
Uinseann melirik jam tangannya, lima belas menit lagi dia ada pertemuan dengan kliennya siang ini. Beberapa bulan lalu perusahaan showbiz-nya mengajukan sponsorship pada sebuah perusahaan kosmetik. Perusahaan kosmetik ini memang bukanlah perusahan yang sangat besar, hal ini karena perusahaan itu merupakan anak perusahaan dari brand lain, tetapi potensi kesuksesan brand ini sangat besar. Sebagai perusahaan showbiz yang sedang berkembang, setiap kesempatan yang baik akan dia usahakan.
Suara ketukan terdengar dari arah pintu kantor Uinseann.
“Masuk.” kata Uinseann singkat.
Agnes melongok ke dalam kantor sebelum dia masuk. Dia tersenyum manis dan melangkah masuk. Uinseann tampak senang ketika melihat Agnes datang, dia balas tersenyum pada Agnes.
“Kau sibuk hari ini?” tanya Agnes setelah duduk di pinggir meja kerja Uinseann.
“Hari ini aku ada meeting dengan klien.” jawab Uinseann singkat.
“I see, you don’t have time for me today then. (Kau tidak punya waktu untukku kalau begitu.)” kata Agnes memasang raut kecewa pada wajah cantiknya. Uinseann yang dapat melihat ekspresi kecewa Agnes berdiri dan menghampirinya. Uinseann kemudian memeluk Agnes dan membelai rambutnya mesra.
“Aku kerja kan juga untukmu. Kalau perusahaan ini tumbuh semakin besar, maka namamu juga akan ikut naik.” kata Uinseann sabar.
“Kamu kerja untukku, atau untuk istrimu?” sindir Agnes. Uinseann tercekat mendengar Agnes berkata seperti itu. Jujur saja Uinseann merasa tidak nyaman dengan perkataan Agnes.
Memang karakter kekanakan Agnes ini meskipun kadang membuatnya gemas, tapi tak jarang juga membuatnya tak nyaman.
“Kamu kan tahu sendiri kenapa-”
“Iya aku tahu. Kamu terpaksa.” potong Agnes cepat seakan tidak mau mendengar apa yang ingin diutarakan Uinseann. Pada keadaan ini Uinseann tahu keegoisan Agnes sedang menguasainya.
Dia tidak ingin berdebat, karena Uinseann berpikir bahwa keegoisan Agnes ini diawali dari keinginan pak Damar untuk membatasi waktu mereka bersama.
“Kapan rencana fitting pakaianmu dengan LeBlanc?” tanya Uinseann mengalihkan topik pembicaraan mereka sebelumnya. Agnes berpikir sejenak.
“Manager-ku bilang kemungkinan dua bulan dari sekarang. Tanggal pastinya masih menunggu dari Amica,” jawab Agnes melepaskan pelukannya dari Uinseann. Amica adalah fashion brand yang dipercaya LeBlanc untuk membantu launching produk baru mereka.
“cepat atau lambat, aku akan bertemu dengan istrimu itu di Amica.” tambah Agnes lagi, tersenyum sinis kepada Uinseann.
***
__ADS_1
Uinseann melamun, memikirkan apa yang Agnes katakan padanya sebelum meeting siang tadi. Sepanjang meeting Uinseann tidak dapat konsentrasi sama sekali, padahal pertemuan tadi sangat penting untuk kelangsungan kerja sama dengan anak perusahaan LeBlanc.
Ya, perusahaan kosmetik yang sedang Uinseann ajukan kerja samanya itu adalah anak perusahaan LeBlanc. Untungnya tangan kanan Uinseann dapat mengatasi kondisi Uinseann tadi.
“Kaulah yang menggali kuburanmu sendiri.” kata Leodore tiba-tiba. Leodore adalah tangan kanan Uinseann sekaligus sekertarisnya. Pria berkacamata itu adalah sahabat karib Uinseann, teman masa kecil Uinseann. Uinseann kaget mendengar sahabatnya itu sudah ada di ruangannya.
“Ketuk pintu dulu sebelum kau masuk Leo,” jawab Uinseann lemah.
“Sudah. Kau saja yang tidak dengar.” balas Leodore acuh tak acuh. Dia lalu meletakkan secangkir kopi untuk Uinseann, lalu duduk di hadapan Uinseann dan mulai menyeruput kopinya sendiri. Uinseann meraih cangkirnya dan ikut meminumnya.
“So, setelah akhirnya kau pulang dan bertemu istrimu kemarin, bagaimana dia?” tanya Leodore.
“Istrimu itu memarahimu lalu ngambek habis-habisan saat kau pulang dan melemparkan barang-barang padamu?” tanyanya lagi.
Uinseann memandang aneh pada Leodore. Mendengar pertanyaan Leodore membuatnya ingat bahwa dia pikir itulah yang akan dia dapatkan jika dia tak pulang selama seminggu tanpa kabar. Ya, dulu Uinseann pikir Beyza akan marah besar atau minimal merajuk saat dia pulang. Tapi ternyata Beyza tidak melakukannya sama sekali.
“Dia… tidak marah…?” jawab Uinseann lambat, bingung harus bagaimana menjelaskannya.
