Sang Pemburu Malam

Sang Pemburu Malam
Pendahuluan


__ADS_3

Begitu tenang hingga angin pun tak menyapa membelai daun pada ranting. Malam ini langit tampak cerah dengan ditaburi bintang-bintang. Tak hanya itu yang membuat malam hari ini indah, bulan pun bersinar terang dari biasanya. Ada lingkar pelangi yang cukup besar mengelilingi. Mitosnya, jika menemukan fenomena demikian, itu artinya ada malapetaka yang akan terjadi.


"Aaawuuu ...." Gonggongan serigala terdengar bersautan.


Segerombolan serigala itu pun serempak menatap ke atas. Menatap rembulan yang perlahan ditutupi awan hingga bulatannya yang tadinya utuh kini tenggelam ditelan malam.


"Bencana apa yang akan terjadi?" Seekor serigala bertanya.


"Entahlah yang jelas ....," ucapannya terhenti dengan geraman halus sembari menoleh ke dalam hutan kelam. Serigala abu-abu yang ukurannya lebih besar dari serigala lain mengambil posisi di depan. Menyuruh kawanannya mundur. Dia merasakan sesuatu dari dalam kegelapan.


"Mundur!" ucapnya mundur selangkah ketika menghirup bau yang menusuk hidung. "Ini bau ... mayat."


"Kepala suku!"


"Kalian semua mundur. Istriku, bawa anak-anak menjauh!" Serigala besar itu menggeram. "Cepat pergi!" Dia tahu di kegelapan sana bukan makhluk biasa.

__ADS_1


Mata-mata merah tampak mengilat dari kegelapan. Sosok itu semakin mendekat. Bau busuk yang dikeluarkan terasa menjijikkan bagi serigala.


"Pergilah, aku akan menyusul," katanya pada sang istri. Dan wanita itu pun terpaksa pergi bersama anak-anaknya dan kawanan lain.


"Makhluk apa itu?" Baru saja beberapa serigala bergabung untuk membantu kepala suku.


"Aaaggghhh ...." Sosok dalam kegelapan bergerak cepat--meloncat ke arah serigala yang berdiri pada sisi kiri depan, namun dengan gerakan cepat sang ketua suku menyeruduk makhluk itu dari samping. Terpelanting. Makhluk itu berguling di atas tanah.


Sosok itu terlihat jelas di bawah sinar rembulan yang perlahan mulai bersinar terang.


"Vampir?" salah satu dari kawanan serigara berkata.


Sosoknya seperti manusia dengan bola mata hitam mengilat merah dibagian tengah. Pakaian yang dikenakan tampak lusuh dan sobek. Sosok itu memperlihatkan kedua taringnya yang runcing dan tajam. Terlihat seperti kaum vampir, namun yang membedakannya mereka adalah kewarasan mereka. Ketika sosok itu berlari, sang kepala suku pun ikut berlari ke arah sosok tersebut--melompat--menggigit leher makhluk itu kemudian mencabik dengan sekali gigitan.


"Jumlah mereka sangat banyak." Tiba-tiba saja makhluk itu sudah mengelilingi para serigala.

__ADS_1


Grrrhhh...


Para serigala menggeram memperlihatkan taring-taring mereka yang besar dan tajam. Dengan gerakan cepat mereka sudah menumbangkan sosok yang terlihat seperti vampir tersebut.


......***......


Di sisi lain, tepatnya di sebuah kota.


Kacau. Keributan terdengar dimana-mana. Suara jeritan, suara minta tolong bercampur aduk.


"Ti-tidak ... Jangan, jangan mendekat!" Suara wanita itu hampir saja tidak terdengar karena saking takutnya pada sosok yang ada di depan. Wajahnya mengerikan dengan urat-urat berwarna ungu kebiruan menjalar di seluruh wajah, leher, dan tubuh lainnya. Kedua bola matanya berwarna kemerahan, terlihat seperti orang sakit mata. Mulutnya terbuka sembari memperlihatkan kedua taring atasnya yang baru muncul. "Aaaak!" Kedua taring makhluk itu sudah menancap pada leher sang wanita. Menyedot darahnya hingga sang wanita tidak bergerak lagi. Rasa haus sosok itu lebih mengerikan dibandingkan kaum vampir.


Sosok itu pun melempar wanita tersebut ke aspal kemudian pergi mencari mangsa lain--berjalan tertatih-tatih seperti mayat hidup.


Lima belas menit kemudian ...

__ADS_1


Wanita yang tergelatak di aspal tadi, tangannya tampak bergerak, begitu juga dengan matanya yang terbelalak, berputar searah jarum jam. Kulitnya yang putih mulus berubah pucat dengan urat-urat yang menyembul di area wajah berwarna ungu kebiruan. Tubuhnya refleks bangkit sembari membuka mulut, kedua taringnya pun perlahan memanjang. Indra penciumannya mulai aktif ... dia menemukan mangsa. Darah. Dia butuh darah. Rasa hausnya tidak tertahankan, seperti bayi yang baru lahir yang butuh ASI.


Dari kejauhan sosok yang tak terlihat berdiri di tempat yang kelam sedang memperhatikan kekacauan yang terjadi. "Para pengacau itu ...," gumamnya kesal, "apa dia ingin memusnahkan makananku?" (Makanan.yang dimaksud adalah manusia).


__ADS_2