Sang Pemburu Malam

Sang Pemburu Malam
BAB 7


__ADS_3

"Jadi, apa maumu?" tanya Camila masih dalam posisi hampir terjatuh (posisi membelakangi bawah gedung).


Bryan mengeluarkan selembar foto, "Kau kenal orang ini?"


"Tidak!" jawab Camila cepat namun sorot matanya berkata lain.


Bryan mengeluarkan ponsel dari saku celana belakangnya kemudian memperlihatkan rekaman CCTV kepada Camila saat dirinya bersama Regan di jalanan.


Camila bereaksi biasa, seakan dirinya tidak pernah bertemu lelaki pirang itu sebelumnya.


Bryan menggertak sembari melemaskan pegangannya pada gadis itu, tangan Camila reflek memegang kuat.


"Aku tidak mengenalnya!" Tatapan Camila ketakutan setelah melihat sekilas ke bawah sana.


"Kau pikir kau bisa mengelak, ha?" kata Bryan sembari menggoyangkan ponselnya ke wajah Camila.


"Ka-kami hanya bertemu sebentar--"


"Maksudmu bertemu di sebuah motel?" Bryan menyela.


Mulut Camila terkunci rapat. Sial! Alasan apa yang harus kukatakan lagi? Tidak mungkin aku menceritakan apa yang kulihat, kan? Yang ada dia akan membunuhku.


"Benar, kami memang ke sebuah motel dan memesan kamar, tapi setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi. Serius!" ucap Camila tidak sepenuhnya benar.


Sorot mata Bryan semakin tajam, dipikirannya saat ini terbayang sosok seorang pengganggu bagi kaumnya yaitu sang pemburu malam.


Camila mengangkat dua jarinya yang bebas membentuk huruf V. "Serius! Aku mengatakan yang sebenarnya."

__ADS_1


Bryan menarik Camila, sepertinya di percaya apa yang dikatakan gadis tersebut.


Camila menghela napas sembari mendekapkan tangan ke dada. Untung saja dia percaya, batinnya.


Camila hendak melangkahkan kaki untuk pergi, namun terlintas di pikirannya ...


Sebentar ... Kalau cowok ini mencari lelaki yang bersamaku malam itu ... Jangan-jangan dia ...


Wajah Camila memucat tiba-tiba.


Vampir?


Camila menelan ludah takut.


Aku harus segera pergi dari sini.


Dengan gerakan cepat ....


BAAM!


"Hah!" Camila terkejut dengan mata terbuka lebar ketika pintu atap gedung tertutup tiba-tiba. Lelaki itu sudah ada di depannya.


Sial! Padahal tinggal selangkah lagi, batin Camila.


"Kau berbohong!" kata Bryan sembari memperlihatkan ponselnya ke arah gadis itu. Sorot matanya semakin tajam sembari menyelidiki.


"Apa lagi? Aku sudah mengatakan yang sebenarnya!" Camila menaikkan nada. Di rekaman CCTV tersebut memperlihatkan dirinya yang ke luar dari motel seorang diri. "Sudah kubilang, aku tidak tahu apa pun, paginya ketika aku bangun, aku tidak melihat siapa pun di kamar. "

__ADS_1


Camila menarik napas pelan sembari menenangkan diri. "Kuharap kau mengerti apa yang kukatakan, jadi tolong minggir. Aku ada kelas!" Camila mendorong tubuh cowok itu ke samping dengan kedua tangannya--membuka pintu--kemudian berjalan menuruni anak tangga terburu-buru.


Bryan memperhatikan punggung Camila hingga menghilang dari pandangannya. Dia pun tersenyum penuh arti.


"Tuan!" Seseorang datang entah dari mana dan muncul dihadapan Bryan.


Bryan menghela napas pendek. "Tenanglah Fergus, aku masih sadar dan waras."


Fergus masih berdiri di tempatnya dengan sorot mata minta kejelasan lebih.


"Serius! Aku tidak melukai gadis itu, meski aku menginginkannya, Oke!" Bryan mengangkat tangan terserah kemudian pergi meninggalkan Fergus yang mana diikuti dari belakang.


"Hah, bisakah kau meninggalkanku barang sedetik saja?" gumam Bryan yang ingin tanpa pengawalan apa pun.


Fergus pura-pura tidak mendengar celotehan Bryan.


"Aku tahu kau pura-pura tidak mendengarkanku, Fergus."


"Maaf, Tuan, tapi aku tidak bisa."


Bryan berhenti mendadak kemudian membalikkan badan.


"Aku tahu Tuan bukan anak kecil, tapi aku tidak bisa meninggalkan Tuan sendirian." Fergus menyela sebelum Bryan bicara panjang lebar.


"Haaah, aku bosan melihat wajahmu!" kata Bryan dengan nada lemah. Pasrah.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2