
Leodore berjalan masuk ke area ruang makan Uinseann pagi itu, menemukan Beyza sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Pagi ini Leodore dengan tidak biasanya berkunjung ke rumah Uinseann. Memang dulu saat mereka masih kecil, Leodeore sering berkunjung untuk bermain dengan Uinseann, tetapi sejak mereka bekerja bersama dalam satu perusahaan, Leodore hanya sesekali mengunjungi Uinseann. Toh dia bisa bertemu dengan Uinseann setiap hari di kantor.
Hari ini alasan Leodore berkunjung hanyalah karena dia terlalu dikuasai perasaan ingin tahu mengenai Beyza. Perempuan yang sangat baik jika berdasarkan cerita Uinseann.
Dia penasaran, apakah betul Beyza sebaik itu. Dia bahkan datang tanpa memberitahu Uinseann.
Leodore memperhatikan Beyza dari sudut ruangan. Beyza sepertinya belum menyadari kedatangannya. Leodore kemudian duduk dan memandangi Beyza.
Sebagai orang yang bekerja di bidang fashion, Leodore terkesan pada Beyza. Beyza adalah seorang muslimah yang menggunakan jilbab, tapi Beyza dapat tetap terlihat fashionable dengan pakaian syar’i-nya.
Well, sebenarnya jelas karena Beyza juga merupakan orang yang bergerak di bidang fashion, tak heran bahwa dia juga mengenal mode.
Seperti sekarang, Beyza tampil simple tapi chic dengan oversized romper, coat panjang, dan pashmina. Meskipun wajah Beyza tampak polos karena minim menggunakan make up, tapi kecantikan tetap terpancar dari wajahnya.
“Lho, kak Leodore? Kapan datang kak?” tanya Beyza setelah pada akhirnya dia menyadari keberadaan Leodore.
“Belum lama ini.” balas Leodore, tidak menyangka bahwa Beyza mengingatnya. Ini kali kedua Leodore bertemu Beyza, yang pertama saat pernikahan sahabatnya, Uinseann. “Panggil saja Leo.” Katanya lagi, tersenyum pada Beyza.
“Oh, iya kak Leo.” jawab Beyza, balas tersenyum pada Leodore. Tetap menyematkan panggilan ‘kakak’ karena Beyza tahu Leodore lebih tua darinya, pak Damar yang memberitahunya. “Aku panggilkan mas Uinseann ya?” kata Beyza menawarkan, akan beranjak memanggil Uinseann.
“Tidak usah Beyza.” kata Leodore cepat, mencegah Beyza untuk menuju kamarnya.
Beyza berhenti dan kemudian tersenyum canggung. Bagaimanapun, dia belum akrab dengan sahabat suaminya itu. Untungnya tak lama kemudian, bu Marni datang dan menyapa Leodore.
“Mas Leo apa kabar? tumben datang.” komentar bu Marni begitu melihat Leodore. Maklum, bu Marni sudah jarang melihat Leodore berkunjung.
Leodore hanya menjawab singkat dan kemudian mengobrol dengan bu Marni. Melihat ini Beyza kemudian melanjutnya pekerjaannya.
Beyza menyiapkan kotak bekal untuk Uinseann dan Leodore. Dia menyadari bahwa suaminya mungkin tidak akan sempat sarapan di rumah, jadi dia berinisiatif membuatkan bekal untuk Uinseann sarapan. Tidak lupa Beyza juga menanyakan apakah sahabat suaminya, Leodore, sudah sarapan atau belum. Ketika Leodore menjawab belum, maka Beyza juga menyiapkan satu untuk Leodore.
***
Leodore membuka kotak bekal yang disiapkan Beyza dalam perjalanannya ke kantor dengan Uinseann.
Beberapa potong roti isi yang tertata cantik mengisi kotak bekal itu. Leodore kembali terkesan. Beyza tampaknya betul-betul mengerti kebutuhan Uinseann.
Leodore lalu mengambil sepotong roti isi dan melahapnya sambil memandangi Uinseann.
Uinseann yang merasa diperhatikan Leodore menoleh pada Leodore dan melemparkan pandangan kesal.
