Salah Pilih Salah Jalan

Salah Pilih Salah Jalan
Chapter 17


__ADS_3

Tujuh tahun sudah kita membina rumah tangga, tega sekali kau menceraikanku tanpa negosiasi dan mediasi terlebih dahulu. Kita benar-benar cerai yang takkan bisa rujuk lagi. Perceraian ini lebih menyakitkan dibanding tusukan paku berduri di tubuhku. Dulu ku bersujud demi kau di bawah kaki orang yang paling kusayangi, sekarang tiba-tiba sekali. Tuhan maafkan hamba-Mu ini hanya bisa menyalahkan lelaki itu.


Tulisan dalam lembar pertama buku harian Tia yang baru.


Tia yang sudah duduk di semester tujuh Fakultas Hukum, sedang bersiap untuk pergi ke desa yang jauh dari jangkauan perkotaan. KKN dan akan menyusun skripsi adalah tugasnya kinisebagai mahasiswi tingkat akhir. Perjalanan jauh ke sebuah desa yang terpencil mengharuskan Tia dan teman-temannya tinggal di desa itu selama sebulan sampai KKN berakhir. Ia meninggalkan rumah dan juga mengambil cuti kerja di perusahaan Dirgantara Group.


Tia dan rombongan berangkat ke desa itu diantarkan oleh bus kampus. Mobil Marko berjalan pelan di belakang sebuah bus yang akan melaju ke sebuah desa jauh dan terpencil yang ia belum pernah kunjungi. Ia begitu penasaran di mana lokasi KKN dari perempuan muda itu.


Perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya supir bus itu meminggirkan kemudinya di depan sebuah gedung dari government office suatu kabupaten di provinsi ini yang jauh sekali dari pusat kota.


Setelah lima jam memegang kemudi akhirnya Marko mengetahui di mana lokasi Tia akan KKN.


"Jauh sekali tempat Adik Zaky ini KKN. Nggak mungkin banget kalo mau PP dari sini ke Jakarta setiap hari. Mana aku belum tahu juga kondisi lingkungan tempat Adik Zaky akan tinggali--"


"Sepertinya aku harus menyewa kontrakan di dekat tempat tinggal anak itu nantinya," ucap Marko yang masih duduk dalam mobilnya sembari menunggu rombongan mahasiswa dari kampus Tia keluar dari gedung pemerintahan itu.


Mereka sedang mengadakan pertemuan selamat datang di kabupaten ini, setelah itu Tia dan sembilan rekannya akan terpisah dengan rombongan, mereka akan ke posko kelompok masing-masing. Tia dan kelompoknya harus menunggu bus yang akan lewat untuk menuju desa di mana posko mereka berada.


Setelah menunggu lama bus tak kunjung tiba, mereka terkejut ketika suara klakson mobil berdengung di telinga mereka.


Tin ....


Pemilik mobil itu pun menurunkan kaca mobilnya.


"Siapa orang itu?" ucap Lia teman satu posko Tia.


"Nggak tahu," jawab Anton yang juga merupakan teman satu poskonya.


"Hei Tia!" ucap pria yang pemilik mobil itu.


"Oh Tuan Marko, sedang ada keperluan ya di daerah sini?" tanya Tia bingung kenapa pria dingin bertemu dengannya sampai desa itu.


"Kamu kenal sama cowok itu?" tanya Lia kepada Tia.


"Iya," ucap Tia singkat.


"Kalian semua naik ke mobil saya," ajak Marko.


"Tiga orang lainnya nanti saya carikan ojek," lanjuy Marko.


Teman sekelompok Tia menumpang mobil Marko, tetapi mobil Marko hanya cukup untuk Tia dan enam orang temannya sehingga tiga mahasiswa lainnya Marko carikan ojek untuk mereka. Tia yang duduk di samping kemudi itu pun penasaran mengapa atasannya itu secara kebetulan sekali memberi mereka tumpangan yang sedang menunggu bus tadi.


"Tuan kok ada di sini?" tanya Tia.

__ADS_1


"Saya sedang ada urusan di kabupaten ini."


"Urusan apa Tuan?"


"Urusan pekerjaan donk." ucap Marko gugup.


"Tapi bukankah Tuan sedang membuntuti saya?" tebak Tia.


"Enak saja! Memangnya saya gak ada kerjaan apa?" ucap Marko berkelit.


"Tapi kenapa kebetulan sekali Tuan bertemu kami?"


"Jangan kege-eran deh Adik Za ..." ucap Marko langsung menghentikan ucapannya.


"Adik Za ... maksudnya Tuan?"


"Adik Za?" tanya Marko pura-pura bingung.


"Oh Adik kecil. Maksud saya adalah adik kecil," ucap Marko lagi.


"Adik kecil apaan?" tanya Tia seraya meledek ucapan atasannya itu.


"Saya kan lebih tua dari kalian, wajar saja saya panggil kalian adik kecil," ucap Marko dengan cepat.


"Kita udah sampe Gengs!" ucap Anggi sembari menunjuk sebuah rumah yang merupakan posko yang akan mereka tinggali sebulan ini.


