
"Tia ..." ucap Anggi menghampiri Tia karena masih saja temannya itu belum keluar dari kamar.
"Iya Nggi. Siapa sih Nggi yang nyariin?" tanya Tia kemudian berdiri di pintu kamar.
Kamar Tia dan teman-temannya yang perempuan yaitu terletak di bagian depan dan dekat dengan ruang tamu.
"Itu ..." ucap Anggi.
Anggi menunjuk pria yang memakai hoodie putih yang sedang membelakangi mereka.
"Ada apa ya?" tanya Tia.
Mendengar suara Tia membuat Marko langsung berbalik badan.
"Saya kesini mau jemput kamu."
"Aku ngga bisa, aku ada Proker yang harus diselesaikan," tolak Tia.
"Nggak apa-apa kok Tia, lagian kata Kakaknya mendesak banget," ucap Anggi.
Teman-teman Tian mengizinkan Tia untuk bepergian. Marko pun membawa Tia dalam mobilnya, ia melaju dengan pelan.
"Ini sepertinya bukan arah jalan ke Jakarta Tuan?" ucap Tia bingung sambil memperhatikan sekitar jalanan.
"Kenapa kamu manggil saya Tuan?"
"Bukankah saya selalu memanggil Anda Tuan?"
"Waktu itu kamu bilang 'terima kasih Kakak' iya kan?" ucap Marko.
"Itu karena Tuan seperti Kakak saya, seperti Kak Zaky yang cerewet sekali."
"Nggak apa-apa donk kamu panggil aku Kakak juga, jika masih di luar kantor," ucap Marko sambil tersenyum.
"Baik Tuan."
"Kok masih Tuan?" ucap Marko.
"Iya ... Kak," ucap Tia terbata.
"Gitu donk .... Yeay kita sudah sampai," ucap Marko.
Marko meminggirkan mobilnya ke area parkiran di pinggir pantai. Mereka turun dari mobil dan berdiri di sana. Pantai yang tidak jauh dari desa yang mereka tinggali.
"Pantai?" tanya Tia kepada Marko.
"Iya kita ke pantai."
"Bukankah tadi Kak Marko bilang kita akan ke Jakarta?" tanya Tia heran.
"Iya, benar."
"Terus kenapa kita ke pantai, kalau ada yang sangat mendesak di Jakarta?" ucap Tia.
"Mendesak?" tanya Marko bingung.
"Kata Kak Marko sama Anggi tadi keluargaku sedang ..." Tia belum selesai bicara langsung dipotong oleh Marko.
"Iya ..." ucap Marko sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi bohong," lanjutnya sambil tertawa kecil.
"Saya mau kita menikmati pantai yang indah ini selama seharian penuh. Nanti sore kamu saya antar ke posko," ucap Marko sambil menatap Tia.
__ADS_1
"Kenapa Kak Marko melakukan ini pakai bohong segala?" tanya Tia kesal.
"Karena kamu nggak pernah menelepon saya selama dua minggu ini, ini sebagai hukumannya," ucap Marko.
"Iya maaf," ucap Tia.
"Salah siapa kamu bikin saya khawatir."
"Kak Marko khawatir?" tanya Tia.
Marko datang mendekati Tia kemudian langsung memeluk Tia dengan begitu erat.
"Kak Marko lepasin!" ucap Tia memberontak.
"Aku nggak mau. Aku mau kamu berdiri lama di pelukanku," ucap Marko sambil memeluk Tia.
"Aku ini adalah istri orang lain," teriak Tia.
"Tapi sekarang kamu sudah sendiri, sudah jadi single kan?" ucap Marko dengan wajah seriusnya.
"Suamiku baru meninggal dunia lima bulan yang lalu. Bagaimana mungkin aku berpelukan dengan orang lain? Bahkan Tuan Marko tidak tahu siapa aku sebenarnya."
"Aku tahu kamu," ucap Marko sembari mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah memperhatikanmu sejak awal pernikahanmu. Aku nggak mau melihatmu menderita lagi."
Marko yang dingin itu masih saja memeluk Tia. Pria yang dingin bak gunung es yang membeku bertahun-tahun lamanya perlahan mencair karena hangat mentari yang menyinarinya.
Marko melepaskan pelukannya, sedangkan tangan Tia masih melingkar di belakang pinggang Marko.
"Kamu masih ingin berpelukan?" tanya Marko dengan senyum dibibirnya membuat pipi Tia merona malu.
"Ayo kita ke pantai mumpung matahari belum panas," ucap Marko.
Marko dan Tia menikmati pantai dan ombak bak sepasang remaja yang baru jatuh cinta. Marko pun memercikkan air laut ke wajah Tia. Tia pun membalas dengan menyiram tubuh Marko, ia mengambil air laut dengan telapak tangan kecilnya. Marko yang sudah kuyup karena ulah Tia itu pun, kembali membalas Tia dengan tidak mau kalahnya. Akhirnya mereka sama-sama basah kuyup. Tak terasa hari pun beranjak sore, matahari membenamkan ke arah barat.
"Udah sore Kak, pulang yuk!" ajak Tia
"Tunggu sebentar sampe sunset ya," ucap Marko.
"Kita lihat sunset dulu, baru saya antar kamu pulang," lanjut Marko.