“Kau tiba-tiba datang tanpa memberitahuku sebelumnya memangnya ada apa?” tanya Uinseann. Dia melirik bekal Leodore yang terbuka, tergoda akan tampilan makanan dalam kotak itu.
“Semalam kau mengirimiku pesan yang membuatku penasaran kepada istrimu.” jawab Leodore acuh tak acuh sambil mengambil potongan roti isi kedua dan mulai memakannya.
__ADS_1
Uinseann ingat, semalam ketika dia mendapati Beyza tidak marah atau bahkan tidak menyinggung kejadian makan malam itu, Uinseann mengirimi pesan singkat pada Leodore.
Isi pesan itu lebih kepada dirinya yang tidak percaya reaksi Beyza setelah melihatnya kencan dengan wanita lain.
Ya, Uinseann benar-benar tidak mengerti dengan sikap Beyza. Dia yang selama ini terbiasa dengan sifat egois dan menggebu-gebu Agnes mengira bahwa reaksi Agnes adalah hal yang wajar, bahkan masalah sepele pun dapat menyulut emosinya.
Uinseann merasa dia tidak terbiasa menghadapi Beyza.
“Beyza terlalu baik untukmu.” kata Leodore tiba-tiba, menyadarkan Uinseann dari lamunannya.
“Yeah, right.” balas Uinseann, merasa tidak setuju pada Leodore. “Bagiku dia hanya perempuan yang tidak punya pendirian, mengatas namakan janji masa lalu untuk dengan mudahnya setuju menerima lamaran ayah,” kata Uinseann lagi, “dia tak sebaik itu.” Lanjut Uinseann.
Leodore memandangi Uinseann. Terkadang dia merasa kesal dengan sikap Uinseann yang memandang orang lain hanya sebatas persepsinya saja, apalagi jika sudah menyangkut soal Agnes. Pandangannya adalah yang paling benar untuknya.
Leodore menghela nafas, beralih memandang bekal roti isi yang dibuatkan Beyza, entah mengapa merasa lebih kesal lagi.
Leodore kemudian meninju lengan Uinseann, menyebabkan Uinseann terkejut dan mengaduh, lalu memandang Leodore tidak percaya.
“Just tell me then (Kalau begitu beritahu aku), keuntungan apa yang dia dapat dari menikahimu?” tanya Leodore balas memandang sinis Uinseann dan menggigit kasar roti isi terakhir dari kotak bekalnya.
Uinseann tidak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya ini.
***
Uinseann memeriksa e-mail yang masuk. Ada beberapa dokumen mengenai pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum pertemuan dengan LeBlanc. Untungnya hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Beberapa pekerjaan dapat menunggu sampai akhir bulan ini.
Uinseann menghela napas panjang dan mulai membuka-buka dokumen dari perusahaan LeBlanc, kembali mempelajari berkas mereka agar semakin menguasai isinya. Uinseann kemudian ingat, beberapa minggu lalu Leodore memberinya peringatan bahwa seiring naiknya nama Agnes, maka akan semakin banyak media yang memburunya, tidak terkecuali paparazzi.
Leodore bilang, mereka harus semakin berhati-hati. Bagaimanapun, jika nantinya ada skandal yang muncul, hal itu dapat mempengaruhi reputasi dan karir Agnes. Tidak terkecuali dengan Uinseann sendiri.
Uinseann bersandar dan memijat dahinya. Dia tahu bahwa apa yang ia jalani saat ini adalah kesalahan.
Dia sudah menikah, tidak seharusnya Uinseann tetap berhubungan dengan Agnes. Agnes memang kekasihnya bahkan jauh sebelum dia menikah dengan Beyza, hanya saja disisi lain Uinseann tidak bisa begitu saja melepaskan Agnes.
Uinseann kemudian melirik kotak bekal yang diletakkan di samping tas kerjanya. Bekal yang disiapkan Beyza.
Uinseann menggeser kotak bekal itu dan membukanya. Sekali lagi merasa kagum dengan bekal buatan Beyza.
