SANDARan

SANDARan
Kembali


__ADS_3

“Selamat ya Bey atas pernikahanmu. Izinnya aja cuma tiga hari, tapi nyatanya malah lanjut seminggu. Nempel aja terus sama suamimu itu.” Goda Silvia begitu melihat Beyza.


Beyza bertemu dengan teman dekatnya itu di pintu masuk perusahaan tempat Beyza bekerja. Beyza yang tentu saja baru masuk kerja kembali hanya tersenyum kecil kepada teman dekatnya itu.


“Apa kabar Sill?” tanya Beyza lembut, memeluk sahabatnya itu dengan hangat.


“I’m good! Very good!” jawab Silvia bersemangat. “Kamu kemana aja seminggu ini? Dihubungin nggak bisa, apalagi kasih kabar.” katanya lagi. Mencubit lengan Beyza gemas. Mendengar pertanyaan ini Beyza hanya tertawa kecil sambil mencoba membalas cubit gemas sahabatnya.


“Untung aja ya Bey perusahaan ini punya ibumu. Kalau punyaku, kuseret kamu dari rumah buat ke kantor!” seloroh Silvia lagi.


“Eh, seram lho. Jangan gitu dong Sill, nggak boleh kasar.” balas Beyza geli. Sahabatnya ini betul-betul easy going dengan apapun. Beyza tahu Silvia hanya bercanda.


Karakter Silvia terbentuk sejak dia tinggal lama di London. Beyza dan Silvia bertemu saat mereka sama-sama melanjutkan studinya di salah satu Universitas Fashion di London.


Karena sama-sama orang Indonesia, Beyza dan Silvia akhirnya mudah dekat. Saat itu Silvia merasa dapat mengobati rasa rindu pada tanah airnya saat bertemu Beyza. Beyza dan Silvia mengobrol seru selama perjalanan ke lantai delapan di mana ruang kerja mereka berada.


“Aku ke ruangan ibu dulu ya Sill.” kata Beyza begitu pintu lift lantai delapan terbuka.


“Oke.” balas Silvia mengacungkan ibu jarinya. Dia lalu melambai singkat pada Beyza dan berjalan keluar dari dalam lift. Beyza kemudian melanjutkan menuju lantai sepuluh tempat kantor ibunya berada.


Beyza mengetuk pintu kantor ibunya. Meminta izin untuk masuk sambil menyebutkan namanya. Apa yang dilakukan Beyza adalah prosedur tetap pada perusahaan ini. Meskipun perusahaan ini adalah milik ibu Beyza, tetapi di sini Beyza tetap staff yang bekerja secara profesional.


Begitu Beyza menyebutkan namanya, belum sempat dia membuka pintu, ibu Beyza sudah membukanya terlebih dulu.


Ibu Beyza menarik Beyza dan memeluknya erat dalam kerinduan. Beyza yang juga merasakan hal yang sama balas memeluk ibunya sama eratnya. Seminggu ini dirasakan mereka seperti waktu yang sangat lama. Pelukan hangat ibunya membuat Beyza hampir menumpahkan air matanya lagi.


“Apa kabar kamu nak?” tanya ibu Beyza.


“Alhamdulillah baik Bu. Ibu apa kabar?” balas Beyza.

__ADS_1


“Alhamdulillah sangat baik, walaupun kami sangat rindu padamu.” jawab ibu Beyza. Pagi itu Beyza dan ibunya menghabiskan waktu untuk melepas kerinduan mereka satu sama lain.


“Bagaimana kamu di sana nak? Nak Uinseann bagaimana kabarnya?”


“Baik bu, alhamdulillah baik-baik semuanya. Mas Uinseann juga alhamdulillah baik.” jawab Beyza. Beyza tahu, kabar yang ia sampaikan hanyalah kabar yang ingin keluarganya dengar terutama untuk kedua orangtuanya.


Beyza tidak ingin kedua orangtuanya khawatir. Kepedulian mereka sangat besar kepada Beyza, begitupun kekhawatirannya.


“Bapak gimana kabarnya bu?” tanya Beyza, mencoba mengalihkan pembicaraan kearah ibunya.


“Bapak baik nak. Setiap hari tanya kamu gimana keadaannya. Padahal setiap sore juga telfonin kamu.” kata ibu Beyza renyah. Beyza tersenyum mendengar ini.


Selama 24 tahun dia hidup dengan orangtuanya, pastilah berat untuk semuanya jika harus tiba-tiba terpisah.


“Sering-seringlah pulang ke rumah nak. Ajak suamimu, bapak juga pasti senang kalau kalian berdua sering pulang.” beyza lagi-lagi hanya dapat tersenyum dengan permintaan ibunya. Beyza jelas menginginkan hal yang sama. Bagaimanapun dia ingin rumah tangga yang baik.


