SANDARan

SANDARan
Menghargai


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Beyza tidak bertemu Uinseann. Uinseann tidak pernah pulang sama sekali. Beyza bingung harus kemana mencari Uinseann. Dia yang hanya pernah bertemu satu kali dengan Uinseann sebelum menikah yang lalu ditinggalkan pada malam pertama pernikahannya tentu tidak menyimpan nomor ponsel Uinseann.


Ingin dia bertanya kepada ayah mertuanya tapi kemudian dia urungkan niatnya itu. Semata-mata karena dia tidak ingin membuat Uinseann seperti suami yang tidak bertanggung jawab di mata ayah mertuanya.


Pernah ia sekali menelepon ke kantor Uinseann, tetapi saat dia menelepon, bagian customer care di kantor Uinseann menyampaikan bahwa suaminya itu tidak ingin bicara dengannya. Beyza hanya bisa pasrah.


“Mbak Beyza, bapak datang berkunjung.” Panggil bu Marni, seorang rewang di rumah Uinseann.


“Iya bu.” Balas Beyza dari dalam kamar. Beyza mengerti, ‘bapak’ yang dimaksud bu Marni adalah ayah mertuanya. Beyza bergegas membuka pintu kamarnya dan segera turun menuju ruang keluarga. Begitu dia melihat ayah mertuanya, Beyza segera menghampiri dan mencium tangan pak Damar.


“Putriku.” Ujar pak Damar, membelai pipi Beyza dengan sayang. Beyza tersenyum membalas perlakuan ayah mertuanya itu. “Bagaimana kabarmu nak?” tanya pak Damar setelah mereka duduk berdampingan di ruang keluarga.


“Alhamdulillah baik Yah. Ayah apa kabar?” tanya Beyza lembut.


“Alhamdulillah. Rasanya tidak pernah lebih baik sampai kamu jadi anakku.”Jawab pak Damar sambil tertawa kecil membuat Beyza tersipu malu. “Ayah bawakan hadiah untukmu.” Katanya lagi.


Pak Damar kemudian memberikan sebuah bingkisan yang dihiasi pita indah di atasnya.


“Anggap ini sebagai permintaan maaf karena seminggu ini Ayah tidak bisa menemanimu.” Tambahnya.


Beyza terdiam, sedikit bingung karena ayah mertuanya itu menyampaikan bahwa hadiah ini untuk meminta maaf. Meskipun begitu, Beyza tetap berterima kasih dan merasa bahagia karena ayah barunya ini sangat baik padanya.


“Mana Uinseann?” tanya pak Damar tiba-tiba. Membuat Beyza terdiam, kaget dengan pertanyaannya.


“O-oh, mas Uinseann sedang ada meeting mendadak Yah, jadi tadi pagi mas Uinseann langsung berangkat ke kantor.” Jawab Beyza terbata, berbohong demi melindungi suaminya. Beyza merasa sangat berdosa karena ia telah berbohong meskipun itu untuk menutupi kesalahan suaminya. Beyza berulang kali mengucap istighfar dalam hatinya.


Untungnya pak Damar tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban Beyza. Pak Damar kemudian mengelus lembut kepala Beyza.

__ADS_1


“Ayah lapar. Orang tuamu bilang, kamu pintar masak nasi kebuli. Kau mau masakkan itu untukku?” kata pak Damar. Beyza yang mendengar permintaan Ayah mertuanya itu tersenyum cerah. Beyza dengan bersemangat mengangguk untuk menyanggupi permintaan ayah mertuanya itu. Ya, sejak dulu, Beyza sangat suka memasak. Karena hobinya itulah, Beyza banyak mengambil kelas memasak di sela-sela pekerjaannya.


Segera setelah Beyza mulai menyibukkan dirinya di dapur, pak Damar berjalan menuju halaman belakang. Halaman belakang rumah Uinseann adalah salah satu tempat favorit pak Damar. Hal itu karena Uinseann men-design layout halamannya sendiri, memasukkan hal-hal kesukaan almarhumah ibunya di setiap sudut tamannya.


Sayangnya pemandangan yang lekat akan karakter istri pak Damar itu tidak dapat menghibur perasaan pak Damar saat ini. Dia marah.


“Di mana kamu sekarang?” tanya pak Damar kepada Uinseann melalui ponselnya. Terdengar nada ketidak sukaan pada suaranya.


“Ada apa Ayah? Tumben Ayah telepon.” balas Uinseann di seberang telepon.


“Sedang di mana kamu?” tanya pak Damar lagi. Nada suaranya terdengar semakin dalam dan gelap.


“Apa sih Yah. Seminggu ini Ayah nggak telepon aku, sekarang tiba-tiba telepon sambil marah.” jawab Uinseann.


“Jawab saja pertanyaan Ayah.” bentak pak Damar tiba-tiba. Tampaknya kekesalannya sudah semakin memuncak.


“Di rumah Yah. Ayah kenapa sih marah-marah?” balas Uinseann, kaget sekaligus sedikit takut. Bagaimanapun, setua apapun Uinseann, ayahnya adalah lelaki yang ia hormati.


Wajah pak Damar berubah. Kerutan dalam pada alisnya semakin tampak. Kemarahan sudah sampai di pangkal lehernya, siap ia ledakkan kapanpun. Pak Damar kenal betul suara perempuan itu.


