
Bram kembali mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu. Di mana ia masih berseragam putih-biru. Siang itu saat pulang sekolah, Bram menunggu seorang gadis yang dia suka. Gadis itu sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Tanpa diduga, ada beberapa orang siswa yang menyeretnya sampai ke belakang gedung sekolah. Satu pukulan mendarat di wajah Bram.
Tak sampai di situ, orang itu pun membabi buta memukuli Bram. Lelaki bertubuh tambun dan berkaca mata itu pun hanya bisa pasrah. Ia tidak bisa melawan, sejak dulu memang Bram sangat penakut, pemalu, dia jarang sekali berbaur dengan yang lain. Tangan milik bocah yang memukuli Bram, mencengkeram kerah bajunya sampai lelaki yang sudah lemah itu berdiri tegak.
"Heh! Dengar ini baik-baik. Kau jauhi Ayunda! Atau aku takkan segan-segan untuk memukulmu lebih dari ini, paham!" teriak lelaki itu seraya melotot tajam.
"Aku takkan menjauhinya!" Dengan sisa tenaga Bram menjawab.
"Oh ... kau berani ya? Mau kupukuli lagi?" pekiknya, tangannya sudah mengepal di udara.
Bram tersenyum miring, membuat amarah lelaki itu memuncak. Tanpa aba-aba, dia kembali memukuli Bram. Kali ini, Bram tak tinggal diam. Dia membalas semua pukulan yang diterima. Mereka baku hantam. Kedua orang teman hanya sibuk menonton tanpa ingin memisahkan. Bram dan lelaki itu seakan mengadu kekuatan. Tak ada yang kalah dan mau mengalah.
Sampai suara lengkingan dari gadis yang mereka sukai terdengar jelas. Mereka berhenti saling pukul. Kedua bocah itu mengelap sudut bibir masing-masing. Lantas berdiri dan merapikan baju. Dilihatnya Ayunda sedang berkacak pinggang. Matanya yang bulat seakan-akan keluar dari tempatnya. Bram dan lelaki itu menelan seliva kesusahan. Mereka meyakini, bahwa sebentar lagi mereka akan dimarahi habis-habisan.
Ayunda berjalan mendekati mereka dengan napas yang memburu. Sesampainya di depan mereka, Ayunda melayangkan tatapan membunuh untuk keduanya. Sungguh, tatapan gadis cantik itu seakan dapat membunuh seseorang yang ditatapnya.
"Heh! Kalian gak malu apa? Udah gede juga masih aja berantem. Ya ampun, sampai babak belur begini? Kalian waras gak sih?" cerca Ayunda seraya menggelengkan kepalanya.
Bram dan rivalnya saling pandang. Gurat kecemasan jelas terlihat di wajah lebam mereka. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi tidak waras bukan?
"Siapa yang mulai duluan?" tanya Ayunda, nada suaranya sudah naik satu oktaf.
Kedua lelaki itu saling tunjuk, saling menyalahkan. Tak berani bersuara. Setakut itukah mereka terjadap Ayunda.
"Oh ... jadi gak ada yang mau ngaku? Biaklah, aku akan--"
"Aku yang mulai," potong lelaki itu cepat.
__ADS_1
"Apa alasannya kau memukuli Bram?"
"Aku tak suka dia dekat denganmu. Dia tak pantas untukmu, Yu. Dia jelek, gendut, apa yang bagus dari dirinya," ejeknya tanpa beban.
Bram mendelik kesal ke arahnya. Ayunda tersenyum tipis mendengar pengakuan lelaki itu. Memangnya siapa yang akan setuju kalau Bram itu tampan? Pikir Ayunda.
"Saling minta maaf! Terus kalian langsung pulang!" ujar Ayunda tegas.
Mereka hanya bisa menurut. Pesona Ayunda benar-benar membuat mereka terpikat. Keduanya saling bersalaman. Meski raut wajah keduanya saling mengajak perang. Alis mereka bertaut dan senyuman sinis tersungging dari bibir keduanya.
Lelaki itu dan kedua temannya pergi meninggalkan gedung sekolah. Ayunda mengajak Bram untuk duduk di bangku yang ada di taman sekolah. Mereka duduk berdampingan. Ayunda berlari kecil memasuki UKS. Lantas mengambil kotak kecil untuk mengobati luka Bram.
Sesampainya di taman, Ayu segera duduk dan membuka kotak kecil itu. Mengoleskan betadin ke wajah Bram. Lelaki itu meringis kecil. Jarinya ingin mengusap luka-lukanya, tetapi tatapan tajam dari Ayunda menghetikan niatnya.
"Bram ... kau laki-laki. Lawan mereka yang ingin menyakitimu. Selalu saja seperti ini. Aku yang harus kau lindungi, bukan malah sebaliknya," gurau Ayunda tertawa kecil.
