
Beyza duduk termenung di meja makan. Menunggu Uinseann kembali masuk ke dalam untuk membantu melayaninya jika Uinseann memutuskan untuk makan. Tapi saat Uinseann memasuki ruang makan, Beyza hanya dapat melihat kemarahan pada wajah Uinseann. Beyza takut saat melihat suaminya itu melihatnya dengan tatapan buas. ‘Ada apa?’ pikir Beyza. Tanpa sadar tubuhnya gemetaran ketakutan.
“Bagus kamu mengadu ke Ayah?!” seru Uinseann. Nada suaranya tinggi penuh dengan kemarahan. Beyza kebingungan, tidak mengerti dengan maksud ucapan Uinseann.
“Kamu tidak perlu ikut campur urusanku! Kita menikah hanya karena dijodohkan, berhenti berpura-pura kalau kamu istriku!” kata Uinseann kemudian. Dengan geram Uinseann berjalan meninggalkan Beyza sendirian. Uinseann kemudian masuk ke kamarnya. Membanting pintu dengan suara yang kencang dan bergema.
Beyza yang terkejut dan tidak mengerti maksud Uinseann hanya dapat berdiri membeku. Tanpa sadar bulir air mata keluar membasahi pipinya. Bu Marni yang datang saat mendengar gelegar kemarahan Uinseann mendekati Beyza. Mengelus punggung Beyza lembut, merangkulnya, dan membimbing Beyza menuju halaman belakang.
“Mbak Beyza, diminum coklat hangatnya, supaya mbak Beyza lebih tenang.” ucap bu Marni sambil menyerahkan segelas coklat hangat untuk Beyza. Bu Marni kemudian menyelimuti Beyza dari arah belakang dengan selimut bulu lembut, membuat Beyza merasa lebih nyaman. Siang itu dingin. Mendung menggantung di langit yang berwarna gelap. Seakan tahu bagaimana suasana hati Beyza, langit seperti siap menangis bersamanya.
“Mas Uinseann itu mudah sekali salah paham mbak.” kata bu Marni sambil mengelus punggung Beyza. “Karakternya memang seperti itu, terlebih setelah mas Uinseann kehilangan Ibu.” katanya lagi.
Beyza mengerti bu Marni sedang mencoba menjelaskan perilaku Uinseann. Beyza yang tidak pernah mengenal Uinseann pasti memerlukan waktu untuk beradaptasi dan mengenal Uinseann. Hanya saja kejadian tadi mengagetkan Beyza. Kedua orang tua Beyza membesarkannya dengan kasih sayang yang besar. Tidak pernah sekalipun ayah atupun ibunya meninggikan suaranya kepada Beyza. Ketika dia melakukan kesalahan, orang tuanya selalu menegurnya dengan baik-baik.
Beyza tersenyum kepada bu Marni, berusaha menunjukkan bahwa dia mengerti dan baik-baik saja. Bu Marni balas tersenyum pada Beyza, merangkul dan memeluknya ringan kemudian menghapus air mata Beyza.
“Untuk sementara aku tidak bisa tinggal di apartemenmu lagi.” ucap Uinseann melalui jaringan telepon.
“Lho, kenapa?” tanya suara orang yang Uinseann telepon. “Ayahmu marah lagi?” tanyanya kemudian. Pertanyaan ini membuat Uinseann menghela nafas dengan kasar.
“Ini semua karena perempuan itu! Dia pasti mengadu ke Ayah!” balas Uinseann kesal. Mendengar ini, Agnes -wanita yang sedang menjawab telepon Uinseann-, terdiam. Sebenarnya dia tidak yakin dengan tuduhan Uinseann, barangkali memang ayah Uinseann tahu semua tentang anak laki-lakinya itu, seperti yang sudah terjadi sebelum ini. Tapi Agnes memilih untuk tidak berkomentar apapun mengenai ini.
__ADS_1
“Untuk sementara kita bisa bertemu di luar sayang.” Jawab Agnes kemudian. “Kita tahu bagaimana kerasnya ayahmu. Kalau kau melawan lebih dari ini, ayahmu bisa saja melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan.” tambahnya.
“Aku tahu.” balas Uinseann pelan. “Aku merindukanmu.” katanya lagi. Agnes tersenyum lebar mendengar ini.
“Aku juga.” balas Agnes manja.
Uinseann berbaring terlentang di atas ranjangnya, menikmati wangi yang manis dan elegan pada spreinya. Dia melamun, mengingat kemarahan ayahnya beberapa waktu lalu.
‘Hargai Ayah! Hargai istrimu! Bertanggung jawablah dengan keputusan yang sudah kamu ambil!’ ingat Uinseann. ‘Ayah kecewa padamu.’ Kata-kata itulah yang terakhir dilontarkan ayah saat masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkannya.