Beyza membuatkan sarapan yang mudah untuk dimakan saat di perjalanan ataupun saat sibuk, seakan Beyza sangat mengerti bahwa pagi ini dia terburu-buru.
Uinseann mengambil satu potong roti isi dan membukanya, mencoba melihat isian di dalamnya.
Uinseann tidak menyukai potongan tomat yang hampir selalu ada dalam roti isi. Dia berniat mengeluarkannya sebelum mulai makan.
Anehnya Uinseann tidak melihat adanya potongan tomat pada roti isinya, padahal saat Leodore makan tadi Uinseann yakin ada potongan tomat segar pada roti isinya.
__ADS_1
Apa mungkin Beyza tahu dia tidak suka tomat?
***
Leodore masuk ke ruangan Uinseann dengan tiba-tiba, wajahnya tampak dingin, tapi ekspresi kesal tampak dengan jelas pada wajahnya. Dia melemparkan sebuah majalah mingguan ke atas meja Uinseann.
“Skandal.” katanya kesal. Uinseann yang terkejut hanya terpaku pada majalah mingguan yang Leodore lempar.
Tunggu dulu, apakah skandal yang Leodore maksud adalah skandal Agnes dan dirinya?
Ekspresi Uinseann mengeras, tiba-tiba hatinya merasa tidak tenang. Dia tidak siap sama sekali jika memang kabar tidak sedap mengenai hubungannya dengan Agnes terkuak.
Tangan Uinseann gemetar saat dia akan meraih majalah yang tergeletak di atas mejanya. Merasa takut dengan berita dalam majalah itu.
“Si-siapa?” tanya Uinseann terbata sambil melihat isi dalam artikel majalah itu.
“Fiona,” jawab Leodore dingin. “aku sudah memperingatkannya tentang ini. Dia terlalu banyak main-main.” lanjutnya.
Uinseann yang mendengar Leodore mengucapkan nama selain Agnes sedikit merasa lega, meskipun jelas ini tidak akan mudah karena salah satu talent berbakatnya yang menimbulkan masalah.
Ya, Fiona berada diurutan ketiga dalam hal popularitas setelah Agnes dan Miata. Sudah beberapa kali Fiona menimbulkan masalah baik internal maupun eksternal.
Beberapa masalah yang timbul sebelum ini dapat ditutupi dengan baik oleh manajemen perusahaan Uinseann, sayangnya skandal kali ini terlalu besar untuk diatasi dengan cara yang sama.
‘Seorang model cantik dari manajemen A terlibat skandal dengan petinggi kepolisian’ begitu bunyi judul artikel yang ditulis.
Dalam artikel itu tampak beberapa foto yang memperlihatkan model manajemennya dirangkul mesra oleh seorang lelaki.
Dahi Uinseann berkerut, dalam foto itu wajah Fiona tampak jelas, sedangkan wajah lelaki disampingnya ditutupi semacam mozaik.
Artikel ini sangat tidak menguntungkan pihaknya.
“Leo, kau sudah coba konfirmasi kepada Fiona?” tanya Uinseann. Berharap ada hal yang bisa dijadikannya alasan untuk menyanggah artikel itu.
Leodore memandangi Uinseann. Bahkan sebelum dia datang ke ruangan Uinseann, dia sudah berusaha konfirmasi kepada yang bersangkutan.
“Bahkan sebelum aku konfirmasi pada Fiona ataupun manajernya, Fiona sudah lebih dulu meneleponku, meminta maaf dan minta tolong sambil menangis.” kata Leodore dingin, secara tidak langsung memberitahu Uinseann bahwa mereka tidak perlu mencoba untuk menghubungi Fiona lagi.
Uinseann menggebrak meja kerjanya. Merasa kesal dengan kelakuan talent-nya itu.
Masalahnya bukan sekali dua kali kejadian seperti ini terulang.
“Batalkan semua pekerjaannya, berikan pada talent lain. Panggil dia dan manajernya sekarang untuk menghadap. Evaluasi kontraknya.” kata Uinseann.
Leodore mengangguk, mengerti bahwa skandal ini benar-benar dapat menjadi akhir karir Fiona.
__ADS_1