Sang Kupu-kupu Malam

Sang Kupu-kupu Malam
Bab 5


__ADS_3

Bram masih bungkam. Ayu menatapnya lamat-lamat. Bram sungguh tampan. Alis tebal, rahang yang kuat dan jambang tipis yang menghiasi wajahnya, membuat bulu kuduk Ayu meremang seketika. Wajah Ayu menjadi merona. Aneh sekali bukan?


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Bram santai.


"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?" Ayu balik bertanya.


"Sudah lah! Jangan membahas itu, Yu. Aku ingin kau menemaniku malam ini," pintanya lirih.


Ayu memalingkan wajahnya. Ada sesak yang tak mampu Ayu jelaskan. Bram hanya menganggapnya wanita penghibur. Lantas Ayu berharap apa? Bukankah itu memang profesinya? Mengapa ia merasa tersakiti oleh ucapan Bram yang meminta menemaninya malam ini.


Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Beribu pertanyaan muncul di benak Ayu. Tentang siapa Bram sebenarnya? Ayu meyakini kalau Bram seseorang yang mengenal dirinya. Tak dapat Ayu pungkiri, kelembutan dan perhatian lelaki itu menumbuhkan sesuatu dalam hati Ayu.


Sesuatu yang telah Ayu bunuh dan dikubur dalam-dalam. Tidak! Dia tidak boleh mengenal cinta lagi. Sejak sepuluh tahun lalu, baginya cinta itu sudah lama mati dan takkan tumbuh lagi. Sepertinya Ayu harus menghilang dari pandangan Bram.


"Sudah sampai, Yu. Ayok kita turun!" ajak Bram membuyarkan lamunan Ayunda.


Ayu segera membuka seltbelt, lantas membuka pintu dan segera turun. Wanita itu melenggang sendiri tanpa menunggu Bram. Setiap mata lelaki yang memandang, begitu terpesona.


Bahkan, mereka mulai untuk medekat. Serupa gula yang dikerubuni semut. Lelaki penebar birahi itu saling dorong untuk dapat menggapai lengan putih nan mulus milik Ayu. Aroma parfum yang semakin membangkitkan gairah mereka menyeruak ke indera penciuman.


Ayu acuh saja. Sebab, siapa yang tak berani membayar mahal, jangan harap bisa tidur dengannya malam ini. Ayu duduk di salah satu kursi. Menyalakan sebatang rokok. Bram duduk di sampingnya seraya menekuk wajah. Lelaki itu terlihat kesal.


"Mulai detik ini, kau tak boleh melayani laki-laki mana pun!" ucapnya tegas.


Kedua tangannya menangkup wajah Ayu. Manik wanita itu membulat sempurna, menatap Bram. Mencoba mencari keseriusan di sana. Sungguh lelaki ini tak dapat ditebak apa maksudnya.


"Lepaskan tanganmu!" sentak Ayu, lantas menurunkan tangan Bram.


"Kau dengar aku kan? Aku tidak suka penolakan, Mudah!" pekiknya seraya memalingkan wajah.


"Aku tidak suka paksaan!"


Bram tak lagi menjawab perkataan Ayu. Lelaki itu memanggil waiters dan meminta sebotol wine. Diteguknya kasar minuman itu. Tanpa henti Bram terus saja meminum.


Netra coklatnya menatap tajam ke arah Ayunda yang sedang berjoged ria dengan para lelaki. Bram sudah naik pitam, ditambah dengan kesadarannya yang mulai hilang. Lelaki itu beranjak dari duduknya, dengan langkah sempoyongan Bram menghampiri Ayu. 


Memeluk tubuh seksi itu, mendaratkan bibirnya ke bibir Ayu. ********** kasar. Ayunda tak dapat mengimbangi permainan Bram. Lelaki itu menjamah tubuh Ayu dengan penuh gelora. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi baju Ayu.


"Mengapa sakit sekali rasanya diperlakukan seperti ini oleh Bram?" jerit batin Ayu.

__ADS_1


Setelah mengetahui Ayu kehabisan oksigen, Bram melepaskan ciumannya. Lelaki itu merasa terenyuh sekaligus merasa bersalah, kala melihat embun yang sudah menggenang di pelupuk mata Ayunda.


"Ikut aku sekarang!" ajak Bram seraya menyeret Ayunda menjauhi kerumunan.


