
Terdengar suara pintu terbuka. Ayunda terkejut, sampai dua gaun yang sedang dia pegang terjatuh. Agni menatap ibunya saksama. Lantas pandangannya beralih pada dua gaun yang teronggok di lantai. Gadis itu mulai melangkah dan mendekati Ayunda. Wanita itu terlihat gugup. Bagaimana kalau Agni bertanya tentang gaun itu.
"Ibu, malam ini mau pergi?" tanya Agni seraya mengambil kedua gaun itu.
"Enggak, Sayang. Ibu--itu ...." Ayunda menggantungkan ucapannya.
Agni mengernyitkan dahinya kala melihat sang ibu begitu gugup. Merasa ada yang aneh dengan sikpa ibunya, lantas Agni semakin merapatkan tubuhnya dengan Ayunda.
"Terus, ini gaunnya untuk apa, Bu?" desak Agni seraya mengarahkan gaun tersebut ke Ayunda.
"Itu ... teman Ibu akan berkunjung kemari. Kamu gak marah 'kan?" tanya Ayunda ragu.
Jemarinya saling meremas, serupa abege yang ketahuan sedang menelepon sembari tertawa renyah. Agni saat ini serupa seorang ibu yang menginterogasi anak gadisnya.
"Siapa nama teman Ibu? Apa dia laki-laki? Apa dia seumuran dengan Ibu?" cerca Agni, dan hal itu semakin membuat Ayunda cemas, gugup bersatu menjadi satu.
"Nanti kamu kenalan saja langsung. Namun, jika kamu gak suka, Ibu akan meneleponnya agar jangan kemari." Ayunda mencoba mengalah pada putrinya. Meskipun hatinya sangat berharap bertemu dengan Bram.
Namun, ia bisa apa jika putrinya tak mengizinkan. Bagi Ayunda kenyamanan dan kebahagiaan Agni paling utama. Sedangkan yang dipikirkan anaknya berbeda lagi. Muncul ide jahil dalam benaknya. Gadis itu tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat.
__ADS_1
"Beneran nih, kalau aku gak izinin, Ibu bakalan batal bertemu sama dia?" tanya Agni pura-pura merajuk.
"Beneran, Sayang. Ibu gak mau membuatmu tak nyaman," sahutnya lemas.
"Oke! Aku izinin dia untuk datang kemari. Oh iya, gaun yang warna hitam ini, kayanya lebih cocok, Bu. Tangan panjang dan tidak terlalu pendek. Tak terlalu ketat juga, bagus lah pokoknya," ujar Agni memberi saran.
Lantas gadis itu melenggang pergi tanpa dosa. Ayunda baru tersadar sudah dikerjai oleh anak gadisnya. Seketika, pelangi indah muncul di wajah Ayunda. Wanita itu segera mengganti pakaiannya dan segera bersiap. Sebab, dia meyakini sebentar lagi Bram akan segera tiba.
******
Di ruang keluarga yang tak terlalu luas itu, Ayunda, Agni dan juga Bram tengah duduk saling berhadapan. Agni menatap tajam ke arah Bram. Lelaki itu hanya mengulum senyum.
Di mata Bram, justru terlihat lucu bukan menyeramkan. Sedangkan Ayunda, masih setia meremas ujung gaunnya. Merasa khawatir kalau Agni akan berucap atau bersikap tidak sopan terhadap Bram.
"Bukan!" jawab Bram dan Ayunda bersamaan.
"Om suka sama Ibu?" pertanyaan kedua, membuat Ayunda menyenggol lengan anaknya.
"Suka, bahkan saya sudah telanjur cinta sama Ibu kamu," sahut Bram tanpa beban.
__ADS_1
Ayunda melotot tajam ke arah Bram. Wanita itu semakin cantik saja di mata lelaki itu. Lihatlah rona merah di pipinya. Ayunda seperti remaja saja. Bram semakin gemas dibuatnya.
"Kalau Om cinta sama Ibu, berarti Om juga harus mencintai aku! Jangan senang dulu, Om. Gak mudah ya, buat dapetin hati aku," cetus Agni pongah.
Bram tak bisa lagi menahan tawanya. Sungguh, ibu dan anak itu sangat lucu dan menggemaskan.
Bram tertawa renyah, sampai suaranya menggema ke seluruh ruangan. Ayunda dan Agni saling pandang. Merasa aneh dengan tingkah lelaki yang ada di hadapan mereka.
"Maaf-maaf, saya sudah tidak sopan," ucapnya seraya menyudahi tawanya.
"Anakmu lucu sekali, Mudah. Sama denganmu, begitu menggemaskan," lanjutnya.
Agni merasa begitu tersanjung dengan pujian dari Bram.
Lelaki ini begitu berbeda. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Agni. Apakah pria ini adalah pelanggan ibunya? Gadis itu sangat ingin menanyakan, tetapi ia urungkan. Dia tak mau ibunya merasa terluka karena pertanyaannya nanti.
"Om, tahu nama lengkap Ibu? Kalian sudah sedekat itu?" tanya Agni dengan mata yang membulat.
"Apa Om sudah menikah?" lanjutnya.
__ADS_1
Bram bergeming. Matanya melirik Ayunda yang tampak sekali raut penasaran di wajahnya. Ayunda merasa takut akan jawaban Bram.
"saya...." Bram menggantungkan kalimatnya. membuat Ayunda semakin penasaran saja.