jadi menantu yang tidak tahu diri, Mama pantas masuk neraka."


Satu hari sebelum Linda wafat, ia memanggil keenam anaknya. Linda yang terbaring lemah di atas bed rumah sakit itu menceritakan masa lalunya yang suram. Sambil berlinang air mata, ia menceritakan pada anak-anaknya hubungan gelap antara dirinya dan ayah mereka sebelum akhirnya menikah. Linda sangat menyesal dengan kelakuannya dan suaminya itu. Perbuatan mereka sungguh memalukan, hingga akhirnya mereka hidup sengsara selama bertahun-tahun.


Setelah kedatangan Tia dalam keluarga mereka, kehidupan mereka berangsur-angsur berubah, perekonomian keluarga mereka pun stabil dan bekecukupan.


"Mama minta tolong sama anak-anak Mama ini, Febri, Sinta, Chika, Meilani, Intania, dan juga Alya. Mama mohon kalian jangan pernah membenci kakak kalian, Marko. Marko tidak bersalah, Mama dan Papa yang bersalah sudah membuatnya sangat membenci Mama. Marko pernah datang ke rumah kita. Ketika Sinta sama Meilani di rumah, dia mengantarkan Tia pulang, setelah Tia pingsan waktu itu--"


"Sejak saat itu Marko pergi ke luar negeri dan sampai sekarang dia belum kembali. Mungkin karena Marko tahu setelah melihat foto keluarga kita di ruang tamu--"


"Dan kamu Febri, Mama mohon jangan curigai Tia. Tia nggak mungkin selingkuh dengan Marko. Bahkan dia rela dihapus dari keluarga kandungnya demi kamu, Febri. Tia itu sangat mencintai kamu, Nak."


Linda melanjutkan pembicaraannya sebelum ia benar-benar kritis.


***


Hari itu Linda kritis. Mendengar kabar bahwa ibu mertua Tia sedang kritis, Bu Venny langsung laporan kepada Marko via telepon.


"Ada apa Venny, kenapa telepon malem-malem?"


"Maaf Tuan, saya mengganggu waktu tidur Tuan."


"Cepat katakan ada apa?"


"Ibu mertua dari Mba Tia sedang kritis Tuan."


"Dia dirawat di rumah sakit mana?"

__ADS_1


"Rumah Sakit Citra Medika Tuan."


Mendengar kabar dari Bu Venny membuat jantung Marko berdegup kencang. Ia pun langsung bersiap untuk kembali ke Indonesia. Setelah berjam-jam dalam pesawat ia tiba di tanah air. Marko yang sedang beristirahat di rumahnya itu, tiba-tiba mendapat telepon dari Bu Venny lagi bahwa ibu mertua Tia sudah meninggal.


Flashback Off


***


Kematian Linda sudah sebulan berlalu, Tia tetap melanjutkan pekerjaannya, Febri dan ayahnya pun begitu, serta kelima adiknya pun tetap kuliah dan sekolah seperti biasa. Duka yang menyelimuti keluarga mereka selama ini tidak menyurutkan semangat yang mereka miliki. Namun, lain halnya dengan Marko.


Siapa yang tak bersedih dengan perpisahan, perpisahan dari dunia ini. Takkan ada yang sanggup dengan kepergiaan, pergi tanpa pamit, pergi nun jauh di sana dan tak akan kan pernah kembali lagi. Yang pergi benar-benar pergi, hilang pun tak tergantikan, kau satu-satunya di dunia ini yang sudah meninggalkanku.


Sudah sebulan berlalu Marko menyaksikan wajah ibunya yang sudah kembali ke Sang Pencipta. Marko masih lebih banyak terdiam dan bersikap lebih dingin lagi. Ia tak menyangka jika ibunya pergi secepat itu. Marko sering melamun dan meratapi kepergiaan ibunya.