Bagaikan terdapat magnet dalam diri Ayu. Dia begitu menempel dan pasrah saja. Bagin Ayunda, ke mana pun Bram mengajaknya pergi di sana lah dia merasa nyaman dan terlindungi.


Biar saja untuk malam ini, Ayunda merasakan apa itu 'bucin' seperti yang sering dia dengar dari anak gadisnya. Biarkan dia egois untuk malam ini saja. Bram berjalan cepat menuju kamar yang sering dia sewa. Ruangan yang memiliki fasilitas VIP itu menjadi tempat untuk Bram dan Ayu menumpahkan  segala rasa.


Ayu masih mematung di dekat ranjang. Menatap Bram yang ada di hadapannya tanpa berkedip. Langkah kaki Bram mendekat ke arahnya. Mengikis jarak di antara mereka. Rasa yang telah susah payah Ayu kubur, kini bangkit kembali.


Bram menatap Ayunda lamat-lamat. Sungguh sedari dulu, Bram sangat mengagumi wajah cantik Mudah Ayunda. Tanpa diduga, lelaki itu menyatukan keningnya dengan kening Ayu. Merasakan setiap debaran di hatinya. Ayu dan Bram memejamkan mata mereka. Rasa yang mereka tepis kuat-kuat, kini membuncah tak tertahankan.


Ayu merasakan bahwa di masa lampau ia pernah sangat dekat dengan lelaki ini. Tak pernah Ayu terbuai dengan segala perlakuan manis para 'buaya' yang mendekatinya. Namun, berbeda dengan Bram. Pria yang menjamah tubuhnya dengan penuh cinta. Menyiram hatinya yang telah lama kering, kini terasa sejuk semenjak malam itu.


"Jangan seperti tadi lagi, Mudah!" ucapnya parau.


"Itu memang resiko dari pekerjaanku," sahutnya cepat.


Bram mengangkat wajahnya. Dia tak berkutik mendapatkan jawaban dari Ayunda. Memang benar bukan itu adalah resiko dari pekerjaannya? Lantas Bram bisa apa? Dia bukan siapa-siapa Ayunda. Tidak punya hak apa pun.


"Puaskan aku malam ini, Ayu."


Wanita itu hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum. Lantas mereka menanggalkan pakaian. Entah siapa yang memulai, kini mereka saling berpagut. Napas yang sudah memburu, menandakan bahwa mereka telah terkuasai oleh birahi. Jika di luar sana sudah sangat dingin dan sepi. Namun, tidak dengan kamar ini. Mereka melebur menjadi satu untuk kedua kalinya dan entah sampai kapan.


Cahaya matahari sudah menerobos melalui celah-celah jendela. Mereka masih terlelap dengan keadaan tanpa busana. Usai permainan yang dilakukan berulang kali, membuat mereka begitu kelelahan. Gawai Ayu berdering sedari tadi. Namun, wanita itu tak kunjung bangun. Sampai sudah berkali-kali berdering, barulah Ayu mengerjapkan matanya. Tangannya meraih ponsel yang berada di atas nakas.


Matanya membulat sempurna melihat jam yang menunjukkan sembilan pagi. Lebih terkejut lagi saat tahu yang menelepon adalah wali kelas putrinya. Ayu segera bangun lantas duduk bersandar ke kepala ranjang.


"Hallo, selamat pagi, Bu," sapa seseorang di seberang sana.


"Hallo, Bu. Ada apa ya, menelepon pagi-pagi? Apa anak saya melakukan kesalahan?" tanya Ayunda tak sabaran.


"Sebaiknya Ibu Ayunda datang ke sekolah. Nanti saya jelaskan di sini, Bu."


"Baiklah, Bu. Sebentar lagi saya akan datang ke sana."


Ayunda mengakhiri telepon dengan guru Agni. Perasaan wanita itu menjadi tak tenang. Belum pernah ia dipanggil pihak sekolah. Dia tahu betul sifat dan sikap putrinya. Tak mungkin jika dia panggil perihal Agni yang memukuli temannya atau membully. Ya, semoga saja bukan tentang hal itu.


*******

__ADS_1


Di dalam mobil Ayu terlihat gelisah. Dia tak bergeming. Jemarinya saling meremas. Sesekali Bram menolehnya. Pria itu tahu apa yang dirasakan oleh Ayunda. Ya, meskipun dia belum menikah dan memiliki anak. Ingin sekali rasanya Bram menenangkan Ayu, tetapi ia bingung harus berbuat apa.