Kekecewaan ayahnya adalah ketakutan terbesar Uinseann, sehingga kata-kata itulah yang paling diingatnya. Bagaimanapun, ayahnya adalah role model bagi Uinseann.
Uinseann mengubah posisi berbaringnya, membelakangi pintu kamarnya sekarang. Ada satu hal yang kemudian menarik perhatian Uinseann. Pakaiannya yang tertumpuk rapi di ujung ranjangnya. Dia bertanya-tanya kenapa pakaiannya ada di sana. Uinseann kemudian meneliti tumpukan pakaiannya sendiri. Pakaian semi-formal miliknya itu terdiri dari kaus berkerah dengan warna coklat muda dan celana pendek selutut dengan warna coklat gelap.
Uinseann merasa aneh sendiri, ketika dia berpikir bahwa mungkin Beyza yang telah menyiapkan pakaian itu. Uinseann memperhatikan kamarnya yang rapi. Well, kamarnya memang selalu bersih dan rapi, semua berkat bu Marni dan maid lain. Tapi entah kenapa, Uinseann merasa ada yang berbeda dengan kamarnya sekarang. Terlebih setelah dia menyadari wangi yang menyamankannya sejak masuk ke kamar ini, bukan wangi yang biasanya digunakan dalam kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Beyza yang dibantu bu Marni menyiapkan makan malam mengobrol banyak dengan bu Marni. Bu Marni ternyata adalah rewang yang sudah ikut keluarga pak Damar sejak pak Damar dan ibu Uinseann menikah. Tidak heran jika bu Marni sangat mengenal karakter Uinseann.
Beyza sangat menikmati cerita-cerita bu Marni. Banyak hal yang Beyza tidak tahu mengenai suaminya, sehingga setiap cerita bu Marni mengenai Uinseann seakan membuat Beyza sedikit mengenal Uinseann. Sampai akhirnya Beyza dan bu Marni selesai menyiapkan makan malam.
Beyza kemudian menyempatkan untuk shalat maghrib sebelum makan malam. Beyza memilih untuk shalat di kamar tamu karena dia tahu Uinseann sedang marah padanya. Selepas shalat maghrib, Beyza merapihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menuju kamar tidur mereka.
__ADS_1
Beyza mengetuk pelan pintu kamarnya, dan memanggil Uinseann untuk mengajaknya makan malam.
“Mas Uinseann, makan malam sudah siap. Makan malam dulu mas.” panggil Beyza. Uinseann tampaknya tidak merespon panggilan Beyza. Entah memang karena Uinseann tidak dengar, atau karena dia pura-pura tidak dengar. Beyza kemudian memanggil Uinseann sekali lagi, mencoba untuk mengajak Uinseann makan malam bersama. Masih tidak ada jawaban. Bahkan sampai ketukan ketiga, Uinseann masih tidak membalas.
Beyza menghela nafas panjang. Merasa sedih bahwa bahkan dia sebagai istri Uinseann tidak dapat berbicara dengan baik padanya.
“Saya bawakan makanan mas ke sini ya.” Kata Beyza pelan, menguatkan hatinya.
Uinseann yang sebenarnya mendengarkan Beyza memilih untuk tetap diam, bahkan sampai suara langkah Beyza yang menjauh terdengar. Rasa kesal tampaknya masih sedikit dia rasakan.
Uinseann sudah merasa sangat lapar sebenarnya, tapi dia malas jika harus keluar ke ruang makan. Tak lama kemudian, Beyza terdengar kembali mengetuk pintu kamar Uinseann. Memberitahunya bahwa dia telah membawakan makanannya.
Uinseann terkejut, dia pikir tawaran Beyza untuk mengantarkan makanannya hanya akan berakhir sebagai tawaran saja, atau setidaknya makan malamnya akan dibawakan oleh maid.
Dia tidak menyangka bahwa Beyza akan membawakannya sendiri. Perasaan ingin tahupun mulai tumbuh dari dalam hati Uinseann. Ia ingin tahu orang seperti apa istrinya itu. Uinseann membuka pintu kamarnya. Kaget karena ternyata Beyza masih berdiri di sana, sama kagetnya dengan Uinseann.
Dengan canggung Beyza menyerahkan nampan berisi makan malam Uinseann. Tampak juga bahasa tubuh Beyza yang takut.
Uinseann menyadari ini, sedikit merasa bersalah karena dia merasa mungkin kemarahannyalah yang membuat Beyza takut. Uinseaan sudah akan berbalik kembali masuk ke dalam kamarnya, tetapi kemudian Beyza bersuara.
“Maaf mas karena membuatmu marah siang tadi.” katanya pelan. Uinseann terdiam, tidak menyangka kalau Beyza akan meminta maaf. “Lalu…” lanjut Beyza ragu-ragu. “…maukah mas Uinseann memberi aku izin untuk keluar rumah?”
__ADS_1