“Kamu pulang ke rumahmu sekarang. Atau seluruh saham Ayah untukmu, akan ayah batalkan semua.” kata pak Damar lambat tetapi penuh penekanan.


“Yah…?” Uinseann yang kemudian mendengar suara nada diputuskannya sambungan telepon mulai menyadari betapa seriusnya ini.


Uinseann yang bergegas menuju rumahnya merasa khawatir dan kesal. Khawatir karena bisnisnya mungkin kan hancur jika ayahnya murka. Kesal kepada ayahnya dengan ancamannya, dan merasa lebih kesal kepada Beyza. Ia menyadari bahwa ayahnya tahu dia berbohong karena Uinseann yakin ayahnya sedang ada di rumah.


‘Perempuan itu pasti mengadu!’ batinnya. Uinseann melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak ingin membuat ayahnya semakin marah.

__ADS_1


Uinseann segera memarkirkan mobilnya saat sampai rumahnya. Bergegas masuk ke rumahnya.


Dari kejauhan, Uinseann mendengar tawa ayahnya. Uinseann merasa sedikit aneh karena rasanya sudah cukup lama ia tidak mendengar tawa ayahnya. Hal ini melambatkan langkahnya yang terburu-buru.


Tepat sebelum masuk ke ruang makan, Uinseann menghentikan langkahnya. Mendengarkan obrolan sang ayah dan Beyza. Uinseann tak menyangka ayahnya bisa tertawa lepas saat mengobrol dengan Beyza.


“Mas Uinseann, masuk mas.” kata bu Marni, mengagetkan Uinseann. Pak Damar dan Beyza yang mendengar suara bu Marni menoleh ke arah Uinseann. Ekspresi pak Damar yang awalnya lembut dan hangat segera berubah setelah melihat Uinseann. Uinseann merasakan tatapan tajam ayahnya kepadanya.


“Ma-mas Uinseann sudah pulang? Mas sudah makan siang?” tanya Beyza canggung setelah menyadari Uinseann betul-betul pulang setelah seminggu ini tak pulang. Pak Damar tentu saja menyadari bahwa Beyza mencoba untuk menunjukkan bahwa pernikahannya baik-baik saja dihadapannya. Terbersit dalam hatinya penyesalan karena telah membuat Beyza menutup-nutupi bahkan berbohong untuk melindungi anaknya sendiri.


“Ayah maaf aku baru sampai.” kata Uinseann, tidak memperdulikan pertanyaan Beyza sama sekali. Uinseann kemudian menghampiri ayahnya itu.


Beyza yang menyadari bahwa Uinseann menunjukkan sikap ketidak pedulian padanya, hanya dapat mengucapkan istighfar dalam hatinya dan mencoba untuk bersabar. Dia kemudian mulai merapihkan meja makan dan menyiapkan alat makan untuk Uinseann. Dia berpikir, barangkali Uinseann mau makan siang di rumah hari ini.


“Nak Beyza, ayah pamit ya.” kata pak Damar tiba-tiba.


“Eh? Ayah sudah mau pulang? Mas Uinseann baru saja sampai.” jawab Beyza heran. Ia menghentikan kegiatannya, bingung kenapa ayah mertuanya itu tiba-tiba akan pulang. Uinseann yang menyadari bahwa ayahnya telah betul-betul marah, hanya dapat terdiam.


“Bey antar sampai depan ya Yah.” kata Beyza. Dengan segera Beyza membantu ayah mertuanya ketika ia melihat pak Damar mulai membereskan barang bawaannya.


“Biar Uinseann yang mengantar Nak. Kamu tidak perlu repot.” jawab pak Damar. Perkataan ini entah kenapa seperti perintah bagi Uinseann dan Beyza. Uinseann bersiap mendampingi ayahnya menuju pintu depan, sedangkan Beyza sendiri lekas menyalami ayahnya. Mengucapkan salam dan meminta ayahnya itu untuk berhati-hati di perjalanan. Pak Damar mengelus kepala Beyza sekali lagi, tersenyum lembut pada Beyza dan menjawab salam menantu perempuannya itu.


Uinseann merasakan punggung dingin ayahnya saat dia mengantar ayahnya ke pintu depan. Dia tahu, tak lama kemudian, pak Damar pasti akan marah besar padanya.


“Berapa lama kamu tidak pulang?” tanya pak Damar dingin pada Uinseann. Uinseann yang tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya itu hanya dapat membisu. Rasa kesal kembali bercokol pada hatinya. Dia yakin, pasti Beyza yang sudah mengadukannya pada pak Damar.


“Kamu pikir pernikahan kalian kemarin main-main?” tanya pak Damar lagi. Uinseann tetap membisu.

__ADS_1


“Kamu pikir ayah tidak tahu selama seminggu ini kamu tidak pulang ke rumah? Meninggalkan Beyza di rumah sendirian? Keterlaluan!” kata pak Damar kemudian, masih dengan nada suaranya yang dingin.


“Hargai Ayah! Hargai istrimu! Bertanggung jawablah dengan keputusan yang sudah kamu ambil!” bentak pak Damar pada akhirnya.


__ADS_2