SANDARan

SANDARan
Menikah


__ADS_3

Beyza memandang pantulan dirinya pada cermin besar di hadapannya. Wajahnya yang terpoles cantik oleh kosmetik balas memandangnya dengan senyum tipis. Gaun putih panjang pilihan ibu Beyza yang dipakainya tampak begitu indah, barangkali gaun ini adalah gaun paling indah yang pernah Beyza lihat. Pilihan ibunya dalam hal fashion memang tidak pernah keliru. Beyza memandang penata rias di belakangnya yang tersenyum dengan puas melihat riasan wajah Beyza. Dengan sedikit penataan tambahan pada jilbabnya akan menyempurnakan penampilannya.


“Aku nikahkan dan kawinkan engkau, ananda Uinseann Pranaja bin Damar Dhinakara dengan anakku yang bernama Cordelia Beyza Qanita binti Yusuf Mawla dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan emas seberat 92 gram, dibayar tunai…”


“Saya terima nikahnya Cordelia Beyza Qanita binti Yusuf Mawla dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 92 gram, dibayar tunai!”


“Apakah sah bapak-bapak saksi?” tanya bapak penghulu.


“SAH!” sahut para saksi bersamaan.


Gemuruh suara syukur dan lantunan doa terdengar mengiringi acara akad di masjid megah itu. Sebuah janji sakral di hadapan Tuhan telah diikat pada hari yang baik.


Ibu Beyza mengelus lembut punggung putrinya, matanya berkaca-kaca, terharu dengan kebahagiaan pada hari ini. Meski begitu, terdapat pancaran kesedihan dari mata hijaunya. Beyza sendiri tampak terisak kecil setelah para saksi berseru lantang, pertanda bahwa tanggung jawab akan dirinya telah berpindah dari ayahnya. Kini, lelaki nomor satu dalam hidupnya bukanlah ayahnya lagi.

__ADS_1


Beyza mencium tangan lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu. Sebuah doa untuk rumah tangganya diam-diam ia panjatkan. Mengharapkan kebaikan dalam setiap langkahnya. Uinseann sendiri meletakkan tangan kirinya dengan canggung di atas kepala istrinya. Tidak banyak yang ia pikirkan saat ini, karena banyak hal telah terjadi.


Beyza berjalan menyusuri jendela besar di kamarnya. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, Beyza merasa kamar besar itu begitu kosong. Segera setelah acara pernikahannya selesai, semua keluarga dan teman dekatnya meninggalkannya berdua dengan Uinseann.


Beyza membuka jendela kaca kamarnya, dan merasakan angin malam berembus memainkan ujung gaun malamnya. Dia melihat sebuah mobil sport melaju bergerak keluar dari dalam mansion dan menghilang ditelan gelapnya malam. Ya, Uinseann pergi malam itu, pada malam pernikahan mereka.


Suara ketukan terdengar dari pintu kamar Beyza. Seorang maid masuk membawakan coklat hangat dan roti manis untuknya. Setelah mengangguk singkat, maid tersebut meletakkan nampannya pada meja buffet dan bergegas keluar. Rumah besar ini, begitu asing untuknya. Malam itu, selepas shalat isya, Beyza tertidur untuk melepaskan lelahnya setelah seharian terkubur dalam hectic-nya resepsi pernikahan.


Beyza berjalan turun menuju dapur, membuka-buka lemari es dan melihat makanan apa yang bisa ia siapkan pagi ini. Ia kemudian mulai memasak. Beberapa kali maid di rumah itu menawarkan diri untuk menggantikannya menyiapkan sarapan, tetapi setiap kali, Beyza menolaknya dengan sopan.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Beyza sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk Uinseann, tetapi bahkan sampai saat ini pun Uinseann tidak tampak akan pulang. Beyza kemudian menuangkan teh hangat ke dalam cangkirnya, menambahkan satu blok gula dan krim vanila ke dalam tehnya. Beyza kemudian duduk di meja makan dan mulai meminum tehnya.


Perasaan kosong itu datang lagi. Beberapa waktu lalu, krena kesibukan Beyza, Beyza dapat mengalihkan rasa sepi itu. Beyza melamun, tepatnya memikirkan tentang pernikahannya. Pernikahannya terasa terjadi sangat cepat.

__ADS_1


Dua bulan lalu kedua orangtua Beyza menyampaikan bahwa pak Damar, ayah mertuanya, menyampaikan bahwa ia ingin menikahkan Beyza dengan anaknya. Pak Damar datang dengan baik kepada orangtuanya, meminta tangannya untuk menerima Uinseann.


Saat itu Beyza sangat kaget dengan maksud kedatangan pak Damar. Ia tak menyangka bahwa ada ‘orang asing’ yang datang kepada orang tuanya untuk melamarnya. Awalnya Beyza kebingungan, tidak tahu harus bereaksi seperti apa, hingga kedua orang tua Beyza meminta waktu kepada pak Damar untuk memikirkan permintaannya.


‘Pak Damar adalah anak dari sahabat almarhum kakekmu.’ kata ayah Beyza seakan ingin memberitahu Beyza bahwa pak Damar bukanlah sepenuhnya orang asing. ‘Yang bapak tahu, keluarga pak Damar adalah orang baik. Itulah mengapa kakekmu sangat menyayangi mereka.’


‘Pikirkanlah baik-baik Nak,’ ujar ibu Beyza. ‘pernikahan itu adalah perjalanan panjang, kamulah yang akan menjalaninya.’ lanjut ibu Beyza sambil mengelus lembut kepala anaknya. ‘Bapak dan ibu tidak akan memaksa. Kami akan mendukung sepenuhnya keputusanmu.’


Beyza terdiam. Sejujurnya tidak tahu harus bagaimana. Hingga akhirnya,


‘Bey minta izin untuk istikharah dulu ya pak… bu…’ jawab Beyza memandang kedua orangtuanya bergantian.


‘Allah maha tahu. Allah tahu apa-apa yang terbaik untukmu nak, untuk kita semua.’ kata bapak.

__ADS_1


__ADS_2