
Beyza membaca dengan serius majalah mingguan yang baru saja dibawakan Silvia.
Dia tahu perusahaan suaminya sedang terkena masalah akibat perbuatan talent-nya sendiri.
Beyza khawatir, hal ini akan memberatkan suaminya.
Skandal di dunia fashion dan modelling adalah hal yang paling tabu. Dengan adanya ‘catatan hitam’ selama hidupnya, maka karir talent bersangkutan akan berakhir dengan mudah.
Hal ini bukan hanya menyusahkan si talent, tetapi juga manajemen yang menaunginya. Masa-masa pembersihan nama baik perusahaannya akan menjadi masa-masa sulit dan melelahkan.
Beyza menghela napas panjang. Sebenarnya menyadari bahwa mungkin, cepat atau lambat skandal seperti ini akan keluar juga.
Bukan, bukan karena Beyza mengetahui skandal para talent di perusahaan Uinseann, tapi setidaknya Beyza tahu satu skandal dari talent terbaik perusahaan Uinseann.
Seorang model cantik yang bermain api dengan suaminya sendiri. Model cantik yang dia jadikan muse dalam project besarnya ini.
Beyza mengingat kembali kejadian makan malam itu. Dimana dia tidak sengaja memergoki suaminya sedang makan malam romantis dengan wanita lain.
Hatinya sakit saat dia menyadari bahwa di dalam hati suaminya, dia bukanlah wanita nomor satu untuk Uinseann, melainkan wanita lain.
Bukan karena Beyza mencintai Uinseann -setidaknya belum-, tetapi semata-mata karena Uinseann seakan tidak menghormati pernikahan mereka. Beyza merasa dipermainkan.
“Perusahaan suamimu punya masalah besar,” kata Silvia yang tiba-tiba sudah duduk di tepi meja kerja Beyza. Kedatangan Silvia menghentikan air mata Beyza yang hampir jatuh. “kau tidak apa-apa?” tanya Silvia.
“Tidak apa-apa.” jawab Beyza singkat sambil tersenyum tipis pada Silvia. Silvia lalu mengangguk kecil pada Beyza. Silvia jelas menyadari ada yang tidak beres pada Beyza, hanya saja dia menghormati keputusan Beyza jika dia belum ingin menceritakan masalahnya.
Silvia sebenarnya bukan sahabat yang tidak mengetahui apapun. Dia sebenarnya menyadari bahwa Beyza memiliki masalah dengan suaminya.
Seperti beberapa malam lalu, Silvia menyadari kehadiran suami sahabatnya itu. Duduk bersama model yang saat ini sedang naik namanya. Mengobrol begitu dekat, begitu intim. Silvia langsung tahu ada yang salah dengan rumah tangga Beyza.
Beberapa minggu sebelum Beyza menikah, Beyza bercerita padanya bahwa dia akan menikah dengan lelaki yang belum dikenalnya.
__ADS_1
Silvia jelas mempertanyakan kenapa Beyza bisa dengan yakin melangkahkan kakinya menuju pernikahan sedangkan dia tahu bahwa Beyza masih memiliki banyak mimpi yang ingin dikejarnya.
Saat itu, Beyza hanya mampu menjawab bahwa dia sebenarnya ragu dengan keputusan ini.
“I’m here with you. (Aku ada di sini bersamamu.)” kata Silvia tiba-tiba sambil meletakkan tangannya di bahu Beyza. Mencoba memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.
Beyza yang juga sama mengertinya dengan Silvia, balas menggenggam tangan Silvia dan tersenyum lemah padanya.
“Terima kasih…” balas Beyza.
***
“Ada yang ingin kau jelaskan terlebih dahulu Fiona?” tanya Uinseann dingin. Mencoba untuk tetap profesional dengan tidak menunjukkan amarahnya, bagaimanapun hubungan perusahaan dan talent-nya itu adalah hubungan yang profesional.
Fiona yang saat ini tengah duduk di hadapan Uinseann dan Leodore serta ditemani manajernya, Riana, hanya dapat terdiam dan menunduk.
Fiona memainkan ujung kausnya, perilaku yang menunjukkan kekhawatiran yang besar.
Hal ini berbeda dengan kejadian sebelumnya, dimana manajemen dari agency tempatnya bernaung itu masih berusaha membelanya.
“Maafkan kami pak Pranaja, kali ini kami terlalu ceroboh.” jawab Riana pelan, tanpa berani memandang Uinseann sama sekali. Raut wajah Uinseann seketika berubah kejam.
