
Agni mengkahiri ceritanya, matanya sudah memerah dan sembab. Ingin sekali dia merobek mulut kotor Fay. Meskipun ibunya memang wanita penghibur, tetapi Fay tak berhak menghina ibunya.
Ayunda tersedu di samping putrinya. Apa yang dialami Agni ternyata karena dirinya. Dia merasa menjadi ibu paling jahat di dunia ini. Demi menghasilkan uang, ia rela menjual harga dirinya.
Tak memikirkan perasaan putrinya. Seandainya waktu pengambilan raport waktu itu bukan dia yang datang, mungkin takkan ada orang yang mengenalinya. Ayunda ingat betul salah seorang pelanggannya sedang mengambil rapor anaknya. Sialnya anak mereka ternyata satu kelas.
Ayunda memalingkan wajahnya agar tak dikenali. Namun, lelaki itu malah mendekat seraya mengerlingkan sebelah matanya. Ayunda meminta lelaki itu untuk mengikutinya ke taman di belakang sekolah. Lelaki itu menurut saja.
Sesampainya di sana, Ayunda meminta untuk merahasiakan jati dirinya. Jangan sampai putrinya menanggung malu karena pekerjaannya. Lelaki tua itu mengangguk patuh.
Setelah berbincang empat mata dengan pelanggannya. Sayup-sayup Ayunda mendengar dua orang siswa sedang membicarakan dirinya.
"Eh, tahu gak? Ternyata ya, ibunya si Agni itu wanita panggilan," serunya heboh.
"Ah yang benar? Kamu salah dengar mungkin," timpal temannya.
"Beneran tahu! Aku barusan dengar sendiri, ibu Agni sedang berbicara dengan seorang pria tua," lanjutnya.
Banyak lagi yang mereka bicarakan. Ayunda segera melangkah menuju kelas Agni. Semenjak saat itulah, beberapa teman Agni tahu perihal pekerjaan Ayunda.
"Bu ... berhentilah bekerja! Biar aku yang akan bekerja," pinta Agni lirih dan membuyarkan lamunan Ayunda.
"Tidak, Sayang! Kamu harus tetap sekolah, Ibu sudah bilang itu berkali-kali. Jadilah orang sukses dan berpendidikan tinggi. Kelak, kamu takkan mengalami nasib buruk seperti Ibu," sahut Ayunda disela isaknya.
"Agni ... maaf, Ibu telah membuatmu malu dan menderita. Ibu memang tak pantas menjadi Ibumu. Wanita kotor dan hina seperti Ibu, tak pantas dipanggil Ibu oleh anak mana pun, termasuk--"
"Tidak, Bu! Jangan berbicara seperti itu. Aku tidak malu. Hanya saja, aku tak ingin Ibu dihina oleh orang lain. Aku tak terima jika mereka memandang Ibu sebelah mata. Ibu jangan salah paham terhadapku," paparnya lirih. Ayunda dan Agni sama-sama terdiam.
Bulir bening sudah deras mengalir. Betapa menyedihkannya mereka malam itu. Sesekali embusan angin menerbangkan rambut mereka. Sungguh, hidup yang mereka jalani begitu berat.
"Bu, maafkan aku ...."
__ADS_1
Agni tersedu di pelukan ibunya. Jemari Ayunda mengusap lembut kepala Agni. Malam itu mereka larut dalam perasaan sakit. Jantung Ayunda seperti diremas kuat saat mendengar tangisan putrinya.
Ia tak ingin seperti ini terus. Lantas, dia bisa apa? Dia hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban untuk nasib hidupnya. Setelah tangisan mereka reda, ibu dan anak itu bergegas pulang. Sebab, waktu sudah larut malam. Mereka berjalan beriringen seraya bergandengan tangan.
Nampak pelangi di wajah keduanya. Ibu dan anak itu selalu bisa meresam emosi masing-masing. Selalu berusaha saling mengerti dan melindungi. Tanpa seorang ayah pun, Agni sudah bahagia. Sesampainya di rumah, Agni berpamitan akan pergi ke kamarnya.
Sedangkan Ayunda memilih untuk ke dapur. Dia merasa sangat haus. Ketika sampai di sana, dia melihat Marta sedang duduk dengan tatapan lurus. Ayunda berjalan mendekati Marta. Memanggil nama itu berulang kali.
Namun, Marta tidak merespon sama sekali. Ayunda mencoba mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Marta. Namun, sahabatnya itu tetap diam. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita cantik itu. Memandang lurus ke taman belakang dengan tatapan kosong. Gelas berisi jus masih utuh belum tersentuh.
"Marta!" teriak Ayunda seraya menepuk lengan wanita itu.
Marta tersadar dari lamunannya. Menatap Ayunda dengan terkejut. Wanita itu mengusa dadanya. Seketika jantungnya berpacu cepat. Ayunda tersenyum seraya duduk di samping Marta.
"Kamu kenapa sih, melamun kaya gitu? Aku panggil dari tadi juga," tanya Ayunda.
"Masa sih? Aku gak dengar, beneran deh," sahut Marta tersenyum kikuk.
