
#Sang Kupu-kupu Malam
#Part 13
Dada Agni dan Ayunda sudah berdebar-debar. Lelaki itu tersenyum tipis. Ayunda semakin gemas dibuatnya. Sepertinya Bram memang sengaja membuat ibu dan anak itu penasaran setengah mati. Padahal, dia sendiri juga masih ragu untuk mengatakannya. Apakah Ayunda dan Agni akan percaya dengan ucapannya?
"Kalian akan percaya, kalau saya belum menikah?" tanyanya memecah keheningan.
Pertanyaannya malah membuat Ayunda dan Agni semakin penasaran pun gemas dengan Bram.
"Tidak percaya!" sahut Agni ketus.
"Mana mungkin Om belum menikah, sedangkan kulihat dari wajah Om, sepertinya Om sudah tua," lanjutnya ringan.
Ayunda terkekeh mendengar ucapan putrinya. Alih-alih marah, justru Ayunda merasa lucu dengan Agni. Berani sekali putrinya mengatakan kalau Bram itu sudah tua. Bahkan, Ayunda mengira kalau umur Bram itu masih di bawah umurnya.
"Saya tidak setua itu, Agni. Saya seumuran dengan ibu kamu. Bahkan, kamu orang pertama yang mengatakan saya tua. Biasanya orang-orang akan mengatakan kalau umur saya masih 28 tahun," ujar Bram dan merapikan rambutnya dengan jari.
Agni menyebikkan bibirnya, tak percaya. Gadis itu menoleh ke arah ibunya. Wanita itu tengah tertawa dengan menutupi mulutnya. Agni memberikan tatapan tajam ke Ayunda. Seketika Ayunda menghentikan tawanya.
Gadis yang berperan menjadi 'ibu' itu mengalihkan lagi pandangannya ke arah Bram. Lelaki itu tengah memperhatikan Ayunda pun dengan wanita itu. Mereka bersitatap. Agni benar-benar berperan menjadi seorang 'ibu' yang menemani anak gadisnya dengan kekasihnya. Lihatlah dua sejoli yang sudah tua itu. Puber kedua memang bisa membuat mereka sedikit gila.
"Om! Jangan lihat Ibu kaya gitu!" sentak Agni.
Bram langsung saja mengalihkan pandangannya. Lelaki itu tampak santai sekali. Tak ada debaran apa pun dalam dadanya. Hanya saja, keringat dingin memabasahi telapak tangannya.
"Kenapa?" jawabnya santai.
"Nanti Om semakin jatuh cinta sama Ibu. Oh iya, Om datang kemari mau ngapain?"
Interogasi sudah dimulai. Agni menyilangkan sebelah kakinya. Menatap Bram dengan begitu angkuhnya. Sungguh, Agni memang cocok menjadi calon 'mertua' yang galak.
"Saya khawatir sama Ibu kamu. Tadi dia tidak datang ke ...."
Bram tidak sampai hati mengatakannya. Takut Ayunda akan tersinggung atau terluka. Agni paham tempat yang dimaksudkan Bram. Dia pun sama, tidak berani memperjelas tempat yang dimaksud. Gadis itu menoleh ke arah ibunya. Ada gurat kesedihan dari raut wajahnya. Suasana menjadi canggung. Agni menyesal bertanya seperti tadi.
__ADS_1
"Apa kalian mau jalan-jalan?" tanya Bram tiba-tiba.
"Mau Om," sahut gadis itu cepat.
Ayunda membulatkan matanya. Mengapa Agni meng-iya-kan begitu saja. Tanpa bertanya dulu padanya.
"Aku tidak mau!" imbuh Ayunda.
"Kenapa?" tanya Agni dan Bram kompak.
"Kalian tidak lihat kalau ini sudah jam sepuluh malam? Agni besok sekolah, tak baik jika tidur larut malam," ujarnya tegas.
"Kita hanya jalan-jalan di taman depan aja, Yu. Di sana banyak penjual makanan. Kita kuliner-an. Iya kan, Agni?" Bram mengedipkan sebelah matanya memberi kode. Gadis itu mengangguk cepat.
Bahkan perannya menjadi seorang 'ibu' yang menjaga anak gadisnya, ia lupakan begitu saja. Ya, namanya juga bocah labil. Sekarang matanya berbinar mendengar akan jalan-jalan sembari membeli banyak makanan. Tinggal satu langkah lagi, yaitu membujuk ibunya.
"Ibu ... ayolah, Bu. Kita sebentar saja di sana. Ya satu jam kurasa cukup, Bu. Iya kan Om? Ayolah Bu ... Ibu ... mau ya?" rengek Agni bak anak kecil meminta dibelikan permen.
Tak lupa puppy eyes-nya. Mana tahan Ayunda melihat putrinya yang sudah mengeluarkan jurus andalannya itu. Ayunda mengangguk pasrah. Akhirnya mereka bertiga berjalan kaki menuju taman dekat komplek rumah.
