Sang Kupu-kupu Malam

Sang Kupu-kupu Malam
Episode 6


__ADS_3

Malam yang begitu hening. Marta, Ayu dan Agni sedang menikmati makan malam. Sedari pulang sekolah, gadis itu mengurung diri di kamar. Ayunda sudah berusaha untuk sabar dan mengulur waktu untuk bertanya pada putrinya perihal kejadian di sekolah tadi pagi.


Marta pun tahu apa yang terjadi. Baginya, Agni adalah putrinya juga. Marta dan Ayunda sudah berdiskusi tentang langkah apa yang harus mereka lakukan untuk Agni. Kedua wanita itu sepakat akan menanyakannya dari hati ke hati. Perkataan guru BK tadi benar, Ayunda harus lebih dekat dengan gadis yang menginjak dewasa itu.


"Agni, nanti temani Ibu jalan-jalan ke taman ya! Ibu rindu sekali makan bakso bakar yang ada di sana. Sewaktu kecil kamu sangat suka sekali makanan itu," ucap Ayunda riang.


Gadis itu menghentikan aktivitas makannya. Menatap ibunya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ayunda dan Marta saling pandang. Kini, giliran Marta yang berbicara.


"Sayang ... kok diam saja? Kamu mau kan temani Ibu? Nanti jangan lupa beli bakso bakar buat Tante, ya!"


Gadis itu masih diam seribu bahasa. Ayunda dan Marta menelan seliva kesusahan. Sepertinya apa yang ada dalam benak mereka sama, yakni gagal!


"Kenapa Ibu tiba-tiba ingin jalan-jalan? Biasanya Ibu akan sibuk dengan para pria berengsek itu!" sindir Agni.


Seperti jantungnya tertancap belati. Lebih dari sakit. Ayunda merasakan itu. Ucapan putrinya begitu menyayat hatinya. Marta terkejut dengan ucapan Agni. Gadis polos dan pendiam itu bisa berkata yang mampu menciptakan rinai gerimis di pipi ibunya.


"Agni! Kamu tak boleh berkata seperti itu pada Ibumu! Dia itu hanya--"


"Sudahlah, Marta ...." potong Ayunda cepat.


Disekanya ujung mata yang sudah basah. Bibirnya sudah bergetar. Ayunda bingung harus menjawab apa. Bukankah yang dikatakan Agni itu benar? Selama ini dia hanya sibuk melayani pria bedebah itu.


"Sayang ... kalau kamu tidak mau pun tidak apa-apa. Kamu istirahat saja, Ibu juga akan beristirahat," ucapnya lirih.


Agni terdiam sesaat. Menyesali ucapan yang telah terlontar dari mulutnya. Lidah memang bisa lebih tajam dari pisau. Gadis itu beranjak dari duduknya.


"Agni tunggu di teras, Bu. Sekarang Agni akan mengambil jaket dulu ke kamar," ujarnya seraya berlalu pergi.


Seulas senyum tersungging di bibir Ayunda. Sahabatnya begitu senang melihat Ayu kembali akur dengan putrinya. Kedua wanita itu saling berpelukan.


"Ingat ya, Yu, kamu jangan terbawa emosi. Agni masih labil, emosinya masih naik turun," wejangan dari Marta.


"Iya, Mar. Buktinya aku tadi diam saja, malah kau yang marah," gurau Ayunda tertawa.


Marta pun ikut tertawa. Sesederhana itu kebahagiaan mereka. Saling menyayangi, melengkapi dan mengerti. Sungguh, beruntungnya lelaki yang mendapatkan kedua wanita itu. Mereka telah menjadi sosok wanita tangguh, penyayang dan penyabar. Hanya saja, mereka sudah masuk ke dalam lembah hitam yang entah kapan mereka bisa keluar. Mungkin jika ada lelaki yang mau menikahi mereka. Hah! Menikah? Bahkan kata itu mereka kubur dalam-dalam.


Sekuat hati Marta dan Ayunda menepis segala rasa yang tiba-tiba hadir dalam hati. Membuat benteng pertahanan agar mereka tak jatuh cinta. Namun, kenyataannya cinta mampu menggoyahkan pertahanan Mudah Ayunda. Sosok Bram begitu kuat mengguncang pertahanan Ayu yang begitu kokoh. Sehingga kini, wanita itu terjebak di dalamnya.


******

__ADS_1


Di taman dekat kompleks rumah, Agni dan Ayunda tengah menikmati udara dingin dalam keremangan cahaya lampu taman. Ibu dan anak itu duduk di kursi yang menghadap ke kolam kecil. Beberapa pasangan muda-mudi tengah asyik bersenda gurau. Tak jarang obrolan mereka terdengar ke telinga Ayunda dan Agni.


Beberapa tusuk bakso bakar menemani malam mereka. Pandangan kosong ke depan. Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Banyak kata yang ingin mereka ungkapkan, tetapi bingung harus memulai dari mana. Berkali-kali Ayunda mengembuskan napas berat.


"Agni ... apa Ibu boleh tahu, apa yang terjadi tadi pagi di sekolah?" tanya Ayunda hati-hati.


Gadis itu menoleh ke arah Ibunya. Menatap lamat-lamat. Ada luka yang mendalam, Agni tahu itu, pun dengan dirinya. Ada luka yang menganga dalam hatinya. Hinaan dan cacian dari teman-temannya masih terngiang ditelinganya.


"Berhentilah dari pekerjaan kotor itu, Bu!" Agni mengalihkan pandangannya ke depan.


Ayunda terdiam. Jika saja dia punya pendidikan tinggi atau keahlian khusus, mungkin sejaka dulu dia akan meninggalkan dunia malam yang berhasil menenggelamkannya.


