Sang Pemburu Malam

Sang Pemburu Malam
BAB 3


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan pada Cley!"


Camila tidak melawan. Menerima makian dan dorongan kuat dari sahabat Cley tersebut. Camila terjatuh lalu bangkit kembali. Hanya diam tak membalas.


"Kenapa diam, ha? Pasti kamu yang mendorong Cley dari atas gedung, kan!" Sang sahabat tidak terima karena sebelum Cley meninggal dia berbicara dengan Camila, ya, seingatnya di sana memang ada Liam juga. Tapi Liam pergi setelah itu dan meninggalkan Cley seorang diri. Kemudian Cley pergi entah ke mana.


Sang sahabat tidak terima dengan hasil autopsi yang menyatakan bahwasanya Cley bunuh diri. Dia tidak ada masalah apa pun, despresi pun tidak. Dua hari yang lalu mereka masih bermain dan berpesta di club milik ayahnya.


"Bukan aku. Aku ti--"


"Lalu kemana saja kamu selama ini? Semenjak kematian Cley, kamu tidak terlihat di kampus!" cerca gadis yang bernama Candy tersebut.


Camila diam membisu, meski bukan dirinya yang membuat Cley meninggal, tapi dia pernah berpikiran buruk, menyuruh Cley untuk melompat dari atas gedung.


"Sudah kubilang, bukan aku. Aku tidak melakukan apa-apa!" Camila berteriak sekuatnya hingga semua orang menatap ke arahnya, dia pun pergi dan mendorong Candy cukup kuat dengan bahunya.


...***...


Hampir sejam Camila duduk di kafe FT (Fakultas Teknik) . Pandanganya kosong ke depan sembari mengaduk minumannya yang tinggal separuh. Bisa dibilang ini baru pertama kalinya Camila menginjakkan kaki di kafe ini, entah kenapa dia bermain terlalu jauh hingga bisa sampai ke tempat ini.


"Hai." Seseorang datang menyapa. "Bisa pindah?"


Camila tertegun sesaat melihat lelaki tinggi tampan bermata coklat yang baru saja menghampirinya. Camila menoleh ke arah lain, padahal ada banyak meja kosong di sana, kenapa orang ini malah mengganggunya? Pikirnya demikian.


"Baru ke sini?" Lelaki itu tersenyum tipis sembari menyisir rambut belah tengahnya ke belakang menggunakan jemari tangannya yang panjang dan ramping, seakan menggoda.


Lelaki itu mendekatkan wajah--memejamkan mata--kemudian menghirup aroma Camila yang berbau harum. Sesaat memabukkan dirinya.

__ADS_1


"Bryan!" Seorang pria baru saja datang dan menahan lengan lelaki yang bernama Bryan itu lalu menarik kuat ke belakang. "Kau gila?!"


Bryan tersenyum menatap pria yang ada di depannya. "Fergus, kuingatkan sekali lagi. Jangan campuri urusanku," nada suaranya terdengar datar namun penuh tekanan.


Camila yang tidak tahu permasalahan yang terjadi memilih mengalah. "Silakan duduk. Lagi pula aku juga mau pergi."


"Hei, Nona tung--"


"Bryan!" Fergus menahan lengan cowok itu. Kuat. "Jangan membuat masalah! Apa kau mau berakhir seperti Regan?"


Bryan mengatur napasnya. Salah satu sahabatnya menghilang dan itu bisa dipastikan Regan sudah mati ditangan para pemburu. Sialan! Maki Bryan dalam hati.


Lelaki yang mereka bicarakan adalah lelaki bersama Camila saat malam itu.


Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi oleh kaum vampir dan itu sudah mereka sepakati oleh kedua belah pihak, yaitu bangsa vampir dilarang memangsa manusia. Jika mereka melanggar, maka para pemburu tidak akan diam dan tidak segan-segan melenyapkan mereka dari muka bumi ini.


Gelas itu pecah, puing-puingnya berserakan di mana-mana. Warna merah darah sudah menyebar ke lantai.


"Maaf," kata Fergus pada sang pelayan kafe. Wanita itu adalah bagian dari kaum mereka. Dia pun segera membersihkan pecahan gelas tersebut. "Bryan, tunggu!"


Lelaki bermata coklat itu pergi meninggalkan kafe.


...***...


Mobil Ferrari hitam melaju dengan kecepatan sedang. Laki-laki yang mengendarai mobil tersebut menyetir santai, tapi tidak dengan pikirannya. Liam merasa, suara orang yang meneleponnya tadi terdengar menahan amarah.


"Liam, apa kau melakukannya?"

__ADS_1


Baru saja membuka pintu, namun Liam sudah disuguhkan sebuah pertanyaan. Dia pun mengambil berkas yang baru saja dilempar pria itu di atas meja.


Liam membukanya dan melihat sebuah foto seorang lelaki berambut pirang. Liam mengenal orang itu, namanya Regan. Vampir yang dia musnahkan beberapa hari yang lalu.


"Kau tahu siapa dia?!" tanya pria yang terlihat seperti berumur 50-an. Tinggi badannya hampir sama dengan Liam. Perawakannya tegas dengan sorot mata yang tajam. Matanya pun sama dengan Liam, berwarma abu-abu. "Kau ingin terjadi peperangan lagi antara kaum vampir dan kaum kita?"


Liam meremas berkas serta foto yang ada di tangannya. "Aku tidak peduli dia keturunan bangsawan atau apa. Aku akan memburu mereka jika mereka memangsa manusia," ucap Liam tegas.


"Liam--"


"Apa Ayah lupa apa yang mereka perbuat?" Liam menghela napas sembari menurunkan bahunya yang tadinya tegang. Dia tidak akan pernah lupa kejadian 15 tahun yang lalu, ibunya meninggal, banyak dari kaumnya kehilangan nyawa karena berhadapan dengan vampir begitu juga dengan vam-One.


"Ayah tidak melupakan itu, Liam. Tapi kau harus ingat. Kaum kita tidak banyak seperti dulu. Ayah sudah mempertimbangkan semuanya. Apa kau mau kaum kita musnah?"


Perubahan perjanjian


Para pemburu hanya boleh memburu kaum vampir jika kedapatan menghilangkan nyawa manusia atau mengubahnya menjadi kaumnya (vampir).


Rahang Liam mengeras dengan sorot mata yang tajam. Perubahan undang-undang dunia gelap yang baru saja dia baca membuat Liam jengkel.


"Ini tidak masuk akal!" Liam melempar berkas di tangannya ke lantai. Menggeram kesal. "Ayah, bukankah ini tidak adil?"


Liam berpikir, ini adalah kebebasan bagi kaum vampir dari golongan bangsawan. Karena hanya golongan vampir darah murni yang bisa mengendalikan atau menghisap darah manusia tanpa mengubahnya menjadi vampir.


Sang ayah melonggarkan dasi, lehernya serasa tercekik. Itu adalah keputusan pimpinan, ayah pun tidak bisa berbuat banyak atas keputusan tersebut. "Tapi ingat, ketika vampir sudah meminum darah manusia, itu akan seperti narkoba baginya, nikmatnya tidak tertahankan, mereka akan lupa diri."


Liam berdecih. "Jadi, Ayah menyuruhku memburu mereka setelah mengambil nyawa manusia?" Liam menggeleng. Itu sangat konyol!

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2