"Kamu tenang aja, Mudah. Anakmu pasti baik-baik saja," ujar Bram mencoba menenangkan.


"Bukan itu masalahnya. Aku takut, Agni melakukan hal yang tidak-tidak pada temannya. Selama dia sekolah, baru kali ini aku dipanggil oleh wali kelasnya." Tangannya memijat pelipis. Kepalanya sudah terasa berdenyut.


"Kamu harus percaya sama anak kamu! Kalau pun memang anak kamu yang bersalah, kamu jangan memarahinya. Berikan dia pengertian dan tanya secara baik-baik. Anak seusia Agni emosinya masih labil," nasihat Bram panjang lebar.


Ayunda menoleh ke arah Bram. Betapa dia mempunyai pikiran sedewasa itu. Jiwa kebapak-annya begitu terlihat. Beruntung sekali yang menjadi istri dari Bram, apalagi yang menjadi anaknya, begitu yang muncul di benak Ayu.


"Sayang sekali kau sering ke Kelab dan tidur dengan wanita penghibur macam diriku, Bram," batin Ayunda.


Tak terasa mereka telah sampai di sekolah Agni. Ayu segera turun dari mobil tanpa mempedulikan Bram. Lelaki itu mengekor di belakang Ayunda. Jantung yang semakin berpacu dengan cepat, membuat langkah Ayu semakin panjang. Rasanya ingin sekali ia cepat sampai ke ruang guru BK Agni.


Sesampainya di depan pintu, Ayu malah terdiam. Mengatur napas dan menetralkan perasaan gugupnya. Bram berdiri di samping Mudah. Meraih jemarinya lantas menggenggamnya erat. Memberikan kekuatan melalui itu. Ayunda tersenyum kecil seraya menoleh ke arah Bram.


Ayu memberanikan diri mengetuk pintu. Tak lama terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Wanita itu segera memutar kenop pintu lantas melangkah bersama Bram.


"Selamat pagi, Bu," sapa Ayunda.


"Selamat pagi, Bu. Silakan duduk!" Tangannya mempersilakan ke kursi yang berada di hadapannya.


Ayunda dan Bram sudah duduk dengan manis dan berusaha untuk tenang.


"Maaf, Bu, kalau saya boleh tahu, ada apa ya dengan Agni-putri saya? Apa dia berkelahi dengan temannya?" tanya Ayunda tepat sasaran.


"Benar, Bu. Agni telah mendorong salah satu teman kelasnya, sehingga terluka dibagian tangannya. Saya sudah memanggil mereka untuk menjelaskan semuanya. Namun, mereka bungkam dan saling menyalahkan." Tangannya membetulkan letak kaca matanya.


"Saya harap Ibu bisa menanyakan hal ini dan lebih dekat dengan Agni. Sebenarnya, Agni selama sekolah tidak pernah berbaur dengan siswa lainnya. Dia selalu menyendiri, padahal dia salah satu siswa cerdas di sekolah ini. Maaf, Bu, bukan saya ikut campur. Namun, ada baiknya Ibu mendekatkan diri dengan Agni," lanjutnya menjelaskan.


Ayunda merasa tertampar dengan ucapan guru putrinya tersebut. Sebab, selama ini dia memang jaran sekali memiliki waktu berdua dengan putrinya. Jika waktu pagi datang,


Ayunda akan tidur sampai siang. Terkadang, dari sore hari selalu ada pelanggan yang menyewa jasanya. Entah untuk pergi jalan-jalan atau sekadar menemani minum di sebuah Villa atau hotel.


Setelah perbincangan dengan guru BK selesai, Ayunda dan Bram pamit undur diri. Wajah wanita itu menjadui pucat pasi. Warna lipstik yang menghiasi bibir mungilnya seakan pudar begitu saja. Bram merangkul pundak Ayunda. Memberikan seulas senyum agar wanita itu tak lagi gelisah.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada putriku? Tuhan ... apa aku masih pantas disebut ibu?" jerit hati Ayunda.


******

__ADS_1


Kira-kira Agni kenapa ya? 😅


Terima kasih untuk kalian yang sudah baca karyaku dan meninggalkan jejak berupa like dan komentar 😊 peluk jauh dari Author 🤗


__ADS_2