Salah Pilih Salah Jalan

Salah Pilih Salah Jalan
Chapter 13


__ADS_3

Tia sudah mengambil cutinya, ia kembali masuk kerja. Ia mendapatkan cuti selama tiga bulan sama seperti cuti melahirkan.


Tia kembali ke kantor setelah ia benar-benar pulih dan sehat. Ia masih bekerja di kantor Marko sebagai office girl, ia menghalau setiap debu yang menempel dan menata rapi ruangan. Selama ia cuti ada OB lain yang menggantikan tugasnya di ruangan direktur itu.


"Tumben banget ruangan Tuan Marko masih rapi pagi ini. Apa kemarin dia nggak ngantor ya?"


Tia bergumam setelah melihat ruangan Marko masih tetap rapi sampai keesokan paginya, buku-buku yang sering dibaca oleh Marko masih tersusun rapi di atas meja, dokumen-dokumen juga tersusun pada tempatnya, dan juga semua pulpen tertutup rapi dan ada pada tempatnya. Pemandangan itu membuat Tia bingung. Bu Venny baru saja tiba di ruangan direktur itu. Tia menghampiri perempuan paruh baya itu.


"Maaf Bu, apakah Tuan Marko datang terlambat?" tanya Tia.


"Apakah saya harus membuat kopi sekarang ya Bu?"


"Tidak usah Mba Tia. Tuan Marko masih di Swedia dan belum kembali."


"Bukannya dinas luarnya selama dua bulan ya Bu?"


"Iya. Tapi Tuan Marko memperpanjangnya sampai beberapa bulan ke depan."


"Baiklah Bu, Terimakasih banyak Bu Venny."


"Sama-sama Mba Tia."


Bu Venny memberitahu Tia jika Marko belum juga kembali sejak ia pergi saat itu.


Pantesan ruangannya rapi terus kalo orangnya masih belum pulang. Mungkin memang begitu ya pekerjaan seorang direktur? Dinas luar, ke luar negeri pula dalam waktu yang berbulan-bulan. Apa dia tidak merindukan keluarganya? Apa ibunya kuat ditinggal pergi oleh Tuan Marko selama itu?"


Bu Venny adalah wanita paruh baya berumur 40 tahun yang juga merupakan seorang istri dan seorang ibu di rumah. Ia bekerja di Perusahaan Dirgantara Group sebagai Sekretaris Direktur. Semenjak ia menjabat sebagai sekretaris dari Marko Dirgantara, ia juga menjadi tangan kanan dari Marko. Marko yang dingin itu menganggap Bu Venny seperti kakaknya sendiri. Ia percaya sepenuhnya kepada Bu Venny. Bahkan untuk mengurus adik dari sahabatnya itu. Marko percayakan semuanya kepada Bu Venny.


"Tuan Marko, Mba Tia sudah mulai bekerja hari ini."


"Baguslah. Apa anak itu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya Tuan, tampaknya dia sudah benar-benar pulih."


"Baguslah. Jika terjadi apapun pada anak itu, segera lapor ke saya."


"Baik Tuan."


Percakapan Bu Venny dan Marko via telepon.


Tuan Marko saja pergi ke luar negeri selama itu, apa mungkin aku bisa mempertemukan Mama dengan Tuan Marko? Aku pun tidak tahu kapan Tuan Marko kembali. Entah 5 bulan lagi atau 10 bulan lagi atau mungkin tahun depan ia baru kembali ke Indonesia. Memang ya kalo orang penting susah sekali ditemui. Ya sudahlah. Semoga saja ada kesempatan untuk Mama bisa bertemu dengan Tuan Marko yang berwajah gunung es membeku itu.


Putuslah harapan Tia untuk mengajak Marko untuk bertemu Linda yang sangat merindukan anaknya itu. Linda yang saat ini sedang sakit parah, setiap ada Tia di dekatnya ia selalu menanyakan kabar Marko.


"Apa kamu tadi bertemu Marko, Tia?"


"Nggak Ma. Tuan Marko sedang dinas luar Ma."


"Bukankah katamu dulu selama dua bulan saja?" tanya Linda.


"Kapan Marko kembali?"


"Tia nggak tahu pasti Ma, kapan Tuan Marko kembali ke Indonesia."