"Agni ... apa kamu membenci Ibu?" tanyanya lirih.


Gadis itu memejamkan matanya. Pertanyaan ibunya begitu menghunjam jantungnya. Gadis itu terisak pilu, pun dengan Ayunda.


Kejadian tadi pagi, menari-nari di benak Agni.


*****


Agni teringat kembali kejadian tadi pagi. Saat dia akan memasuki kelas, tetiba ada tiga orang siswi yang menghadangnya. Menyeret lantas menyudutkan Agni di dinding. Gadis pendiam itu hanya bisa merintih saat tangannya dicekal begitu kencang.


"Kamu salah paham. Aku tak pernah berniat merebut Arbani dari kamu. Kemarin dia--"


"Halah, mana ada maling ngaku!" potongnya cepat.


Jemari lembut itu beralih pada pipi Agni. Mencengkeram rahang Agni kuat-kuat. Gadis itu sudah banjir air mata. Perih dan sakit bercampur menjadi satu.


"Guys, enaknya kita apain bocah ini?" tanyanya pada kedua temannya. Mereka mengetukkan jari ke kening, berpikir keras.


"Kita kunci dia di toilet pria," usulan pertama datang dari wanita yang berambut ikal.


"Jangan! Terlalu biasa. Gimana kalau kita ...." imbuh teman yang satunya lagi.


Lantas membisikkan sesuatu ke telinga si gadis yang mengaku pacar Arbani tersebut. Agni berdoa dalam hati, semoga Tuhan menolongnya. Kakinya sudah lemas sebab terlalu lama berdiri. Belum lagi rasa perih dari kuku yang menancap di pipinya.


"Bagus juga idenya. Kita telanjangi dia! Kau seperti ibumu yang ****** itu!" hinanya diserati tawa yang menggelegar memenuhi koridor gedung.


Agni menggeratakkan giginya. Tangannya mengepal. Tak apa jika dirinya yang dihina asal jangan ibunya. Wanita yang dengan rela mengorbankan harga dirinya demi membuat dia menikmati fasilitas seperti sekarang ini. Ponsel pintar keluaran terbaru, bisa makan enak, di sekolahkan di sekolah favorit dan bisa membeli apa pun sesuka hatinya.

__ADS_1


Entah kekuatan dari mana, Agni mendorong keras tubuh gadis yang melukainya hingga tersungkur. Gadis itu menatap tajam ke arah Agni. Tak gentar, Agni pun melayangkan tatapan membunuh padanya.


"Dengar ya, Fay! Aku tak apa jika kau hina, asal jangan ibuku. Kau tak tahu apa-apa tentang hidup kami!" pekik Agni lantas berlalu pergi.


Sepanjang perjalanan menuju kelas, air mata Agni lolos begitu saja. Dadanya begitu sesak, ingin sekali dia berteriak sekencang-kencangnya. Tak sengaja dia berpapasan dengan Arbani.


Lelaki itu meraih lengan Agni untuk menghentikan langkah gadis itu. Mereka beradu tatap. Mata teduh Arbani, senyuman manisnya, Agni begitu suka. Mungkin bukan hanya Agni atau Fay yang menyukai Arbani. Semua siswi pasti akan jatuh hati melihat makhluk manis seperti Arbani.


"Kamu kenapa?" tanya Arbani lembut.


"Aku gak apa-apa!" sahutnya ketus.


"Kok, kamu nangis? Siapa yang jahatin kamu?" desaknya seraya mengguncang bahu Agni pelan.


"Aku--"


"Agni! Kamu dipanggil guru BK. Cepat ke sana sekarang!" teriak seorang siswa.


Agni dan Arbani saling pandang. Lelaki itu seakan meminta jawaban dari gadis di depannya.


Namun, Agni tak memberikan penjelesan. Gadis itu segera berlari kecil menuju ruang BK. Di ruangan itu, telah duduk Fay dan kedua temannya. Agni masih sangat kesal melihat gadis bar-bar itu. Setelah duduk di samping Fay, guru BK mulai menginterogasi mereka.


"Agni, apa benar kamu telah mendorong Fay sampai jatuh dan terluka?" tanya guru BK serius.


"Iya, saya memang melakukan hal itu. Namun, ada alasan kuat, kenapa saya melakukan itu."


Guru itu beralih menatap Fay. Gadis itu berpura-pura merintih dan menangis. Agni begitu geram melihat drama Fay.


"Apa alasannya?"


"Saya tidak ingin menjelaskan. Maafkan saya," ucapnya penuh sesal.


Agni tak ingin orang lain mengetahui pekerjaan ibunya. Bukan dia malu. Namun, dia tak ingin ada orang seperti Fay yang menghina ibunya.


Bahkan bagi Agni, Ayunda adalah sosok ibu terbaik di dunia ini. Guru BK beralih menatap Fay. Menanyakan beberapa hal kepada gadis itu. Fay juga enggan untuk menjelaskan.


Sehingga guru itu menyerah saja. Anak-anak ini benar-benar menguras emosinya. Sesekali matanya menangkap perang dingin antara Fay dan Agni. Kedua gadis itu saling menatap tajam. Terkadang bibir mereka mengucapkan sesuatu yang entah apa.


"Bersihkan semua toilet yang ada di sekolah ini! Sebelum tugas kalian selesai, kalian tidak boleh pulang."

__ADS_1


keempat siswi itu hanya bisa pasrah. memang ini yang pantas mereka dapatkan. sebuah hukuman dari kesalahan yang mereka buat.


__ADS_2