
Camila mengecek kembali setelah mengunci rapat toko itu. Dia pun berjalan meninggalkan toko menuju halte bus yang tidak jauh dari sana.
Kepala Camila menengadah ke atas melihat pekatnya langit malam yang tak berbintang. Malam pun begitu dingin hingga membuat kuduknya bergetar. Kedua tangannya pun dimasukkan ke dalam saku jaket untuk memberi kehangatan.
Waktu seakan lama berjalan. Mungkin dia terlalu lelah menjalani hari ini yang penuh dengan drama kehidupan.
WUUUS!
Camila menoleh ke belakang. Baru saja dia merasakan sesuatu melintas cepat seperti bayangan di sampingnya.
"Apa barusan?"
Mata Camila menyelidik ke arah kegelapan yang mana di sana terdapat bagunan terbengkalai. Kemudian dia pun mengusap matanya karena tidak yakin dengan apa yang dia lihat.
Camila menatap ke depan dan berjalan kencang. Yang ada dipikirannya saat ini adalah dia harus sampai ke halte, pulang, lalu tidur dengan nyenyak.
Karena masih penasaran Camila meloneh ke belakang tanpa menghentikan langkah. Dalam kegelapan tersebut seakan terlihat dua bola mata merah terang menyala. Entah apa bentuk sosok makhluk dalam kegelapan itu.
Mata Camila melebar dengan tubuh merinding. Alarm pada dirinya mengatakan dia harus lari sekarang juga. "O-Oh, tidak!" Hampir terjatuh. "Ma-Makhluk apa itu?!" Camila berlari sekuat tenaga tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Oh, sial!" Camila mengerem mendadak. Sosok tersebut seketika sudah berada di depan. Menghadang dirinya.
__ADS_1
Sekujur tubuh Camila merinding, kakinya seakan tidak sanggup lagi menompang tubuhnya. Karena terlalu takut dia tidak mampu mendeskripsikan makhluk apa yang ada di depannya.
Jalanan begitu sepi. Camila tidak tahu harus minta tolong ke siapa. Bibirnya serasa terkunci rapat. Jangankan minta tolong, kabur pun mungkin rasanya dia tidak sanggup. Pergerakan makhluk itu sangat cepat.
Kaki Camila perlahan mundur selangkah, namun dirinya terjatuh karena lemas tiba-tiba. Air matanya menggenang di pelupuk mata dengan kepala menggeleng pelan. Dia tidak mau mati seperti ini, pikirnya. Meski pernah berpikir untuk mati, tapi dia tidak ingin mati di tangan makhluk menjijikkan itu.
Makhluk kurus kering tersebut mendesis sembari memperlihatkan taringnya yang runcing.
"Jangan...."
"Jangan mendekat!"
Camila mundur nyesot ke belakang. Menyapukan pantatnya ke tanah karena tidak punya tenaga untuk berdiri.
Sosok kurus kering itu membuka mulutnya lebar-lebar sembari memamerkan taring-taringnya yang runcing. Dia siap menyantap makanan yang ada di depannya.
"Help ...." Camila berdesis. Help me, ucap Camila dalam hati sembari menutup kedua matanya. Pasrah saat makhluk itu menghambur ke arahnya.
BRUK!
Bunyi sesuatu terpelanting kemudian berguling-guling di tanah. Camila membuka mata. Tatapannya tampak berkaca-kaca ketika melihat sosok yang baru saja ada di depannya. Membelakangi dirinya.
__ADS_1
Liam?
"Sepertinya aku datang tepat waktu," ucap Liam tanpa menoleh ke belakang. Tangannya sudah terangkat lurus ke depan dengan pistol di genggamannya.
DOR!
"Sial!" decak Liam kesal karena tembakannya meleset. Makhluk kurus kering bermata merah itu menghindar dengan cepat.
Liam memosisikan dirinya kembali kemudian mengunci target tembakannya.
Dua tembakan beruntun. Liam geram ternyata tembakannya meleset kembali karena sosok itu berlari dan bersembunyi dalam kegelapan.
Liam mengejar dan sudah menghilang dari pandangan Camila.
Camila berdiri sembari mengatur napas. Dadanya masih berdebar kencang. Ini adalah kedua kalinya dia melihat sosok yang hanya ada di film-film, seperti vampir dan sosok barusan yang dilihat seperi zombie atau monster?
"Hah?" Camila terkejut sembari menyentuh dada karena melihat Liam tiba-tiba ada di depannya.
Liam mendekatkan wajahnya, seketika Camila terpesona melihat mata abu-abu milik Liam.
"Tidurlah ...," bisik Liam kemudian menutup mata Camila dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Bersambung ...