Sang Kupu-kupu Malam

Sang Kupu-kupu Malam
Bab 4


__ADS_3

Jam menunjukkan sembilan pagi. Ayu masih saja bergeming di tempat tidur. Rasa lelah, muak dan sedih bercampur menjadi satu. Kantuk sudah hinggap sedari tadi.


Namun, wanita cantik itu masih sulit untuk memejamkan matanya. Dia masih terus memikirkan ucapan Agni. Bagaimana perasaan anak gadisnya selama ini? Apakah tersiksa seperti yang dia rasakan? Ayu menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang.


Memejamkan matanya, setetes air mata jatuh membasahi bajunya. Dadanya terasa sesak. Tak ada yang lebih menyakitkan dari ini selain melihat air mata yang jatuh dari netra indah putrinya. Ayu tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini. Meski pun ini sebuah dosa besar, kotor dan hina, biarlah.


Toh semenjak dia memutuskan untuk mengambil jalan pintas ini, dia sudah tahu resiko apa yang akan dia hadapi di kemudian hari. Ayu membuka kembali matanya. Sekelebat wajah tampan pria itu menghantui dirinya. Ada yang berbeda dari lelaki itu. Entah apa. Ucapan lelaki yang bernama Bram itu masih terngiang di telinga Ayu.


*****


Flash back


Di dalam mobil keheningan menyeruak di antara mereka. Ayu setia dengan segala lamunanya. Pun dengan Bram. Lelaki itu merasa sulit sekali berucap kala di dekat Ayu. 


Wanita yang berhasil mencuri perhatiannya. Di usianya yang sudah 35 tahun, Bram masih betah hidup sendiri. Sudah berapa puluh kali orang tuanya memintanya untuk segera menikah. Entah lah, dia masih enggan untuk membuka hati.


"Loh, kok kamu tahu jalan menuju ke rumahku? Bukan kah aku belum memberitahumu," tanya Ayu seraya menoleh ke arah Bram.


Wanita itu menyadari kalau Bram sepertinya sangat hafal jalan menuju rumahnya. Sebab, sedari tadi Bram tidak salah belok jika ada pertigaan. Lelaki itu tersenyum seraya menoleh ke arah Ayu.


"Aku tahu semua tentangmu, Yu. Aku hebat bukan? Bisa mengetahui segalanya meski pun kita baru bertemu semalam," sahutnya ringan.


"Apa yang kau tahu tentang diriku?" tuntut Ayu. Wanita itu benar-benar merasa aneh dengan sikap Bram.


"Sudah kubilang segalanya. Jangan bertanya apa pun lagi!" ucapnya tegas. Mereka terdiam.


Tak ada yang memulai percakapan lagi. Ayu larut dalam perasaannya. Merasa ada yang janggal dengan diri Bram. Bagaimana mungkin lelaki itu tahu segalanya? Padahal mereka baru saja bertemu.


******


Ayu meraih kembali kesadarannya saat gawainya bergetar. Diambilnya benda itu yang  berada di atas nakas. Dilihatnya ada pesan yang masuk dari nomor tak dikenal. Ayu mengeryitkan dahinya seraya berpikir keras. Siapa yang mengirim pesan padanya. Lantas Ayu membuka pesan tersebut.


"Nanti malam aku tunggu di Kelab," isi pesan tersebut. Ayu tak membalasnya.

__ADS_1


Biarlah nanti dia juga akan tahu siapa yang mengajaknya bertemu. Lebih tepatnya siapa yang akan menggunakan jasanya nanti malam. Ayu beranjak dari ranjangnya. Membuka laci yang berada di samping tempat tidur.


Meminum vitamin agar kondisinya kembali fit. Dia sudah tua, staminanya benar-benar sudah berkurang. Maka dari itu, Ayu dan Marta rutin pergi ke dokter untuk berkonsultasi sekaligus membeli pil kontrasepsi. Betapa tersiksanya mereka selama ini.


Harus menjaga kesehatan, kecantikan dan bentuk tubuh agar para lelaki bejad itu melirik mereka. Ayu kembali ke atas ranjang. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah. Setiap kali tertidur, Ayu selalu berharap ini hanyalah mimpi buruknya dan ketika dia tebangun semua akan kembali baik-baik saja.


Suami yang selalu bersikap hangat, Agni yang selalu ceria dan dirinya yang selalu tersenyum manis. Hari-hari di mana dia disibukkan hanya mengurus rumah, suami dan anaknya. Bukan menjalani kehidupan yang gelap dan kotor seperti ini. 


Sebab terlalu lelah,  perlahan mata Ayu menutup rapat. Dengkuran halus keluar dari mulutnya. Wanita itu meringkuk dibalik selimut. Semoga kehidupan indah segera menghampirinya. Doa yang tak pernah berubah sedari dulu.


