
"Barusan itu apa?!" Gadis itu memelotot menatap ke arah laki-laki yang baru saja berdiri di sampingnya. Baru saja dia melihat sesuatu yang melintas di jalanan, tampak seperti sekelebat bayangan hitam.
Sang lelaki merangkul tubuh gadis itu kemudian membalas mengangkat bahu sebagai jawaban. "Tidak ada apa-apa, mungkin hanya perasaanmu saja," katanya menenangkan.
Wanita itu mengangguk pelan. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya meyakinkan diri.
"Oh, apakah kita bisa lanjut?" tanya lelaki itu sudah berdiri di depan motel yang tampak biasa, berlantaikan dua.
Mereka berdua menaiki tangga setelah melakukan cek in dan menuju kamar yang sudah mereka pesan.
Gadis berpakaian dengan rok minim itu merasa canggung saat memasuki kamar yang tampak sederhana. Hanya ada ranjang berukuran sedang dengan beralaskan sprei yang berwarna putih tapai, dan itu sekilas tampak kusam. Padahal itu baru diganti.
"Apa ini kali pertamamu?" Lelaki berambut pirang itu tersenyum sembari membuka jaketnya dan meletakkan ke sembarang arah, kemudian mendekati gadis berkulit putih yang sudah duduk di atas ranjang.
Gadis itu mengangguk. "Ya, ini pertama kalinya," katanya mencoba santai, namun tangan satunya mengusap bahu kiri sembari memperhatikan sekeliling.
"Apakah kita bisa mulai?" Lelaki itu mendekat dan melompat ke arah gadis itu sembari menyeringai.
"Oh, astaga!" teriak sang gadis melihat mata lelaki itu berubah merah sesaat. Dengan refleks dia menendang lelaki tersebut hingga terjengkang ke belakang. "Si-siapa kau?!" Dia berdiri cepat--membuka sepatu high-heel-nya kemudian menodongkannya pada lelaki itu.
Lelaki berkulit pucat itu berdiri lalu tertawa. "Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau masih sadar?" Padahal aku baru saja menghipnotisnya.
__ADS_1
"Mundur. Kalau tidak, aku akan berteriak!" pekik sang gadis. Dia tahu ancaman barusan sia-sia.
"Kau wanita yang berbeda. Hum, bagaimana kalau kau ikut denganku? Kurasa Tuan Muda akan menyukaimu."
"Jangan macam-macam. Ambil kembali uangmu dan biarkan aku pergi!" ujarnya sembari melempar segepok uang ke wajah lelaki berambut pirang itu.
"Oh, kasar sekali ...," ledek sang lelaki sembari menyeringai dan memperlihatkan kedua taringnya yang panjang.
Sontak gadis itu kaget hingga terduduk di ranjang. Matanya membola tidak percaya atas apa yang dilihat. Va-vampir? Satu kata itu tercekat di tenggorokannya.
"Ibu maafkan aku ...." Gadis itu menutup mata pasrah. Kurasa aku tidak akan selamat.
Lelaki itu tersenyum melihat mangsanya yang tidak berkutik. Meski gagal menghipnotis gadis tersebut, akan tetapi dia bisa menghisap habis darah sang gadis lalu menghilangkannya tanpa jejak.
"Oh, sial!" gumam sang lelaki bertaring berdecih melihat kedatangan sosok yang tidak dia suka.
"Hai, Nona," sapa lelaki yang jongkok di atas jendela sembari tersenyum kemudian melambaikan tangan. Dia pun mengeluarkan pistol dari balik pinggang--menempelkan jari telunjuk ke bibir. Memberi isyarat agar sang gadis diam. "Pejamkan mata Anda." Dia pun mengarahkan pistol ke arah vampir kemudian menekan pelatuknya.
Duar!
Satu kali tembakan tepat mengenai kepala sang vampir.
__ADS_1
"Haaah!"
Syok. Gadis itu membuka mulut karena saking terkejutnya. Bola mata pun membesar. Darah vampir itu mengenai wajahnya. Tubuhnya pun bergetar hebat melihat sosok vampir yang terkapar di lantai dengan darah menggenangi tubuh.
Ekspresi gadis itu berubah ketika melihat sosok vampir itu perlahan berubah menjadi debu dan menyisakan sebuah peluru berwarna perak di lantai.
Lelaki yang bertengger di jendela tadi melompat masuk--berjalan mengambil peluru yang baru saja dia pakai untuk memburu mangsanya.
Takut. Sang gadis duduk di ranjang menggeser tubuhnya ke belakang. Raut wajahnya mengatakan, jangan membunuhku, tolong lepaskan aku, aku akan diam, dan tidak mengatakan apapun kepada siapapun.
Lelaki bertubuh tinggi itu mendekati gadis tersebut. Menatapnya dengan lekat sembari menempelkan telapak tangannya menutupi mata gadis itu. "Tidurlah. Lupakan kejadian malam ini," bisiknya.
Gadis itu pun tertidur lelap.
...***...
Matahari sudah menampakkan diri. Seperti biasa di kota besar di luar sana orang-orang sudah sibuk beraktivitas, namun di ruangan kecil ini seorang gadis masih tertidur pulas.
Kaget. "Hah!" Dia pun tiba-tiba membuka mata dan bangun duduk. Memeriksa dirinya dari atas sampai bawah. Dia ingat kemarin malam dia pergi dengan seorang lelaki ke sebuah motel. Dia pun memperhatikan sekeliling. Dia pun tersenyum bodoh sembari memukul dirinya, kurasa itu hanya mimpi. Ya, hanya mimpi, gumamnya dalam hati sembari melihat ke lantai. Seperti yang diharapkan, tidak ada apapun di sana.
Setelah mencuci wajah, gadis itu membuka pintu kamar motel dengan hati-hati, melongokkan kepala ke luar lalu memperhatikan lorong. Tidak ada orang. Dia pun berjalan santai menuruni tangga dan pergi meninggalkan motel tersebut.
__ADS_1
Bersambung ...