“CEROBOH?!” kata Uinseann berteriak, dia menggebrak keras meja di hadapannya. Hal ini mengagetkan Fiona dan Riana seketika. Baru kali ini mereka melihat Uinseann yang tengah marah besar.
“AKU SUDAH MEMPERINGATKAN KALIAN UNTUK TIDAK BERMAIN-MAIN LAGI! FIONA!” suara Uinseann bergema memenuhi ruangannya.
Uinseann tampak sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia menatap tajam kepada talent dan manajernya itu. Leodore sendiri menatap dengan sorot mata yang dingin. Dia setuju dengan Uinseann, ini kali ketiga Fiona ketahuan bermain api dengan beberapa lelaki. Dia pun menganggap ini sudah keterlaluan.
Fiona dan Riana hanya dapat terdiam dalam ketakutan. Riana sendiri tahu bahwa apa yang dilakukan Fiona sudah melewati batas. Dia kecolongan.
“Kau tidak ingin menjelaskan apapun Fiona?” tanya Leodore. Suaranya lembut tapi terasa sedingin es.
__ADS_1
Fiona membeku. Pikirannya seketika kosong. Rangkaian kata yang sudah disusunnya untuk membela diri hilang begitu saja. Leodore adalah kelemahan terbesarnya. Nada bicara yang dingin itu begitu menyakiti hatinya.
Melihat tidak adanya reaksi yang berarti dari Fiona dan Riana, Leodore menghela napas panjang. Dia mengeluarkan lembar demi lembar Memorandum of Understanding (MOU) milik Fiona dan meletakkannya di atas meja, dan mulai berbicara.
“Sesuai dengan isi kesepakatan yang sudah ditanda tangani kedua belah pihak, pada Sub-BAB Pembatalan Kerja Sama, halaman 36 poin kedelapan, kami pihak pertama akan membatalkan seluruh isi dari kesepakatan ini jika terjadi pelanggaran yang dengan sengaja dilakukan oleh pihak kedua. Maka, berdasarkan kesepakatan tersebut, kami pihak manajemen perusahaan akan mengakhiri kontrak kerja sama kami dengan saudari Fiona Gresia Maulaka.”
***
Uinseann dengan frustasi mengacak rambutnya dengan kasar. Merasa lelah setelah pertemuannya dengan pihak Fiona.
Fiona bersikeras tidak ingin keluar dari manajemennya. Dia memohon untuk dimaafkan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Janji yang dianggapnya kosong karena dia sudah pernah mendengarnya sebelumnya. Begitu pula Leodore yang beranggapan sama dengan Uinseann. Dia sudah tidak ingin lagi mendengarkan Fiona.
Uinseann bersyukur karena saat itu yang mendampinginya adalah Leodore. Leodore benar-benar bisa diandalkan. Dia memang terkenal profesional. Tidak mencampur adukkan antara urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Salah satu kelebihannya yang tidak dimiliki Uinseann.
Pemecatan Fiona bukanlah hal yang mudah. Bagaimanapun Fiona, dia tetaplah model dengan kontrak tertinggi ketiga setelah Agnes dan Miata. Tapi Uinseann tahu, pembatalan kerja sama dengan beberapa brand yang meminta Fiona menjadi ambassador-nya akan lebih sulit lagi.
Ambassador tidak bisa dengan mudah diubah, pembatalan ini akan menyebabkan kerugian besar untuk perusahaannya.
Belum lagi tentang reputasi dan tuntutan klarifikasi dari media. Beberapa waktu kedepan akan menjadi hari-hari yang melelahkan untuknya.
Agnes meletakkan cangkir berisi teh hangat di atas meja Uinseann dan duduk di hadapannya. Dia kemudian menyeruput sedikit teh dalam cangkirnya sendiri sambil terus memandangi Uinseann, seakan menunggu Uinseann mengatakan sesuatu.
“Kau ingin aku menggantikan Fiona lagi?” tanya Agnes setelah Uinseann tak kunjung mengatakan apa-apa padanya.
Uinseann memandangi Agnes. Memang sebelumnya jika Fiona membuat masalah, Agneslah yang selalu Uinseann minta untuk menggantikannya.
Me-reschedule semua rencananya agar dapat memperbaiki ulah Fiona. Uinseann menggeleng lemah lalu tersenyum tipis pada Agnes.
“Tidak kali ini Agnes, tidak perlu.” Jawab Uinseann. Agnes mengangguk singkat mendengar ini.
__ADS_1
“Baguslah.” katanya kemudian.