“Insyaallah bu. Nanti Bey sampaikan ke mas Uinseann ya.” jawab Beyza dengan penuh keraguan pada hatinya. Beyza lantas pamit kepada ibunya untuk memulai pekerjaannya yang tertunda selama dia absen.


Perusahaan LeBlanc adalah perusahaan besar yang memproduksi parfume eksklusif. Brand-nya sudah banyak dikenal orang bahkan beberapa signature-nya sudah memiliki kualitas ekspor. Perusahaan ini sudah bekerjasama dengan perusahaan milik ibu Beyza sejak lama.


Saat mereka mengeluarkan signature brand yang baru, perusahaan LeBlanc sering meminta ibu Beyza untuk membantu launching produk baru mereka.


“Tahun ini temanya ‘monochrome’ ya…” kata Beyza pelan. “Perencanaan dan konsepnya tidak boleh setengah-setengah. Harus betul-betul matang.” katanya lagi. Beyza berpikir tema ini sedikit ‘tricky’ dalam eksekusinya.


Silvia setuju dengan Beyza. Dia sendiri sudah sempat membaca sekilas proposalnya. Tema ini sering dianggap sederhana dan mudah. Sayangnya anggapan itu sering membuat planner lengah dan akhirnya tidak mendapatkan hasil maksimal.


“Untungnya sample produknya juga sudah ada Bey. Produk pertamanya juga sudah dikirimkan ke kita, jadi kita bisa explore lebih banyak.” kata Silvia.


“Oh iya satu lagi, nama-nama dan visualisasi model yang akan di-hire oleh LeBlanc juga sudah disertakan. They prepared everything nicely.” tambah Silvia.

__ADS_1


Beyza tersenyum. Silvia adalah partner kerja yang sangat baik dan teliti. Itulah kenapa Beyza merekomendasikan Silvia untuk direkrut ke dalam perusahaan mereka. She knows what we need.


“Design produknya cenderung maskulin ya.” komentar Beyza.


“Yep, tapi model yang mereka hire perempuan semua. Dan di halaman delapan belas ada keterangan bahwa target marketnya perempuan. Launching tahun ini betul-betul berbeda dari tema-tema yang selama ini LeBlanc angkat.” kata Silvia.


“Kalau kita pakai konsep suits bagaimana Bey?” tanya Silvia kemudian.


“Konsep suits memang paling cocok dan aman untuk konsep seperti ini, sayangnya dengan tema monochrome pilihannya akan sangat terbatas dan kalau kita tidak hati-hati keluaran hasilnya akan monoton dan terkesan boring.” kata Beyza mengeluarkan pendapatnya.


Silvia mengakui pendapat Beyza ada benarnya.


“Mungkin kita harus mencari lebih banyak referensi untuk ini Bey.” kata Silvia, berfikir untuk mencari ide.


“Yes, kau benar Sill. Kapan project deadline-nya Sill?” kata Beyza setuju.


“Empat bulan dari sekarang Bey.” jawab Silvia.


“Let’s do our magic together dear.” balas Beyza pada Silvia. Silvia tersenyum dan mengangguk percaya diri pada Beyza. Challenge accepted.


Beyza meluruskan punggungnya yang kaku karena duduk dalam waktu lama. Sudah banyak referensi yang dia cari baik dari internet maupun dari sejarah fashion show milik designer ternama dan senior-seniornya saat pendidikan di London dulu.


Banyak sekali referensi yang bagus dan unik, sayangnya belum ada yang bisa menarik hati Beyza. Beyza melirik ke arah Silvia. Silvia sendiri juga sepertinya masih terus mencari, tampak dari raut wajahnya yang fokus dan serius.


Beyza menghela nafas panjang. Dia kemudian kembali membuka-buka lembar proposal LeBlanc. Pada list model yang di-hire perusahaan LeBlanc, Beyza berhenti dan melihat-lihat.


Ada tiga foto model yang ia temukan. Ketiganya adalah model yang saat ini memiliki nama besar. Salah satu foto model yang terdapat pada daftar itu menarik perhatian Beyza.


Model perempuan pada foto itu terlihat sangat cantik. Dengan tubuh yang tinggi semampai, rambut berwarna hitam legam sepanjang bahu, dan tatapan percaya diri yang tinggi membuat model itu tampak sangat berkarakter. Bentuk wajahnya memperlihatkan kecantikan natural asli perempuan Indonesia.

__ADS_1


Melihat ini Beyza seketika mendapatkan ide jenis pakaian apa yang ingin dia buat. Agaknya model cantik ini memberikan inspirasi untuk Beyza. Dia akan menjadi muse untuk project kali ini.


Beyza kemudian melihat biodata model itu. 'Dian Agnes Pramuditya' namanya.


__ADS_2