“Really?” kata Leodore memastikan. Uinseann hanya mengangguk pelan.
Sejujurnya, Leodore sendiri kaget dengan jawaban Uinseann. Hal ini membuatnya sedikit penasaran kepada istri sahabatnya itu.
Uinseann kemudian menceritakan semua yang terjadi saat dia pulang kemarin. Bagaimana murkanya ayahnya saat tahu dia tak pulang dan bagaimana ayahnya mengancam Uinseann akan menarik semua saham dari perusahaannya.
Uinseann agak merasa kesal ketika menceritakan tentang ayahnya. Uinseann juga menceritakan bagaimana sikap Beyza saat dia marah padanya. Tak ada tekanan dari Beyza, tak ada perlawanan, bahkan pembelaan terhadap diri Beyza sendiri pun tak ada.
“Kau yakin istrimu yang mengadukanmu pada ayahmu?” tanya Leodore. Uinseann kembali berpikir mengenai ini. Sebenarnya dia sendiri tak yakin sekarang.
“Kau bilang bahkan selama satu minggu kau tak pulang ke rumah, dia tidak keluar rumah sama sekali?” tanya Leodore lagi.
“Bu Marni yang bilang padaku kalau dia tidak keluar rumah sama sekali. Lalu…” jawab Uinseann.
“Lalu?” Leodore.
__ADS_1
“lalu semalam dia meminta izin padaku untuk mengizinkannya keluar rumah. Saat kutanya, dia bilang dia harus berangkat bekerja…” kata Uinseann lambat-lambat.
“Oh wow. Dia benar-benar istri yang baik menurutku.” balas Leodore. Leodore mengakui semua perempuan dalam hidupnya yang dia kenal dengan baik, tidak ada satupun yang dapat bersikap seperti Beyza. Leodore tidak berpikir bahwa istri sahabatnya itu lemah, dia malah berpikir bahwa perempuan ini sangat kuat dan dapat menjaga sikapnya. Setidaknya dari apa yang diceritakan Uinseann, pandangan Leodore berubah.
Leodore bangkit kemudian mengambil cangkir Uinseann yang telah kosong. Dia kemudian berjalan untuk kembali ke ruangannya sendiri. Begitu sampai di pintu ruangan Uinseann, Leodore berbalik, memandang Uinsean dan berkata.
“Menurutku ayahmu bisa tahu tentangmu bukan karena istrimu mengadu. Ayahmu adalah orang yang memiliki ‘power’, dia bisa dengan mudah tahu semua tentangmu. Oh ya satu lagi. Kalau istrimu benar seperti yang kau ceritakan, you really are a lucky bastard (kau benar-benar si brengsek yang beruntung).” kata Leodore sebelum dia keluar ruangan Uinseann.
***
‘Just take me for the candle light dinner then (Bawa aku keluar untuk makan malam kalau begitu)’ begitulah bunyi pesan singkat yang dikirimkan Agnes pada ponsel Uinseann setelah Uinseann meminta maaf pada Agnes.
Uinseann tersenyum dan membalas dengan ‘I’d loved to (dengan senang hati)’ pada Agnes.
Uinseann benar-benar tidak betah jika ada hal yang tidak menyenangkan diantara dia dan Agnes. Dia berharap hubungannya dengan Agnes selalu baik-baik saja.
“Besok jam sepuluh pagi pihak LeBlanc akan berkunjung untuk membicarakan kontrak dengan Agnes. Jam dua siang ada beberapa talent baru yang akan mengikuti audisi.” Leodore membacakan jadwal Uinseann.
“Berapa banyak talent baru itu?” tanya Uinseann.
“Dua belas.” balas Leodore. “Produser Hariz dan Mala siap untuk menjadi selector.” kata Leodore lagi.
“Aku akan tetap ikut dalam audisi itu. Bagaimana dengan perusahaan Malathi? Kau sudah menghubunginya?” tanya Uinseann lagi. Dia sedang berusaha mengajukan beberapa sponsorship lagi untuk perusahaannya.
“Sudah. Beberapa minggu kedepan jadwal mereka sudah penuh. Mereka hanya punya waktu malam hari diluar jam kerja. Kalau kau mau, mereka menawarkan malam ini untuk diskusi.” kata Leodore. Uinseann berpikir.
“Bagaimana kalau besok malam?” tanya Uinseann lagi.
“Aku akan coba untuk membuat janji.” balas Leodore. “Oh ya, ada beberapa brand lagi yang menghubungi untuk mengajukan kontrak kerja untuk Agnes. Sudah kuseleksi dan kuambil tiga diantaranya yang punya potensi.”
“Berapa banyak total brand-nya?” Uinseann.
“Tujuh.” kata Leodore singkat.
__ADS_1
“Ambil semuanya, berikan yang empat pada Fiona dan Miata. Tawarkan mereka pada brand yang mengajukan kontrak kerja.” lanjut Uinseann. Leodore mengerti, Uinseann tampaknya ingin segera mandiri dari bantuan saham ayahnya. Leodore terdiam sejenak mendengar perintah sahabatnya, lalu
“Kau harus tetap berhati-hati.” balas Leodore mengingatkan sahabatnya itu.