Mereka duduk di pinggir pantai yang basah sambil memandang ke ufuk barat. Mereka menikmati sandyakala yang berpendar di cakrawala.
"Kamu tahu, sunset itu menggambarkan hangatnya dunia," ucap Marko.
"Kok gitu Kak?" tanya Tia.
Warna gradasinya mampu mempertemukan antara warna siang yang terang dan malam yang gelap. Seperti seseorang dalam hidupku, dia bisa mempertemukan diriku yang hangat saat kecil dulu dengan diriku yang dingin sekarang. Ketika diriku yang hangat dulu dan dinginku sekarang bersatu, aku bisa membuat orang itu tertawa."
Tia tertawa mendengar perkataan Marko. Menurut Tia, Marko mencoba merayunya.
"Apaan sih Kak, gak nyambung banget?" ucap Tia sambil tertawa kecil.
Marko tersenyum, dia bahagia melihat perempuan di sampingnya bahagia. Kini bersamanya, perempuan muda itu bisa tertawa ceria.
Sunsetnya indah sekali, bahkan ia bisa mengalihkan duniaku. Aku tak percaya bisa sebahagia ini menikmati sunset. Tapi yang lebih tak bisa kupercayai kenapa pria dingin ini bisa begitu ramah hari ini. Apa benar, seperti yang dia katakan bahwa dulu dia adalah anak yang hangat hingga akhirnya berubah jadi pria dingin dan ketus. Hingga suatu hari ada seseorang yang bisa membuatnya berubah menjadi lebih hangat. Apakah seseorang itu seorang perempuan tapi siapakah perempuan itu?
Tia berkata dalam hati sambil menikmati sunset bersama pria yang duduk di sebelahnya, pria dingin yang juga merupakan atasannya. Jam tangan Marko sudah menunjukkan pukul 18.45 WIB.
"Ayo saya antar kamu balik ke posko," ajak Marko sambil berdiri.
"Iya Kak, udah malem juga."
__ADS_1
"Nanti kita mampir ke butik dulu."
"Ngapain ke sana Kak?" tanya Tia.
"Untuk ganti baju kamu yang basah."
"Nggak usah Kak, aku pake baju ini aja."
"Nanti apa kata teman-teman kamu kalau melihatmu seperti ini. Masa dari Jakarta bajunya basah seperti abis tidur di pantai gitu. Baju saya juga basah, pasti deh temen kamu bakal mikir yang aneh-aneh."
Ucap Marko seraya tertawa kecil membuat Tia merasa malu sehingga pipinya merona.
"Iya iya," ucap Tia kesal.
"Gitu donk," ucap Marko.
"Mulai sekarang kamu nggak akan bisa menolakki lagi," ucap Marko sambil terkekeh membuat ekspresi Tia berubah kesal.
Mereka pun mampir ke sebuah butik, Tia dan Marko mengganti pakaian basah mereka dan mengenakan pakaian yang baru saja Marko beli untuk mereka pakai. Marko mengemudikan mobilnya ke arah desa di mana posko Tia berada.
"Awal tahun depan kamu wisuda ya?" tanya Marko.
"Iya, Insyaallah," ucap Tia.
"Tahun depan saya akan jadi pendamping kamu saat wisuda."
"Enak saja. Sembarangan ya kalo ngomong," ucap Tia kesal.
"Saya bilang kamu nggak akan bisa menolak saya lagi."
Marko mendaratkan senyuman di bibirnya.
"Huh," dengus Tia kesal sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Bahkan sejak tadi pagi saat di pantai kamu mau memelukku dan tidak mau melepaskannya kan?" ucap Marko seraya meledek Tia yang sedang kesal.
Mobil Marko tiba di rumah tempat Tia dan teman-temannya tinggal. Mereka tiba hampir pukul sembilan malam dan pintu rumah sudah terkunci.
Tok ... tok ... tok ....
Tia mengetuk pintu rumah posko dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Teman-teman Tia membukakan pintu, Marko dan Tia masuk ke rumah itu, sedangkan Marko duduk di ruang tamu.
"Saya minta maaf, tadi saya bilang akan mengembalikan teman kalian sore hari, tapi ternyata perjalanan sangat macet dan crowded banget jadi datangnya terlambat," ucap Marko kepada teman-teman Tia.
"Nggak apa-apa kok Kak," ucap teman Tia.
"Kalau begitu saya pulang dulu ya," Marko pamit.
"Kamu, Tia, jaga diri baik-baik dan jangan aneh-aneh ya," ucap Marko sambil melihat Tia.
"Siap Kak," ucap Tia kepada Marko.
Marko pulang ke rumah sewaannya, ia membantingkan tubuhnya ke tempat tidur empuk di sana.
"Nggak kerasa lelah sedikit pun, walaupun mantai dari pagi sampe malem sama Adik Zaky. Ternyata anak itu asyik dan suka bergurau, itulah mengapa dia bisa mengubah hidupku. Tadi aku mengatakan ada seseorang yang berhasil membuatku yang dingin ini perlahan berubah, apa dia menyadarinya? Seseorang yang kumaksud adalah dirinya sendiri."
"Maafkan aku Linda, menantumu membuatku jatuh cinta padanya. Seharusnya tujuh tahun lalu, Adik Zaky bertemu denganku sehingga dia bisa gagal menikah dengan adik tiriku itu."
__ADS_1