Dalam ruangan kantor Marko, pada sore hari sebelum pulang seperti biasa tugas Tia membuatkan secangkir kopi untuk atasannya itu. Sedangkan Marko sedang berdiri di depan kaca jendela ruangannya sembari menatap langit yang biru.


Tok ... tok ... tok ....


Tia mengetuk pintu, namun tak terdengar Marko karena lamunan itu.


"Mungkin saja Tuan Marko sedang keluar, kopinya nanti aku tarok meja saja," gumam Tia sembari membuka pintu ruangan Marko.


Marko yang sedang menatap langit seorang diri itu masih tidak menyadari bahwa ada seseorang masuk ke dalam ruangannya. Tia pun meletakkan secangkir kopi itu di atas meja Marko.


Mendengar suara Tia membuat Marko terkejut, ia berbalik badan ke arah suara itu berasal.


"Maaf Tuan saya langsung masuk, karena tadi saya ketuk pintu tapi tidak ada jawaban, saya kira Tuan sedang di luar," ucap Tia sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Marko.


"Saya mengantarkan kopi untuk Tuan, sudah saya tarok di atas meja Tuan."


"Terimakasih."


"Sama-sama Tuan, saya permisi dulu."


Tia melangkah akan meninggalkan ruangan Marko, namun langkahnya terhenti ketika Marko memanggilnya kembali.


"Tunggu ...."


"Iya ada apa Tuan? Apakah Tuan sedang sakit?" tanya Tia melihat wajah Marko yang memucat.

__ADS_1


"Bolehkah saya memelukmu?" ucap Marko sembari menatap lembut ke dalam mata Tia.


"Maaf Tuan saya tidak bisa, saya sudah bersuami."


Tia menolak permintaan Marko, ia terkejut dengan permintaan atasannya. Namun, pria dingin itu tidak menghiraukan perkataan Tia. Marko langsung menghampiri Tia dan memeluknya dengan begitu erat, Tia berusaha memberontak namun gagal karena tubuh Marko yang tinggi dan gagah. Marko tetap memeluk Tia begitu lama hingga Tia menyadari ada tetesan air yang mengalir di bahunya.


"Tuan ... Tuan ...." ucap Tia sembari menepuk bahu Marko. Tetesan air mata itu semakin banyak.


"Apa Tuan sedang menangis? Ada apa Tuan?"


"Aku tak sanggup melihatnya pergi," ucap Marko tersedu-sedu.


"Dia benar-benar pergi ...." ucap Marko lagi.


"Siapa yang pergi Tuan?"


"Orang yang sangat kucintai."


"Apakah itu kekasih Anda Tuan?"


"Bahkan lebih dari kekasih," ucap Marko masih memeluk Tia dan dengan linangan air mata.


"Apakah Tuan baru putus cinta?" tanya Tia.


Mendengar ucapan Tia itu membuatnya tersadar, ia sontak melepaskan pelukannya dari tubuh Tia. Marko pun langsung menghapus air mata sendiri dan merapikan rambut serta dasinya.


"Oh, maaf Tia. Saya tidak bermaksud untuk melecehkanmu. Sekali lagi saya minta maaf."


"Tidak apa-apa Tuan. Apakah Tuan baik-baik saja?"


"Tentu saja, saya memang baik-baik saja," ucap Marko sambil menegapkan badannya.


"Mengapa Tuan menangis?"


"Saya hanya sedang teringat dengan seseorang."


"Apakah Tuan baru putus dengan pacar Tuan?" tanya Tia yang membuat Marko kesal.


"Kejadian tadi anggap saja tidak pernah terjadi," ucapnya dengan tegas.


"Anggap saja kamu tidak mendengar apa pun yang saya katakan tadi," lanjutnya lagi. Marko ingin Tia melupakan perkataannya. Marko menatap tajam ke arah Tia.

__ADS_1


"Dan Kejadian tadi jangan pernah sekalipun kamu menceritakannya dengan orang lain."


"Baik Tuan," ucap Tia sambil tertunduk.


__ADS_2