
"Hah!"
Camila bangun duduk. Tubuhnya dipenuhi keringat.
"Cuma mimpi," gumam Camila melihat sekeliling memperhatikan kamarnya, namun jidatnya berkerut memikirkan apakah itu mimpi atau bukan? Karena kejadian tersebut terasa nyata baginya. Tidak ingat. Entah jam berapa dan bagaimana dia sampai di rumah.
Camila pun turun dari tempat tidur, seperti biasa dia tidak menemui ibunya di kamar maupun di ruang tamu, mungkin sang ibu masih tidur dengan lelaki di luar sana, pikirnya.
Camila mengambil teko di atas meja dan menuangkan isinya ke dalam gelas, kemudian meminumnya hingga habis dalam posisi berdiri.
Pandangan Camila kini tertuju pada jam dinding yang menunjukkan pukul 09.00. "Aku harus bersiap-siap." Karena sebentar lagi dia akan berangkat ke kampus.
...***...
"Bagaimana keadaanmu, Sam?" tanya lelaki yang baru saja memasuki ruangan rawat inap tersebut sembari meletakkan keranjang buah di samping tempat tidur pasien. "Bagaimana tanganmu?" tanyanya lagi memastikan.
"Lebih mendingan." Sam mengangkat tangannya yang diperban. "Aku tidak menyangka kita akan berurusan dengan mereka."
"Ini salahku. Maafkan aku."
"Liam--"
"Aku tahu, Sam. Aku tidak peduli dia vampir dari kalangan bangsawan atau bukan! Aku tidak akan mengalah kalau aku tidak salah!"
Sam menghela napas pelan. Beberapa hari yang lalu Liam dihadang oleh seorang vampir dari kalangan bangsawan. Melihat Liam sedikit kawalahan, Sam pun ikut membantu dan menyebabkan dirinya terkena serangan.
__ADS_1
Aku paham kau sangat benci dengan kaum vampir. Mereka membunuh ibumu ... mendengar kata vampir saja mungkin darahmu mendidih hingga ke kepala.
Semua orang tahu, Liam tipikal orang yang sangat keras kepala. Susah diatur apalagi itu tentang pendiriannya.
"Aku hanya ingin bilang, kau jangan bertindak sendirian. Bukankah kita ini tim?" sambung Sam.
"Hum." Liam hanya membalas dengan gumaman yang belum pasti dia setujui.
Sam menyipitkan mata. "Lalu kenapa kau tidak membawa Berla bersamamu?"
Liam berdecih. "Kau ingin aku membawa bocah pemalas itu?"
"Pemalas? Bukankah kau yang memanjakannya," Sam tak mampu meninggikan suara karena dadanya masih sakit kemudian dia pun terbatuk.
"Karena aku yang tertua."
Liam mengibaskan tangannya 'terserah'. Dia pun bangkit dari duduknya kemudian pamit untuk pergi. Aku ada kuliah hari ini."
"Hm, oke."
"Cepat sembuh." Tepuk Liam perlahan pada lengan Sam.
...***...
Saat ini Camila sedang berdiri di sebuah atap gedung. Tempat di mana seorang gadis yang bernama Cley mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atap gedung tersebut.
__ADS_1
Camila menyibakkan rambut panjangnya ke belakang karena embusan angin menerbangkan rambutnya hingga menutupi wajah cantiknya.
Camila melangkah sedikit ke depan--memandang ke bawah gedung, tepat di mana tubuh Cley mendarat dengan kondisi tubuh yang mengerikan. Camila tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, namun kata-kata dalam pikiran Camila pada Cley selalu saja terngiang hingga terbawa dalam mimpi.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku." Camila berceloteh sendiri dengan mata berkaca-kaca.
Seseorang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Camila kemudian berbisik di telinganya. "Hai, bisa bicara sebentar?"
"Ah ...!" Camila bergidik sembari membalikkan badan, tanpa sadar kakinya sudah berada pada bibir atap gedung. Mata Camila pun membola, keseimbangan tubuhnya goyah. "Oh, no ....!" Camila sempat melirik ke bawah sana. Tidak! Dia tidak ingin berakhir seperti Cley, pikirnya.
"Help, help me," kata Camila saat cowok berkulit putih itu sudah menangkap tangannya. Gerakannya begitu cepat. "Tolong tarik aku!" Merasa ngeri Camila pun meraih tangan cowok itu dengan tangan satunya. Bisa dikatakan posisi tubuh gadis itu berada di luar atap gedung dengan tumpuan kaki pada bibir atap. Jika lelaki itu melepaskan tangannya, tamat sudah riwayat Camila.
"Oke, tapi dengan satu syarat," ucapnya masih memegang tangan gadis itu tanpa beban.
"Bisa kau tarik aku dulu?" Meski dalam posisi gamang Camila ingin bernegosiasi terlebih dahulu. Bagaimana kalau laki-laki bermata cokelat itu minta hal yang aneh-aneh?
Lelaki bernama Bryan itu menyunggingkan senyum. "Apa kau tidak mengerti bagaimana posisimu sekarang, Nona?"
"Oke, baiklah!"
"Nah, seperti itu. Aku tidak suka gadis yang pembangkang."
Sial! Kau pikir dengan tampangmu yang keren aku akan tertarik padamu? Sudah banyak kumenemui pria bengsek seperti tampangmu itu! Camila memaki cowok itu dalam hatinya karena mengingat pria-pria yang berhubungan dengan ibunya.
Bersambung ....
__ADS_1