Sang Kupu-kupu Malam

Sang Kupu-kupu Malam
Bab 2


__ADS_3

Ayu segera menuju dapur untuk mengambil dua gelas air putih. Marta tak henti menatap gadis cantik yang tengah tersedu itu. Hatinya merasa nyeri melihat bulir bening yang tak hentinya terjatuh.


"Ini di minum dulu, Mar. Maaf, aku hanya bisa menyuguhkan segelas air putih saja." Ujarnya penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Yu. Oh iya, Yu, itu anak kamu? Kenapa dia menangis seperti itu?" tanya Marta lirih. Manik wanita itu sudah berembun.


"Dia putriku, Mar. Dia ...."


Ayu tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa tercekik saat akan menjelaskan pada Marta.


"Sini, Sayang. Tante punya sesuatu buat kamu," panggil Marta pada Agni.


Gadis kecil itu segera beranjak dari kursi lantas menghampiri Marta. Direngkuhnya gadis kecil yang sedang sendu itu. Marta memangkunya lalu mendudukannya di pangkuannya. Gadis kecil itu tersenyum hangat.


"Ini, Tante punya coklat buat kamu. Dimakan ya? Ini enak lho," ucap Marta lembut.


"Terima kasih, Tante. Agni lapar, apa Tante punya makanan selain coklat?" tanya Agni polos.

__ADS_1


Marta membulatkan matanya sempurna. Hati Ayu terasa tercabik-cabik mendengar ucapan putrinya.


Air matanya luruh seketika.  Marta menoleh ke arah ibu dari anak tersebut. Wanita itu menundukkan kepalanya seraya tersedu. Pun dengan perasaan Marta. Hati wanita itu bagai tertancap belati tak kasat mata.


Agni-gadis kecil yang seharusnya mendapatkan asupan gizi yang banyak, tetapi keadaannya memaksa untuk dia berpuasa. Entah perasaan apa yang menyelimuti perasaan Marta. Manik wanita itu menganak sungai.


"Sayang, kamu belum makan?" tanya Marta seraya mengusap lembut kepala Agni.


"Iya, Tante. Aku makan kemarin sore. Ibu mengatakan tidak punya uang untuk membeli makanan," papar bocah polos itu.


"Kamu ke kamar dulu ya! Nanti Tante akan ajak kamu makan enak di restoran. Tante mau bicara dulu sama ibu kamu," pintanya dengan lembut.


"Ayu ... kenapa hidupmu seperti ini? Maafkan aku yang datang terlambat. Aku memang bukan teman yang baik untukmu," ucapnya lirih. Marta terisak di tempatnya.


"Tidak, Marta! Kamu teman paling baik di dunia ini. Mungkin, ini sudah guratan takdirku." Disela isaknya Ayu menjawab.


"Sekarang, bersiaplah, Yu. Kita pergi jalan-jalan. Kasihan anakmu kelaparan. Oh iya, mulai sekarang kamu harus ikut denganku!" ucap Marta tegas.

__ADS_1


Ayu mengangkat wajahnya. Menatap netra coklat itu. Ada ketulusan di sana. Ayu bisa merasakannya. Memang, sedari dulu, Marta lah yang paling peduli padanya. Ayu mengangguk patuh, lantas menyiapkan dirinya dan Agni untuk ikut bersama Marta.


******


Suara serak dari lelaki di sampingnya membuyarkan semua lamunan Ayu. Lelaki itu memeluk tubuh polosnya. Sepertinya akan ada 'permainan' lagi yang mengaharuskan Ayu untuk segera bersiap. Lelaki itu semakin menelusupkan kepalanya ke **** Ayu. Wanita itu menghapus air matanya kasar.


"Kau kenapa?" tanya lelaki itu.


Ayu terperanjat, baru kali ini ada seseorang yang menanyakan tentang keadaannya. Biasanya, ketika dia sedang menangisi nasibnya, lelaki yang membayarnya akan menyuruhnya untuk berhenti menangis. Tak jarang tangan mereka dengan mudahnya menampar pipi mulus Ayu.


"Aku tidak apa-apa!" sahutnya datar.


Pria itu bangun dari posisinya. Menatap manik milik Ayu. Ada luka yang mendalam, dia bisa merasakannya. Lelaki itu merasa tersentuh hatinya. Dia ingin sekali mengusap kepala wanita yang telah memberinya kenikmatan itu. Memeluknya erat dan memberikannya kekuatan. Ini sungguh aneh bukan?


"Kemarilah! Menangislah agar semua beban yang ada di hatimu berkurang," titahnya seraya merentangkan kedua tangannya. Ayu terdiam seketika.


Lelaki ini begitu lembut. Bahkan saat mereka bergumul dalam satu selimut pun pria ini memperlakukannya layaknya seorang manusia. Menjamah tubuhnya dengan kehati-hatian. Ayu merasa sedang bercumbu dengan seseorang yang mencintainya.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja? Kemarilah!" ucapnya lagi. Ragu-ragu Ayu mendekat.


__ADS_2