Sang Pemburu Malam

Sang Pemburu Malam
BAB 2


__ADS_3

"Dari mana saja kamu?" tanya wanita sekitar 40-an pada gadis yang baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah.


"Apa peduli Ibu!" Gadis itu berteriak kesal. Padahal ibunya sering pulang larut malam, bahkan dua hari tidak pulang.


"Ibu bertanya itu dijawab, bukan dibantah!" Wanita itu melempar botol minuman kosong ke lantai. "Apa itu benar?" Tatapnya kecewa pada sang anak.


"Apa maksud Ibu?"


Wanita berlipstik merah tebal itu melipat bibir, matanya mulai berair. "Apa kamu berhubungan dengan pria?"


"Tidak! A-Aku tidak melakukan itu!" balasnya sedikit terbata. Aku memang ... maksudnya aku hampir sempat melakukan itu.


"Jangan bohong, lalu kenapa kamu berpakaian seperti ini, ha?!" Ibu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia pun berjalan cepat ke arah sang anak lalu memukulnya. "Bukankah sudah Ibu bilang, biar Ibu saja yang melakukan ini. Ibu masih kuat mencari uang." Wanita itu menangis, namun masih memukul lengan anaknya berkali-kali.


"Sakit. Cukup, Bu, hentikan!" Suara pekikannya membuat sang Ibu berhenti memukulnya. Napas gadis itu memburu dengan dada turun naik. "Sudah kubilang, aku tidak melakukan hal menjijikkan yang seperti Ibu lakukan!" Setelah melontarkan kata-kata yang menyakiti hati Ibu, gadis itu masuk ke kamarnya dengan membanting pintu cukup keras.


Sang Ibu mendekapkan tangan ke dada. Meski kenyataannya demikian, kata-kata barusan menusuk hatinya. Itu lebih menyakitkan ketimbang orang lain yang mengatakan. Air mata pun menetes membasahi pipi. Dia pun mengambil botol minuman yang ada di atas meja, menegaknya, kosong, hanya menyisakan setetes membasahi bibir merahnya.


Di dalam kamar gadis yang bernama Camila itu berbaring di tempat tidur, menangis sesegukan. Dia marah. Marah dengan Ibu, marah dengan dirinya, marah dengan kehidupan yang selama ini dia jalani. Bahkan, dirinya sendiri tidak tahu siapa ayahnya. Lelaki mana yang mau mengakui dirinya sebagai anak. Berapa banyak lelaki yang sudah tidur dengan Ibu?


Ibu hanyalah wanita bayaran. Memuaskan hasrat laki-laki, hanya itu pekerjaan yang bisa dia lakukan, yaitu menjual tubuhnya.


"Tapi aku tidak bisa membencinya ... hiks." Gadis itu sadar atas kesalahan yang baru saja dia perbuat. Tidak sepantasnya dia memaki sang Ibu apalagi sampai menyakiti hatinya. Wanita iti sudah melahirkan dan membesarkannya sampai saat ini. Hinaan orang-orang sudah menjadi makanan harian, namun Ibu tetap bertahan menjalani kehidupan.

__ADS_1


Camila bangun dan mengelap pipinya yang basah. Dia pun bangkit dari tempat tidur dan menemui sang Ibu.


"Maafkan aku," lirihnya menghampiri Ibu yang duduk di lantai dengan menyandarkan kepalanya ke dinding.


Ibu menggeleng. "Bukan. Ini salah Ibu, Ibu minta maaf. Ibu yang tidak berguna."


"Tidak. Camila yang salah. Camila sudah melukai hati Ibu." Gadis itu memeluk sang ibu. Mereka berdua pun menangis bersamaan.


...***...


"Mataku masih bengkak." Camila memandang wajahnya di cermin, memperhatikan matanya yang agak bengkak karena menagis tadi pagi. Kaca mata hitam di genggamannya kini dipakai kembali.