"Makasih ya Kak atas tumpangannya," ucap teman-teman Tia yang sudah turun dari mobil.


Sementara Tia bafu akan membuka pintu mobil tepat di sampingnya, Marko meraih tangan Tia.


"Ini desa orang, kita nggak tau seperti apa. Kamu jaga diri baik-baik dan jangan aneh-aneh di sini. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, cepat telepon saya. Walaupun tengah malam saya akan datang ke tempatmu."


"Iya Kakak ...."


Mendengar Tia memanggilnya "Kakak" membuat jantungnya berdebar, sontak ia melepaskan tangan Tia dan membiarkan Tia berkumpul bersama teman-temannya.


"Terimakasih Kakak," teriak Tia seraya melambaikan tangannya ke arah Marko yang berada dalam mobil.


"Bye ..." ucap Marko sambil melambaikan tangannya juga.


Mobil Marko melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Tia dan teman-temannya yang sudah tiba di posko itu.


"Kakak? Kenapa Adik Zaky itu memanggilku "Kakak". Apa dia tahu aku adalah kakaknya Febri? Hm, Kayaknya nggak sih, Linda dan Atmaja saja merahasiakanku kepada anak-anaknya, apalagi kepada orang lain. Jadi, apakah diriku seperti kakak baginya? Apa perlakuanku selama ini kepada Adik Zaky itu seperti antara kakak dan adik? Pasti seperti itu, jadi dia menganggapku sebagai seorang kakak. Adik Zaky, itu salah besar! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik, tapi ...."

__ADS_1


Marko berbicara sendiri di dalam mobil sembari menengok kanan dan kiri untuk melihat-lihat rumah yang bisa ia sewa selama sebulan ke depan.


"Rumah ini pas sekali, jadi Adik Zaky nggak bakal tahu kalau aku juga tinggal di desa ini. Rumah ini juga tidak terlalu dekat dengan tempat tinggal mereka," gumam Marko yang sedang mengobrol dengan pemilik rumah kosong--rumah bercat hijau tosca yang terawat yang akan disewanya. Marko melihat-lihat ke dalam rumah apakah semua akan cocok baginya.


"Meskipun sederhana, rumah ini bersih dan peralatannya lengkap, TV, AC, dispenser, kulkas juga ada. Semoga bisa nyaman di sini," ucap Marko.


Marko juga akhirnya tinggal di desa itu, dua hari sekali ia kembali ke Jakarta untuk mengurus pekerjaannya kemudian kembali lagi ke desa di mana tempat Tia KKN. Sudah dua minggu berlalu Tia dan teman-temannya KKN di desa, tak sekali pun Marko menerima panggilan telepon dari adik perempuan sahabatnya itu.


Pada hari Minggu, mahasiswa KKN boleh berpulang sebentar ke rumah mereka tapi tidak untuk menginap, walaupun ada mahasiswa yang rumahnya dekat dengan posko.


Jika mahasiswa dari luar kabupaten ini, tidak memungkinkan sekali untuk berpulang ke rumah mereka yang jauh itu, sehingga mereka diberi kebebasan pada hari Minggu untuk bepergian ataupun rekreasi untuk melepas penat. Hari itulah mereka manfaatkan untuk menjelajahi desa sejuk yang dekat dengan pesisir pantai, siapa tahu saja ada pemandangan yang indah di sana.


Marko yang sudah tinggal di desa itu juga masih saja tidak mendapat panggilan telepon dari Tia. Ia pun memutuskan untuk menemui Tia hari Minggu pagi itu.


Tok ... tok ... tok ....


"Siapa?" tanya Anggi dari dalam rumah, kemudian menghampiri pintu yang sedang diketuk oleh seseorang. Ia membuka pintu itu.


"Oh, Kakak yang waktu itu ya?" tanya Anggi dan Marko menganggukkan kepalanya.


"Tia-nya mana ya?" tanya Marko.


"Ada di dalam kok Kak, sedang bersiap akan pergi ke pasar."


"Ngapain ke pasar?" tanya Marko.


"Kami mau beli untuk bahan makanan kami Kak."


"Oh gitu--" ucap Marko kemudian Marko melanjutkan ucapannya.


"Saya dengar setiap hari Minggu kalian boleh keluar sebentar ya?" tanya Marko.


"Benar kak," ucap Anggi.


"Memangnya ada apa ya Kak?" tanya Anggi bingung.


"Ada keadaan darurat sekali mengenai keluarga Tia, jadi saya menjemputnya, dan nanti sore saya antarkan lagi Tia ke sini kumpul bersama kalian kembali. Apakah boleh?" tanya Marko setelah menjelaskan keadaan keluarga Tia.


"Boleh kok Kak, apalagi mendesak begitu," ucap Anggi dan ia memanggil temannya.


"Tia ... Tia ..." teriak Anggi memanggil Tia yang sedang ada di kamar.


"Iya ..." jawab Tia.

__ADS_1


"Ada yang nyariin kamu nih," teriak Anggi.


"Siapa Nggi?" tanya Tia dari dalam kamar.


__ADS_2