
Sepulang dari kampus, Camila menghentikan langkah di sebuah toserba (toko serba ada) karena melihat kertas yang menempel pada kaca masuk yang bertuliskan 'Membutuhkan karyawan'.
Camila tertarik untuk melamar kerja di sana dan dia pun masuk kemudian memberikan salam pada pemilik toko.
"Selamat siang, Pak. Apa pengumuman itu masih berlaku?" Camila mengarahkan ibu jarinya ke arah belakang. "Apakah Anda membutuhkan karyawan?"
Pria tua itu membetulkan kacamatanya dan memperhatikan Camila lekat kemudian tersenyum. "Iya, karena anak bapak dirawat di rumah sakit, jadinya bapak terpaksa mempekerjakan orang baru. Biasanya kami bergantian menjaga toko ini," jelas pemilik toko panjang lebar.
Camila tersenyum lebar. "Jadi, apakah saya bisa bekerja di sini dan menyesuaikannya dengan jam kuliah saya?"
Pria tua itu mengangguk. "Tentu."
Camila bertepuk riang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Kali ini dia tidak akan membuat sang ibu khawatir karena pulang malam, dirinya sudah memiliki pekerjaan.
"Apa kau bisa kerja hari ini?" tanya Pak tua itu beralasan ingin menjenguk anaknya dan menjemput istrinya untuk berganti pakaian.sudah dua hari sang istri berada di rumah sakit menjaga anaknya.
"Baik, Pak."
__ADS_1
"Tutup saja tokonya ketika sudah jam sembilan malam." Pak tua itu memberikan kunci cadangan pada Camila.
Camila mengangguk sembari memperhatikan kunci di tangannya. Berpikir, sepertinya pak tua itu mempercayakan toko ini pada dirinya. Padahal dia baru saja bekerja.
Sebelum pergi pak tua itu menjelaskan semua tentang tokonya, seperti di mana letak atau susunan barang-barang keperluan rumah tangga, alat tulis, dll.
***
"Waktunya pulang." Camila tersenyum sembari melirik jam yang tertera di ponselnya 09.00 pm. Dia meregangkan tangan ke atas untuk melepaskan otot-ototnya yang kaku, kemudian memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Camila menegakkan kepala setelah memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas. Gadis itu tercenung--menelan ludah. Dia menatap mata abu-abu itu lekat-lekat. Ini ketiga kalinya dia bertemu dengan pria tersebut.
"Kau mengenaliku?" tanya Liam memberikan kartunya untuk membayar minuman.
"Aku tidak begitu kenal dengan orang-orang di kampus," kata Camila sembari memberikan minuman dan juga kartu Liam. Di kampus Camila terkenal dengan orang yang menyendiri, bukan dirinya yang tidak memiliki teman, namun orang-orang menjauhi dirinya terlebih dengan pekerjan ibunya yang membuatnya selalu dibully.
Liam mendekat kemudian mencium aroma Camila yang berbeda dari manusia. Sebelumnya dia tidak mencium aroma ini.
__ADS_1
"Gadis motel, apa kau mengingatku?" tanya Liam memastikan.
Apa dia tahu kalau aku masih ingat kejadian di motel itu? Camila terkejut, namun tetap mengkondisikan hati dan ekspresinya agar tetap tenang. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Liam menaikkan sudut bibirnya lalu bergumam, "Mana mungkin dia ingat." Liam membuka tutup botol lalu meminumnya hingga menyisakan setengah. "Oh." Liam yang tadinya sudah mau meninggalkan toko kemudian membalikkan badan. "Kau tahu apa yang terjadi dengan Cley?"
Camila mengepalkan kedua tangannya. "Kenapa orang-orang selalu menyalahkanku?" Tanpa sadar air mata Camila jatuh membasahi pipi, sudah sejak tadi dirinya menahan diri untuk tetap kuat, tapi air mata sialan itu keluar juga.
Liam melangkah ke arah Camila. Jarak mereka cukup dekat, namun dibatasi pembatas kasir.
"Hei, aku tidak menyalahkanmu," ucap Liam lembut sembari mengusap air mata Camila yang membasahi pipinya. Liam terpesona sesaat, menatap ke dalam mata hitam sepekat malam itu dan memberikan getaran halus di dadanya. Aku hanya penasaran dengan kematian Cley dan aku merasa bersalah meninggalkannya saat itu. Aku pun sudah mengeceknya, tidak ada bekas gigikan di tubuh Cley kecuali ...
"Apa kau sudah selesai? Ini waktunya aku pulang." Camila menjauhkan tangan lelaki itu dari wajahnya.
Liam mengangguk. Lagi pula dia juga akan melakulan patroli di daerah sini.
Bersambung ...
__ADS_1