Ragu-ragu Marta mulai bercerita tentang Santa-lelaki yang sudah sebulan ini mengganggu pikirannya. Pengusaha muda nan sukses itu bersikukuh ingin menjadi pacar Marta.
Ini sungguh gila bukan? Bahkan umur mereka terpaut tujuh tahun. Lebih tua Marta. Lama wanita itu terdiam, sibuk dengan membayangkan bocah tengil yang berhasil menerobos ke celah hatinya.
"Marta! Malah melamun lagi!" gerutu Ayunda kesal.
"Maaf, Yu, bayangan dia selalu muncul. Aku jadi selalu tak fokus dibuatnya," sahutnya ringan.
"Jadi gimana, apa kamu suka sama Santa? Dia ganteng gak? Baik orangnya? Kamu beruntung banget dapet berondong. Pasti keren deh, secara masih berumur 28 tahun," goda Ayunda seraya menyenggol lengan Marta.
Wanita itu tersipu malu. Apa dia sedang jatuh cinta sekarang? Entahlah. Marta masih belum ingin menyimpulkan perasaannya.
Dia merasa dirinya tak pantas untuk siapa pun. Di usianya yang sudah 35 tahun, Marta belum menikah. Kepahitan hidupnya membuat dia terjerumus ke dalam dunia malam hingga saat ini. Siapa yang akan sudi bermenantukan wanita kotor macam dirinya.
__ADS_1
Maka dari itu, Marta selalu abai pada lelaki yang ingin mengajak dirinya ke pelaminan. Namun, terhadap Santa, dia merasakan ada yang berbeda. Seperti ada magnet dalam diri pria itu. Marta selau ingin dekat dengannya.
"Ah ... sudah lah, Yu. Kita bersiap saja sekarang. Kapan-kapan aku cerita lagi ya!" ujarnya tanpa beban.
Ayunda mengerucutkan bibirnya. Dia sudah penasaran setengah mati. Namun, Marta malah meninggalkannya seorang diri.
"Hei! Kau bahkan belum cerita apa-apa tentang dia, Mar. Kau jahat sekali! Membiarkan aku penasaran begini," teriak Ayunda kesal.
Wanita itu terus melangkah tanpa mempedulikan teriakan sahabatnya. Dia belum sepenuhnya siap untuk bercerita semuanya tentang Santa. Kini, dia harus bersiap pergi ke Kelab untuk bertemu dengan pemuda itu.
Marta akan menggunakan mini dress yang anggun. Serta polesan make up yang tipis. Sebab, Santa tak menyukai kalau dia berdandan berlebihan. Ayunda memasuki kamarnya dengan tergesa. Malam ini dia sudah memutuskan untuk bersitirahat di rumah.
Mengobrol dengan putrinya tadi, sedikit membuat Ayunda tersadar, kalau jalan yang dia pilih begitu menyakiti perasaan anaknya. Ayunda tersadar, sejak tadi dia tidak melihat gawainya. Dicarinya benda itu ke berbagai tempat. Di laci, di meja rias, di bawah bantal, di nakas, tetapi benda itu tidak ditemukan. Entah ada di mana.
Ayu merebahkan dirinya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar. Bayangan Bram muncul begitu saja. Manik lelaki itu, tak asing bagi Ayunda. Namun, Ayunda benar-benar tak bisa mengingatnya. Suara dering gawai mengejutkannya.
Ayunda segera beranjak lantas mencari keberadaan benda tersebut. Ternyata, gawainya berada dalam tas kecil yang selalu dia bawa. Ayunda segera merogoh ponsel dari dalam tas. Terlihat nama Bram tertera di sana. Wanita itu segera menggeser tombol hijau.
"Hallo, Mudah. Kenapa kau belum datang ke Kelab?" tanyanya di seberang sana.
"Malam ini aku takkan ke sana," jawabnya cepat.
"Kenapa? Apa kau sakit? Yasudah, aku akan ke rumahmu. Tunggu aku!"
Sambungan telepon terputus. Baru saja Ayunda akan menjelaskan alasannya. Lelaki itu memang suka semaunya. Ayunda menggerutu kesal. Namun, tak dapat dipungkiri, ada sepotong kebahagiaan dalam hati kecilnya.
Mendapatkan perhatian seperti itu dari seseorang. Ayunda mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Berguling ke sana kemari bak remaja saja. Tak hentinya wanita itu tersenyum manis. Sampai dia menggit bantal yang sedang dia peluk. Betapa indahnya jatuh cinta.
Mungkin, dia akan malu jika Agni-putrinya melihat tingkah konyolnya. Wanita itu segera tersadar, lantas menuju kamar mandi untuk bersiap. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Ayunda segera membuka lemari. Hampir seluruh isi lemarinya adalah pakaian seksi.
Namun, malam ini dia takkan memilih baju-baju itu. Dia ingin terlihat agak sopan. Lagi pula, Agni berada di rumah. Dia akan sangat malu kalau anak gadisnya melihat dia berduaan dengan pria dengan menggunakan pakaian terbuka.
__ADS_1
"Aku pilih yang mana ya?" tanya Ayunda pada diri sendiri.