*******


#Sang Kupu-kupu Malam


#Part 6


Di kamar yang bercat biru langi itu, dan beberapa hiasan yang menghiasi dinding kamar. Mudah Ayunda-sang pemilik kamar sedang mematut dirinya di cermin. Raut wajahnya datar, berkali-kali dia mengembuskan napas pelan. Ini sungguh memuakkan. Setiap malam, dia harus memakai pakaian yang terbuka dan hight heels yang menyakiti tumit kakinya. Jangan lupakan wajahnya yang sudah cantik itu harus diberi sedikit sentuhan make up.


Meski sudah sepuluh tahun lamanya ia menjalani profesi ini, tetapi setiap akan berangkat ke Kelab, wajah Ayu akan datar atau mendung seperti itu. Dia akan lama berdiri di depan cermin untuk berlatih tersenyum. Ya, senyuman menggoda tentunya.


Ayu segera mengambil tas yang sudah dia siapkan di atas ranjang. Lantas berjalan dengan begitu anggunnya. Kali ini dia takkan berpamitan pada putrinya. Luka Agni masih menganga dan basah. Biarlah dia berangkat tanpa diketahui gadis itu. Jika dia berpamitan, maka Ayu serupa menaburkan garam pada luka anaknya.


Ayu mengunci pintu lalu berjalan ke arah gerbang. Menunggu taxi yang akan melintasi rumahnya. Samar-samar Ayu melihat mobil yang menuju ke arahnya dan tepat berhenti di depannya.


"Kau!" ucap Ayu terkejut saat seseorang dari dalam menurunkan kaca mobilnya.


"Mengapa kau melotot seperti itu? Aku bukan hantu. Kau tak lihat kalau aku sudah sangat tampan seperti ini?" guraunya tersenyum kecil. Bram keluar dari mobil mewahnya lantas berjalan menghampiri Ayu.


"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya ketus.


"Kenapa memangnya? Kenapa kau tak membalas pesanku?" Bram ganti bertanya.


Kini Ayunda tahu siapa pemilik nomor itu. Ternyata lelaki yang sudah berhasil menelusup ke celah-celah hati Ayu. Jantung Ayu berdetak lebih kencang saat Bram merapatkan tubuhnya. Tanpa sadar, jemari Ayu sudah basah karena keringat dingin. Aroma maskulin dari tubuh Bram benar-benar membuat darah Ayu berdesir hebat.

__ADS_1


"Sadar Ayu! Dia tak lebih dari lelaki bejad yang hanya memandang rendah wanita sepertimu," batin Ayu mengingatkan.


Tangan Bram merapikan anak rambut Ayu yang tertiup angin. Hangat napas keduanya menerpa wajah mereka. Ada seulas senyum yang Ayu lihat. Jemari Bram masih betah bermain-main dengan rambut Ayu.


"Apa kau tidak kedinginan?" tanyanya tiba-tiba.


"Aku--aku sudah biasa seperti ini. Bahkan kau pasti sering melihat wanita yang lebih sexi dariku," sahutnya dengan gugup.


"Bahkan, kau pasti sering menci--"


"Jangan sok tahu!" potong Bram cepat. Lelaki itu menghentikan aktivitas jemarinya. Lantas meraih jemari Ayu untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam mobil.


Mereka memasuki mobil. Bram segera melajukan mobilnya, memecah jalanan yang sudah cukup lenggang. Mungkin sebagian orang sedang mengatur posisi untuk tidur. Namun, pada jam menuju tengah malam ini, Ayu harus bergegas keluar untuk mencari rezeki. Ya, meskipun cara yang dia pakai salah adanya. Ayu tak peduli! Dia seorang ibu yang harus bekerja keras untuk masa depan putrinya.


Baginya tak ada yang lebih penting selain masa depan Agni. Dia tak ingin Agni menjadi wanita bodoh sepertinya. Dulu, pada usia tujuhbelas tahun, orang tua Ayu menikahkannya pada lelaki berengsek itu. Lelaki yang mampu memporak-porandakan hati dan hidupnya. Sejak orang tua Ayu meninggal dunia, ayah Agni menjadi berubah sikap. Tak jarang sebuah tamparan mendarat di pipi Ayu. Wanita itu hanya bisa terisak, tak ada tempatnya untuk berlindung.


"Kenapa kau melamun saja, Mudah?" Tangannya menyentuh lengan Ayu.


Wanita itu terhenyak dari lamunanya. Sesuatu mengusik hatinya saat mendengar nama Mudah keluar dari bibir Bram. Tak banyak orang yang tahu tentang nama aslinya. Lelaki ini benar-benar misteri bagi Ayu.


"Siapa kau?" sentak Ayu.


"Aku Bram. Kau sudah tahu bukan?" jawabnya ringan.


"Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti tahu maksudku," sindir Ayu.


Lelaki itu terkekeh, sampai sebelah telapak tangannya menutupi mulutnya. Ayu mengernyitkan dahinya.


"Ada apa dengan dia? Apa dia sudah gila?" tanya batin Ayu.


"Aku adalah ...." ucap Bram menggantung. Dada Ayu semakin berdebar. Menunggu kata selanjutnya dari lelaki yang aneh itu.


*****

__ADS_1


Hayo, Bram itu siapa? 😅


Mohon dukungannya Readers 😊 Like, komen dan juga vote ya 🤗


__ADS_2