Dia pun membuang napas setelah ke luar dari toilet kampus. "Mungkin aku akan mencari pekerjaan," gumamnya mengingat pengeluarannya yang banyak akhir-akhir ini. Uang dari Ibu tidak akan mencukupi kebutuhan kuliahnya, apalagi sekarang ini sudah semester tiga di jurusan manajemen bisnis.


"Cowok itu ...." Camila menaikkan kacamata hitamnya. Berjalan tak peduli melewati sekumpulan manusia itu. Dia melangkah cepat agar lelaki itu tidak mengenalinya.


"Tunggu!"


Langkah Camila terhenti, dia pun membalikkan badan menghadap lelaki tersebut.


Camila memperhatikan wajah tampan lelaki itu dengan jelas di bawah terik matahari. Kulitnya wajahnya putih bersih dengan rambut dipotong rapi. Tubuhnya pun berotot dengan bidang dada yang lebar.


"Kau memanggilku, ada apa?" tanya Camila pura-pura tidak mengenali lelaki itu. Padahal di ingatannya masih teringat jelas bahwasanya pria itu menembak sosok lelaki yang akan menemani Camila malam itu.

__ADS_1


Dalam benak gadis itu memiliki seratus, bahkan ratusan lebih pertanyaan yang akan dilontarkan pada lelaki yang ada di depannya. Tapi dia memilih tutup mulut dan menganggap itu semua hanyalah mimpi karena, takut berurusan dengan lelaki tersebut.


"Liam, kamu mengenal anak pelac*r ini?" Seorang gadis tiba-tiba datang dan bergelayut manja di lengan cowok itu. Gadis itu bernama Cley, cewek seksi, anak orang kaya, dan termasuk gadis populer di kampus. "Ayo kita pergi. Aku tidak mau melihat kamu dekat-dekat dengannya. Dan aku pun malas melihat wanita ****** ini."


Camila geram, meskipun yang wanita itu ucapkan benar tentang ibunya, dan sudah biasa mendengar hal demikian, namun Camila tetap kesal mendengarnya. Terlebih mengatai dirinya wanita ******.


"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, aku pergi." Sebelum itu Camila menatap tajam wanita yang berdiri di samping Liam dari balik kacamata hitam dan berkata dalam pikirannya, kamu pikir aku ingin melihat wajahmu yang sok kecentilan itu? Kuharap kau menghilang selamanya, melompatlah dari gedung tinggi itu, maka kau tidak akan pernah melihatku. Selamanya!


Camila pergi setelah meninggalkan dua orang itu dan menuju perpustakaan. Ada hal yang harus dia cari untuk menjawab beberapa pertanyaan yang tidak bisa hilang dari otaknya.


...***...


Camila menyelipkan rambut hitam panjangnya yang terurai di balik telinga. Tangannya sibuk mencari buku yang tertata di rak paling atas, namun masih bisa dijangkau.


"Hah, tidak ada." Gadis itu mengeluh sembari menghela napas panjang. Hampir setengah jam dia menghabiskan waktu hanya untuk mencari buku tentang vampire. Yang dia dapatkan hanya buku fantasy yang bertemakan vampir.


Camila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tangan satunya menggigit ibu jari. Berpikir sembari menatap ke luar jendela yang tertutup ... mata hitamnya membola, dia melihat sesuatu yang jatuh melewati pandangannya. Dengan langkah takut Camila berjalan perlahan mendekati jendela, dia pun membukanya dan melongokkan kepala ke luar.


"Aaaa, Cley!!!" Suara teriakan dari bawah membuat Camila yang berada di lantai tiga bisa mendengarnya.


Camila terkejut dengan mulut terbuka. Dia pun menggelengkan kepala--kakinya refleks mundur beberapa langkah hingga menyentuh kaki kursi.


"Tidak. Ini tidak benar." Camila menutup mulut dengan tangannya. Sorot matanya terlihat bingung. Tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Apa yang terjadi? Tidak, aku tidak mengharapkan ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2