****
Bram kembali tersadar dari lamunannya. Ia masih ragu untuk menceritakan hal itu kepada Ayunda. Mungkin, wanita yang ada di depannya ini takkan mengingat pria penakut macam dirinya. Ayunda duduk dengan gelisah. Menanti jawaban dari Bram.
"Aku Bramasta Atmadja, apa kau ingat nama itu?" tanya Bram tiba-tiba.
Ayunda sedikit berpikir. Mengumpulkan kembali memori ingatannya pada masa dia sekolah dulu. Ya, dia yakin kalau Bram adalah salah satu teman sekolahnya. Sebab, Ayunda tak mempunyai teman lagi selain di sekolah. Ayunda benar-benar lupa, siapa lelaki yang ada di depannya ini.
"Sudahlah, Yu. Aku sudah menduganya, kamh pasti sudah melupakan aku," ujarnya dengan nada kecewa.
"Maafkan aku ...," jawabnya lirih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Yu. Yasudah, aku pulang dulu ya. Kapan-kapan akan aku ceritakan lagi tentang diriku," pamitnya seraya beranjak dari duduknya.
Ayunda pun mengantar Bram sampai pintu depan. Lantas menutup pintu setelah mobil Bram meninggalkan garasi rumahnya. Ayunda segera memasuki kamarnya untuk beristirahat. Hari ini sungguh melelahkan.
Wanita cantik itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar. Entah mengapa ucapan Bram tarasa nyeri di hatinya. Jelas sekali kekecewaan yang ditunjukkan lelaki itu. Ayunda kembali mengingat-ngingat nama semua teman sekolahnya. Lama Ayunda memikirkan hal itu, sampai akhirnya dia tertidur pulas.
******
Sedangkan di dalam mobil, Bram terus saja berpikir. Apa sebaiknya besok dia ceritakan semuanya pada Ayunda? Gadis periang dan galak yang sudah mencuri hatinya. Namun, ada rasa takut dalam diri Bramasta. Takut Ayunda akan menolaknya seperti waktu mereka SMP dulu.
Itulah alasan kuat, mengapa sampai detik ini, Bram belum juga menikah. Padahal, sewaktu orang tuanya masih hidup, Bram sering kali diminta untuk segera mencari jodoh. Namun, Bram bersikukuh akan mencari Mudah Ayunda, hanya wanita itu yang ingin dia nikahi.
Sampai Bram meminta seseorang untuk mencari gadisnya. Setelah dapat informasi yang akurat, Bram segera mendatangi Kelab tempat Ayunda bekerja. Mata Bram berbinar bahagia. Kala melihat seseorang yang selama ini dia cari, ternyata ada di depan matanya.
Bram berjanji mulai sekarang, dia takkan melepaskan Ayunda lagi. Dia takkan kalah dengan lelaki mana pun. Semoga takdir tak mempermainkannya lagi. Dia ingat betul kejadian saat dia melihat Ayunda bersanding di pelaminan dengan orang lain.
Saat itu setelah pulang sekolah. Bram berniat memberikan coklat untuk Ayunda. Namun, sesampainya di sana, Bram mendapati rumah Ayunda penuh dengan orang-orang. Lantas, dia memberanikan diri untuk maju mendekati orang-orang tersebut. Betapa terkejutnya ia, melihat Ayunda tengah memakai kebaya putih di samping seorang pria.
Coklat yang Bram pegang terjatuh. Diinjaknya coklat itu seraya tangannya mengepal. Rasa sakit yang melebihi apa pun. Netra indahnya sudah sedikit basah. Diusianya yang sudah 17 tahun, Bram sudah sangat mengerti dengan perasaan cinta. Sejak saat itulah, Bram menjadi seseorang yang dingin terhadap wanita. Dia bertekad merubah dirinya menjadi seseorang yang tampan dan juga sukses. Agar suatu saat nanti, Ayunda bisa meliriknya sebagai seorang pria.
Terlalu lama bernostalgia, sampai Bram tidak fokus dengan kemudinya. Jalanan yang sudah cukup lenggang, membuat Bram memacu kendaraannya cukup tinggi. Sampai pada akhirnya, sebuah truk dari arah berlawanan, muncul secara tiba-tiba dengan kecepatan penuh juga.
Bram terkejut, lantas sekuat tenaga dia berusaha menghindar. Namun, takdir tak dapat dicegah. Bram membanting setirnya ke arah kanan jalan. Ya, sesuatu harus terjadi kepada Bramasta Atmadja.
Di tempat lain, Ayunda terbangun secara tiba-tiba. Keringat mengucur deras dari dahinya. Perasaannya menjadi tak tenang. Entah mengapa, bayangan wajah Bram muncul di benaknya. Ayunda berusaha menelepon lelaki itu. Namun, nomor yang dituju tidak dapat dihubungi sama sekali.
Embun bergelayut di pelupuk mata Ayunda. Wanita itu merasakan takut yang luar biasa. Takut jika esok dia takkan bertemu dengan Bram lagi. Lelaki yang sudah menarik perhatiannya.
__ADS_1