***


Aku sudah enam tahun membina rumah tangga, sudah enam tahun pula aku tidak pernah pulang ke rumah, aku sudah merindukan Ayah, Kak Rio, Kak Dika, Kak Zaky, Kak Danu, Kak Lintang selama enam tahun ini. Aku juga bertemu dengan kalian semua, sungguh aku rindu. Naila-ku sayang sudah tiga tahun kamu pergi meninggalkan Mama, Nak.


Aku pun sudah selama dua tahun bekerja di kantor Tuan Marko. Kuliahku pun tak terasa sudah semester lima, tak terasa satu setengah tahun lagi aku wisuda.


Tulisan dari jari lentik Tia yang tertuai dalam buku hariannya. Ibu mertuanya, Linda sakitnya semakin parah, ia semakin kritis. Ia di rawat di RS sejak seminggu yang lalu . Linda menderita diabetes melitus yang sudah sangat parah. Ia memang sudah menderita penyakit ini sejak beberapa tahun yang lalu. Karena Linda tidak bisa menjaga makanannya, sehingga gula darahnya pun semakin tinggi. Meskipun penyuntikan insulin dilakukan rutin, tetapi kondisi Linda tidak berubah.


Akhir-akhir ini ia benar-benar melakukan diet berat akan gula, karbohidrat, dan protein. Sehingga menyebabkan tubuhnya semakin lemah karena nutrisi yang masuk sangatlah kurang. Ia bahkan harus dilarikan ke rumah sakit karena anemia berat yang ia alami.

__ADS_1


Selain gula darah yang tinggi tak terkontrol lagi, kadar haemoglobin dalam darahnya pun terlampau rendah, sehingga membuatnya kritis. Meskipun sudah menghabiskan beberapa kantong darah yang sudah ditransfusi ke tubuh Linda, tetapi kondisi Linda memang tak bisa tertolong lagi. Linda meninggalkan dunia ini, meninggalkan suami, anak, dan menantunya.


Jasad Linda dibawa ke rumah duka. Febri, Tia, Atmaja dan anak-anaknya berkumpul di rumah duka. Venny memberitahu Marko via telepon bahwa ibu mertua Tia meninggal dunia.


"Maaf Tuan, saya dengar ibu mertua dari Mba Tia meninggal dunia. Jasad beliau sedang di rumah duka dan akan segera disemayamkan."


Mendengar laporan dari sekretarisnya, Marko langsung menutup telepon dan segera ke rumah Linda. Marko tiba di depan rumah itu, namun ia tak kuasa masuk ke rumah itu. Tiba-tiba Atmaja keluar dan langsung menghampirinya.


"Marko ... ibumu sudah tiada. Ibumu selalu memanggil-manggil namamu Marko," ucap Atmaja.


Tangis Marko pun pecah setelah melihat wajah ibunya dengan tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Marko sudah memaafkan kesalahan ibunya, tetapi Linda terlanjur sudah menghadap Sang Pencipta. Sungguh, nasi sudah menjadi bubur.


Tia yang sedang bersama ibu-ibu lainnya tidak melihat jika Marko datang ke rumah mereka.


Saatnya pemakaman, Marko terlihat hadir di pemakaman ibunya itu. Ketika semua orang berbalik arah untuk pulang meninggalkan acara pemakaman yang sudah selesai itu. Marko terlihat tinggal sendiri di pemakaman ibunya. Marko benar-benar menyesal tentang membenci ibunya sampai akhir hayat sang ibunda.


Keesokan harinya, di kantor Marko.


"Maaf Tuan apa boleh saya bicara dengan Tuan," ucap Tia kepada Marko yang sedang duduk di kursinya.


"Iya, silahkan."


"Saya mengucapkan terimakasih banyak karena Tuan sudah menyempatkan hadir di acara pemakaman ibu mertua saya kemarin."


"Kamu tidak perlu berterimakasih," ucap Marko dengan nada yang tinggi.


"Baiklah Tuan, saya permisi dulu."


Tia meninggalkan ruangan Direktur Dirgantara Group. Tia benar-benar tidak mengetahui, bahwa Marko adalah kakak iparnya. Tia mengucapkan terima


kasih kepada anak dari ibu mertuanya sendiri. Febri dan keluarganya juga tidak memberitahu Tia, jika Febri memiliki kakak laki-laki dari pernikahan ibunya yang terdahulu.

__ADS_1


__ADS_2