Bram tampak malu-malu berjalan di samping Ayunda. Sedangkan Agni bejalan di depan mereka. Gadis itu begitu bahagia. Sebab, biasanya dia akan merasa kesepian saban waktu. Ayunda akan berangkat jam sembilan malam dan akan pulang pada pagi hari. Gadis itu berjalan seraya mengayunkan kedua tangannya. Pemandangan itu tak luput dari penglihatan Ayunda.
Lantas menggenggamnya erat. Ayunda menoleh ke arah Bram. Lelaki itu tersenyum seperti biasa. Ada perasaan hangat saat melihat senyumannya darah Ayunda selau berdesir ketika bersentuhan dengan Bram. Jantungnya bertalu-talu.
"Om, aku mau beli itu!" Tunjuk Agni pada stand yang menjual sosis bakar.
Mereka melepaskan genggaman dengan cepat. Ayunda menjadi salah tingkah. Wajahnya sudah mengahangat, pun dengan Bram. Lelaki itu memegang tengkuknya karena malu. Ayunda dan Bram segera menghampiri Agni, lantas memesan beberapa tusuk sosis bakar.
Bukan hanya sosis, gadis itu membeli cumi bakar, sweet corn, sop buah, salad buah dan masih banyak lagi makanan lainnya. Dua kantong keresek menghiasi tangan mungilnya. Ayunda hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah putrinya.
"Ini jajan atau ngerampok? Agni bikin malu saja!" batin Ayunda.
"Yuk pulang! Agni udah capek nih," keluhnya tanpa merasa berdosa.
"Ayok! Lagi pula ini sudah larut malam," sahut Bram.
__ADS_1
Mereka kembali berjalan menuju rumah. Sungguh Ayunda merasa tidak enak hati. Anak gadisnya sudah memalak Bram begitu banyaknya. Ya, meskipun tak dapat dipungkiri, uang Bram takkan habis meski Agni membeli semua makanan yang ada di sana beserta stand-nya.
Ayunda yakin kalau Bram bukan orang sembarangan. Terbukti saat Bram memberinya setumpuk uang waktu itu. Bahkan sekaya apa pun orang yang menyewa jasanya, mana sudi dia membayar mahal untuk wanita tua macam dirinya. Dan juga penampilan Bram yang selalu modis dan rapi menarik perhatian Ayunda. Jangan lupakan tubuhnya yang atletis dan kulitnya yang terawat. Aroma tubuhnya selalu membangkitkan gairah dalam tubuh wanita itu.
Sesampainya di rumah, Agni bergegas ke dapur. Untuk menyimpan semua makanan yang telah ia beli. Sedangkan Ayunda dan Bram duduk di ruang keluarga. Agni menghampiri mereka lalu berpamiran untuk tidur.
"Bram ... maafin Agni ya, dia begitu manja dan membuatmu mengeluarkan uang banyak," ujar Ayunda tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Mudah. Aku justru senang bisa sedekat ini dengan putrimu," sahutnya lembut.
Ayunda hanya menanggapinya dengan senyuman. Hening menyeruak di antara mereka.
"Mudah ... putrimu membutuhkan seorang ayah. Apa kamu tidak--"
"Jangan bicarakan hal itu!" potong Ayunda cepat.
"Menikahlah denganku, Mudah ...," pintanya lirih.
Ayunda membulatkan matanya. Ada debaran yang lebih hebat dalam dadanya. Serupa deburan ombak yang menghantam karang. Jatungnya berpacu dengan cepat. Ayunda menatap manik Bram lamat-lamat, mencari keseriusan di manik indah itu. Ya, Ayunda merasa yakin kalau Bram sedang serius sekarang.
"Aku belum menikah, percayalah padaku. Semenjak kedua orang tuaku meninggal, aku hanya sibuk menjakankan bisnis peninggalan mereka, jadi aku tak punya waktu untuk berkencan," paparnya.
Entah mengapa Ayunda merasa begitu senang. Hatinya kini bagaikan dipenuhi bunga-bunga yang cantik dan kupu-kupu yang indah. Sebahagia itu kah Ayunda mendengar Bram masih sendiri?
"Aku mencintaimu, Mudah. Bahkan sejak dulu ...," ucapnya menggantung.
Senyuman Ayunda lenyap sudah dan digantikan dengan perasaan penasaran. Siapa sebenarnya Bram ini?
"Dia mencintaiku sejak dulu? Bahkan, aku merasa baru melihat dan mengenalnya saat di Kelab waktu itu," batin Ayunda.
"Mudah Ayunda ... kau benar-benar lupa? Apa perlu aku mengingatkanmu?" bisik hati Bram.
Ayunda dan Bram sama-sama larut dalam perasaan yang entah apa. Keduanya terdiam tak ada yang berniat memulai percakapan. Sehingga di menit berikutnya, Ayunda membuka suaranya.
"Siapa kamu sebenarnya, Bram?" tanya Ayunda.
__ADS_1
Bram terdiam. Lelaki itu mencoba untuk menimbang-nimbang. Apakah ini waktu yang tepat untuk dia jujur pada Ayunda? Lelaki itu berdehem untuk menetralkan perasaan gugupnya.
"Aku ...." ucapnya menggantung.